|
Dalam sebuah buku
kecil yang diterbitkan untuk ulang tahun ke-40 kawan saya
Handoko Wignyowargo belum lama berselang, istrinya
Magdalena Subijanto menulis, antara lain; Handoko kini
menjadi penulis kolom tetap untuk sejumlah media, antara
lain Majalah Properti, Majalah Manajemen, dan majalah
Indonesia Corp. Banyak yang berpikir bahwa kemampuan
menulisnya karena ia dulu kuliah di Jurusan Ilmu
Komunikasi UI. Saya harus katakan sejujurnya bahwa hal itu
tidak benar.
Sepengetahuan saya Handoko sudah pintar menulis sejak dia
berumur 13 tahun. Kala itu kami mulai berkorespondensi,
surat-surat Handoko kepada saya adalah bukti kemampuannya
menulis. Surat-surat dari Handoko bukan hanya sering,
tetapi juga panjang dan menceritakan banyak hal dalam
bahasa yang enak dibaca. Handoko bahkan pernah menulis
surat kepada saya sepanjang 2 meter, yang sampai hari ini
masih saya simpan dengan baik.
Sebuah kebiasaan yang tidak banyak diketahui orang lain
adalah kebiasaannya bangun jam 04.00 setiap pagi. Itu
dilakukannya setiap hari, meski weekend dan hari libur.
Dan itu dilakukannya tanpa jam weker! Biasanya yang
dilakukan Handoko di pagi hari adalah membaca buku,
kadang-kadang ia tenggelam bersama komputernya, apakah itu
menulis artikel ataupun bermain-main dengan internet dan
e-mailnya, atau sesekali mengirim dan membalas SMS.
Sejumlah teman dekatnya tahu betul kalau handphone mereka
berbunyi di saat subuh, kemungkinan besar dari Handoko.
Ada seorang teman dekat Handoko yang sering mengirim SMS
setelah ia menjalankan sholat subuh, karena tahu kalau
Handoko pasti sudah terjaga...
Selanjutnya, Magdalena masih menuliskan dua belas hal lain
tentang sang suami. Semua pemaparannya hanya dimaksudkan
untuk memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai sosok
anak manusia bernama Handoko Wignyowargo. Dengan lain
perkataan, sang istri menggambarkan kebiasaan dan watak
suaminya.
Dari apa yang dikutip di atas, kita menjadi tahu bahwa dua
dari sejumlah ciri khas atau karakter Handoko adalah
pintar menulis dan selalu bangun jam 04.00 pagi. Soal
menulis sudah dibiasakan Handoko sejak usia 13 tahun.
Sementara soal bangun jam 04.00 pagi entah kapan dimulai.
Yang jelas, baik kemampuannya menulis maupun bangun pagi
adalah hasil dari proses yang kita sebut disiplin. Ia
mendisiplin dirinya untuk menulis dan bangun pagi.
Disiplin adalah proses pelatihan pikiran dan karakter,
yang meningkatkan kemampuan untuk mengendalikan diri
sendiri, dan menumbuhkan ketaatan atau kepatuhan terhadap
tata tertib atau nilai tertentu. Handoko mendisiplin
dirinya untuk menulis, bangun pagi dan belajar, sehingga
hasilnya ia dikenal sebagai penulis kolom dan seorang
profesional yang memiliki karier mengagumkan. Terakhir ia
meninggalkan posisi direktur di sebuah perusahaan kelompok
Ciputra, dan mendaftarkan diri untuk mengikuti program
studi doktoral di Universitas Indonesia. Mengingat
karakternya yang suka bangun pagi untuk membaca dan pandai
menulis, maka patut di duga Handoko akan mampu
menyelesaikan studinya dengan baik. Disiplin yang telah
dikembangkannya merupakan modal dasar yang kuat yang
membuatnya lebih mudah mendapatkan apa saja yang ingin
diperjuangkannya, termasuk soal gelar doktor.
Kasus Handoko mengajarkan kepada kita bahwa disiplin bukan
bakat bawaan, bukanlah sesuatu yang kita peroleh karena
garis keturunan kita. Disiplin adalah hasil pembelajaran.
Dan itu berarti setiap orang, ya setiap orang,
sesungguhnya bisa belajar mendisiplin dirinya. Dalam
bidang-bidang dimana orang mendisiplin dirinya, maka
keberhasilan hanyalah soal waktu dan soal kemurahan Tuhan
semata.
Hal yang sebaliknya juga benar. Kita bisa belajar untuk
tidak berdisiplin, membiarkan diri diayun oleh bola-bola
emosi, suasana hati, dan kondisi di sekitar kita. Hasilnya
adalah ketidakmampuan mengendalikan diri untuk patuh pada
tata tertib atau nilai tertentu. Dan konsekuensinya adalah
kita menuai kehidupan yang jauh dari apa yang kita
cita-citakan. Sebab tanpa disiplin cita-cita tinggal
cita-cita. Tanpa disiplin impian tinggal impian. Tanpa
disiplin ide dan gagasan tinggal ide dan gagasan. Tanpa
disiplin target tinggal target. Tanpa disiplin harapan
tinggal harapan. Tanpa disiplin perubahan ke arah yang
lebih baik hampir mustahil bisa diwujudkan.
Disiplin membawa kita pada apa yang kita idam-idamkan.
Disiplin mencicil rumah atau kendaraan membebaskan kita
dari kemungkinan didatangi debt collector. Disiplin dalam
menabung membuat harta kita bertambah-tambah. Disiplin
dalam belajar membawa kepada kepintaran. Disiplin dalam
membaca memungkinkan orang menjadi bijaksana. Disiplin
dalam menulis memungkinkan orang menjadi kolomnis.
Disiplin dalam berolah raga memungkinkan tubuh sehat lebih
lama. Disiplin dalam bergaul memperluas perkawanan.
Disiplin memberikan sedekah menumbuhkan hati yang pemurah.
Disiplin dalam berdoa dan berpuasa menuntun pada kepekaan
dan ketakwaan. Disiplin dalam hal tertentu SELALU membawa
hasil tertentu, tidak bisa tidak.
Tidak saja dalam hal kebaikan, dalam soal kejahatan pun
disiplin memainkan peran penting. Lihat saja
organisasi-organisasi yang dikenal dalam dunia hitam. Para
Yakuza di Jepang, Triad di Hong Kong dan Taiwan, Mafia di
Amerika dan Eropa, semuanya dikenal sebagai kelompok yang
memegang teguh disiplin tertentu. Mereka mendidik para
anggotanya untuk tidak mempercayai siapapun, bahkan tidak
juga ayah dan saudaranya. Mereka menghukum setiap anggota
yang melanggar aturan dengan cara-cara yang menyebarkan
ketakutan secara dahsyat. Mereka menempatkan disiplin
sebagai kunci sukses organisasinya.
Terlepas dari soal apakah disiplin digunakan untuk maksud
baik atau maksud jahat, perlu kita garis bawahi bahwa
disiplin adalah soal HARI INI. Disiplin bukan soal hari
esok, sebab hari esok hanyalah konsekuensi hari ini.
Artinya, kita tidak perlu terlalu berpikir jauh untuk
mulai mendisiplin diri. Kita bisa mulai HARI INI JUGA.
Jika sasaran kita adalah menelpon 7 orang hari ini, maka
teleponlah 7 orang HARI INI. Jika sasaran kita adalah
menabung Rp 10.000,- hari ini, maka menabunglah Rp
10.000,- HARI INI. Jika sasaran kita adalah menjadi
pengemudi kendaraan yang mematuhi tanda-tanda lalu lintas
hari ini, maka patuhilah mulai HARI INI. Jika kita ingin
menjadi orang yang bersemangat dalam bekerja, mulailah
dengan bersemangat HARI INI juga. Itulah disiplin. Ia bisa
dimulai hari ini, dan di mulai dari hal-hal kecil dan
sederhana.
Tuhan membuat kita tertidur di malam hari, dan memberi
kita mimpi-mimpi yang indah. Lalu kita dibangunkan di pagi
hari agar bekerja dan berkarya mewujudkan impian-impian
tersebut dalam dunia nyata, demikian bunyi salah satu SMS
yang sering saya terima dari sejumlah kawan. Mungkin
kalimat indah itu benar. Namun mewujudkan impian menjadi
kenyataan hanya mungkin jika ada disiplin. Sebab disiplin
adalah lem perekat dunia impian dan dunia nyata. Disiplin
adalah jembatan penghubung, sehingga tanpa disiplin dunia
impian tak akan tersambung dengan dunia nyata.
Tabik Mahardika!
***
Andrias Harefa, Penulis buku terlaris Menjadi Manusia
Pembelajar [Kompas, 2000] dan fasilitator
www.pembelajar.com
|