Edukasi
30 maret 2004
Menjadi Insinyur Kepribadian dan Profesor Kebahagiaan

Hendrawan Nadesul

Baru-baru ini urusan kebahagiaan duniawi sampai memerlukan sebuah konferensi. Sejumlah psikolog dan sosiolog dunia berkumpul di London membahas topik kebahagiaan. Psikolog Dr. Nick Baylis dari Universitas Cambridge menyimpulkan sebuah bahan renungan buat kita, bahwa kita menghabiskan energi untuk mengejar sesuatu yang kita kira membawa kebahagiaan, namun ternyata tidak. Pertumbuhan ekonomi tidak membawa kebahagiaan manusia. Betul kesehatan, pendidikan, perumahan menjadi semakin baik dengan perbaikan ekonomi, namun tidak untuk kebahagiaan.

Studi lain dari yang pernah penulis baca sedasawarsa lalu, bahwa manusia tidak pernah selesai membicarakan urusan berapa sih yang cukup itu bagi manusia. Ternyata tak ada batas tertinggi untuk kecukupan manusia. Kebahagiaan orang sekarang ternyata tidak bertambah indah dibanding kebahagiaan orang yang hidup tahun 1950-an.

Sementara Prof Martin Seligman, salah seorang peserta konferensi kebahagiaan dari Amerika mengungkapkan hasil studinya bahwa pengejaran terhadap kesenangan tidak banyak menyumbang bagi kebahagiaan hidup.

Orang lalu bertanya kalau begitu di mana sesungguhnya kebahagiaan hidup berada? Stereotipik jawaban orang percaya masih meniscayai bahwa kebahagiaan ada di dalam hati kita. Masih memadaikah jawaban itu manakala kebahagiaan sudah semakin orang ilmiahkan?

Rasanya sudah tidak lagi memadai. Dalam konferensi tersebut nyatanya untuk meraih kebahagiaan orang membutuhkan 3 hal, (1) merasa terlibat dalam kegiatan teratur dan memuaskan (karier sesuai dengan kompetensi dan kapabilitas, serta kecintaan pada bidang pekerjaan yang dipilih, serta tersalurkannya hobi);(2) merasa memiliki dan juga dimiliki antarteman di tengah komunitas (memiliki komunitas); (3) merasa dekat dengan Tuhan.

Orang yang religius lebih optimistis dalam hidup dibanding mereka yang tidak religius. Beberapa waktu lalu Pendeta Purboyo W Susilaradeya dalam sebuah khotbahnya mengangkat ayat emas berikut, yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman dan memeliharanya (Lukas 11:28).

Di bawah ini sekadar urun rembuk penulis ingin menelaahnya secara sederhana terhadap hidup dan kehidupan, sambil mengutip, memetik beberapa rujukan yang sempat penulis baca dan amati. Sebagian pernah membantu menambah bahan untuk memberikan seminar, atau kegiatan pastoral.

Sebagaimana lazim setiap tahun, menjelang masuk perguruan tinggi, tak banyak siswa kita yang sudah siap di kepala mau masuk jurusan apa. Di pihak lain banyak orangtua lupa, untuk meraih sukses agaknya pintar saja tak cukup.

Bahwa kepintaran bisa mencetak banyak uang, bisa jadi benar. Namun sukses hidup tidak dipatok cuma dari banyak uang semata. Tidak semua semerbak kehidupan bisa dibeli dengan uang.

Kelaparan anak Amerika sekarang katanya lantaran mereka kehilangan arah dan tak punya sikap hidup. Betul pintar tapi rasa arah hilang, krisis spiritual, kerawanan jiwa, dan merasa hidup nihil. Di banyak negara maju sekarang tak sedikit orang yang tampak mapan perlu “logotherapy”, terapi buat penyakit hidup tanpa makna (meaningless life).

Gambaran kelabu seperti itu kelihatannya sedang memberi warna pada Generasi X sekarang ini, generasi dunia paling bontot. Setelah ‘Baby Boomers’ tahun 50-an lalu ‘Baby Busters’ tahun 64-an, kini Gen-X dijuluki orang “Generasi Bingung” (ambivalensi). Hidup mewah, mandiri, tapi merasa tak bahagia.

Mereka mencari makna hidup ke mana-mana, termasuk ke narkoba, seks bebas, hidup foya-foya, namun tak juga menemu. Mengapa? Mungkin lantaran pendidikan dunia sudah berubah seperti “pabrik” (Ivan Illich). Anak dididik bukan lagi untuk tujuan yang bersifat moral, tapi lebih untuk tujuan ekonomi. Boleh jadi juga karena orangtua, sekolah, pemerintah, masih menyimpan angan-angan bahwa tujuan akhir bersekolah buat pintar mencetak duit belaka.

Peran sekolah cenderung hanya mengajar dan tidak mendidik diduga penyebab pupusnya nilai-nilai tradisional yang mempertebal rasa budi-pekerti anak. Tanpa mendidik dan hanya mengajar, kepala anak cuma memuat ilmu tanpa menyimpan peta kehidupan. Pada saat yang sama anak kehilangan gugus humanioranya.

Sekolah agaknya juga cenderung memuati otak anak dengan kurikulum yang belum tentu perlu. NEM tinggi untuk nilai hapalan nama kecamatan, nama tokoh, tahun sejarah, dan hal-hal yang tak ada keperluannya buat bekal memecahkan masalah hidup cuma menambah sempit gudang disket memori otak anak. Berbekal remeh-temeh itu rata-rata anak kita harus berkompetisi dengan sebayanya di dunia yang berbeda metode pendidikannya.

Jutawan Henry Ford konon mengaku bukan anak sekolahan. Waktu ditanya tentang nama seorang tokoh, ia mengaku tidak tahu, lalu mengatakan cuma perlu waktu beberapa menit buat menjawabnya dari ensiklopedi (waktu itu belum ada CD-Rom, atau gudang memori lainnya). Apa gunanya menjadi “ensiklopedi berjalan”, kalau pengetahuan itu tidak bisa membantu memecahkan masalah hidup, katanya. Tanpa sadar kita membiarkan otak anak kita pun hanya dijadikan gudang fakta, bukan mesin pengolah data.

Singapura meninggalkan metoda pendidikan yang hanya mengisi otak dengan ilmu namun tak memampukan anak memakai otaknya untuk menggagas, apalagi bersolusi (think tank). Untuk bisa sukses tidak selalu harus super. Bukan isi otak semata yang menentukan sukses seseorang, melainkan juga bagaimana otak ditatalaksana (David J Schwartz).

ANAK sekarang juga rata-rata gagal mewarisi nilai orangtua, guru, dan bangsanya. Nilai hidup berdisiplin salah satunya. Berdisiplin seharusnya menjadi pergumulan anak, oleh karena disiplin merupakan sarana utama untuk mengatasi masalah hidup (M Scott Peck). Itu maka sekolah bukan untuk tujuan belajar saja melainkan untuk terampil menatalaksana hidup dan kehidupan.

Hidup perlu berdisiplin. Pokok berdisiplin secara kejiwaan butuh empat kepatuhan. Kalau pintar saja tapi tidak disiplin, berarti tidak (1) menjunjung tinggi kebenaran, tak mau (2) menerima tanggungjawab, dan tidak terbiasa (3) menunda kepuasan, bakal apa jadinya anak nantinya.

Banyak orangtua yang lupa kalau sejak kecil setiap manusia adalah murid. Setiap anak membutuhkan peta untuk memandu sikap, pikir, rasa, dan laku, sebab kita tidak dilahirkan dengan peta.

Dengan peta kehidupan, anak dipandu tahu rasa arah, terisi spiritualitasnya, dan merasa diri bermakna. Untuk meraih totalitas hidup seperti itulah pendidikan harus kembali ke basics (Buchori) sehingga kelak anak menjadi “somebody”, bukan ”nobody” seperti kini dialami begitu banyak orang di dunia yang umurnya sudah lebih tua.

Sayangnya, tak semua orangtua punya sikap seperti kata Kahlil Gibran. Bahwa anak bukanlah milik kita. Mereka anak panah, dan kita busurnya. Kebebasan anak tak boleh dirampas oleh arah busur hidup yang salah. Hari depan anak jangan dibuat sesat oleh ambisi orangtua.

Kita juga sering melihat bukan sedikit profesional kita yang merasa hidupnya tidak sukses kendati banyak uang sebab tidak mencintai bidang pekerjaannya. Konon profesional bernasib seperti ini hanya menjadi tukang, dan kata orang bukan seniman berprofesi. Dokter jadi kontraktor, insinyur jadi direktur bank, atau sarjana hukum jadi makelar. Di mana-mana negara maju, kesalahan dalam karirisme tidak dihalalkan. Kondisi begini rupanya yang membawa orang pintar berharta bertahta yang orang lain melihatnya sukses namun ia sendiri merasa hidupnya tidak sukses.

SELAIN itu anak sekarang hidup di tengah kuyup krisis moral. Pada saat yang sama anak menyerap nilai-nilai menyimpang dari masyarakatnya yang sakit. Mereka bingung melihat kebenaran menjadi soal selera, dan moral digantikan pilihan individu. Anak kehilangan kemampuan membedakan yang salah dari yang benar.

Riset George Barna di sekolah-sekolah Amerika tahun 1994 menunjukkan, apabila anak tidak mengenal standar kebenaran, mereka akan berbohong kepada orangtua, suka menyontek, mencuri, terlibat narkoba, menyakiti orang lain, hidup tanpa tujuan, merasa kesal dan kecewa, dan marah kepada kehidupan. Munculnya kasus kekerasan, sikap tak jujur, tak menaruh hormat pada kehidupan, melakukan seks bebas, lebih disebabkan oleh karena mereka kehilangan pendukung moral.

Kalau rumah dan sekolah tidak memberi peta moral kepada anak, bagaimana masih bisa berharap karakter anak bangsa bisa dibangun. Kekalutan hidup berbangsa kita selama ini pun agaknya berhulu dari kurang eloknya karakter mayoritas nama besar yang menjadi sukses hanya karena banyak uang, harta, dan tahta belaka, namun iman dan moralnya lumpuh. Termasuk kehadiran politisi bermasalah, kepada siapa anak-anak bangsa mendapatkan teladan.

Pendidikan di rumah dan di sekolah belum terlambat untuk disikapi harus kembali mencetak anak menjadi somebody, bukan nobody supaya kelak mereka menjadi sosok insinyur kepribadian, dan profesor kebahagiaan. Sosok gelar yang jauh lebih berharga dan lebih mulia untuk mengantarkan setiap anak menjadi sukses tanpa harus mengandalkan hanya dari memiliki harta, uang, dan tahta belaka.

Pendidikan yang jangan sampai menciptakan orang yang hidup telah memberinya emas tapi merasa diri cuma loyang.

***

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003