|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Edukasi |
|
17 Maret 2006
Kerja Keras, Sampai Kapan? Andrias Harefa |
|
|
|
Teknologi membuat semua orang
yang saya kenal bekerja lebih keras dan lebih lama. –
Wareen Bennis |
|
|
Pernahkah
Anda menghitung, berapa jam biasanya waktu yang Anda
pergunakan untuk bekerja mencari nafkah hidup dalam
seminggu? Jawabannya mungkin akan bervariasi, tergantung
pada jenis pekerjaan atau profesi yang Anda jalankan.
Coba bayangkan profesi-profesi berikut: pengacara, dokter,
notaris, pilot, hakim, jaksa, petani, pedagang, manajer/eksekutif,
konsultan, model iklan, pemain film dan sinetron. Manakah
di antara mereka yang menurut Anda bekerja paling keras
untuk menafkahi hidupnya? Bagaimana dengan pegawai swasta
dan pegawai negeri pada umumnya? Siapakah yang jam kerja
rata-rata per minggunya paling panjang? Bagaimana dengan
pengajar sekolah, buruh-buruh pabrik, kuli angkut, dan
pekerja di pusat-pusat pembelanjaan modern yang baru
pulang setelah pukul 9 malam? Manakah yang paling banyak
mengucurkan keringat?
Ada asumsi bahwa orang-orang yang harus bekerja lebih dari
45 jam per minggu adalah kaum pekerja kasar yang tak
terpelajar. Jam kerja mereka panjang, dan proses kerjanya
lebih mengandalkan keterampilan fisik/otot, sehingga
upahnya serba minimum.
Mereka yang terpelajar, kaum profesional dan para sarjana
lulusan universitas terkemuka yang menjadi manajer-manajer
di usia belia, adalah orang-orang yang seharusnya memiliki
waktu kerja pendek karena mampu bekerja dengan lebih
cerdas.
Apalagi dengan perkembangan teknologi informasi yang
sangat mengagumkan dalam satu dekade terakhir, kelompok
terpelajar yang bekerja mengandalkan otak diasumsikan akan
memerlukan waktu kerja yang relatif minimum, kurang dari
40 jam per minggu. Sebab, bukankah orang-orang yang cerdas
dengan perangkat teknologi mutakhir seharusnya tidak perlu
bekerja keras seperti nenek moyang mereka dulu?
Masalahnya,
di sekolah kehidupan kita kemudian menyaksikan kenyataan
yang lain. Seperti dilaporkan BusinessWeek edisi Oktober
2005 lalu, dalam konteks Amerika jumlah para ”budak kerja”
itu cukup mencengangkan. Lebih dari 31% pekerja pria
lulusan perguruan tinggi di Amerika Serikat lazim bekerja
50 jam atau lebih dalam sepekan di kantor, naik dari 22%
di tahun 1980, ketika teknologi informasi belum canggih
seperti dewasa ini.
National Sleep Fondation melaporkan bahwa sekitar 40%
orang dewasa Amerika tidur kurang dari 7 jam pada hari
kerja. Padahal sejak 1926 Henry Ford telah mempelopori
lima hari kerja dalam sepekan, dan sejak 1970 di Amerika
berlaku waktu kerja 40 jam seminggu. Lalu bagaimana
menjelaskan kecenderungan pekerja terpelajar Amerika
dewasa ini yang malah menghabiskan waktu kerja seperti
para buruh pabrik di abad ke-19, yang rata-rata bekerja 60
jam per minggu?
Pekerja Amerika tidak sendirian. Di Cina, para manajer
senior dengan pendapatan $ 2.000 AS –dengan kurs Rp
9.500,- berarti Rp 19 juta—sebulan umumnya bekerja 60 jam,
enam hari seminggu. Meski sekitar 20 jam di antaranya
terhitung lembur, tapi mereka tidak mendapatkan upah
tambahan dari kerja ekstra itu. Umumnya, kaum pekerja
keras itu mengaku tak punya pilihan kecuali lembur dan
menganggap hal itu memang sudah menjadi tugas mereka,
sehingga memang tidak perlu upah tambahan.
Disebutkan bahwa sedikitnya di tiga kota Cina, 51% orang
yang lembur selama hari kerja tak mendapat upah tambahan—suatu
hal yang tidak terjadi pada rekan-rekan mereka di Jepang
dan Korea Selatan. Pada hal UU Ketenagakerjaan di Cina
telah menetapkan jam kerja 44 jam seminggu, dalam lima
hari kerja, dengan cuti tahunan dua minggu, hari libur
rutin, dan upah lembur minimal satu setengah kali upah
normal.
Kenyataannya peraturan semacam itu tak mampu membendung
tumbuhnya kelompok ”budak kerja” di negeri tirai bambu
tersebut. Hanya pegawai negeri saja, seperti pengajar
sekolah, yang menghabiskan waktu kerja 40 jam seminggu
dengan penghasilan sekitar $ 200 AS sebulannya.
Hal lain yang juga menarik untuk disimak adalah laporan
tentang jumlah jam kerja wanita karier di Amerika dan
Eropa yang diwakili oleh 15 negara Uni Eropa.
Pada tahun 1984, di Amerika sekitar 58% wanita karier yang
menghabiskan waktu kerja lebih dari 40 jam seminggu.
Jumlahnya meningkat di tahun 2004 menjadi sekitar 62%.
Sementara di Eropa, hanya sekitar 36% wanita karier yang
menghabiskan waktu kerja di atas 40 jam seminggu, tahun
1984. Dan di tahun 2004 jumlahnya turun menjadi sekitar
29%.
Apakah itu berarti wanita karier di Amerika bekerja
semakin keras hari-hari ini, sementara rekan-rekan mereka
di Eropa lebih punya waktu untuk hal lain di luar
pekerjaan? Tak ada penjelasan lebih lanjut soal hal ini.
Yang jelas, dalam sebuah wawancara, perempuan Amerika yang
cerdas dan fenomenal Oprah Winfrey pernah mengaku bahwa ia
biasa bekerja 14-15 jam sehari, dan bila hanya bekerja 12
jam sehari, ia merasa ada sesuatu yang kurang hari itu.
Pemaparan
data-data tersebut di atas menunjukkan bahwa tidaklah
benar asumsi yang mengatakan bahwa hanya orang yang tidak
bergelar dan bodoh saja yang dituntut bekerja keras
menafkahi hidupnya. Kenyataannya, orang-orang yang paling
terpelajar di negeri yang maju seperti Amerika, maupun
yang bermukim di negeri berkembang macam Cina, justru
tetap bekerja keras untuk menafkahi hidupnya.
Asumsi yang mengatakan bahwa dengan kemajuan teknologi
informasi kaum pekerja akan lebih santai dalam melakukan
pekerjaannya juga patut digugat kembali. Sebab
kenyataannya para sarjana yang paling melek dan menguasai
teknologi informasi mutakhir saja tidak bekerja lebih
santai dibanding orang-orang yang relatif buta teknologi
informasi.
Jadi, bekerja keras dalam arti bekerja lebih lama dari
aturan kerja yang berlaku secara formal—misalnya, lima
hari kerja, 40 jam seminggu—dengan menggunakan kemampuan
diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan hidup
sehari-hari, agaknya sudah menjadi kecenderungan yang
sulit dibendung. Semakin banyak pekerja merasa memang
begitulah seharusnya, terutama ketika mereka menginginkan
karier dan kehidupan yang lebih baik.
Kerja keras seolah-olah menjadi jalan satu-satunya. Hal
ini tentu tidak terlalu perlu dipersoalkan jika kita
memiliki pekerjaan yang kita senangi, pekerja yang sesuai
dengan bakat dan potensi terbaik kita, dan pekerjaan yang
memberikan hasil-hasil terbaik, baik kepada kita maupun
kepada masyarakat dan lingkungan di mana kita mengabdi.
Seperti Oprah Winfrey yang menemukan ”tempatnya” yang unik
di dunia ini, ia mungkin melakukan pekerjaannya tanpa
merasa ”bekerja”.
Masalahnya,
bagaimana jika pekerjaan yang kita miliki saat ini
bukanlah pekerjaan yang kita inginkan? Bagaimana kalau
pekerjaan yang kita miliki saat ini adalah pekerjaan yang
tidak sesuai dengan bakat dan potensi terbaik kita?
Bagaimana kalau pekerjaan kita saat ini adalah pekerjaan
yang tidak menumbuhkan rasa bangga dalam diri kita?
Bagaimana kalau pekerjaan yang kita tekuni saat ini adalah
pekerjaan yang tidak menjanjikan masa depan yang lebih?
Terhadap empat pertanyaan terakhir ini saya akan menjawab
dengan satu pertanyaan berikut: sampai kapan Anda bersedia
bekerja keras untuk jenis pekerjaan seburuk itu? |
Tabik Mahardika!
***
Andrias Harefa, Penulis buku terlaris Menjadi Manusia
Pembelajar [Kompas, 2000] dan fasilitator
www.pembelajar.com |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|