|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Edukasi |
|
23 Juni 2005
Membaca Arah Perubahan Andrias Harefa |
|
|
Di sekolah kehidupan kita menyaksikan perubahan datang
silih berganti. Orang-orang berubah. Pada umumnya, yang
kecil menjadi remaja, yang remaja menjadi dewasa, yang
dewasa menjadi tua, dan yang tua meninggal dunia.
Organisasi juga berubah, sejumlah organisasi bangkrut dan
bubar karena tak bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan
zaman, sementara organisasi-organisasi baru muncul.
Lingkungan alam mengalami perubahan pula, hutan-hutan
ditebang, dan jalan-jalan serta gedung-gedung dibangun
dalam anekaragam bentuk. Penguasa yang satu diganti
penguasa yang lain, dan bahkan peta dunia pun mengalami
penyesuaian di sana-sini (entah karena runtuhnya tembok
Berlin, bubarnya Uni Soviet, atau terpisahnya Timor Leste
dari Indonesia).
Jika diamati agak saksama, secara umum perubahan-perubahan
yang terjadi acapkali bergulir perlahan, sedikit demi
sedikit, dan baru pada titik tertentu muncul sebagai
perubahan yang dahsyat. Ibarat bola salju yang
menggelinding, mulanya kecil, namun terus bergulung dan
makin ke bawah makin membesar, sampai terlalu besar untuk
bisa dihentikan seketika. Ibarat kerutan di wajah yang
datangnya entah kapan, tetapi suatu ketika kita sadar
bahwa usia telah menjadi tua. Ibarat saluran-saluran air
yang mampet di berbagai sudut-sudut kota Jakarta, tak
terasa dan tak nampak di saat musim kemarau yang kerontang.
Namun ketika hujan deras muncul tiba-tiba, apa yang semula
tak nampak itu sekonyong-konyong menjadi sangat jelas.
Untuk bisa membaca arus perubahan dalam masyarakat,
sejumlah pakar menyarankan agar kita memperhatikan
perubahan perilaku dan cara berkomunikasi pada anak-anak
atau cucu-cucu kita. Misalnya, Mochtar Ryadi, ikon
perbankan di paruh terakhir abad dua puluh silam,
meramalkan bahwa electronic banking, khususnya yang
berbasis internet, akan mendominasi wajah perbankan di
abad dua puluh satu. Hal ini ia simpulkan sebelum tahun
2000 silam, setelah menyaksikan pola komunikasi
cucu-cucunya yang sangat akrab dengan internet. Karena
cucu-cucunya yang berusia sekolah dasar mengakrabi
internet, maka kelak mereka pasti menggunakan berbagai
jasa dan produk yang mudah diperoleh lewat internet.
Dengan sistem penalaran yang sama, Tim Lahaye dalam The
Battle for the Family, pernah mencoba memetakan
persoalan-persoalan sosial yang mungkin muncul dalam
masyarakat Amerika dengan mendaftarkan sepuluh masalah
terbesar yang muncul di sekolah-sekolah. Tidak
tanggung-tanggung, Lahaye mengutip hasil survei berskala
nasional, yang membandingkan apa yang dikeluhkan oleh para
pengajar di dunia persekolahan Amerika dalam rentang 50
tahun, yakni 1940 dan 1990. Dan hasilnya sungguh pantas
untuk dipelototi baik-baik seperti nampak dalam tabel
berikut. |
SEPULUH MASALAH
TERBESAR
DI SEKOLAH-SEKOLAH AMERIKA SERIKAT |
| Pada tahun 1940 |
Pada tahun 1990 |
| Membolos sekolah |
Tindak kekerasan |
| Berlari di lorong-lorong sekolah |
Pencurian |
| Berebut bicara di kelas |
Perkosaan |
| Tidak mengerjakan PR |
Melecehkan pengajar |
| Memotong antrean |
Membawa senjata |
| Tidak mengembalikan buku |
Vandalisme-perampokan |
| Makan permen karet di kelas |
Bunuh diri |
| Ngobrol di perpustakaan |
Pembakaran |
| Memecahkan kaca jendela |
Penyalahgunaan obat terlarang |
| Mencoret-coret |
Perkelahian antar sekolah/kelompok |
|
Masih di Amerika, sejumlah survei lain yang dipaparkan
oleh Paul Stoltz dalam bukunya Adversity Quotient (1997).
Disebutkan bahwa penggunaan narkoba di antara anak-anak
usia 12 hingga 17 tahun meningkat 78 persen sejak 1992.
Sekitar 60 persen pernikahan berakhir dengan perceraian
atau perpisahan. Rumah tangga tradisional, dengan dua
orangtua biologis dan anak-anak mereka sendiri, hanya
mencapai 8 persen dari total rumah tangga di tahun 1984.
Rumah tangga dengan orangtua tunggal [single parent]
meningkat 200 persen sejak 1970. Anak-anak dari rumah
tangga semacam ini memiliki kemungkinan lebih dari 64
persen untuk mempunyai anak di luar nikah, dan lebih dari
93 persen akan bercerai seandainya mereka menikah.
Semakin banyak anak-anak yang melahirkan anak-anak. Pada
tahun 1996, terdapat 500.000 bayi yang dilahirkan oleh
ibu-ibu remaja. Sejak 1960, kelahiran di luar nikah
meningkat 400 persen. Oleh karena itu, mungkin tidak
terlalu mengejutkan apabila anak-anak merupakan 48 persen
kaum miskin di negeri Hollywood itu.
Anak-anaklah yang paling menderita jika tidak memperoleh
pendidikan yang benar. Banyak yang mudah kehilangan
harapan. Bunuh diri di kalangan remaja telah berlipat tiga
sejak 1960. Sebanyak 59 persen kaum remaja Amerika
mengenal seseorang yang pernah mencoba bunuh diri, bahkan
26 persen mengenal seseorang yang berhasil bunuh diri.
Angka-angka itu semakin mengkhawatirkan di antara
anak-anak warga negara asli Amerika, 30 persen di
antaranya pernah mencoba bunuh diri.
Perceraian mengakibatkan 3 dari 4 remaja bunuh diri, dan 4
dari 5 remaja masuk rumah sakit jiwa. Banyak pakar yang
mengatakan bahwa semua itu terjadi karena para remaja
Amerika kehilangan kendali atas hidup mereka. Para
psikolog melihat kecenderungan yang meresahkan, yakni
menyakiti diri, membakar, menyayat dan menodai, di antara
kaum remaja putri.
Jika proses pendidikan dianggap bertanggung jawab atas
berbagai perubahan tersebut di atas, maka sejumlah survei
menunjukkan bahwa anak-anak usia Taman Kanak-kanak
menghabiskan waktu rata-rata 4 jam menonton televisi.
Sementara seorang remaja menghabiskan waktu 1,8 jam untuk
membaca, lalu 5,6 jam untuk mengerjakan pekerjaan rumah,
dan 21 jam untuk menonton televisi setiap minggunya [3 jam
per hari]. Setiap harinya kaum remaja menghabiskan waktu
rata-rata 5 menit dengan ayahnya, dan 20 menit dengan
ibunya. Karena tidak ada sensor terhadap acara-acara yang
ditayangkan televisi, seorang anak yang tamat sekolah
dasar telah menyaksikan sekitar 100.000 tayangan tindak
kekerasan.
Begitulah selayang pandang proses perubahan yang sedang
terjadi dalam masyarakat Amerika, sebuah negeri yang
dianggap paling maju di planet bumi ini. Lalu apa artinya
semua itu bagi kita? Bagi orang-orang di negeri bernama
Indonesia ini?
Sebagai pembelajar di sekolah kehidupan Indonesia,
sejumlah hal harus kita petik sebagai pelajaran berharga.
Sekurang-kurangnya, membaca pengalaman Amerika mungkin
memberi sedikit gambaran mengenai persoalan-persoalan yang
perlu kita antisipasi dalam konteks perubahan dalam
masyarakat kita. Sebab kita tahu, bahwa
persoalan-persoalan yang dihadapi di sekolah dan
masyarakat telah berubah, dan itu tidak saja terjadi di
Amerika sana. Dalam intensitas atau kadar yang berbeda,
kita juga merasakan apa yang sedang terjadi di negeri ini.
Jika di Amerika beberapa kali diberitakan bahwa ada anak
sekolah yang menembak mati kawan-kawannya, maka di
Indonesia kita membaca ada anak sekolah yang mencoba bunuh
diri karena malu tak bisa bayar uang/iuran sekolah (Jawa
Barat). Ada juga anak sekolah yang bunuh diri karena tidak
berhasil menjadi juara seperti tuntutan ayahnya (Jakarta).
Tawuran pelajar yang menggunakan senjata tajam sudah mulai
menjadi berita rutin di sejumlah kota besar Indonesia.
Remaja putri yang hamil atau mengalami tindak kekerasan
seksual juga makin sering kita baca/dengar liputannya di
sejumlah media, cetak dan elektronik. Anak-anak putus
sekolah juga cenderung bertambah, dan sebagian
menggelandang di jalan-jalan kota besar. Singkatnya,
keluhan para pengajar di Amerika ternyata tak jauh berbeda
dengan keluhan para pengajar di sekolah-sekolah kita
dewasa ini. Hanya saja, dalam konteks kita, angka-angkanya
sangat sulit diperoleh karena kurangnya studi-studi
semacam itu (atau kurang publikasinya?).
Fenomena perceraian juga kita rasakan meningkat, bukan
cuma di kalangan selebritis, tetapi juga di lingkungan
hidup kita sehari-hari. Di perkotaan, khususnya kompleks
perumahan, tidak sulit menemukan pasangan yang bercerai
atau berpisah di tiap rukun tetangga (RT) yang terdiri
dari 40-80 kepala keluarga (KK).
Masih di perkotaan, orangtua tunggal dengan satu-dua anak
juga mudah kita temukan di lingkungan kerja. Kasus-kasus
narkoba, nekaragam tindak kriminal, penggundulan hutan,
kebakaran hutan, banjir dan tanah longsor, serta
masalah-masalah sosial-ekonomi lainnya (termasuk korupsi
yang tiada henti) terakumulasi dari waktu ke waktu. Lalu
secara perlahan harapan-harapan kita teraniaya oleh berat
dan kompleksnya persoalan hidup sehari-hari.
Semua penggambaran di atas tidak dimaksudkan untuk membuat
kita pesimis dan putus asa. Sebab bagaimana pun sulitnya
persoalan hidup yang kita hadapi, pasti ada jalan keluar
yang bisa – dan memang harus – diupayakan. Penggambaran di
atas hanya ingin menggugah kesadaran bahwa kita hidup di
zaman yang serba sulit, dan cenderung semakin sulit.
Karenanya untuk bertahan dan berkembang di zaman seperti
ini, kita perlu memanfaatkan seluruh potensi dan bakat/talenta
terbaik yang terpendam di dalam diri kita. Kita perlu
memanfaatkan segala jenis kecerdasan, entah itu kecerdasan
intelegensi, kecerdasan emosional, kecerdasan musikal,
kecerdasan fisik, kecerdasan inter-personal, kecerdasan
intra-personal, kecerdasan spasial, kecerdasan praktikal,
kecerdasan adversitas, kecerdasan spiritual, bersama
dengan kecerdasan-kecerdasan buatan (artifisial) lainnya.
Dengan lain perkataan, ketika arah perubahan yang menuju
pada kesulitan-kesulitan yang lebih rumit dan kompeks,
kita sesungguhnya ditantang untuk terus menerus
mengembangkan kesadaran atas potensi kemanusiaan kita,
sambil terus menerus mengikuti proses pembelajaran
berkelanjutan, dan mencari cara-cara praktis untuk
menyiasati beban-beban kehidupan di lingkungan kerja, dan
lingkungan hidup di mana kita mengabdikan diri. Jika
perubahan menunjuk kepada masalah dan tantangan yang lebih
besar, kita harus sadar, belajar, dan berlatih untuk
menghadapinya tanpa pernah menyerah. Adakah cara lain di
luar sadar-belajar-berlatih? Tabik Mahardika!
***
Andrias Harefa, Penulis buku terlaris Menjadi Manusia
Pembelajar [Kompas, 2000] dan fasilitator
www.pembelajar.com
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|