|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
7 September 2008
Heteronomi, Otonomi dan
Teonomi:Yesus dan Adat Istiadat
Pdt. Joas Adiprasetya
|
|
|
|
Tulisan ini
merupakan perluasan dari Bahan Pemahaman Alkitab Sinode
GKI, yang berjudul “Perintah Allah atau Adat-Istiadat” (Lentera
Umat, Minggu 1, Juli 2008). Untuk itu saya mengusulkan
tinjauan sinoptis atas kisah “pembasuhan tangan” di
Matius 15:1-20 dan Lukas 11:37-41. Tinjauan sinoptis
berguna untuk menemukan kalimat-kalimat khusus yang ada
di sebuah injil yang tidak ditemukan di injil lain atau,
sebaliknya, kalimat-kalimat yang sama-sama ada di semua
injil. Demi memudahkan pembahasan, kisah ini dibagi
menjadi empat bagian. |
|
|
|
BAGIAN PERTAMA: Ketika Adat
Istiadat Nenek Moyang Dilanggar |
| Matius 15:1-2 |
Markus 7:1-5 |
1 Kemudian datanglah beberapa orang
Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus
dan berkata:
2 “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat
nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan
sebelum makan.” |
1 Pada suatu kali serombongan orang
Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem
datang menemui Yesus.
2 Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya
makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang
tidak dibasuh.
3 Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang
Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan
pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka
berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka;
4 dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak
makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya.
Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang,
umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan
perkakas-perkakas tembaga.
5 Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat
itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu
tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita,
tetapi makan dengan tangan najis?” |
|
Seperti biasa, kelompok Yesus mengalami konflik dengan
para agamawan (ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi dan
Saduki). Kali ini, dua kelompok pertama yang mendatangi
Yesus dan para murid-Nya. Isu yang memicu pertikaian
kedua kelompok ini adalah ketika para murid Yesus tidak
membasuh tangan mereka sebelum makan. Menurut versi
Lukas, malah Yesus sendirilah yang tidak membasuh tangan
sebelum makan (Lk. 11:38). Isu pemicu ini lantas melebar
pada persoalan “adat istiadat nenek moyang.”
Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tersebut datang
“dari Yerusalem,” yang pada masa itu menjadi pusat
otoritas keagamaan orang-orang Yahudi. Pertanyaan yang
muncul, tentu, apa hubungan antara “adat istiadat nenek
moyang” dan “hukum agama.” Antara budaya dan agama.
Haruslah dipahami bahwa dalam masyarakat kala itu,
budaya dan agama bertumpang-tindih tanpa dengan mudah
dibedakan. Dan para agamawan tersebutlah yang menjadi
“polisi” yang mengawasi dan menjaga pemeliharaan hukum
agama dan budaya tersebut.
Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan istilah “adat
istiadat nenek moyang”? Agaknya, istilah ini merujuk
pada penjabaran Dasa Titah (sepuluh Hukum) ke dalam
ratusan perintah dan larangan, yang berlangsung setelah
umat Israel keluar dari Pembuangan. Kesadaran bahwa
Pembuangan di Babel merupakan bentuk penghukuman Allah
kepada umat Israel yang berdosa melahirkan pemahaman
bahwa Taurat harus ditaati sebaik mungkin. Untuk itulah,
ratusan perintah dan larangan itu dirumuskan. Salah
satunya adalah perintah untuk membasuh tangan sebelum
makan. Jadi, apa yang dimaksud dengan “adat istiadat
nenek moyang” itu sekaligus bersifat kultural dan
religius. Dan para petinggi agama itulah yang menjadi
“polisi iman” untuk memastikan bahwa semua orang Israel
menaati rangkaian perintah dan larangan tersebut. Itu
sebabnya, versi Markus dengan jelas menunjukkan
contoh-contoh lain yang dirumuskan dan bahkan “banyak
warisan lain lagi yang mereka pegang” (ay. 2-4; bdk. ay.
13b, “Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan”).
Maka, bisa kita bayangkan, betapa ruwet dan rumitnya
menjadi seorang Yahudi yang baik. Karena untuk itu,
seseorang harus menaati ratusan perintah dan larangan
itu. Kualitas hidup lantas diukur secara normatif dan
legalistis. Dan, celakanya, seluruh perintah dan
larangan imbuhan itu dijustifikasi secara religius,
seolah-olah semuanya itu pun merupakan perintah Allah.
Melanggar satu perintah atau larangan tidak saja berarti
penghinaan terhadap nenek moyang, namun juga pelanggaran
hukum Allah sendiri. Itu sebabnya, tatkala para murid
tidak membasuh tangannya, orang-orang Farisi dan ahli
Taurat berkata bahwa mereka telah “makan dengan tangan
najis?” (Mk. 7:2, 5). Kata “najis” di sini merupakan
penilaian religius, bukan sekedar kultural.
Bagaimana Yesus menjawab gugatan kelompok agamawan ini? |
|
|
|
BAGIAN KEDUA:
Jawaban Pertama Yesus: Pembedaan antara Perintah Allah
dan Adat Istiadat Nenek Moyang |
| Matius 15:3-9 |
Markus 7:6-13 |
3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka:
“Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat
istiadat nenek moyangmu?
4 Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu;
dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya
pasti dihukum mati.
5 Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada
bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang
dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah
digunakan untuk persembahan kepada Allah,
6 Orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya
atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu
nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.
7 Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya
tentang kamu:
8 Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal
hatinya jauh dari pada-Ku.
9 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan
ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.” |
6 Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah
nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-
orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini
memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh
dari pada-Ku.
7 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan
ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.
8 Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada
adat istiadat manusia.”
9 Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai
kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu
dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.
10 Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan
ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya
harus mati.
11 Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada
bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat
digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan
untuk korban–yaitu persembahan kepada Allah–,
12 maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat
sesuatupun untuk bapanya atau ibunya.
13 Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak
berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan
banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.” |
|
Yesus menjawab gugatan kaum agamawan ini dengan dua cara
jitu. Cara pertama, sebagaimana dimunculkan dalam bagian
kedua di atas, dilakukan lewat pembedaan antara perintah
Allah dan adat istiadat. Keduanya tak boleh disamakan.
Adat istiadat nenek moyang, sebaik apa pun motif dan
alasan perumusannya, bukanlah perintah Allah. Semuanya
hanyalah cara nenek moyang Israel, yang diteruskan
hingga zaman Yesus, untuk mengekspresikan ketaatan
mereka pada perintah Allah. Namun, pada dirinya sendiri,
mereka bukanlah perintah Allah.
Pembedaan yang Yesus lakukan mengambil contoh satu dari
Dasa Titah (“hormatilah ayahmu dan ibumu”) dan
membenturkannya pada salah satu perintah
pasca-Pembuangan agar setiap orang Israel memberikan
uangnya untuk “persembahan kepada Allah.” Yesus
menunjukkan bahwa para agamawan itu mengizinkan perintah
pasca-Pembuangan dilakukan (persembahan kepada Allah)
untuk mengganti hukum ke-5 dari Dasa Titah. Singkatnya,
orang boleh mengalihkan uang, yang seharusnya
dipergunakan untuk memelihara orangtuanya, untuk korban
persembahan kepada Allah. Bagi Yesus, tindakan ini
merupakan pelanggaran hukum Allah demi adat nenek-moyang.
Sekalipun perintah tersebut dilakukan lewat persembahan
kepada Allah. Maka, artinya, apa yang tampaknya
dikerjakan untuk Allah bisa jadi malah melanggar
perintah Allah. Dengan demikian justifikasi religius (“kepada
Allah”) atas adat istiadat nenek moyang yang dilakukan
oleh para agamawan ternyata gugur, justru karena
bertentangan dengan perintah Allah yang utama (“hormatilah
ayahmu dan ibumu”).
Cara jitu kedua yang dilakukan Yesus muncul dalam bagian
ketiga, namun yang sudah diperkenalkan lewat kutipan
nabi Yesaya. Pada versi Matius kutipan tersebut
diletakkan sesudah ucapan Yesus, sedang pada versi
Markus diletakkan sebelum ucapan Yesus. Kutipan ini
mengintroduksi cara Yesus yang kedua, yaitu dengan
membedakan antara yang tampak dari luar dan yang ada di
dalam hati. Antara “bibir” dan “hati.” Keduanya
seharusnya konsisten dan manunggal. Namun, konsentrasi
yang berlebihan pada adat istiadat nenek moyang dengan
mudah membuat orang Israel hanya memuliakan Allah secara
lahiriah (“memuliakan Aku dengan bibirnya”), namun tidak
dibarengi dengan sikap hati yang mendekat pada Allah (“hatinya
jauh dari pada-Ku”). |
|
|
|
BAGIAN KETIGA:
Jawaban Kedua Yesus: Outside-In dan Inside-Out |
| Matius 15:10-11 |
Markus 7:14-16 |
10 Lalu Yesus memanggil orang banyak
dan berkata kepada mereka:
11 “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam
mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar
dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” |
14 Lalu Yesus memanggil lagi orang
banyak dan berkata kepada mereka: “Kamu semua,
dengarlah kepada-Ku dan camkanlah.
15 Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang,
tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar
dari seseorang, itulah yang menajiskannya.”
16 (Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah
ia mendengar!) |
|
Cara kedua Yesus dalam menjawab tuduhan para agamawan itu
terpusat pada pemaknaan kata “najis.” Apa sesungguhnya
yang membuat sesuatu itu najis atau halal? Kali ini
ucapan Yesus dialamatkan bukan lagi pada orang-orang
Farisi dan para ahli Taurat, namun pada “orang banyak.”
Bahkan, Yesus meminta mereka untuk mendengarkan dan
mencamkan baik-baik ucapan-Nya. Hal ini menandakan bahwa
ucapan Yesus selanjutnya menjadi inti dari pandangan
Yesus.
Ada perbedaan yang radikal antara apa yang berasal dari
luar dan masuk ke dalam (outside-in) dan apa yang
berasal dari dalam dan keluar (inside-out).
Najis-tidaknya sesuatu bergantung pada kedua hal ini.
Sementara yang pertama tidak menajiskan seseorang, yang
kedualah yang bisa menajiskan seseorang.
Ada baiknya kita berkenalan sejenak dengan tiga istilah
teologis yang diusulkan oleh Paul Tillich, demi membantu
kita memahami ucapan Yesus. Tillich membedakan tiga
sumber normatif dalam hidup beragama: heteronomi,
otonomi dan teonomi. Heteronomi berarti sumber hukum (nomos:
hukum) yang asing, yang berasal dari luar kehidupan
seseorang. Ia bisa berarti hukum agama, hukum sosial,
dan lain-lain.
Otonomi berarti hukum yang mengatur seseorang yang
berasal dari dalam diri orang tersebut. Ia bisa berarti
pertimbangan moral, hati nurani, pemikiran, dan
lain-lain. Dalam tradisi Israel hukum internal tersebut
disimbolisasi lewat kata “hati” (Ibr.: lev), yang
menjadi pusat pemikiran, perasaan, perenungan dan
pertimbangan manusia. Seorang yang otonom tidak pernah
melakukan sesuatu atas dasar desakan luar (kata orang,
hukum sosial, tekanan masyarakat, dan sebagainya).
Seseorang bersifat otonom ketika ia bisa mengambil
sebuah tindakan atas dasar pertimbangan personal dan
internalnya sendiri.
Namun, otonomi bisa memiliki dua kemungkinan. Hati bisa
menjadi sumber kebaikan dan keluhuran; namun ia juga
bisa menjadi sumber kejahatan dan dosa. Itu sebabnya,
Yesus berkata bahwa, sementara heteronomi (“apapun dari
luar,” Mk. 7:15) tidak mungkin menajiskan seseorang,
otonomi (“apa yang keluar dari seseorang,” Mk. 7:15)
bisa menajiskan seseorang. Namun, tentu, bisa juga tidak
menajiskan seseorang. Mungkin ilustrasi berikut ini bisa
membantu kita memahami maksud Yesus. |
 |
Modus outside-in ditolak, karena sementara tindakan yang
busuk pasti berasal dari hati yang buruk, tindakan yang
baik belum tentu berasal dari hati yang baik. Di lain
sisi, modus inside-out diterima, karena hati yang baik
pasti memunculkan tindakan yang baik, sementara tindakan
yang baik ternyata bisa jadi muncul dari hati yang buruk.
Cara berpikir semacam ini akan makin jelas dalam bagian
keempat di bawah ini. Namun, ada baiknya memperjelas
nomos yang ketiga (di samping heteronomi dan otonomi),
yaitu teonomi. Teonomi adalah hukum Allah, yang dalam
kisah ini justru ingin dibela dan diproklamasikan oleh
Yesus. Ketika teonomi dipandang secara legalistis dan
formalistis maka ia segera menjadi heteronomi. Namun,
teonomi sejati muncul ketika modus hukum Allah itu
bekerja di dalam hati manusia. Yaitu, ketika teonomi dan
otonomi jalin-menjalin, hingga akhirnya teonomi
mentransformasi otonomi. Yang muncul kemudian adalah
“hati yang baik,” yang pasti membuahkan “tindakan yang
baik.” |
|
|
|
BAGIAN KEEMPAT:
Percakapan Yesus dan Murid-Murid-Nya |
| Matius 15:12-20 |
Markus 7:17-23 |
12 Maka datanglah murid-murid-Nya
dan bertanya kepada-Nya: “Engkau tahu bahwa
perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi
orang-orang
Farisi?”
13 Jawab Yesus: “Setiap tanaman yang tidak ditanam
oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan
akar-akarnya.
14 Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang
menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang
buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.”
15 Lalu Petrus berkata kepada-Nya: “Jelaskanlah
perumpamaan itu kepada kami.”
16 Jawab Yesus: “Kamupun masih belum dapat
memahaminya?
17 Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang
masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu
dibuang di jamban?
18 Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari
hati dan itulah yang menajiskan orang.
19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat,
pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian,
sumpah palsu dan hujat.
20 Itulah yang menajiskan orang.
Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh
tidak menajiskan orang. |
17 Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah
untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya
bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu.
18 Maka jawab-Nya: “Apakah kamu juga tidak dapat
memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu
dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat
menajiskannya,
19 karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam
perutnya, lalu dibuang di
jamban?”
Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal.
20 Kata-Nya lagi: “Apa yang keluar dari seseorang,
itulah yang menajiskannya,
21.sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala
pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan,
22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan,
hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.
23 Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan
menajiskan orang.” |
|
Pada bagian akhir kisah ini, Yesus telah menarik diri dari
kerumunan orang banyak dan berada hanya di kalangan
murid-murid-Nya saja. Versi Matius secara khusus
menunjukkan kekuatiran para murid bahwa perkataan keras
Yesus dapat menjadi batu sandungan bagi para agamawan
itu. Mereka sangat mungkin merasa terserang. Jawab Yesus:
“Biarkanlah mereka itu!” Karena ketika harus memilih
para agamawan yang membuat hidup beragama makin rumit
atau Allah yang menjadi sumber kehidupan sejati, maka
yang pilihan kedualah yang harus diambil.
Yang menarik, para murid, yang sebelumnya telah menjadi
sumber pertikaian karena tidak membasuh tangan sebelum
makan, ternyata juga tak memahami maksud pengajaran
Yesus. Artinya, mereka melakukan tindakan melanggar adat
istiadat nenek-moyang tanpa tahu mengapa mereka
melakukannya.
Sekali lagi perbedaan antara outside-in and inside-out
mencuat. Makanan yang masuk ke mulut, kata Yesus,
hanyalah akan masuk ke perut dan turun ke jamban
(outside-in). Dan karenanya, baik makanan apapun maupun
makan dengan tangan tak dibasuh, tidak akan menajiskan.
Yesus lantas membalik logika “adat istiadat nenek-moyang
Israel.” Apa yang keluar dari dalam (inside-out) itulah
yang menentukan. Jika yang di dalam (hati, lev) busuk,
maka yang di luar akan najis pula, sekalipun tampil baik
(misalnya: membasuh tangan sebelum makan). Sebaliknya,
jika yang di dalam baik, maka yang keluar pastilah baik
pula.
Dengan logika semacam ini, injil Matius dan Markus
sampai pada kesimpulan yang berbeda, namun saling
melengkapi. Sementara Matius sampai pada kesimpulan
bahwa “makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak
menajiskan orang” (ay. 20b), Markus berujung pada
prinsip yang lebih radikal lagi, yaitu bahwa “semua
makanan halal” (ay. 19b). Singkatnya, Matius lebih
tertarik pada urusan awal, membasuh atau tidak membasuh
tangan sebelum makan, sedang Markus lebih tertarik pada
persoalan makanan itu sendiri. Yang menarik, versi Lukas
berujung pada kesimpulan yang sama sekali berbeda dari
kedua Injil sinoptis lainnya. Di dalam injil ketiga ini,
Yesus menyatakan: Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia
yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan
bagian dalam? Akan tetapi berikanlah isinya sebagai
sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih
bagimu. (Lk. 11:40-41).
Di satu sisi, Yesus dalam Injil Lukas berusaha
menghimpun dimensi luar dan dalam bersama-sama. Keduanya
harus dipandang sebagai milik Allah. Namun, di sisi
lain, injil ini juga meneruskan prinsip yang sama dalam
kedua injil lainnya, yaitu mementingkan yang “di dalam”
lebih dari yang “di luar,” juga dengan prinsip
inside-out. Yang berbeda adalah bahwa yang di dalam (“isinya”)
harus terwujud ke luar dalam bentuk sedekah atau
kepedulian pada orang lain. Ketika hal itu terjadi, maka
seluruh hidup manusia menjadi “bersih.” |
|
|
|
Sebuah Refleksi Akhir |
Kita telah
melihat bahwa pada akhirnya kisah perdebatan Yesus dan
para agamawan dalam teks kita tidak semata-mata
berbicara soal adat-istiadat. Saya sudah berusaha
memaparkan bahwa pembedaan antara heteronomi, otonomi
dan teonomi mampu membantu kita dalam memahami teks ini
dengan lebih baik. Setiap manusia dewasa diundang untuk
menjadi pribadi otonom, yang memutuskan sesuatu bukan
atas dasar otoritas dari luar, apa pun itu: agama,
budaya, masyarakat dan sebagainya. Seorang pribadi
otonom menga integritas antara hati dan tingkah laku.
Namun, menjadi pribadi otonom tidak cukup. Hukum Allah
juga seharusnya bekerja mengubah pribadi otonom,
sehingga inner self seseorang diubah dan berubah.
Hanya dalam konteks itu percakapan perihal adat-istiadat
memperoleh maknanya. Seorang Kristen diundang untuk
merayakan kehidupan, salah satunya, melalui adat dan
kebudayaan asalnya. Namun, sikap kritis atas kebudayaan
juga perlu diajukan. Jika sebuah adat atau nilai budaya
menjauhkan seseorang dari Tuhan atau dari tugasnya
merawat kehidupan sesama, maka adat atau nilai budaya
tersebut perlu ditolak.
Sebaliknya, adat dan kebudayaan yang sehat, yang
menampilkan inner and true self yang sejati perlu
diyakini sebagai sebentuk cara menghayati kehidupan yang
bermakna. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|