|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
11 Nopember 2008
Membaca Alkitab dengan Hati
Addi S. Patriabara
|
|
|
|
Selama ini orang menganggap khotbah sebagai “mahkota”
ibadah. Dampaknya, yang kerap kemudian dilupakan dan
diabaikan adalah pembacaan Alkitab. Padahal pembacaan
Alkitab adalah dasar dari khotbah dan bukan sebaliknya.
Pembacaan Alkitab yang menggunakan metode leksionari
bertujuan menyadarkan jemaat, bahwa Alkitab adalah
bagian yang terpenting dalam praktik liturgis kita. |
|
|
|
Bermula dari Ibadah Yahudi |
Kekristenan tidak bisa terlepas dari keyahudian.
Unsur-unsur keyahudian mewarnai tidak hanya pada Kitab
Suci kita tetapi juga pada aspek liturgis. Karena itu
pengenalan akan liturgi dalam ibadah Yahudi menjadi
penting dalam memahami posisi pembacaan Alkitab.
Khususnya setelah masa pembuangan. Sebab di masa itu,
berkembanglah ibadah Yahudi hingga mengenal apa yang
kemudian disebut khotbah.
Di masa pembuangan, ibadah berlangsung di Sinagoge.
Praktik berkumpul (beribadah) di tempat ini menjadi
penting untuk menjaga identitas mereka. Ibadah dipakai
sebagai sarana mengajar dan menyampaikan ingatan-ingatan
(anamnesis) kepada persekutuan umat Israel yang
dengannya Allah telah membuat perjanjian. Dengan
demikian, sekalipun berada di pembuangan, identitas
sebagai umat Allah tetap terpelihara.
Pada mulanya, Sinagoge bukanlah rumah yang khusus untuk
beribadah, melainkan rumah tinggal biasa. Lama-kelamaan
fungsi Sinagoge bertumbuh seturut kebutuhan. Setidaknya–di
kemudian hari–terdapat 2 (dua) fungsi Sinagoge, yaitu
sebagai tempat pengajaran (beth ha-midrasy, rumah
pengajaran) dan sebagai tempat beribadah (beth ha-tefillah,
rumah doa). Sulit untuk menentukan fungsi mana yang
lebih primer dari keduanya. Dalam praktik, keduanya
bergabung menjadi satu, sehingga terciptalah pola yang
kemudian juga menjadi pelopor liturgi Kristen. Pola
ibadah (ordo) Sinagoge pada awalnya (pola ini terus
mengalami perkembangan juga) berlangsung sebagai berikut:
- Pendarasan Mazmur
- Pembacaan shema (dengarlah), yaitu pengakuan iman
Israel sebagaimana yang tertulis dalam Ulangan 6:4-9;
11:13-21 dan Bilangan 15:37-41.
- Doa yang disebut syemoneh ‘ezreh (delapan belas
ucapan berkat).
- embacaan Taurat (sedarim) dengan mengikuti jadwal (siklus,
lectio) tertentu. Setidaknya ada dua siklus: Siklus
Babilonia yang membuat seluruh Taurat selesai dibaca
dalam satu tahun, dan Siklus Palestina di mana seluruh
Taurat selesai dibaca dalam tiga tahun.
- Pembacaan kitab Para Nabi (haptaroth) yang diikuti–sekalipun
tidak mutlak–dengan penjelasan atasnya. Pemilihan kitab
Para Nabi tidak ditentukan seperti jadwal pembacaan
Kitab Taurat.
- Pengucapan berkat sebagai penutup ibadah.
Pembacaan kitab-kitab itu dilakukan secara bergantian
oleh ”awam”. Pada umumnya dilakukan oleh 10 orang
laki-laki berusia 13 tahun ke atas yang disebut minyan.
Sedangkan siapa yang menjelaskan kitab itu (seperti poin
5) tidak diatur dengan ketat. Kisah Para Rasul 13:15
mencatat:
Setelah selesai pembacaan dari hukum Taurat dan kitab
nabi-nabi, pejabat-pejabat rumah ibadat menyuruh
bertanya kepada mereka: “Saudara-saudara, jikalau
saudara-saudara ada pesan untuk membangun dan menghibur
umat ini, silakanlah!”
Itulah sebabnya, dapat disebutkan ibadah Sinagoge adalah
tipe ibadah ”awam.” Sebab dalam ibadah itu, jemaat tidak
hanya pasif mendengarkan pembacaan kitab, melainkan
diberi kesempatan untuk turut serta menyampaikan
pemahamannya atas teks yang dibaca tersebut (seperti
PA). Yang perlu dicatat, penjelasan itu pada awalnya
bukanlah unsur mutlak dalam ibadah Sinagoge.
Namun, penjelasan atas Kitab Suci, semakin hari semakin
dirasa perlu. Khususnya ketika generasi muda tidak lagi
mampu memahami bahasa Ibrani dengan baik. Kebutuhan itu
dimulai semenjak Israel berulangkali menjadi bangsa
buangan. Yang paling terasa adalah saat Israel berada di
bawah pemerintahan Persia, di mana bahasa Aram
dipaksakan menjadi bahasa ibu mereka. Akibatnya teks
Kitab Suci yang tertulis dalam bahasa Ibrani tidak dapat
dimengerti kecuali jika teks itu diterjemahkan (atau
dijelaskan kembali) ke dalam bahasa Aram. Itulah yang
dilakukan oleh para pemimpin agama Israel. Mereka
melakukan penerjemahan teks Kitab Suci dalam bahasa
Aram, dengan tujuan agar Kitab itu tetap bisa dipahami
oleh pendengarnya (bandingkan Nehemia 8:8-9). Hasil
terjemahan itu disebut Targum. Dalam perkembangannya,
terjemahan itu ditambahkan dengan berbagai penjelasan,
yang kerap kali mengubah makna teks asli, sesuai dengan
keinginan pemberi penjelasan. Tak jarang, penjelasannya
menjadi jauh lebih panjang dari teks itu sendiri.
Mulailah penjelasan itu ditambah dengan penekanan yang
berisi ajaran-ajaran moral, sesuai dengan kebutuhan yang
dirasakan. Pada bagian inilah khotbah mulai mendapatkan
bentuknya. |
|
|
|
Perubahan Praktik Khotbah Dalam Kehidupan Gereja |
Praktik ibadah gereja kemudian melanjutkan pola ibadah
Yahudi dengan penyesuaian-penyesuaian. Pembacaan Alkitab
sebagai dasar ibadah terus dilanjutkan dengan perubahan
susunan. Susunan yang mulai baku dalam ibadah Yahudi
diubah menjadi seperti berikut:
| Leksionari Gereja |
Leksionari Yahudi |
| 1. Perjanjian Lama |
1. Sedarim (Taurat) |
| 2. Surat Rasuli |
|
| 3. Mazmur |
2. Mazmur |
| 4. Injil |
3. Haphtaroth (Kitab Para Nabi) |
Pola semacam ini menempatkan Injil sebagai bacaan yang
termulia. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan
perbedaannya dengan ibadah Yahudi. Pembacaan lainnya
disusun sedemikian rupa sehingga menopang, memerkuat,
memerlengkapi, bahkan bergantung pada Injil yang
dibacakan (itulah sebabnya Injil dibacakan oleh klerus).
Pada abad ke V, gereja Konstantinopel (Timur) mulai
mengurangi jumlah pembacaan Alkitab menjadi dua
(Perjanjian Lama tidak lagi dibaca), yang diikuti oleh
Gereja Roma (Barat) pada abad ke VI. Pengurangan ini
makin mendapat tempat setelah retorika berkembang dengan
pesat, sehingga khotbah mendapat posisi yang lebih
penting. Akibatnya, pembacaan Alkitab dengan pola
tertentu mulai ditinggalkan, khususnya dalam ibadah
nonformal.
Kesadaran pembacaan Alkitab secara utuh diawali dalam
Konsili Vatikan II (1962-1965). Keputusan kembali
membaca Alkitab dalam “pola lama” berdasarkan pemahaman:
“harta Kitab Suci harus dibuka lebih luas” (Sacrosantum
Concilium [SC] 51, 1963). Lebih lanjut pentingnya kitab
suci dijelaskan sebagai berikut:
“Kitab-kitab ilahi seperti juga tubuh Tuhan sendiri
selalu dihormati oleh Gereja, yang–terutama dalam
Liturgi Suci–tiada hentinya menyambut roti kehidupan
dari meja sabda Allah maupun tubuh Kristus, dan
menyajikannya kepada umat beriman. Kitab-kitab itu
bersama dengan Tradisi Suci selalu telah dipandang dan
tetap dipandang sebagai norma imannya yang tertinggi.
Sebab kitab-kitab itu diilhami oleh Allah dan sekali
untuk selamanya telah dituliskan, serta tanpa perubahan
mana pun menyampaikan sabda Allah sendiri, lagi pula
memerdengarkan suara Roh Kudus dalam sabda para Nabi dan
para Rasul, Jadi semua pewartaan dalam Gereja seperti
juga agama Kristiani sendiri harus dipupuk dan diatur
oleh Kitab Suci. Sebab dalam kitab-kitab Suci, Bapa yang
ada di surga penuh cinta kasih menjumpai para putra-Nya,
dan berwawancara dengan mereka” (SC 35).
Kesadaran itu pada gilirannya dirasakan oleh
gereja-gereja. Hingga sejak pertengahan dasawarsa
1960-an, sebuah badan ekumenis Katolik dan Protestan
yang bernama “Konsultasi Teks-Teks Bersama”
(Consultation on Common Text-CCT) menghasilkan apa yang
hingga kini dikenal dengan sebutan “Leksionari Bersama
yang Diperbarui” (Common Revised Lectionary). Lewat itu,
peran Kitab Suci pun kembali menjadi pusat ibadah.
Bahkan lewat itu pula ditegaskan, Kitab Suci sendirilah
yang menyapa dan menguatkan jemaat. |
|
|
|
Pembacaan Leksionaris di GKI |
Persidangan XIV Majelis Sinode GKI pada bulan November
2005 memutuskan bacaan leksionari menjadi pola ibadah
kita. Beragam tanggapan terlontar. Salah satunya adalah,
dengan pembacaan panjang ibadah menjadi lebih lama. Juga
ada anggapan mengapa GKI menjadi atau menyerupai Katolik.
Anggapan itu tidak sepenuhnya salah. Pola lama yang
menempatkan khotbah sebagai sentral memang menjadi
“keruwetan” tersendiri. Sehingga khotbah yang berupaya
merangkum seluruh teks, menjadi panjang dan tidak jelas.
Padahal khotbah leksionaris tidaklah memaksakan seluruh
teks dikhotbahkan. Sebab bacaan leksionaris memang
dibuat berdasarkan dua hal: kesamaan tema (yang berarti
seluruh teks bisa dikhotbahkan) dan urutan Kitab Suci
yang mengabaikan tema yang sama (yang berarti tidak
serta merta bisa dikhotbahkan semua). Dengan demikian,
khotbah leksionaris hanya memberikan penekanan pada
bagian yang relevan dengan pergumulan jemaat.
Anggapan keserupaan dengan Katolik pun rasanya perlu
direvisi. Sebab pola pembacaan ini telah muncul bahkan
jauh sebelum hadirnya gereja.
Pilihan pembacaan leksionaris tidak seharusnya sekedar
mengikuti keputusan PMS saja. Pilihan itu pun harus
dilandaskan pada sebuah keyakinan, kebutuhan jemaat
adalah mendengarkan firman Tuhan dengan baik. Alkitab
adalah bacaan ilahi (lectio divina) yang memberikan
kekuatan dan pertumbuhan iman jemaat. Seperti yang
dituturkan nabi Yesaya:
“Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan
tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi,
membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan,
memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang
yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari
mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia,
tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan
akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes
55:10-11).
Pemahaman itu memberikan keyakinan buat kita, bahwa
sabda Allah yang ditaburkan itu terus bekerja dalam diri
kita, entah kita sadar atau tidak, suka atau tidak. |
|
|
|
Tugas Sebagai Lektor: Membaca Dengan Hati |
Lektor atau pembaca ialah petugas ibadah yang bertugas
membacakan Alkitab. Di kalangan gereja Katolik, Injil
hanya boleh dibacakan oleh orang yang secara khusus
diteguhkan/ditahbis (klerus). Hal ini berangkat dari
pemahaman bahwa Injil adalah bacaan terpenting dari
semua bacaan yang ada. Paham ini berbeda dengan paham
Protestan yang menganggap semua bagian Alkitab sama
pentingnya (sola scriptura), sehingga bacaan Injil (dan
Surat Rasuli) tidak harus dibacakan oleh klerus.
Melihat pentingnya bacaan Alkitab, seorang lektor harus
memersiapkan diri dengan baik. Tak hanya kemampuan
membacanya saja yang harus dipersiapkan. Penampilannya
pun perlu dipikirkan terkait dengan perannya yang tidak
kecil. Seorang lektor harus mengimani, melalui diri dan
mulutnya Allah sendiri berbicara dan menyapa umat-Nya.
Agustinus, Bapa Gereja, membagi sakramen dalam dua hal:
sacramentum audible (sakramen yang dapat terdengar) dan
sacramentum verbum visibile (sabda yang dapat terlihat).
Hal yang kedua menyangkut perjamuan kudus. Hal pertama
menyangkut pembacaan Alkitab. Jadi pembaca Alkitab
adalah juga pelaksana sakramen kudus!
Dengan demikian, diperlukan cara khusus untuk membaca
teks Alkitab. Berikut ini metode pembacaan Alkitab yang
disadur dari pemikiran Darmawijaya, seorang ahli biblis
dari gereja Katolik:
- pembacaan biasa, pembacaan yang berangkat dari
keinginan untuk tahu atau untuk belajar.
- pembacaan merenung, pembacaan yang berangkat dari
pengertian, bacaan telah didalami dan diamini.
- pembacaan berdoa, pembacaan bertujuan menyapa,
menggerakkan, membahagiakan, menarik hati para
pendengarnya.
- pembacaan cinta, membaca dengan gairah cinta kasih
(passion).
Seorang lektor memerlukan tahap pembacaan cinta, dengan
hasrat kuat untuk menikmati keindahan bersama dengan
Tuhan.
Metode ini memang bukanlah hal praktis, namun lebih
menyangkut pada motivasi. Motivasi yang sedemikian
memberikan dorongan membaca firman Tuhan yang berdaya
guna, siap mengubah hati para pendengarnya. |
|
|
|
Sumber-sumber:
- Darmawijaya, St., “Membaca Injil (2)” dalam Banawiratma,
JB., Membaca Kitab Suci, Penerbit Kanisius, Yogyakarta,
1987.
- Harshbarger, Luther H., dan Mourant, John A., Judaism
and Christianity: Perspectives and Traditions, Allyn and
Bacon Inc., Boston, 1968.
- Martasudjita, E, Sabda Allah penuh Daya: Memahami
Perayaan Sabda secara Kontekstual, Penerbit Kanisius,
Yogyakarta, 1999.
- Martasudjita, E, Pengantar Liturgi: Makna, Sejarah dan
Teologi Liturgi, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1999.
- Old, Hughes Oliphant, Worship Reformed according to
Scripture, Westminster John Knox Press, London, 2002.
- Olst van, E.H., Alkitab dan Liturgi, BPK Gunung Mulia,
Jakarta, 2001.
- Rachman, Rasid, Hari Raya Liturgi: Sejarah dan Pesan
Pastoral Gereja, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2003.
- Rowley, H.H., Ibadah Israel Kuna, BPK Gunung Mulia,
Jakarta, 1983
- White, James. F., Pengantar Ibadah Kristen, BPK Gunung
Mulia, Jakarta, 2002.
- Willimon, William H., dan Lischer Richard (eds), Concise
Encyclopedia of Preaching, Westminster Jhon Knox Press,
Kentucky, 1995.
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|