|
Di sekolah kehidupan saya belajar bahwa sering kali
masalah-masalah yang saya hadapi berakar pada
kekurangmampuan saya untuk menyadari betapa berlimpahnya
rahmat yang nyata-nyata telah Tuhan berikan kepada saya.
Ia, misalnya, telah memberikan kepada saya seorang ibu
yang menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan pandai
mengatur keuangan keluarga; Ia telah memberikan kepada
saya seorang ayah yang pandai berbicara, memimpin
organisasi, dan bergaul di masyarakat; Ia telah memberikan
kepada saya dua orang kakak perempuan yang sangat
menyayangi adik-adiknya; Ia telah memberikan kepada saya
tiga orang adik yang cerdas; Ia telah memberikan kepada
saya panca indera yang berfungsi baik; Ia telah memberikan
kepada saya kesempatan bersekolah sampai perguruan tinggi;
Ia telah memberikan kepada saya potensi, bakat, talenta
yang beraneka ragam; Ia telah memberikan kepada saya makan
minum yang cukup, oksigen untuk bernafas, air, cahaya
matahari; Ia telah memberikan kepada saya mentor, sahabat,
dan sejumlah kenalan yang membantu saya melewati
tahap-tahap kehidupan; Ia memberikan kepada saya kekuatan
untuk menghadapi berbagai kesulitan hidup; dan lain
sebagainya.
Terlalu panjang daftar yang harus saya buat, bila semua
rahmat itu harus disebutkan satu per satu. Sebab,
sesungguhnya tak terbilang rahmat yang diberikan Tuhan
sepanjang hidup saya.
Meski hidup saya dikepung oleh rahmat dan anugerah Tuhan,
tetapi ada sejumlah waktu dimana kesadaran saya atas
rahmat itu memudar. Akibatnya, saya jadi kurang mensyukuri
segala sesuatu yang telah saya nikmati, saya alami, dan
saya miliki. Keinginan untuk menikmati lebih jauh,
mengalami lebih sering, atau memiliki lebih banyak,
ternyata acapkali membutakan mata budi dan mata batin saya
untuk dapat melihat rahmat yang terus tercurah tanpa henti.
Beberapa hari terakhir ini, ketika saya menikmati kembali
sejumlah karya tulis Stephen R. Covey, saya diingatkan
tentang rahmat Tuhan yang bertalian dengan kemampuan saya
memberikan tanggapan kreatif atas peristiwa-peristiwa yang
terjadi dalam hidup saya. Bahwa saya diberi rahmat untuk
mampu menanggapi segala sesuatu secara kreatif berdasarkan
nilai-nilai yang saya yakini. Nilai-nilai yang bersumber
pada prinsip-prinsip, hukum alam, dan kebenaran
fundamental.
Meski kemampuan memberikan tanggapan kreatif tersebut pada
dasarnya diberikan kepada semua manusia, namun dalam kasus
saya hal itu masih sangat perlu dikembangkan lebih jauh.
Saya perlu belajar mengembangkan lebih jauh kemampuan saya
untuk tidak memberikan tanggapan hanya berdasarkan
stimulus yang saya terima dari luar. Saya bukan batu, yang
hanya pasif menerima bila dipukul; bukan pohon yang tak
bisa berbuat apa-apa ketika ditebang; bukan pula binatang
yang hanya bisa menyerang balik bila merasa diserang. Saya
adalah manusia. Dan manusia bisa berlari jika akan dipukul;
bisa mengelak jika ditimpuk batu; bisa tertawa ketika
dimarahi; bisa menarik pelajaran dari kesalahan yang
dilakukan; tak harus tersinggung jika dihina; tak harus
putus asa jika gagal mencapai cita-cita; dan sebagainya.
Singkatnya, sebagai seorang anak manusia saya bisa
memberikan aneka ragam tanggapan atas kejadian yang
menimpa saya. Saya bisa memilih diam, pasif, apatis,
menerima diperlakukan bagaimana pun oleh orang lain dan
kondisi lingkungan. Dengan demikian saya bisa menjadi
seperti batu atau benda mati lainnya, yang selalu menerima
secara pasif apa saja yang terjadi atas dirinya.
Saya bisa juga re-aktif, memberikan tanggapan sesuai
dengan keadaan lingkungan atau perlakuan orang. Jika orang
baik kepada saya, maka saya pun baik terhadap orang itu.
Jika ia berbuat jahat kepada saya, maka saya bisa membalas
dengan sama jahatnya, atau bahkan lebih jahat. Jika orang
tersenyum saya bisa membalas tersenyum, dan ikut marah
jika dimarahi. Dengan begitu saya menjadi mirip anjing
atau kucing, yang hanya bisa setia kepada orang yang baik
terhadapnya; tetapi, segera membalas setiap perlakuan
tidak baik dengan menggonggong, menggigit, atau mencakar
sebisanya.
Yang sering saya lupakan adalah bahwa saya sesungguhnya
bisa pro-aktif, memberikan tanggapan kreatif yang tidak
harus sesuai dengan keadaan lingkungan atau perlakuan
pihak lain. Saya mampu memilih tanggapan yang berbeda
dengan kondisi lingkungan dan alam sekitar. Misalnya, bila
matahari menyengatkan panas terik, saya tidak harus
mengeluh karena panas, sebab saya bisa menggunakan payung
untuk menangkal panas sang mentari. Atau bila hujan, saya
tak harus menerima dibasahi, tetapi bisa berteduh di
sebuah tempat yang membuat saya tidak basah kuyup.
Saya juga memiliki kemampuan untuk tetap bersikap baik
kepada siapa saja yang berlaku kasar terhadap saya. Saya
sesungguhnya mampu untuk tertawa, tidak harus marah atau
membalas, ketika orang lain menghina saya. Saya bahkan
bisa menertawakan kebodohan saya sendiri, tanpa menunggu
orang lain melakukannya. Saya bisa sedih karena dianggap berhasil,
dan bisa senang karena dianggap gagal. Itulah yang
dinamakan tanggapan kreatif. Saya mampu menciptakan
tanggapan baru, yang berbeda atau bahkan bertolak belakang
dengan stimulus [kondisi alam atau perlakuan orang] yang
memicu tanggapan tersebut.
Menanggapi segala kejadian dan peristiwa hidup secara
kreatif, itulah kemampuan manusiawi yang memungkinkan
hidup lebih terasa lebih hidup. Sebab, saya menyetujui
pandangan yang mengatakan bahwa, kemampuan memilih
tanggapan kreatif memiliki kekuatan untuk menciptakan
ulang lingkungan hidup dan diri manusia itu sendiri. Tanpa
kemampuan menanggapi secara kreatif, hidup manusia akan
monoton dan jauh dari kemungkinan untuk dapat dinikmati
atau diperbaiki.
Misalnya, menanggapi secara kreatif panas teriknya
matahari membuat terciptanya air conditioning, pembangkit
listrik tenaga surya, berbagai kosmetik pelindung wajah,
dan sebagainya; curah hujan yang besar melahirkan aneka
ragam payung, mantel hujan, wiper mobil, dan sebagainya.
Demikian juga sejumlah kesulitan hidup yang dikelola
secara kreatif telah melahirkan peluang-peluang untuk
memperbarui atau memperbaiki kehidupan manusia itu sendiri.
Sulitnya mendapatkan air bersih membuka peluang usaha air
dalam kemasan. Lambatnya perjalanan antar kota dengan
menggunakan kaki telah melahirkan berbagai bentuk sarana
transportasi darat, laut, dan udara. Sulitnya mengirimkan
berita telah melahirkan profesi kurir, jasa pos dan
telekomunikasi, mesin faksimili, sampai electronic mail
melalui jaringan kabel telepon, kabel listrik, atau bahkan
nirkabel. Sulitnya membina hubungan dengan sesama telah
melahirkan sejumlah ajaran, buku-buku, seminar, dan
program pelatihan mengenai kepemimpinan, mulai level
personal sampai level organisasional-nasional-global.
Semua yang saya sebutkan di atas hanyalah contoh-contoh
kecil tentang tanggapan kreatif yang bisa dilakukan
manusia, bila ia menggunakan kemampuan uniknya, daya
ciptanya. Dan siapa saja yang telah relatif berhasil
mengembangkan potensi daya ciptanya itu, akhirnya kita
catat dalam sejarah sebagai para inovator, penemu,
pembaharu, dan pionir-pionir yang merintis proses
perubahan dunia yang sekarang kita huni.
Sayangnya, kemampuan untuk memilih tanggapan kreatif
tidaknya selalu didasarkan atas sunnatullah, hukum-hukum
alam dan kebenaran sejati. Sebagai rahmat Tuhan, kemampuan
memberikan tanggapan kreatif tidak selalu diarahkan untuk
kebaikan umat manusia. Ada saja orang yang mempergunakan
kreativitasnya untuk mendatangkan bencana bagi hidup dan
kehidupan. Tanggapan kreatif juga kita saksikan dalam
berbagai bentuk tindak kejahatan, yang intinya merusak
tatanan hidup manusia [termasuk tindakan memanipulasi,
korupsi, kekerasan, senjata pemusnah masal, dan sebagainya].
Ironis, memang. Kemampuan memberikan tanggapan secara
kreatif yang merupakan rahmat Tuhan, oleh sebagian orang [kita?],
justru tidak dikelola agar dirinya menjadi rahmatan lil
alamin. Apa yang diberikan sebagai rahmat, telah
diciptakan ulang oleh manusia menjadi kutuk dan laknat
bagi pihak lain.
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa, jika kemampuan
memberikan tanggapan secara kreatif tidak disatupadukan
dengan kesadaran diri, hati nurani yang bersih, dan
kehendak untuk bertindak sesuai dengan sunnatullah, hukum
alam, dan kebenaran sejati, maka kita sesungguhnya
menciptakan kehancuran bagi alam dan diri kita sendiri.
Itulah pelajaran di sekolah kehidupan Indonesia yang ingin
saya bagikan kepada pembaca dalam kesempatan ini.
Salam pembelajar mahardika.
***
Andrias Harefa, Penulis buku terlaris Menjadi Manusia
Pembelajar [Kompas, 2000] dan fasilitator
www.pembelajar.com
|