|
Baru-baru ini urusan kebahagiaan duniawi sampai memerlukan
sebuah konferensi. Sejumlah psikolog dan sosiolog dunia
berkumpul di London membahas topik kebahagiaan. Psikolog
Dr. Nick Baylis dari Universitas Cambridge menyimpulkan
sebuah bahan renungan buat kita, bahwa kita menghabiskan
energi untuk mengejar sesuatu yang kita kira membawa
kebahagiaan, namun ternyata tidak. Pertumbuhan ekonomi
tidak membawa kebahagiaan manusia. Betul kesehatan,
pendidikan, perumahan menjadi semakin baik dengan
perbaikan ekonomi, namun tidak untuk kebahagiaan.
Studi lain dari yang pernah penulis baca sedasawarsa lalu,
bahwa manusia tidak pernah selesai membicarakan urusan
berapa sih yang cukup itu bagi manusia. Ternyata tak ada
batas tertinggi untuk kecukupan manusia. Kebahagiaan orang
sekarang ternyata tidak bertambah indah dibanding
kebahagiaan orang yang hidup tahun 1950-an.
Sementara Prof Martin Seligman, salah seorang peserta
konferensi kebahagiaan dari Amerika mengungkapkan hasil
studinya bahwa pengejaran terhadap kesenangan tidak banyak
menyumbang bagi kebahagiaan hidup.
Orang lalu bertanya kalau begitu di mana sesungguhnya
kebahagiaan hidup berada? Stereotipik jawaban orang
percaya masih meniscayai bahwa kebahagiaan ada di dalam
hati kita. Masih memadaikah jawaban itu manakala
kebahagiaan sudah semakin orang ilmiahkan?
Rasanya sudah tidak lagi memadai. Dalam konferensi
tersebut nyatanya untuk meraih kebahagiaan orang
membutuhkan 3 hal, (1) merasa terlibat dalam kegiatan
teratur dan memuaskan (karier sesuai dengan kompetensi dan
kapabilitas, serta kecintaan pada bidang pekerjaan yang
dipilih, serta tersalurkannya hobi);(2) merasa memiliki
dan juga dimiliki antarteman di tengah komunitas (memiliki
komunitas); (3) merasa dekat dengan Tuhan.
Orang yang religius lebih optimistis dalam hidup dibanding
mereka yang tidak religius. Beberapa waktu lalu Pendeta
Purboyo W Susilaradeya dalam sebuah khotbahnya mengangkat
ayat emas berikut, yang berbahagia ialah mereka yang
mendengarkan firman dan memeliharanya (Lukas 11:28).
Di bawah ini sekadar urun rembuk penulis ingin menelaahnya
secara sederhana terhadap hidup dan kehidupan, sambil
mengutip, memetik beberapa rujukan yang sempat penulis
baca dan amati. Sebagian pernah membantu menambah bahan
untuk memberikan seminar, atau kegiatan pastoral.
Sebagaimana lazim setiap tahun, menjelang masuk perguruan
tinggi, tak banyak siswa kita yang sudah siap di kepala
mau masuk jurusan apa. Di pihak lain banyak orangtua lupa,
untuk meraih sukses agaknya pintar saja tak cukup.
Bahwa kepintaran bisa mencetak banyak uang, bisa jadi
benar. Namun sukses hidup tidak dipatok cuma dari banyak
uang semata. Tidak semua semerbak kehidupan bisa dibeli
dengan uang.
Kelaparan anak Amerika sekarang katanya lantaran mereka
kehilangan arah dan tak punya sikap hidup. Betul pintar
tapi rasa arah hilang, krisis spiritual, kerawanan jiwa,
dan merasa hidup nihil. Di banyak negara maju sekarang tak
sedikit orang yang tampak mapan perlu “logotherapy”,
terapi buat penyakit hidup tanpa makna (meaningless life).
Gambaran kelabu seperti itu kelihatannya sedang memberi
warna pada Generasi X sekarang ini, generasi dunia paling
bontot. Setelah ‘Baby Boomers’ tahun 50-an lalu ‘Baby
Busters’ tahun 64-an, kini Gen-X dijuluki orang “Generasi
Bingung” (ambivalensi). Hidup mewah, mandiri, tapi merasa
tak bahagia.
Mereka mencari makna hidup ke mana-mana, termasuk ke
narkoba, seks bebas, hidup foya-foya, namun tak juga
menemu. Mengapa? Mungkin lantaran pendidikan dunia sudah
berubah seperti “pabrik” (Ivan Illich). Anak dididik bukan
lagi untuk tujuan yang bersifat moral, tapi lebih untuk
tujuan ekonomi. Boleh jadi juga karena orangtua, sekolah,
pemerintah, masih menyimpan angan-angan bahwa tujuan akhir
bersekolah buat pintar mencetak duit belaka.
Peran sekolah cenderung hanya mengajar dan tidak mendidik
diduga penyebab pupusnya nilai-nilai tradisional yang
mempertebal rasa budi-pekerti anak. Tanpa mendidik dan
hanya mengajar, kepala anak cuma memuat ilmu tanpa
menyimpan peta kehidupan. Pada saat yang sama anak
kehilangan gugus humanioranya.
Sekolah agaknya juga cenderung memuati otak anak dengan
kurikulum yang belum tentu perlu. NEM tinggi untuk nilai
hapalan nama kecamatan, nama tokoh, tahun sejarah, dan
hal-hal yang tak ada keperluannya buat bekal memecahkan
masalah hidup cuma menambah sempit gudang disket memori
otak anak. Berbekal remeh-temeh itu rata-rata anak kita
harus berkompetisi dengan sebayanya di dunia yang berbeda
metode pendidikannya.
Jutawan Henry Ford konon mengaku bukan anak sekolahan.
Waktu ditanya tentang nama seorang tokoh, ia mengaku tidak
tahu, lalu mengatakan cuma perlu waktu beberapa menit buat
menjawabnya dari ensiklopedi (waktu itu belum ada CD-Rom,
atau gudang memori lainnya). Apa gunanya menjadi
“ensiklopedi berjalan”, kalau pengetahuan itu tidak bisa
membantu memecahkan masalah hidup, katanya. Tanpa sadar
kita membiarkan otak anak kita pun hanya dijadikan gudang
fakta, bukan mesin pengolah data.
Singapura meninggalkan metoda pendidikan yang hanya
mengisi otak dengan ilmu namun tak memampukan anak memakai
otaknya untuk menggagas, apalagi bersolusi (think tank).
Untuk bisa sukses tidak selalu harus super. Bukan isi otak
semata yang menentukan sukses seseorang, melainkan juga
bagaimana otak ditatalaksana (David J Schwartz).
ANAK sekarang juga rata-rata gagal mewarisi nilai orangtua,
guru, dan bangsanya. Nilai hidup berdisiplin salah satunya.
Berdisiplin seharusnya menjadi pergumulan anak, oleh
karena disiplin merupakan sarana utama untuk mengatasi
masalah hidup (M Scott Peck). Itu maka sekolah bukan untuk
tujuan belajar saja melainkan untuk terampil menatalaksana
hidup dan kehidupan.
Hidup perlu berdisiplin. Pokok berdisiplin secara kejiwaan
butuh empat kepatuhan. Kalau pintar saja tapi tidak
disiplin, berarti tidak (1) menjunjung tinggi kebenaran,
tak mau (2) menerima tanggungjawab, dan tidak terbiasa (3)
menunda kepuasan, bakal apa jadinya anak nantinya.
Banyak orangtua yang lupa kalau sejak kecil setiap manusia
adalah murid. Setiap anak membutuhkan peta untuk memandu
sikap, pikir, rasa, dan laku, sebab kita tidak dilahirkan
dengan peta.
Dengan peta kehidupan, anak dipandu tahu rasa arah, terisi
spiritualitasnya, dan merasa diri bermakna. Untuk meraih
totalitas hidup seperti itulah pendidikan harus kembali ke
basics (Buchori) sehingga kelak anak menjadi “somebody”,
bukan ”nobody” seperti kini dialami begitu banyak orang di
dunia yang umurnya sudah lebih tua.
Sayangnya, tak semua orangtua punya sikap seperti kata
Kahlil Gibran. Bahwa anak bukanlah milik kita. Mereka anak
panah, dan kita busurnya. Kebebasan anak tak boleh
dirampas oleh arah busur hidup yang salah. Hari depan anak
jangan dibuat sesat oleh ambisi orangtua.
Kita juga sering melihat bukan sedikit profesional kita
yang merasa hidupnya tidak sukses kendati banyak uang
sebab tidak mencintai bidang pekerjaannya. Konon
profesional bernasib seperti ini hanya menjadi tukang, dan
kata orang bukan seniman berprofesi. Dokter jadi
kontraktor, insinyur jadi direktur bank, atau sarjana
hukum jadi makelar. Di mana-mana negara maju, kesalahan
dalam karirisme tidak dihalalkan. Kondisi begini rupanya
yang membawa orang pintar berharta bertahta yang orang
lain melihatnya sukses namun ia sendiri merasa hidupnya
tidak sukses.
SELAIN itu anak sekarang hidup di tengah kuyup krisis
moral. Pada saat yang sama anak menyerap nilai-nilai
menyimpang dari masyarakatnya yang sakit. Mereka bingung
melihat kebenaran menjadi soal selera, dan moral
digantikan pilihan individu. Anak kehilangan kemampuan
membedakan yang salah dari yang benar.
Riset George Barna di sekolah-sekolah Amerika tahun 1994
menunjukkan, apabila anak tidak mengenal standar kebenaran,
mereka akan berbohong kepada orangtua, suka menyontek,
mencuri, terlibat narkoba, menyakiti orang lain, hidup
tanpa tujuan, merasa kesal dan kecewa, dan marah kepada
kehidupan. Munculnya kasus kekerasan, sikap tak jujur, tak
menaruh hormat pada kehidupan, melakukan seks bebas, lebih
disebabkan oleh karena mereka kehilangan pendukung moral.
Kalau rumah dan sekolah tidak memberi peta moral kepada
anak, bagaimana masih bisa berharap karakter anak bangsa
bisa dibangun. Kekalutan hidup berbangsa kita selama ini
pun agaknya berhulu dari kurang eloknya karakter mayoritas
nama besar yang menjadi sukses hanya karena banyak uang,
harta, dan tahta belaka, namun iman dan moralnya lumpuh.
Termasuk kehadiran politisi bermasalah, kepada siapa
anak-anak bangsa mendapatkan teladan.
Pendidikan di rumah dan di sekolah belum terlambat untuk
disikapi harus kembali mencetak anak menjadi somebody,
bukan nobody supaya kelak mereka menjadi sosok insinyur
kepribadian, dan profesor kebahagiaan. Sosok gelar yang
jauh lebih berharga dan lebih mulia untuk mengantarkan
setiap anak menjadi sukses tanpa harus mengandalkan hanya
dari memiliki harta, uang, dan tahta belaka.
Pendidikan
yang jangan sampai menciptakan orang yang hidup telah
memberinya emas tapi merasa diri cuma loyang.
***
|