|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
17 Agustus 2008
Gereja dan Kemiskinan Dikutip dari buku “Iklan bagi Anak Hilang”, karya Pdt. Eka Darmaputera, Ph.D, terbitan Gloria Graffa |
|
|
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga,” begitulah
Injil Matius mencatat kata-kata Yesus (5:3).
“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah
yang empunya Kerajaan Allah,” begitu Injil Lukas
mencatat kata-kata Yesus (6:20).
Dan
tinggallah kita yang terbingung-bingung bertanya:
Siapakah sebenarnya yang disebut “berbahagia” dan yang
“empunya kerajaan” itu? Apakah yang disebut “berbahagia”
adalah “yang miskin di dalam roh”, artinya mereka yang
bersikap jauh dari congkak di hadapan Allah, yang
walaupun telah melaksanakan semua yang wajib dilakukan,
toh dengan penuh kerendahan hati berkata, “Kami adalah
hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa
yang kami harus lakukan”? (Lukas 17:10).
Ataukah yang disebut “berbahagia” adalah mereka yang
miskin dalam harta, seperti Lazarus yang menantikan
remah-remah roti yang jatuh dari meja si kaya, namun
ketika mati dibawa oleh para malaikat ke pangkuan
Abraham? (Lukas 16:19).
Pandangan yang ambivalen itu ternyata tidak cuma kita
jumpai dalam Perjanjian Baru, tetapi juga dalam
Perjanjian Lama. Di satu pihak dikatakan bahwa Allah
“menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan
mengangkat orang yang miskin dari dalam lumpur” (Mazmur
113:7). Jelaslah ini berkata-kata mengenai mereka yang
miskin dalam harta.
Namun, di pihak lain Alkitab juga berbicara mengenai
jenis kemiskinan yang lain, yang menyayat manusia sampai
ke jiwa. Sehingga, “Lebih baik merendahkan diri dengan
orang yang rendah hati daripada membagi rampasan dengan
orang congkak” (Amsal 16:19). Di sini, yang penting
adalah kerendahan hati, miskin di dalam roh.
Malah di bagian lain dikatakan, “miskin” dan “kaya”
bukanlah persoalan utama. “Orang kaya dan orang miskin
bertemu; yang membuat mereka semua ialah TUHAN” (Amsal
22:2).
Yang mesti kita katakan adalah bahwa sekalipun amat
jelas Allah selalu memihak dan menjadi pembela mereka
yang lemah, miskin, dan tertindas; bahwa sekalipun amat
jelas Allah mengecam dengan amat keras mereka yang tidak
mempunyai kepedulian terhadap atau malah menjadi
pengisap orang-orang yang lemah, miskin, dan tertindas;
namun Allah tidaklah anti kekayaan. Allah juga tidak
anti orang kaya.
Di dalam
Taurat ada banyak peraturan yang melindungi orang-orang
yang lemah, miskin, dan tertindas dari pengisapan dan
kesewenang-wenangan. Ada waktu-waktu tertentu di mana
semua budak dibebaskan, semua utang dianggap lunas, dan
semua milik yang pernah tergadai kembali ke sang pemilik
semula.
Namun, di samping itu jelas-jelas pula harta milik orang
per orang juga dilindungi baik dari penipuan, pencurian,
perampasan, maupun dari kekerasan.Bila di atas dikatakan
bahwa Allah tidak anti kekayaan atau secara apriori anti
orang kaya, maka harus pula ditentukan bahwa Allah tidak
mengidealisir dan meromantisir kemiskinan.
Allah mengasihi orang miskin. Allah membela orang miskin.
Yesus mengidentifikasikan diri-Nya sebagai saudara bagi
orang miskin. Namun demikian, Dia tidak menghendaki
kemiskinan. Hidup yang dijanjikan-Nya bagi semua orang
adalah hidup yang berkelimpahan atau paling sedikit
berkecukupan. “Masing-masing akan duduk di bawah pohon
anggurnya dan bawah pohon aranya dengan tidak ada yang
mengejutkan” (Mikha 4:4).
Oleh karena itu, gereja-gereja di Indonesia harus
berdiri di dalam solidaritas dengan si miskin, dan
bertekad bulat memerangi segala sesuatu yang menjadi
penyebab kemiskinan maupun permiskinan.
Namun ini tidak dilakukannya dengan serta-merta
memandang si kaya sebagai musuh. Yang harus dilakukan,
janganlah memertentangkan yang miskin melawan yang kaya
seperti dalam teori revolusi sosial atau teori
pertentangan, tetapi justru bagaimana memertemukan
keduanya. Agar yang kaya menginsafi bahwa setiap
kelebihan yang ia miliki adalah utangnya pada yang
berkekurangan. Dan karena itu, yang dituntut dari si
kaya bukanlah sikap “membagi” karena rasa iba
semata-mata, melainkan sikap “berbagi” (sharing) dari
sesuatu yang sebenarnya adalah milik bersama.
Di sini gereja tidak boleh menjadi penyulut api
kebencian, tetapi harus menjadi pembawa obor
kesetiakawanan. Namun sekali lagi, itu tidak berarti
bahwa gereja dapat bersikap netral. Sama sekali tidak!
Gereja mesti menegaskan diri di mana ia berdiri: Di
pihak si miskin. Gereja mesti menegaskan sikapnya yang
pasti: Menentang segala bentuk ketidakadilan dan
kesewenang-wenangan. Dan apa pun yang ia lakukan, ia
lakukan bukan dengan sikap sok kepingin jadi pahlawan,
melainkan dalam sikap kerendahan hati dan
dengar-dengaran kepada Tuhan.
Sangat
menarik bahwa dalam satu pasal (Lukas 10) dikisahkan dua
cerita yang seolah-olah tak ada hubungannya, tetapi
sebenarnya punya kaitan yang amat dalam.
Yang pertama adalah kisah orang Samaria yang murah hati.
Melalui kisah ini Yesus mau mengatakan, “Ada sesuatu
yang harus kita kerjakan bagi mereka yang tergelepar dan
terkapar di tepi jalan!”
Namun setelah itu, yang kedua adalah kisah tentang Marta
dan Maria. Marta seolah-olah mau menaati pesan Yesus di
atas: sibuk dengan tindakan dan kegiatan. Toh Yesus
lebih memuji Maria yang duduk bersimpuh di kaki Yesus
dan menyimak kata-kata-Nya. Tentang Maria, Yesus berkata,
“Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak
akan diambil daripadanya” (Lukas 10:42).
Kita membutuhkan sikap “miskin di hadapan Allah” sebelum
kita sibuk bergiat menolong mereka yang “miskin dalam
harta”. Sebab tidak jarang godaan yang terbesar adalah
sikap “menjual” orang miskin hanya demi kebesaran kita.
Entah agar disebut jagoan. Entah agar keuntungan masuk
ke kantong sendiri. Dan bila demikian, alangkah makin
malangnya nasibmu, hai kaum papa. Namamu dijual, tetapi
tak sesen pun kaunikmati labanya. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|