Edukasi
29 maret 2004
Tanggapan Kreatif

Andrias Harefa

Di sekolah kehidupan saya belajar bahwa sering kali masalah-masalah yang saya hadapi berakar pada kekurangmampuan saya untuk menyadari betapa berlimpahnya rahmat yang nyata-nyata telah Tuhan berikan kepada saya.

Ia, misalnya, telah memberikan kepada saya seorang ibu yang menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan pandai mengatur keuangan keluarga; Ia telah memberikan kepada saya seorang ayah yang pandai berbicara, memimpin organisasi, dan bergaul di masyarakat; Ia telah memberikan kepada saya dua orang kakak perempuan yang sangat menyayangi adik-adiknya; Ia telah memberikan kepada saya tiga orang adik yang cerdas; Ia telah memberikan kepada saya panca indera yang berfungsi baik; Ia telah memberikan kepada saya kesempatan bersekolah sampai perguruan tinggi; Ia telah memberikan kepada saya potensi, bakat, talenta yang beraneka ragam; Ia telah memberikan kepada saya makan minum yang cukup, oksigen untuk bernafas, air, cahaya matahari; Ia telah memberikan kepada saya mentor, sahabat, dan sejumlah kenalan yang membantu saya melewati tahap-tahap kehidupan; Ia memberikan kepada saya kekuatan untuk menghadapi berbagai kesulitan hidup; dan lain sebagainya.

Terlalu panjang daftar yang harus saya buat, bila semua rahmat itu harus disebutkan satu per satu. Sebab, sesungguhnya tak terbilang rahmat yang diberikan Tuhan sepanjang hidup saya.

Meski hidup saya dikepung oleh rahmat dan anugerah Tuhan, tetapi ada sejumlah waktu dimana kesadaran saya atas rahmat itu memudar. Akibatnya, saya jadi kurang mensyukuri segala sesuatu yang telah saya nikmati, saya alami, dan saya miliki. Keinginan untuk menikmati lebih jauh, mengalami lebih sering, atau memiliki lebih banyak, ternyata acapkali membutakan mata budi dan mata batin saya untuk dapat melihat rahmat yang terus tercurah tanpa henti.

Beberapa hari terakhir ini, ketika saya menikmati kembali sejumlah karya tulis Stephen R. Covey, saya diingatkan tentang rahmat Tuhan yang bertalian dengan kemampuan saya memberikan tanggapan kreatif atas peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup saya. Bahwa saya diberi rahmat untuk mampu menanggapi segala sesuatu secara kreatif berdasarkan nilai-nilai yang saya yakini. Nilai-nilai yang bersumber pada prinsip-prinsip, hukum alam, dan kebenaran fundamental.

Meski kemampuan memberikan tanggapan kreatif tersebut pada dasarnya diberikan kepada semua manusia, namun dalam kasus saya hal itu masih sangat perlu dikembangkan lebih jauh. Saya perlu belajar mengembangkan lebih jauh kemampuan saya untuk tidak memberikan tanggapan hanya berdasarkan stimulus yang saya terima dari luar. Saya bukan batu, yang hanya pasif menerima bila dipukul; bukan pohon yang tak bisa berbuat apa-apa ketika ditebang; bukan pula binatang yang hanya bisa menyerang balik bila merasa diserang. Saya adalah manusia. Dan manusia bisa berlari jika akan dipukul; bisa mengelak jika ditimpuk batu; bisa tertawa ketika dimarahi; bisa menarik pelajaran dari kesalahan yang dilakukan; tak harus tersinggung jika dihina; tak harus putus asa jika gagal mencapai cita-cita; dan sebagainya.

Singkatnya, sebagai seorang anak manusia saya bisa memberikan aneka ragam tanggapan atas kejadian yang menimpa saya. Saya bisa memilih diam, pasif, apatis, menerima diperlakukan bagaimana pun oleh orang lain dan kondisi lingkungan. Dengan demikian saya bisa menjadi seperti batu atau benda mati lainnya, yang selalu menerima secara pasif apa saja yang terjadi atas dirinya.

Saya bisa juga re-aktif, memberikan tanggapan sesuai dengan keadaan lingkungan atau perlakuan orang. Jika orang baik kepada saya, maka saya pun baik terhadap orang itu. Jika ia berbuat jahat kepada saya, maka saya bisa membalas dengan sama jahatnya, atau bahkan lebih jahat. Jika orang tersenyum saya bisa membalas tersenyum, dan ikut marah jika dimarahi. Dengan begitu saya menjadi mirip anjing atau kucing, yang hanya bisa setia kepada orang yang baik terhadapnya; tetapi, segera membalas setiap perlakuan tidak baik dengan menggonggong, menggigit, atau mencakar sebisanya.

Yang sering saya lupakan adalah bahwa saya sesungguhnya bisa pro-aktif, memberikan tanggapan kreatif yang tidak harus sesuai dengan keadaan lingkungan atau perlakuan pihak lain. Saya mampu memilih tanggapan yang berbeda dengan kondisi lingkungan dan alam sekitar. Misalnya, bila matahari menyengatkan panas terik, saya tidak harus mengeluh karena panas, sebab saya bisa menggunakan payung untuk menangkal panas sang mentari. Atau bila hujan, saya tak harus menerima dibasahi, tetapi bisa berteduh di sebuah tempat yang membuat saya tidak basah kuyup.

Saya juga memiliki kemampuan untuk tetap bersikap baik kepada siapa saja yang berlaku kasar terhadap saya. Saya sesungguhnya mampu untuk tertawa, tidak harus marah atau membalas, ketika orang lain menghina saya. Saya bahkan bisa menertawakan kebodohan saya sendiri, tanpa menunggu orang lain melakukannya. Saya bisa sedih karena dianggap “berhasil”, dan bisa senang karena dianggap “gagal”. Itulah yang dinamakan tanggapan kreatif. Saya mampu “menciptakan” tanggapan baru, yang berbeda atau bahkan bertolak belakang dengan stimulus [kondisi alam atau perlakuan orang] yang memicu tanggapan tersebut.

Menanggapi segala kejadian dan peristiwa hidup secara kreatif, itulah kemampuan manusiawi yang memungkinkan hidup lebih terasa lebih hidup. Sebab, saya menyetujui pandangan yang mengatakan bahwa, kemampuan memilih tanggapan kreatif memiliki kekuatan untuk menciptakan ulang lingkungan hidup dan diri manusia itu sendiri. Tanpa kemampuan menanggapi secara kreatif, hidup manusia akan monoton dan jauh dari kemungkinan untuk dapat dinikmati atau diperbaiki.

Misalnya, menanggapi secara kreatif panas teriknya matahari membuat terciptanya air conditioning, pembangkit listrik tenaga surya, berbagai kosmetik pelindung wajah, dan sebagainya; curah hujan yang besar melahirkan aneka ragam payung, mantel hujan, wiper mobil, dan sebagainya.

Demikian juga sejumlah kesulitan hidup yang dikelola secara kreatif telah melahirkan peluang-peluang untuk memperbarui atau memperbaiki kehidupan manusia itu sendiri. Sulitnya mendapatkan air bersih membuka peluang usaha air dalam kemasan. Lambatnya perjalanan antar kota dengan menggunakan kaki telah melahirkan berbagai bentuk sarana transportasi darat, laut, dan udara. Sulitnya mengirimkan berita telah melahirkan profesi kurir, jasa pos dan telekomunikasi, mesin faksimili, sampai electronic mail melalui jaringan kabel telepon, kabel listrik, atau bahkan nirkabel. Sulitnya membina hubungan dengan sesama telah melahirkan sejumlah ajaran, buku-buku, seminar, dan program pelatihan mengenai kepemimpinan, mulai level personal sampai level organisasional-nasional-global.

Semua yang saya sebutkan di atas hanyalah contoh-contoh kecil tentang tanggapan kreatif yang bisa dilakukan manusia, bila ia menggunakan kemampuan uniknya, daya ciptanya. Dan siapa saja yang telah relatif berhasil mengembangkan potensi daya ciptanya itu, akhirnya kita catat dalam sejarah sebagai para inovator, penemu, pembaharu, dan pionir-pionir yang merintis proses perubahan dunia yang sekarang kita huni.

Sayangnya, kemampuan untuk memilih tanggapan kreatif tidaknya selalu didasarkan atas sunnatullah, hukum-hukum alam dan kebenaran sejati. Sebagai rahmat Tuhan, kemampuan memberikan tanggapan kreatif tidak selalu diarahkan untuk kebaikan umat manusia. Ada saja orang yang mempergunakan kreativitasnya untuk mendatangkan bencana bagi hidup dan kehidupan. Tanggapan kreatif juga kita saksikan dalam berbagai bentuk tindak kejahatan, yang intinya merusak tatanan hidup manusia [termasuk tindakan memanipulasi, korupsi, kekerasan, senjata pemusnah masal, dan sebagainya].

Ironis, memang. Kemampuan memberikan tanggapan secara kreatif yang merupakan rahmat Tuhan, oleh sebagian orang [kita?], justru tidak dikelola agar dirinya menjadi rahmatan lil alamin. Apa yang diberikan sebagai rahmat, telah diciptakan ulang oleh manusia menjadi kutuk dan laknat bagi pihak lain.

Dengan demikian bisa dikatakan bahwa, jika kemampuan memberikan tanggapan secara kreatif tidak disatupadukan dengan kesadaran diri, hati nurani yang bersih, dan kehendak untuk bertindak sesuai dengan sunnatullah, hukum alam, dan kebenaran sejati, maka kita sesungguhnya menciptakan kehancuran bagi alam dan diri kita sendiri.

Itulah pelajaran di sekolah kehidupan Indonesia yang ingin saya bagikan kepada pembaca dalam kesempatan ini.

Salam pembelajar mahardika.

***

Andrias Harefa, Penulis buku terlaris Menjadi Manusia Pembelajar [Kompas, 2000] dan fasilitator www.pembelajar.com

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003