|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Edukasi |
|
2 Pebruari 2006
Menyaring Gosip Andrias Harefa |
|
|
Apakah hal yang paling suka
diperbincangkan oleh banyak orang dalam kehidupan
sehari-hari? Salah satu jawaban mungkin ini: gosip. Gosip
enak diperbincangkan karena menyangkut hal-hal detail
tertentu tentang orang lain yang tidak jelas asal usulnya.
Kenikmatan bergosip ria justru terletak pada
ketidakjelasan sumber dan kebenaran dari hal ihwal yang
diperbincangkan, sehingga semua pihak yang
memperbincangkannya merasa berhak menambahkan bumbu-bumbu
penyedap semaunya sendiri.
Dimulai dengan kata-kata seperti ”Sssst! Sudah tahu belum,
si Anu ...”, atau ”Eh, katanya si Jadul sekarang ...”,
atau yang semacam itu, gosip kemudian menyebar dengan
kecepatan yang sering kali mengagumkan. Dibantu dengan
teknologi komunikasi, terutama telepon genggam dan
internet, setiap hari berbagai isu yang tak jelas asal
usulnya berseliweran di sekitar kita melalui layanan pesan
singkat dan surat-surat elektronik. Jumlah layanan pesan
singkat yang beredar setiap hari disinyalir lebih dari 80
juta pesan (data awal tahun 2005), sementara surat
elektronik tak terlalu jelas datanya. Lalu berapa
persenkah dari pesan-pesan dan surat-surat elektronik itu
yang berisi gosip? Entahlah.
Hal ihwal yang digosipkan orang juga bisa sangat variatif.
Mulai dari soal-soal yang bernuansa politik (”Eh, katanya
Pres sudah tidak percaya lagi sama Wapres, karena .....”);
ekonomi (”Sekarang ini perekonomian dikuasai kelompok BBM,
alias Bukaka Bakrie Medco ...”); sampai ke soal-soal yang
bersifat pribadi (”Ternyata, Si Poni itu simpenannya
pengusaha kaya ...”, ”Nggak nyangka ya, Si Enong tega
berbuat serong dengan ...”). Dengan kata lain, tema
perbincangan amatlah luas dan nyaris tanpa batas yang bisa
didefinisikan secara tegas.
Pelaku gosip juga tidak bersifat eksklusif. Gosip digemari
berbagai lapisan sosial dalam masyarakat, tanpa
diskriminasi jender, mulai usia remaja sampai tua bangka,
dan tak dibatasi oleh letak geografis wilayah tertentu
saja. Tidak heran jika tempat bergosip ria bisa ditemukan
di mana saja orang sering berkumpul, baik di tempat antar
jemput anak sekolah, warung makan pinggir jalan, restoran
mahal, pusat-pusat pembelanjaan, pusat-pusat kebugaran,
salon-salon kecantikan, tempat arisan, sampai ke
tempat-tempat ibadah, semuanya bisa dimanfaatkan menjadi
ajang pergosipan.
Bahwa gosip telah menjadi bagian dari hidup kita
sehari-hari, makin dipertegas oleh eksisnya acara-acara
gosip yang mengutak-atik kisah-kisah kaum selebritas,
orang-orang terkenal. Hampir semua stasiun televisi
memiliki acara khusus yang gosip-gosip kaum selebritas itu.
Bahkan jam tayangnya pun ada yang sampai lebih dari sekali
dalam sehari—ada edisi pagi dan ada edisi siang/sore hari—meski
yang ditayangkan tetap itu-itu saja.
Apakah gosip memiliki manfaat positif bagi kehidupan kita?
Saya tidak memiliki jawaban yang definitif dalam soal ini.
Namun, sebuah kisah yang beredar di milis milik kompleks
perumahan di mana saya tinggal, memberikan ”alat bantu”
yang saya kira efektif untuk menjawab pertanyaan mengenai
manfaat dari kegiatan bergosip-ria. Dan tidak kepalang
tanggung, ”alat bantu” untuk menangkal kebiasaan bergosip
ini diwariskan oleh seseorang yang dikenal sebagai nenek
moyangnya kaum bijak dari negeri Yunani sana. Berikut
petikannya: |
|
|
Di zaman Yunani
kuno, Socrates adalah seorang terpelajar dan
intelektual yang terkenal reputasinya karena
pengetahuan dan kebijaksanaannya yang tinggi.
Suatu hari seorang pria berjumpa dengan Socrates dan
berkata, ”Tahukah anda apa yang baru saja saya
dengar mengenai salah seorang teman anda?”
”Tunggu sebentar,” jawab Socrates. ”Sebelum
memberitahukan saya sesuatu, saya ingin anda
melewati sebuah ujian kecil. Ujian tersebut
dinamakan Ujian Saringan Tiga Kali.”
”Saringan tiga kali?” tanya pria tersebut.
”Betul,” lanjut Socrates. ”Sebelum anda mengatakan
kepada saya mengenai teman saya, mungkin merupakan
ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan
menyaring apa yang akan anda katakan. Itulah kenapa
saya sebut sebagai Ujian Saringan Tiga Kali.
Saringan yang pertama adalah KEBENARAN. Sudah
pastikah anda bahwa apa yang anda akan katakan
kepada saya adalah benar?”
”Tidak,” kata pria tersebut,”sesungguhnya saya baru
saja mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada
anda”.
”Baiklah,” kata Socrates. ”Jadi anda sungguh tidak
tahu apakah hal itu benar atau tidak.”Sekarang mari
kita coba saringan kedua yaitu: KEBAIKAN. Apakah
yang akan anda katakan kepada saya mengenai teman
saya adalah sesuatu yang baik?”
”Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk”.
”Jadi,” lanjut Socrates, ”anda ingin mengatakan
kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi
anda tidak yakin kalau itu benar. Anda mungkin masih
bisa lulus ujian selanjutnya, yaitu: KEGUNAAN.
Apakah apa yang anda ingin beritahukan kepada saya
tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya?”
”Tidak, sungguh tidak,” jawab pria tersebut.
”Kalau begitu,” simpul Socrates, ”jika apa yang anda
ingin beritahukan kepada saya... tidak benar, tidak
juga baik, bahkan tidak berguna untuk saya, kenapa
ingin menceritakan kepada saya?”
Sebuah panah yang telah melesat dari busurnya dan
membunuh jiwa yang tak bersalah, dan kata-kata yang
telah diucapkan yang menyakiti hati seseorang,
keduanya tidak pernah bisa ditarik kembali. Jadi
sebelum berbicara, gunakanlah Saringan Tiga Kali. |
|
|
|
Apakah benar cerita di atas berasal dari Socrates yang
terkenal amat bijak itu? Saya, yang notabene tidak pernah
kuliah di fakultas filsafat dan susah mencerna buku-buku
filsafat, tidak bisa mengkonfirmasikan kebenarannya.
Namun, satu hal bisa saya pastikan, yakni dengan mengikuti
disiplin Saringan Tiga Kali, ada banyak sekali gosip yang
harus terhenti secara mendadak. Sebab gosip seperti apakah
yang bisa disebut BENAR, BAIK, dan BERGUNA?
Tabik Mahardika!
***
Andrias Harefa, Penulis buku terlaris Menjadi Manusia
Pembelajar [Kompas, 2000] dan fasilitator
www.pembelajar.com |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|