|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Edukasi |
|
4 Agustus 2006
Kuadran Hati Orangtua Andrias Harefa |
|
|
kepada
anak-anak kita
ada yang suka memberi waktu
ada yang suka memberi sangu
keduanya mereka butuh |
|
|
|
|
Dalam proses
pembelajaran di sekolah kehidupan, saya pernah memulung
semacam sajak yang luar biasa indah karya Dorothy Law
Nolte. Ia menuturkan tentang bagaimana anak-anak belajar
dari kehidupan mereka. Coba baca dan resapi kutipannya
berikut ini. |
|
|
Jika anak
dibesarkan dengan celaan
Ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan
Ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan
Ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan
Ia belajar menyesali
Jika anak dibesarkan dengan toleransi
Ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian
Ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan dorongan
Ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman
Ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan
Ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan
persahabatan
Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak dibesarkan dengan perlakuan yang baik
Ia belajar keadilan. |
|
|
|
Paparan
semacam itu membuat saya bersyukur bahwa saya tidak
dibesarkan dengan celaan, permusuhan, cemoohan, ataupun
penghinaan dari orangtua saya. Di samping itu, saya juga
bertekad kuat untuk tidak membesarkan anak-anak saya
dengan virus-virus perusak jiwa berupa kata-kata negatif
semacam itu.
Masalahnya, sekalipun orangtua tidak memberikan celaan,
permusuhan, cemoohan, dan penghinaan, bukan berarti
anak-anak mereka akan bebas dari hal-hal semacam itu.
Sebab, celaan dan sebagainya itu bisa—dan justru
seringkali—datang dari lingkungan hidup sekitar, entah itu
pembantu atau pengasuh bayi, pergaulan dengan tetangga,
sekolah atau tempat kursus, juga dari tayangan televisi
yang menyerang keluarga di rumahnya masing-masing. Dan
orangtua tidak mungkin mampu menyaring segala bentuk
informasi dan perlakuan yang menimpa anak-anak mereka.
Saringan yang demikian bukan saja tidak mungkin dilakukan,
tetapi juga tidak perlu dilakukan. Sebab dari berbagai
perlakuan dan ungkapan negatif, anak-anak kita juga perlu
belajar bagaimana cara menyikapinya agar mereka tetap
mampu memberi respon yang baik sesuai nilai-nilai dan
keyakinannya sendiri (baca: menjadi proaktif).
Bagaimanapun mereka hidup dalam dunia yang bertabur celaan,
banjir cemoohan, karib dengan nuansa permusuhan, dan penuh
hinaan di sana-sini.
Jadi, anak-anak bukan cuma perlu pujian, dorongan,
dukungan, rasa aman, kasih sayang, dan hak-hak positif
yang diungkapkan Nolte. Anak-anak juga memerlukan
pendampingan dari orangtuanya untuk menyikapi segala macam
bentuk perlakuan dan perkataan yang ditujukan kepada
mereka.
Dalam pengamatan saya yang terbatas, ada empat kelompok
orangtua di dunia ini. Pertama, kelompok yang tidak mampu
memberikan uang sangu (miskin harta), dan tidak mampu
meluangkan waktu untuk bersama-sama (miskin waktu). Inilah
orangtua yang miskin secara ekonomi, dan harus
meninggalkan anak-anaknya dititipkan kepada tetangga,
orangtua/mertua, ketika mencari nafkah. Pasangan pembantu
dan supir angkot yang menitipkan anak mereka di kampung
adalah contoh kelompok ini.
Kedua, kelompok yang mampu—sebagian sangat mampu—memberikan
sangu (kaya harta), tapi tak bersedia memberikan waktu (miskin
waktu). Inilah kelompok orangtua yang kaya secara ekonomi,
sibuk dengan berbagai agendanya sendiri, dan menyerahkan
anak-anak mereka dibesarkan oleh orang-orang bayaran (pengasuh,
pembantu, supir, tukang kebon, juru masak, dsb). Bagi
mereka ada semacam persepsi dasar bahwa membesarkan anak
berarti sekadar ”membayar”. Makin banyak yang mereka bayar,
mereka merasa makin tuntas memainkan perannya sebagai
orangtua. Amat boleh jadi mereka sendiri dibesarkan dengan
cara yang mirip, sehingga ini cuma soal proses duplikasi/peniruan
saja. Orangtua jenis ini menempatkan posisi anak-anak di
dompet mereka. Anak-anak mereka menikmati fasilitas yang
paling lengkap, mainan tak pernah habis, pakaian bagus tak
pernah hilang dari lemari, sekolah-sekolah terbaik mereka
masuki, kursus-kursus terbaik mereka nikmati, hanya
orangtuanya yang jarang bersama mereka.
Ketiga, kelompok yang tak seberapa mampu memberikan sangu
(miskin harta), tetapi berusaha keras memberikan waktu (kaya
waktu). Inilah kelompok orangtua yang rajin mengantar
anak-anaknya ke sekolah, kursus, ikut berenang bersama,
liburan bersama, makan malam bersama, membaca/belajar
bersama, menemani tidur. Orangtua jenis ini menempatkan
anak-anak di hati mereka. Mereka melihat apa atau siapa
yang bisa membuat anak-anaknya tertawa terpingkal-pingkal.
Mereka juga tahu apa atau siapa yang membuat buah cinta
mereka menangis tersedu-sedu. Anak-anak memiliki banyak
kenangan bersama dengan orangtua jenis ini. Perhatian yang
melimpah dari orangtuanya membuat mereka lebih berkembang
kecerdasan emosinya.
Keempat, kelompok yang mampu memberikan sangu (kaya harta)
dan juga bersedia memberikan waktu untuk bersama anak-anak
dalam banyak kesempatan (kaya waktu). Ini merupakan jenis
orangtua ideal. Mereka memberikan bukan cuma fasilitas,
melainkan juga perhatian yang melimpah. Sungguh amat
beruntung anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua jenis
ini. Dan karena ini bersifat ideal, jumlahnya mungkin
amatlah langka.
Ketika saya mencoba menguraikan keempat kelompok orangtua
di atas—yang bisa digambarkan dalam bentuk kuadran—saya
bertanya-tanya pada diri sendiri orangtua macam apakah
saya ini. Dan pertanyaan reflektif itu membawa saya pada
penggalan syair yang ditulis penyair terkemuka dari
Lebanon, Khalil Gibran, sebagai berikut: |
|
|
Anakmu bukanlah anakmu
Mereka adalah putera
kerinduan diri Sang Hidup
Melaluimu mereka ada,
namun bukan darimu
Meskipun bersamamu,
mereka bukan milikmu
Berikan kasih sayangmu,
tetapi jangan paksakan
pikiranmu
Sebab mereka berbekal
alam pikiran sendiri
Berikan rumah untuk raganya,
tetapi bukan jiwanya
Sebab jiwa mereka adalah
penghuni masa depan
Yang tiada dapat kau gapai
sekalipun dalam impian |
|
|
|
|
Syair di atas makin menggedor hati saya: orangtua macam
apakah saya ini? Cukup pedulikah saya terhadap anak-anak
saya, pada saat saya mampu maupun pada saat saya tak mampu
secara finansial? Apakah saya tipe orangtua pemberi harta
tanpa cinta? Atau saya tipe yang memberi cinta, tanpa
harta? Dan sejumlah pertanyaan lain mulai terasa mendera.
Karena itu lebih baik saya sudahi saja sampai di sini.
Bagaimana dengan Anda, pembaca? |
|
|
Tabik Mahardika!
***
Andrias Harefa, Penulis buku terlaris Menjadi Manusia
Pembelajar [Kompas, 2000] dan fasilitator
www.pembelajar.com |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|