|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Edukasi |
|
5 Mei 2006
Memaknai Kerja Andrias Harefa |
|
|
|
Kerja - 1 ...aktivitas yang
melibatkan usaha mental atau fisik yang dilakukan untuk
mencapai suatu tujuan atau hasil; 2 ... aktivitas yang
dilakukan untuk memperoleh nafkah/penghasilan; 3 ... tugas
atau tugas-tugas yang harus dilakukan oleh seseorang atau
sesuatu (mesin/alat); dsb... |
|
|
Di sekolah
kehidupan kita menyaksikan bahwa cara pandang atau peta
yang kita pergunakan untuk memberi makna pada pekerjaan,
akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita dalam bekerja.
Seorang yang memaknai pekerjaannya sebagai sesuatu yang
penting, bernilai, bahkan mulia, misalnya, akan
menunjukkan sikap kerja yang berbeda dengan mereka yang
memaknai pekerjaannya sebagai hal yang tidak penting, tak
bernilai, bahkan hina. Orang-orang yang memaknai
pekerjaannya sebagai sesuatu yang pantas dibanggakan akan
menunjukkan perilaku kerja yang berbeda dengan orang-orang
yang merasa malu dengan pekerjaan mereka. Masalahnya bukan
pada apa yang dikerjakan, tetapi pada bagaimana mereka
memaknai pekerjaan tersebut.
Seperti seorang kawan bernama Anton yang memaknai
pekerjaannya hanya sebagai pekerjaan untuk nafkah hidup
semata. Statusnya sebagai wiraniaga di perusahaan asuransi
terkemuka negeri ini, sebenarnya cukup bisa dibanggakan.
Namun, ia sedikit sekali menaruh minat atas apa yang
dikerjakannya dan tak menyukai sifat pekerjaannya yang
memberikan banyak tantangan. Hanya karena merasa wajib
bekerja agar mendapatkan penghasilan, maka Anton bertahan
di tempat kerjanya tu.
Akibatnya, Anton sangat sensitif terhadap soal jumlah
komisi yang diperolehnya. Jika komisinya berkurang sedikit
saja dari biasanya, atau ia mendapatkan informasi ada
komisi yang sedikit lebih tinggi di perusahaan asuransi
lain, maka ia langsung ingin cepat-cepat pindah kerja.
Kalau ada kesempatan kerja di luar industri asuransi pun,
sepanjang hal itu memberikan penghasilan lebih besar,
Anton akan segera merasa tertarik. Saat-saat yang paling
menyenangkan bagi Anton adalah tanggal pembayaran komisi/gajian.
Selebihnya adalah kewajiban yang harus dilakukan.
Berbeda dengan Anton, kawan bernama Tommy memaknai
pekerjaannya sebagai karier. Ia ingin ada peningkatan
karier dari waktu ke waktu. Artinya, ia tidak melihat uang
atau gaji sebagai satu-satunya faktor penentu kepuasan
kerjanya. Ia juga memperhitungkan soal-soal lain, terutama
soal kekuasaan/jabatan, status sosial, dan gengsi.
Walau gajinya sebagai kepala bidang operasional sebuah
bank nasional yang sudah mapan hanya rata-rata industri
saja, namun ia tetap bersemangat karena merasa ada prospek
karier untuk menjadi kepala cabang di tahun-tahun
mendatang. Lagi pula, ia sudah mulai mendapatkan fasilitas
pinjaman untuk membeli mobil idamannya, sesuatu yang
menaikkan gengsinya di lingkungan kerabat dan tempat
pemukimannya. Bagi Tommy, ia akan mulai berpikir untuk
mencari pekerjaan baru, bila kariernya sudah mentok tak
kemana-mana.
Lain lagi halnya dengan Titin yang bekerja sebagai penulis
lepas. Ia memaknai pekerjaannya sebagai panggilan batin.
Ia mencintai pekerjaannya, dan antara pekerjaan dengan
irama kehidupannya sehari-hari tak terlalu banyak bedanya.
Sebagai ibu dari dua anak remaja yang sudah ditinggal mati
oleh suaminya, Titin terkadang ikhlas tak mendapatkan
imbalan material apapun dari karya tulisnya yang
dipublikasikan pihak lain untuk tujuan sosial. Ia merasa
memang itulah tugasnya.
Ia merasa ada kemuliaan dari apa yang dikerjakannya. Dan
ia juga sangat menikmati kebebasan waktu kerjanya yang
menurutnya tak ternilai harganya. Sebab, sebagai penulis
lepas ia bisa mengatur sendiri waktu untuk mengurus
anak-anak dan mencari nafkah. Ia juga tidak harus terikat
pada lokasi kerja seperti kantor, karena bisa bekerja di
mana saja berkat laptop sederhana miliknya. Karenanya,
walau penghasilan Titin tak berlebihan, ia tak pernah
berpikir untuk berganti pekerjaan.
Baik Anton,
Tommy, maupun Titin, adalah wajah dari orang-orang di
sekitar kita. Orang-orang seperti Anton selalu
mengutamakan gaji, komisi, uang. Status sosial, gengsi,
jabatan, dan panggilan hidup urusan belakangan. Sepanjang
pekerjaan mereka menghasilkan uang yang lebih banyak,
mereka bersemangat dalam bekerja. Sementara orang-orang
seperti Tommy masih bersedia bersabar dengan gaji yang
pas-pasan, asalkan diberi jabatan formal, kekuasaan
memimpin sejumlah bawahan, dan gengsi karena bekerja di
perusahaan terkemuka. Dan bagi orang-orang seperti Titin,
pekerjaan haruslah berkaitan dengan keyakinannya atas
kontribusi hidupnya bagi keluarga, bangsa, masyarakat,
atau dunia. Tak soal penghasilan pas-pasan, tanpa jabatan
mentereng, tak punya kantor yang megah, dan sebagainya.
Asal ada keyakinan bahwa karya-karyanya berguna bagi
banyak orang, ikut mendorong proses-proses kebudayaan,
membuat dunia menjadi tempat yang lebih indah dan layak
dihuni, cukuplah.
Anton, Tommy, dan Titin amat boleh jadi merasakan kepuasan
yang berbeda atas hasil-hasil pekerjaannya. Di antara
mereka juga mungkin sulit untuk saling memahami pilihan
satu dengan yang lain. Masalahnya bukan pada apa yang
mereka kerjakan, tetapi pada kemampuan memaknai pekerjaan
itu sendiri. Artinya, bisa saja seorang buruh pabrik atau
tukang angkut sampah memaknai pekerjaan sebagai amanah
atau panggilan hidup yang harus ditunaikan. Ia bisa dengan
ikhlas dan senang hati melakukan pekerjaannya. Dan
sebaliknya, seorang eksekutif muda atau manajer senior di
perusahaan terkemuka hanya menganggap pekerjaannya sebagai
sarana memperoleh uang semata. Sehingga, ia sering merasa
terbebani, tidak gembira dan kurang puas dengan
pekerjaannya.
Sejumlah
psikolog ahli yang mendalami masalah kepuasan kerja dan
kepuasan hidup menyimpulkan bahwa hanya orang-orang yang
mampu memaknai pekerjaannya sebagai hal yang berkaitan
dengan panggilan hidup atau amanah yang harus
ditunaikanlah yang mengalami kepuasan kerja dan kepuasan
hidup paling maksimal. Mereka umumnya memiliki minat yang
tinggi terhadap apa yang mereka kerjakan, dan menikmati
sifat-sifat dari pekerjaannya. Itu sebabnya ada
kegembiraan dalam bekerja, dan motivasi mereka mengalir
dari dalam batinnya. Mereka menjadi orang-orang yang tidak
saja produktif dan kreatif, tetapi juga sekaligus loyal
dengan tugas pekerjaannya.
Bagaimana kita memaknai pekerjaan yang kita pilih saat ini?
Adakah pekerjaan yang kita lakukan hari-hari ini sesuai
dengan minat dan potensi terbaik kita? Di samping soal
uang, apakah pekerjaan kita berkesesuaian dengan panggilan
hidup atau amanah dari langit yang memang perlu ditunaikan?
Mampukah kita melihat kemuliaan dari pekerjaan kita?
Setiap kita tentu memiliki jawabannya masing-masing. Yang
jelas, bila kita ingin meningkatkan kepuasan kerja dan
kepuasan hidup, maka hal terpenting yang mungkin perlu
kita periksa adalah bagaimana kita memaknai pekerjaan yang
kita lakukan sehari-hari.
Memberi makna
pada pekerjaan, itulah hal yang tak bisa dilakukan oleh
mesin-mesin canggih dewasa ini. Memberi makna pada
pekerjaan juga tak mampu dilakukan oleh kambing, kucing,
dan anjing. Sebab kemampuan memberi makna, adalah
kemampuan khas yang dianugerahkan Sang Pencipta hanya
kepada manusia ciptaan-Nya. Dan dengan bekal kemampuan
memaknai ini pula manusia dimungkinkan untuk mengenal
konsep kebahagiaan dalam hidupnya. Apakah kemampuan ini
kita kembangkan dengan gegap gempita, atau terbengkalai
begitu saja sehingga kita sering merasa terlunta
kehilangan arah? |
Tabik Mahardika!
***
Andrias Harefa, Penulis buku terlaris Menjadi Manusia
Pembelajar [Kompas, 2000] dan fasilitator
www.pembelajar.com |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|