24 September 2006
Kerja Kreatif, Siapa Bisa? Andrias Harefa |
|
|
Kreatif: -
1 ...berkaitan dengan atau melibatkan imajinasi atau
ide-ide orisinil, khususnya dalam memproduksi
pekerjaan artistik;
2 ...kemampuan untuk menciptakan aneka gagasan,
terutama dalam pikiran, imajinasi; 3 ...orang (-orang)
yang menghasilkan karya-karya; dsb... |
|
|
|
Di sekolah
kehidupan kita semua adalah mahluk pekerja. Sebab dalam
artinya yang luas, makna kata ”kerja” dan ”pekerjaan”
menunjuk ke hampir semua aktivitas yang dilakukan oleh
manusia atau karya-karya manusia itu (mesin/alat/teknologi).
Aktivitas-aktivitas itu ada yang bertujuan untuk
memperoleh nafkah lahiriah, yang kita sebut upah, gaji,
komisi, atau uang. Ada juga aktivitas yang lebih ditujukan
untuk memperoleh nafkah mental, seperti berburu ilmu
pengetahuan dan keterampilan, baik lewat institusi formal
(sekolah-akademi-universitas yang memberi gelar, bersifat
akademis) atau informal (lembaga non-gelar, bersifat
praktis), bahkan nonformal (pergaulan di masyarakat). Tak
sedikit pula aktivitas yang ditujukan untuk mempererat
tali silahturahmi, semacam nafkah sosial-emosional dalam
konteks kehidupan. Dan sebagian aktivitas lagi bertujuan
untuk memperoleh nafkah spiritual yang memberikan
kecerahan hati, kedamaian batin, dan ketentraman yang
fundamental dalam menghadapi badai-badai kehidupan.
Meski semua manusia adalah mahluk pekerja, namun para ahli
perilaku organisasi sering membeda-bedakan jenis pekerjaan—dalam
arti karier yang menafkahi kehidupan pekerjanya—menjadi
lima kelompok besar.
Pertama, pekerjaan fungsional yang terfokus pada
keahlian teknis di bidang-bidang khusus. Inilah yang
dilakukan oleh ahli mekanik, desain grafis, pustakawan,
teknisi, operator, dan sebagainya.
Kedua, pekerjaan manajerial yang terfokus pada
proses analisis informasi dan pengelolaan neka ragam
sumberdaya, termasuk memimpin manusia. Pekerja di bidang
manajerial ini disebut manajer, pimpinan, atau eksekutif.
Ketiga, pekerjaan entreprener yang terfokus pada
upaya menghasilkan produk/jasa baru dan/atau membangun
organisasi usaha (perusahaan) yang bertujuan mencetak laba
bagi pemiliknya. Kita menyebut kaum pekerja jenis ini
sebagai pedagang, wirausaha, pengusaha, konglomerat, atau
tikon, tergantung pada skala usahanya.
Keempat, pekerjaan negara yang terfokus pada
tugas-tugas administrasi birokrasi dan pertahanan keamanan
seperti pegawai negeri dan militer, dengan jenjang yang
jelas dan relatif stabil sehingga memberikan rasa aman
tertentu.
Dan kelima, pekerjaan mandiri yang terfokus pada
kebebasan berkarya sesuai dengan irama atau waktu kerja
masing-masing, seperti pada peneliti, seniman, penulis
lepas, konsultan, dan sebagainya.
Banyak orang berpendapat bahwa dari kelima jenis pekerjaan
tersebut di atas, pekerjaan sebagai entreprener adalah
jenis yang paling banyak menuntut kreativitas. Sebab
entreprener diharapkan untuk melakukan inovasi dengan
menghasilkan hal-hal baru yang berguna bagi masyarakat
luas atau menemukan cara-cara baru yang memberikan nilai
tambah terhadap sesuatu yang sudah ada sebelumnya.
Lahirnya produk-produk legendaris seperti Aqua, Teh Sosro,
Es Teller 77, Jamu Tolak Angin, Dunia Fantasi, Kota Wisata,
dan sebagainya, selalu digunakan sebagai contoh
kreativitas kaum entreprener di Indonesia. Dengan kata
lain, entreprener dianggap sebagai kaum ”pekerja kreatif”
di masyarakat.
Pada sisi lain, sebagian orang melekatkan predikat
”pekerja kreatif” hanya terbatas pada praktisi industri
periklanan. Terutama karena secara eksplisit, dalam
industri periklanan dikenal jabatan kunci yang diberi
label ”Creative Director”. Selanjutnya, ada pula yang
mengaitkan konsep ”pekerja kreatif” ini hanya terbatas
kepada para seniman, pemain teater, sastrawan, dan
praktisi industri hiburan, yang umumnya bekerja di luar
kantor-kantor tradisional.
Jadi, apakah kerja kreatif itu hanya terbatas milik
entreprener, praktisi periklanan dan industri hiburan?
Apakah pekerja fungsional, pekerja manajerial, dan pekerja
negara tidak perlu kreatif, cukup mengikuti sistem dan
prosedur saja?
Terus terang, dari proses pembelajaran saya di sekolah
kehidupan, saya melihat tuntutan untuk menjadi pekerja
kreatif, setidaknya di milenium ketiga ini, berlaku hampir
di semua jenis pekerjaan yang disebutkan di atas. Era
kerja keras semata sudah bukan zamannya lagi, meski sulit
bagi sebagian besar orang untuk tidak bekerja keras. Di
atas kebiasaan kerja keras, perlu ditambahkan kemampuan
untuk bekerja secara cerdas, yaitu kerja kreatif.
Dalam konsep
kerja keras, indikator pertama yang biasanya dipergunakan
untuk mengukur seberapa ”keras” seseorang telah bekerja
adalah lamanya waktu bekerja. Misalnya, jika sebagian
orang bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam, maka ia
kita sebut bekerja keras, sebab orang kebanyakan bekerja
dari jam 8/9 pagi hingga jam 5 sore saja. Atau jika orang
masuk kantor di hari Sabtu, ketika kawan-kawannya
menikmati liburan akhir minggu, maka ia disebut sebagai
pekerja keras. Atau kalau ada orang yang bekerja sampai
50/60 jam dalam seminggu, ia masuk kelompok pekerja keras
karena umumnya waktu kerja normal 40/44 jam seminggu.
Untuk mampu menjadi pekerja keras, sudah barang tentu
dipersyaratkan kondisi fisik yang prima. Orang-orang yang
mudah jatuh sakit tidak akan dikenal sebagai pekerja keras.
Orang-orang yang tidak menunjukkan disiplin dalam bekerja,
juga umumnya tidak dimasukkan dalam kategori pekerja keras.
Jadi, kesehatan fisik dan disiplin menjadi indikator kedua
untuk dapat mengukur siapakah yang layak disebut sebagai
pekerja keras.
Pertanyaannya sekarang, jika pekerja keras dapat
didefinisikan dengan ukuran jumlah waktu kerja, kesehatan
fisik, dan disiplin kerja, bagaimanakah kita mengukur atau
mendefinisikan ”pekerja kreatif” yang bekerja secara
cerdas?
Ada orang yang menggunakan istilah ”Lazy Achiever” untuk
menunjuk kepada kaum pekerja kreatif ini. Istilah ini
sangat provokatif, sebab bagaimana mungkin seorang pemalas
bisa berprestasi? Namun terlepas dari istilahnya itu, ia
menawarkan konsep untuk bekerja 4-5 jam sehari dengan
hasil-hasil yang sama atau bahkan lebih baik dari
orang-orang yang bekerja 9-10 jam sehari. Dengan kata
lain, pekerja kreatif adalah mereka yang bekerja dengan
waktu yang lebih singkat untuk memperoleh hasil yang sama
atau lebih baik. Di samping itu, konsep””Lazy Achiever”
menunjuk kepada orang-orang yang bisa bekerja secara
mandiri atau berkolaborasi dan tidak terikat pada lokasi
kerja yang disebut kantor. Tempat kerja kaum kreatif ini
bisa di mana saja, mulai dari rumah, garasi, kafe, lobby
hotel, kantin sekolah, taman rekreasi, dan sebagainya. Dan
mereka dimungkinkan untuk bekerja di mana saja karena
perlengkapan kerjanya mudah dibawa kemana-mana (mobile
working tools).
Jadi, kerja kreatif diartikan sebagai bekerja dengan waktu
lebih pendek dan fleksibel, secara mandiri atau
berkolaborasi, di lokasi kerja yang juga fleksibel, dengan
hasil-hasil yang berkualitas tinggi. Untuk itu tidak saja
diperlukan fisik yang sehat dan disiplin, tetapi
dipersyaratkan penggunaan potensi kecerdasan lainnya yang
telah dikembangkan secara memadai.
Dengan
pemahaman seperti di atas, muncul pandangan bahwa kerja
keras adalah fondasi yang perlu, tetapi tidak akan membawa
seseorang kepada kehidupan yang berkualitas. Kerja keras
merupakan persyaratan yang diperlukan, tetapi tidak
mencukupi (necessary but not sufficient condition) untuk
menikmati kehidupan yang berkualitas dan penuh makna. Dan
kerja keras hanya menarik jika kita masih dalam rentang
usia 20-40 tahun. Setelah lewat usia 40 tahun, kita
seharusnya telah mampu bekerja secara cerdas, menjadi
pekerja kreatif, yang memberi makna pada hidup yang fana.
Demikiankah? |
|
|
Tabik Mahardika!
***
Andrias Harefa, Penulis buku terlaris Menjadi Manusia
Pembelajar [Kompas, 2000] dan fasilitator
www.pembelajar.com |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|