|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Bible Talks |
|
24 Nopember 2008
Ut Omnes Unum Sint (supaya mereka
semua menjadi satu) “A divided house cannot stand”
Fabian Buddy Pascoal
|
|
|
|
“Sejarah Dosa”: Relasi Ilahi Yang
Terpisahkan |
Pdt. Joas
Adiprasetya pernah membuat tulisan serial tentang
tujuh dosa yang mematikan (seven deadly sins).
Penamaan dosa sedemikian memang agak unik, kalau tidak
disebut sebagai suatu pleonasme, mengingat ketujuh dosa
tersebut tidak lebih “mematikan” dibanding dengan
dosa-dosa lain, dan bahwa semua dan setiap dosa pasti
mematikan (Roma 6:23; Yak. 2:10).
Paragrap 1866 katekismus Roma Katolik menempatkan dosa
“kesombongan (pride)” pada nomor urut pertama di antara
“ketujuh dosa yang mematikan” tersebut. Saya tidak tahu
latar belakangnya, tetapi yang jelas “kesombongan
(pride)” boleh dikata memang merupakan dosa yang pertama
terjadi, dan bahkan telah ada sebelum manusia jatuh
dalam dosa.
Dalam Yesaya 14 dan Yehezkiel 28 digambarkan sejarah
kejatuhan Lusifer yang kemudian dikenal sebagai Si
“Iblis”. Padahal ia semula adalah salah satu Penghulu
Malaikat seperti Mikael. Yesaya 14 menggambarkannya
sebagai “Bintang Timur, putera Fajar”, Yehezkiel 28
memujinya sebagai makluk yang hikmatnya melebihi hikmat
Daniel; tiada rahasia yang terlindung baginya. Tetapi
kemudian kedua kitab tersebut (Yesaya 14:13-14;
Yehezkiel 28:5) menunjuk pada kesombongan Lusifer
sebagai sebab ia jatuh dan diusir dari Sorga (lihat juga
I Tim. 3:6).
Novel John Milton “Paradise Lost” pada Buku V baris,
600-615 bahkan menyebutkan
bahwa kejatuhan Lusifer adalah karena Lusifer menolak
menyembah Kristus, Sang Mesias. Kendati teori John
Milton tersebut tidak secara tegas tersurat dalam
Alkitab, tetapi jelas bahwa teori tersebut mempunyai
korelasi dengan kesombongan Lusifer dalam Yesaya 14 dan
Yehezkiel 28.
Mari kita simak lebih jauh isi Yesaya 14:13-14 sebagai
berikut:
“Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak
naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi
bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas
bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik
mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang
Mahatinggi!”
Ada satu ciri kontras dalam kutipan Yesaya 14:13-14 di
atas, yakni dominannya kata “aku”. Dalam Bahasa Inggris,
“aku” disebut “I”. Bahasa Inggris secara indah sekali
membuat ikatan dan kaitan antara kata “Pride” dan “Sin”.
Keduanya mendapatkan keterkaitan erat dan persamaaan
pada satu hal, yakni bahwa kedua kata tersebut mempunyai
huruf “I” di tengah-tengahnya. Apa artinya fakta ini
dikaitkan dengan Yesaya 14:13-14 tadi? Fakta ini
mengajarkan pada kita bahwa ketika “I” atau “aku”,
bukannya Kristus, yang menjadi pusat, maka di situlah
awal kejatuhan Lusifer, dan juga kita. “Aku” adalah
pusat, aku yang harus dilayani, dipuji dan diutamakan.
Kalau suatu kegiatan tidak menguntungkan saya, saya
tidak akan ikut serta dalamnya. Kalau bukan saya yang
akan menerima pujian, saya ogah ikut melayani. Semua
harus diukur oleh ukuran saya. Saya lebih hebat, lebih
superior dari yang lain. Orang lain harus mengikuti
cara-cara saya, karena hanya saya yang benar.
Kelihatannya cara-cara itu cukup akrab dengan kita
semua. Memang, hal itu terjadi dimana-mana. Satu contoh
paling jelas adalah ego superioritas Ras Aria yang
dianut Hitler yang menelan korban enam juta orang Yahudi
selama Perang Dunia II. Makanya tidak heran, sejarah
peradaban manusia selalu diwarnai pertengkaran,
perebutan wilayah dan bahkan perang dunia. Semua
berpijak pada satu fakta bahwa masing-masing pihak yang
bertengkar dan berperang hendak memaksakan ukuran
“kebenaran”nya pada pihak lainnya. Padahal “war is not
about who is right, but who is left”, demikian Bertrand
Russell. Hasil peperangan bukan ditentukan oleh benar
salah, tetapi akhirnya oleh kekuatan.
Ilmu pengetahuan terus membuat teori dan telaahan
tentang sejarah pertengkaran manusia. Padahal Alkitab
sudah secara jelas dalam Yakobus 4:1 mengungkapkan “Dari
manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara
kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling
berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu,
tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh;
kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu
kamu bertengkar dan kamu berkelahi. “
Hawa nafsu, egoisme dan sikap homosentris telah
memecah-belah manusia. Karena memang itulah tujuan
Iblis, yakni mengalihkan perhatian kita dari Kristus dan
bahkan memisahkan kita dari Kristus, serta menipu kita
sehingga kita menempatkan diri kita, bukan Kristus,
sebagai pusat kehidupan kita. Bukankah memang Iblis
adalah “bapa segala dusta ” (Yohanes 8:44), dan telah
berpengalaman seusia umat manusia dengan Adam sebagai
korban pertamanya?
Sebagaimana Lusifer yang terpisah dari ALLAH, kita akan
mengalami juga keterpisahan kekal bila kita tidak tunduk
pada Kristus dan menempatkan Kristus menjadi pusat
kehidupan kita. Tanpa Kristus, berarti kita akan tetap
berada dalam kuasa dosa. Dosa membuat kita terpisah dari
ALLAH. ALLAH itu maha suci dan karenanya tidak dapat
bersatu dengan yang berdosa. Karena ALLAH adalah Sumber
segala sesuatu (causa prima), termasuk kehidupan, maka
keterpisahan dengan ALLAH berarti keterpisahan dengan
Sumber Hidup, sehingga akibatnya jelas, yakni kematian
kekal. Maka itu, Roma 6:23 berkata: upah dosa ialah
maut. Analogi sederhananya adalah bila sebuah telepon
genggam dipisahkan dari baterainya, alat tersebut akan
mati dan tidak berfungsi. |
|
|
|
“At-one-ment”: Pemulihan dan
Penyatuan Kembali Relasi Dengan ALLAH |
Keterpisahan
yang diakibatkan oleh dosa merupakan suatu keterpisahan
antara dua Subjek yang berbeda secara kualitatif.
Manusia, sang ciptaan, terpisah dari ALLAH, Sang Maha
Pencipta. Ciptaan dan Pencipta jelas tidak setara.
Keterpisahan kualitatif kita dengan ALLAH telah
menciptakan suatu jurang vertikal yang tidak dapat di
seberangi oleh manusia, termasuk melalui segala hasil
karya cipta, rasa dan karsa manusia, bahkan agama yang
adalah produk budaya manusia itu sendiri. Karena hanya
ALLAH yang dapat menyatukannya kembali, maka Karya
Penyelamatan hanya dapat datang dari ALLAH.
Ketika manusia “angkat tangan” tidak dapat naik
menjangkau ALLAH, maka ALLAH “turun tangan” dan bahkan
“turun derajat” menyangkal dan mengosongkan diriNya
menjadi manusia. ALLAH turun sungguh jauh. IA bukan
hanya masuk dalam keterbatasan kedagingan manusia,
tetapi pintu masuk-Nya pun melalui kandang binatang,
yang sungguh tidak layak bagi anak manusia, apalagi Anak
ALLAH.
Keseharian-Nya juga hanya menjadi anak tukang kayu. Pada
malam sebelum IA disalib, IA mencuci kaki para
murid-Nya, sesuatu yang tidak pernah dan tidak mungkin
dilakukan oleh guru maupun nabi manapun atas
murid-muridnya. Saat mati, IA memilih mati dengan cara
yang paling hina dan paling menyakitkan ketika itu.
Tetapi, kesakitan fisik yang membuat-Nya sangat
menderita itu masih tidak ada bandingNya dengan
penderitaan sekaligus pengorbanan terbesar Kristus,
yakni IA harus terpisah dari Tritunggal: bahwa ALLAH
Bapa harus meninggalkan ALLAH Anak (“Eli, Eli, lama
sabakhtani? Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau
meninggalkan Aku?”, Matius 27:46).
Tritunggal yang semestinya menjadi suatu kesatuan yang
tidak terpisahkan, pada momen itu harus mengalami
keterpisahan. Yesus yang tidak berdosa rela terpisah
dari Tritunggal agar kita yang berdosa dapat bersatu
kembali dengan ALLAH memulihkan relasi kita dengan ALLAH
yang terpisah karena dosa kita sendiri. Penderitaan
Kristus dengan teriakan-Nya itu tidak akan dapat
dilukiskan dengan kata-kata manusia karena konsep
Tritunggal dan konsep keterpisahan Tritunggal tidak
mempunyai padanannya yang persis, dalam kehidupan
manusia.
Salib Kristus kemudian menjadi kompas sekaligus kiblat
bagi arah dan rute satu-satunya penyelamatan manusia.
Tonggak Salib juga telah menjadi jembatan yang
menghubungkan langit dan bumi: ALLAH dan manusia. Salib
menyatukan kembali relasi yang terpisah antara ALLAH dan
manusia.
Alkitab versi King James menggunakan istilah “atonement”
untuk istilah “rekonsiliasi atau pendamaian” dalam Roma
5:11. Istilah “atonement” mungkin dapat lebih membantu
kita memahami proses pemulihan relasi atau pendamaian
dengan ALLAH. Istilah “atonement”, bila diurai, akan
menghasilkan “at-one-ment” yang dapat diartikan sebagai
suatu keadaan bersatu. Keterpisahan relasi ALLAH dengan
manusia oleh karena dosa, kemudian dipulihkan kembali
sehingga manusia dapat bersatu kembali dengan ALLAH,
yakni melalui inkarnasi dan penebusan Yesus Kristus. |
|
|
|
Pemulihan Relasi Antar Manusia |
Jelas kini
bahwa kita tidak akan dapat berdamai dengan sesama
ciptaan ALLAH dalam arti sesungguhnya sebelum kita
masing-masing dan sendiri-sendiri berdamai dengan Sang
Pencipta itu sendiri. Saat kita berdamai dengan ALLAH
melalui dan di dalam Kristus, kita akan mendapatkan
pembaruan budi sehingga kita dapat membedakan manakah
kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada
Allah dan yang sempurna (Roma 12:2). Dengan pembaruan
budi, kita akan mendapatkan perspektif yang benar dalam
melihat setiap aspek kehidupan ini sehingga kita akan
dapat mengamini Roma 8:28 bahwa Allah turut bekerja
dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi
mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang
terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Semua yang ALLAH ijinkan terjadi pada kita bukan hanya
berhenti pada ayat 28 tersebut itu saja yakni untuk
mendatangkan kebaikan bagi kita. Tetapi lebih jauh lagi,
seperti dikemukakan dalam ayat 29, yakni “untuk menjadi
serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya
itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara”.
Sungguh benar bahwa relasi yang dipulihkan dengan ALLAH
akan membawa dan membentuk kita sehingga kita serupa
dengan Kristus dan kita dapat memiliki Karakter Kristus
(Filipi 2:5) untuk kemuliaanNya. Apakah Karakter paling
utama dari Kristus? Tidak lain adalah KASIH. ALLAH
adalah Kasih itu sendiri. Karena Kasih membutuhkan objek
bagi ALLAH mencurahkan Kasihnya itu, maka ALLAH
menciptakan manusia.
Kasih yang sama juga yang kemudian menggerakkan ALLAH
berinisiatif untuk berdamai dengan ciptaanNya yang jatuh
dalam dosa. Inisiatif penyelamatan tersebut walau telah
dirancang dalam kekekalan (1 Petrus 1:20, Efesus 1:4, 2
Timotius 1:9), diungkapkan-Nya segera setelah Adam dan
Hawa jatuh dalam dosa. Dalam Kejadian 3:15, ALLAH
menetapkan bahwa keturunan Adam dan Hawa akan meremukkan
kepala si Iblis. Ayat ini menunjukan bahwa Kristus akan
datang dalam bentuk manusia (inkarnasi). Sungguh besar
Kasih ALLAH pada kita.
Setelah relasi kita dengan ALLAH dipulihkan dan kita
memiliki Karakter Kristus, bukan berarti tugas kita
telah selesai. Makanya ALLAH tidak langsung mengangkat
kita ke Sorga seketika kita berdamai dengan ALLAH; dan
kita kini masih menjalani hidup di dunia ini. Selain
untuk menjalankan Mandat dari ALLAH sendiri, kita juga
didorong oleh karakter Kasih yang ada pada kita tadi
untuk:
- Kita memulihkan relasi kita dengan diri kita
sendiri,
- Kita memulihkan relasi kita dengan sesama
kita,
- Kita membantu memulihkan relasi mereka yang
masih dalam dosa, dengan ALLAH, dan
- Kita membantu memulihkan relasi antar sesama
kita yang masih saling berseteru; terus menerus selama
kita masih hidup di dunia ini.
Amsal 16:7:
“Jikalau TUHAN berkenan kepada jalan seseorang, maka
musuh orang itu pun didamaikan-Nya dengan dia”
Mandat di atas idealnya kita lakukan mulai dari
lingkungan keluarga kita sendiri, karena keluarga kita
adalah kelompok terkecil dan terdekat yang ALLAH
percayakan pada kita masing-masing. Dalam Matius 12:25,
Yesus berkata: “setiap rumah tangga yang terpecah-pecah
tidak dapat bertahan (a divided house cannot stand)”.
Langkah pertama dalam membawa damai ALLAH pada keluarga
kita adalah family altar di mana Kristus menjadi pusat
kehidupan keluarga. Family altar alters family.
Relasi internal keluarga yang telah menempatkan Kristus
sebagai pusat akan memampukan keluarga itu untuk
menjalankan fungsi pemulihan relasi di lingkungan
eksternal.
Di dalam peperangan rohani yang akan senantiasa memecah
belah orang percaya, doa Yesus sendiri dalam Yohanes
17:20-22 akan menyertai kita semua dalam upaya pemulihan
relasi: “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa,
tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku
oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi
satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku
di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya
dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang
Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu,
sama seperti Kita adalah satu.”
Ut omnes unum sint |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|