|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
28 April 2008
Allah Peduli. Kita Peduli pada yang Allah Peduli Fabian Buddy Pascoal |
|
|
Ketika membuat tulisan ini, setahu saya, sebagai bagian
perayaan Paska GKI-PI akan diadakan “Bulan Kesaksian dan
Pelayanan”. Program ini dulunya bernama “Bulan Peduli”
yang saat itu dalam banyak hal lebih menitik-beratkan pada
fungsi diakonia. Walaupun tentu dalam kegiatan-kegiatan
tersebut terkandung juga fungsi “koinonia” (persekutuan)
dan “marturia” (pekabaran Injil), namun mulai kali ini
diharapkan warna “marturia” mulai dikontraskan mengingat
kepedulian bukan hanya untuk kebutuhan duniawi lewat
kegiatan-kegiatan diakonia, tetapi kita diharapkan juga
peduli untuk hal-hal yang bersifat kekal yang menjadi
penekanan dalam fungsi “marturia” dari gereja-gereja
Kristus di seluruh dunia.
Bukan kebetulan bahwa nama gereja kita disingkat “GKI-PI”.
Dari singkatan ini, kita sebenarnya telah dipanggil, bukan
hanya menjadi warga GKI yang gedung gerejanya terletak di
kawasan “Pondok Indah”, tetapi juga warga gereja yang
menjalankan misi “Pekabaran Injil”. Bila menjadi warga GKI-PI
sudah memberi kita sejumlah berkat khusus dengan adanya
sejumlah kenyamanan yang tidak banyak gereja yang dapat
menikmatinya, maka menjalankan “Pekabaran Injil”
sebenarnya justru merupakan “upah” bagi kita (1 Korintus
9:18). Kiranya tulisan ini dapat saling melengkapi kita
dalam lebih membuka perspektif dan arah pelayanan kita. |
|
|
|
ALLAH PEDULI |
Yohanes 3:16: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia
ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,
melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Esensi ayat di atas menunjukkan ALLAH yang begitu peduli
dengan kita. Kepedulian ALLAH sangat totalitas karena IA
melaksanakannya bukan dengan hanya memberi kita sejumlah
aturan, juga bukan dengan mengirim malaikat atau makhluk
sorgawi lainnya sebagai wakilNya untuk menyelamatkan kita.
Tetapi, IA sangat peduli sehingga ALLAH sendiri yang turun
menjadi manusia, yang lebih luar biasanya lagi, bukan
untuk menikmati kehidupan sebagai manusia, tetapi justru
sebaliknya untuk menjalani cara hidup yang sejak awal
menunjukkan penyangkalan diri ALLAH dan kepedulianNya
kepada manusia dan hal-hal yang tersisih dan kurang
dianggap.
IA lahir dari seorang perawan. Tempat lahirnya pun di
kandang binatang.1 Ketika masih kanak-kanak, IA sudah
dikejar-kejar tentara Herodes untuk dibunuh sehingga Yusuf
harus membawa Maria dan Yesus menyusuri padang pasir
berhari-hari dan kesusahan lainnya selama bersembunyi di
pelbagai tempat di Mesir.
Sekembali dari Mesir, IA tinggal di Kota Nazareth, suatu
kota yang begitu sederhana sehingga ketika itu tidak
tercantum di peta dan bahkan dalam Yohanes 1:46, Natanael
berkata kepada Filipus: “Mungkinkah sesuatu yang baik
datang dari Nazaret?”
Sampai usia 30 tahun, Yesus tinggal di Nazaret dan
menjalani kehidupan yang sangat sederhana sebagai anak
tukang kayu, dan selanjutnya menjadi tukang kayu setelah
Yusuf mati, guna menunjang kebutuhan hidup. Kehidupan itu
lebih jauh lagi membuatnya akrab dengan kayu sehingga
dalam pelayananNya banyak muncul kalimat-kalimat seperti
“kuk” (Matius 11:30) dan “pintu” (al., Matius 7 dan 23)
sekaligus untuk mempersiapkan tubuh fisiknya agar kelak
cukup kuat menahan siksaan fisik dan memikul kayu salibNya
sendiri menuju tempat penyaliban.
Di dalam pelayananNya selama kurang lebih tiga tahun, IA
juga menunjukkan kepedulian yang sangat besar dengan
manusia, khususnya mereka yang tertindas dan tersingkir.
IA menyapa dan bergaul dengan nelayan seperti Andreas dan
Petrus, kaum perempuan, orang cacat, orang miskin dan
mantan pelacur. Isi Khotbah Di Bukit dalam Matius 5
menunjukkan lebih lanjut kepeduliannya yang begitu besar
bagi kaum marjinal.
Di malam terakhir kehidupanNya, Yesus menunjukkan
kerendahan hati yang sangat-sangat total: IA mencuci kaki
Petrus. Padahal, sebagai seorang yang dianggap sebagai
Rabbi, Yesus sangat dihormati. Menurut adat Yahudi,
seorang Yahudi yang bertemu dengan seorang Rabbi akan
segera berinisiatif mencium tangan Rabbi tersebut sebagai
tanda hormat. Tetapi, dalam hal Yesus, justru Yesus
sendiri yang aktif, bukan mencium tangan Petrus, tetapi
mencuci kaki Petrus. Kaki adalah bagian yang terbawah dari
tubuh manusia sekaligus memberi arti betapa “rendah” nya
penilaian simbolik atas kaki. Tindakan Kristus ini menjadi
bukti konkret penyangkalan dan pengosongan diri Kristus
(dan, dalam dunia manajemen modern, juga menjadi rujukan
dasar bagi metode yang dikenal sebagai “Servant
Leadership” yang kini banyak dipraktikkan oleh
perusahaan-perusahaan modern, seperti Starbuck).
Ketika ditangkap di Taman Getsemani pun, IA sangat peduli.
IA tidak melawan dan masih menyempatkan diri memasang dan
memulihkan kembali telinga seorang prajurit Kayafas yang
ditebas Petrus.
Di sekitar sembilan jam terakhir hidupnya. IA diolok-olok,
dirajam, disiksa dan kemudian, dalam kondisi fisik
sangat-sangat lemah karena tidak tidur, tidak makan dan
kekurangan darah, dipaksa memikul sendiri salibnya seberat
kira-kira 30kg menjalani jalan kesengsaraan sejauh kurang
lebih 2km di muka umum. Betapa sengsaranya Yesus.
Kelemahan fisik luar biasa tadi makin diperparah dengan
tekanan psikologis bahwa ujung perjalanan tadi bukan
sesuatu kelepasan yang memberi kenyamanan, tetapi
sebaliknya, harus menghadapi kematian.
Di dalam proses Via Dolorosa, Yesus masih menunjukan
kepedulianNya menanggapi banyak perempuan yang menangisi
dan meratapi Dia di antara sejumlah besar orang mengikuti
Dia (Lukas 23:28).
Setelah di atas kayu salib, di tiga jam terakhir
kehidupanNya di dunia dalam kondisi fisik dan psikis yang
sangat lemah, IA masih terus sangat peduli. Dari sejumlah
kalimat terakhir Yesus di kayu salib, tiga di antaranya
langsung menunjukkan kepedulianNya kepada manusia:
- Yesus meminta kepada ALLAH Bapa agar mengampuni mereka
yang menyalibkanNya (Lukas 23:28);
- IA meminta agar murid-muridNya merawat Maria, IbuNya
(Yoh.19:25-27); dan
- IA memberi pengampunan kepada penjahat yang ikut
disalib di sampingNya dan mengakui dosanya (Lukas 23:43).
Setelah mengalami kelahiran dan kehidupan yang sangat
menyangkal diri, IA menjalani proses kematian dengan cara
paling hina dan paling menyakitkan: disalib dengan tangan
dan kaki dipaku dan dibiarkan hingga maut sendiri yang
mengakhiri penderitaan itu. Tetapi, yang paling
menyakitkan bagi Yesus adalah ALLAH Bapa meninggalkanNya
(Markus 15:34). Tritunggal yang semestinya menjadi suatu
kesatuan yang tidak terpisahkan, pada momen ini harus
mengalami keterpisahan. Karenanya, kesengsaraan dan
kematian fisik bukanlah menjadi penderitaan dan
pengorbanan terbesar Kristus. Inilah puncak kepedulian
ALLAH bagi manusia: mengorbankan kesatuan Tritunggal
dimana ALLAH Bapa harus meninggalkan ALLAH Anak. Kristus
sampai mengeluarkan keringat darah (chromidrosis) ketika
IA menggumuli hal ini dengan sangat di Taman Getsemani.
Memang, IA begitu peduli dengan kita secara total. |
|
|
|
KITA PEDULI PADA YANG ALLAH PEDULI |
1 Yohanes 3:16: “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus,
yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita;
jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk
saudara-saudara kita.”
Ada suatu keindahan Ilahi ketika kita menyandingkan
Yohanes 3:16 dan 1 Yohanes 3:16. Kedua ayat ini merupakan
satu napas dalam memahami Kasih dan Kepedulian Kristus.
Yang satu tidak dapat dilepaskan dari yang lain. Ketika
kita benar-benar memahami dan menghargai kepedulian total
ALLAH dalam Yohanes 3:16, sebenarnya kita dengan
sendirinya akan mengamini isi 1 Yohanes 3:16.
Esensi Yohanes 3:16 dan 1 Yohanes 3:16 adalah totalitas.
Sebagaimana pelayanan kita lainnya kepada TUHAN, ketika
kita membagikan Injil kita dituntut standar tertinggi,
yang tidak lebih tinggi dari yang sudah Yesus sendiri
lakukan, yakni pengorbanan, bahkan nyawa kita, bila memang
harus. Give God what is right, not what is left. Mati bagi
Kristus menjadi bagian paling paripurna dari pelayanan
pekabaran Injil. Makanya, istilah “martir” dan “marturia”
datang dari akar kata yang sama2 , dan sejarah pekabaran
Injil juga diwarnai pengorbanan diri total dari para
pemberita Injil, mulai dari Stevanus, salah seorang murid
Yesus yang menjadi martir pertama.
Mati sebagai martir adalah hak istimewa. Bukankah dalam
Matius 16:25 dikatakan, “Karena barangsiapa mau
menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya;
tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan
memperolehnya.”, dan dalam Mazmur 116:15: “Berharga di
mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya.” Namun,
tidak semua pelayanan pekabaran Injil akan selalu berakhir
dengan kematian fisik sebagai martir. TUHAN memberi kita
bijaksana untuk melakukan penginjilan sehingga apa pun
proses dan hasilnya tidak akan sia-sia, atau bahkan kontra
produktif terhadap Kerajaan ALLAH. Apa pun proses dan
ujung setiap penginjilan, semua dilakukan dengan
kesungguhan hati dan kerinduan untuk membagikan kepada
sebanyak mungkin orang dalam jangkauan waktu dan tempat
kita, hal terbaik dalam hidup kita: keselamatan kekal.
Ron Hutchcraft, salah satu penulis Kristen, dalam
tulisannya “Your Life’s Most Memorable Legacy“ mencatat
kisah dan pelajaran yang dapat kita ambil dari kehidupan
salah satu presiden Amerika Serikat terbesar: Ronald
Reagan. Kehidupan Ronald Reagan sangat mempengaruhi banyak
orang Amerika dan dunia ini, yang tragisnya ia sendiri
pelan-pelan terlupakan karena penyakit Alzheimer yang
dideritanya. Prestasinya sebagai aktor Holywood, Gubernur
California dan Presiden Amerika Serikat, akhirnya terhapus
dalam ingatannya sendiri. Tetapi ada satu kenangan yang
terus diingatnya hingga akhir hidupnya, Ia mempunyai satu
foto yang mengabadikan dirinya dalam seragam penjaga
pantai di Kota Rock River, Illinois. Tiap kali orang
menanyakan tentang foto itu yang digantung di kantornya
setelah ia pensiun dan melupakan sebagian besar kisah
hidupnya sendiri, ia akan dengan ceria menjawab, “Oh, foto
itu diambil ketika saya berusia 17 tahun. Ketika itu, saya
menyelamatkan 77 orang!”
Setelah semua yang dilakukan dan dikatakannya, hal yang
paling dan masih diingatnya adalah tetap mengenai
orang-orang yang pernah ia selamatkan dari ancaman
kematian. Memang, tidak ada yang lebih bernilai dalam
hidup ini daripada hal hidup dan mati, khususnya bila hal
itu mengenai hidup dan mati secara kekal. Amsal 11:30
dalam versi NIV, berkata: “he who wins souls is wise”.
Memenangkan jiwa adalah kebijakan dan kebajikan utama.
Di Sorga kelak, yang akan diperhitungkan kepada kita,
bukan mengenai prestasi duniawi kita di dunia ini, tetapi
berapa jiwa yang kita bawa kepada Kristus, langsung maupun
tidak langsung. Tidak ada prestasi yang memberi efek kekal
selain memberitakan Injil Yesus Kristus. Tidak ada
kebahagiaan yang lebih bernilai selain melihat orang-orang
di sekitar kita saat kita hidup di dunia ini, apalagi
orang-orang yang kita kasihi dan peduli, sama-sama dengan
kita menikmati kekekalan. Mari kita semua punya cita-cita
yang sama: masuk Sorga, dan membawa sebanyak mungkin orang
ke Sorga.
`
Untuk itu, PERGI DAN KATAKANLAH bahwa ALLAH sangat peduli
dan kita juga peduli pada yang ALLAH peduli! Friends of
Jesus tell their friends about Jesus. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|