|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
5 Maret 2008
Makna Puasa Sebagai Pertobatan Pdt. Yohanes Bambang Mulyono |
|
|
Tradisi puasa dalam kehidupan gereja Tuhan sesungguhnya
telah terentang sejak gereja tampil di atas muka bumi.
Bahkan secara teologis, gereja Tuhan telah mewarisi
tradisi puasa dari umat Israel sebagaimana disaksikan oleh
Alkitab Perjanjian Lama. Sehingga tradisi puasa dalam
kehidupan jemaat Kristen Protestan bukan sekedar suatu
ibadah yang mau “ikut-ikutan” misalnya dengan saudara kita
yang beragama Islam. Juga kita tidak melaksanakan puasa
karena gereja Roma Katolik telah melaksanakan ibadah puasa
sejak dahulu. Demikian pula kita melaksanakan puasa bukan
karena saudara-saudara seiman di gereja Pantekosta atau
yang mengikuti aliran kharismatik sering melakukan ibadah
“doa-puasa”. Kita melaksanakan puasa karena sesungguhnya
puasa dipakai oleh Tuhan untuk melatih rohani kita agar
spiritualitas kita makin terbuka untuk menghayati
pertobatan sebagai sikap hidup.
Pertobatan yang dimaksud adalah agar kehidupan kita makin
berkenan di hati Tuhan dan setia memelihara kekudusan
hidup. Itu sebabnya makna pertobatan bukan terletak pada
upacara lahiriah dan kebiasaan keagamaan, melainkan pada
pertobatan hati. Yoel 2:13 berkata: “Koyakkanlah hatimu
dan jangan pakaianmu”. Jadi yang dikehendaki oleh Tuhan
dalam ibadah puasa adalah “hati yang mau dikoyakkan”
sehingga kita menyesali dengan sungguh semua kesalahan dan
dosa kita.
Tuhan tidak menghendaki pakaian atau baju yang dikoyak
karena penyesalan terhadap suatu dosa. Sehingga percuma
saja umat Israel mengoyakkan pakaian atau jubahnya ketika
mereka menyesali kesalahan dan dosanya, tetapi ternyata
hati mereka tetap keras dan mereka terus berkanjang dalam
dosa. Bahkan tindakan mengoyakkan pakaian dalam pengertian
ini dapat berarti hanya sekedar suatu bentuk kepura-puraan
belaka, yang artinya sama dengan kemunafikan. Manakala
umat dipanggil untuk mengoyakkan hati, berarti dimaksudkan
agar kita diajak untuk mengalami kasih dan pengampunan
Allah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sebab
Yahweh adalah Allah yang pengasih dan penyayang, panjang
sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena
hukumanNya (ayat 13b).
Namun pada sisi lain, nabi Yoel menegaskan bahwa Allah
adalah Tuhan yang berdaulat penuh atas hidup manusia. Itu
sebabnya di Yoel 2:14, diawali dengan perkataan “siapa
tahu…” Dengan demikian Allah pada hakikatnya senantiasa
bertindak berdasarkan keputusan dan kehendakNya yang
berdaulat, dan tidak ada seorang pun dari manusia yang
dapat mengendalikan Dia. Manusia tidak dapat mengendalikan
atau mengatur kehendak Allah dengan berbagai doa dan
puasanya. Karena itu saat kita berpuasa tidak boleh
memiliki motivasi lain, selain sikap iman yang mau
merendahkan diri secara total di hadapan Allah.
Melalui puasa, selaku umat percaya kita ingin
mengekspresikan sikap pertobatan. Sikap ini kita lakukan
karena sikap bertobat harus dinyatakan dalam perbuatan,
bukan sekedar rangkaian kata-kata yang saleh. Nabi Yoel
mengajak umat Israel untuk bertobat dengan melakukan puasa
yang kudus (Yoel 2:15). Wujud dari puasa yang kudus
tersebut ternyata tidak hanya tertuju kepada pribadi atau
perseorangan tertentu, tetapi tindakan puasa pada
prinsipnya juga melibatkan seluruh elemen atau seluruh
tingkat usia dan berbagai generasi dari umat Allah, yaitu:
mereka yang tua, anak-anak, bayi yang masih menyusu,
pengantin laki-laki dan perempuan, para imam, dan
pelayan-pelayan Tuhan (Yoel 2:16-17). Mereka semua tanpa
terkecuali dipanggil untuk menangis di antara balai depan
dan mezbah sambil berkata: “Sayangilah, ya Tuhan umatMu,
dan janganlah biarkan milikMu sendiri menjadi cela,
sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka” (Yoel
2:17). Jadi pertobatan yang dituntut oleh Allah bukan
hanya ditujukan secara individual belaka, tetapi juga
suatu pertobatan yang bersifat komunal, yaitu pertobatan
sebagai umat Allah (kahal Yahweh). Itu sebabnya tindakan
puasa sebagai wujud dari pertobatan umat diungkapkan oleh
nabi Yoel dalam bentuk perintah (imperatif), yaitu:
“Kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah” (Yoel 2:16).
Dalam memahami firman Tuhan yang diucapkan oleh nabi Yoel
ini, justru dalam kehidupan kita sehari-hari, sering makna
puasa hanya dihayati sebagai bentuk kesalehan pribadi.
Padahal yang dikehendaki oleh Tuhan agar kita selaku
pribadi dan selaku persekutuan umat seharusnya konsisten
dalam memberlakukan kekudusan hidup. Itu sebabnya sejak
dahulu selama masa Pra-Paskah gereja-gereja Tuhan
senantiasa memotivasi dan memberlakukan puasa kepada
seluruh anggota jemaat agar mereka selaku persekutuan yang
telah ditebus oleh Kristus sungguh-sungguh mau setia untuk
memelihara hidup kudus dengan sikap bertobat. Jadi makna
puasa seharusnya dihayati sebagai masa yang khusus untuk
mengakui segala kesalahan dan dosa pribadi dan umat.
Sehingga kita sungguh-sungguh dapat berdamai dengan Allah
yang akan memampukan kita untuk berdamai dengan diri
sendiri dan berdamai dengan sesama.
Saat kita berpuasa juga dapat kita pakai sebagai media
untuk melatih dan mempertajam spiritualitas dan iman yang
kita miliki. Sehingga setelah berpuasa, seharusnya kita
dapat mengalami perubahan hidup; agar hidup kita menjadi
lebih arif dalam menghadapi berbagai persoalan dan
pergumulan yang terjadi. Hasil dari puasa adalah kemampuan
spiritual untuk mengendalikan diri kita menjadi lebih
optimal.
Sebagai sikap pertobatan, maka dalam mempraktikkan puasa
seharusnya kita makin memiliki spiritualitas yang penuh
kasih dan pengampunan kepada sesama. Tetapi bagaimana
fenomena yang terjadi pada saat masa puasa di negara ini?
Justru kita sangat prihatin karena dalam masa puasa di
negara ini masih sering terjadi berbagai tindakan
kekerasan fisik dan mental serta pengrusakan harta milik
kepada sesama yang dianggap tidak “menghormati” mereka.
Mereka merusak berbagai tempat seperti toko dan
rumah-makan dari sesama yang sedang mencari nafkah dengan
berjualan makanan dan minuman. Tempat-tempat tersebut
dianggap oleh mereka dapat menggoda dan meruntuhkan “iman”
orang yang sedang berpuasa sehingga harus dihancurkan.
Jika kita hayati masa berpuasa sebagai masa di mana kita
mau menempuh hidup baru dengan bertobat, dan untuk itu
kita secara serius mau melatih diri untuk mengendalikan
keinginan serta hawa-nafsu; maka seharusnya kita merasa
malu telah mempraktikkan kekerasan pada masa puasa.
Manakala kita ingin membela kekudusan Allah, maka
seharusnya kekudusan Allah tidak boleh dilepaskan dari
kasihNya yang lembut. Karena itu menegakkan kekudusan
Allah tidaklah dapat dibenarkan dengan penggunaan
cara-cara kekerasan, sebab setiap cara penggunaan
kekerasan selalu bertentangan dengan kasih dan
pengampunanNya.
Selain itu dalam menghayati sikap pertobatan, kita tidak
boleh melakukan puasa secara demonstratif sehingga orang
banyak mengetahui dan memberi pujian saat kita sedang
berpuasa. Sebab makna pertobatan yang dikehendaki oleh
Tuhan Yesus adalah “spiritualitas yang tersembunyi”.
Maksud dari “spiritualitas yang tersembunyi” adalah sikap
rohani yang tidak mencari nama, pujian atau penghargaan
manusia. Karena itu di Mat. 6:1 Tuhan Yesus berkata:
“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di
hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian,
kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga”.
Betapa sering sikap pertobatan dipraktikkan hanya sebagai
suatu demonstrasi kerohanian di hadapan publik agar semua
orang dapat melihat dan memberi pujian tentang bagaimana
saleh kehidupan keagamaan mereka. Apabila mereka melakukan
demonstrasi rohani yang demikian, seharusnya mereka perlu
menyadari bahwa sesungguhnya mereka sudah mendapat upah
atau hasilnya, yaitu pujian dari manusia. Tetapi sikap
mereka yang demikian tidak akan pernah mendapat
penghargaan dan pujian dari Allah, sebab Allah sebagai
Bapa hanya melihat yang tersembunyi (Mat. 6:4).
Allah hanya peduli kepada umatNya yang sungguh-sungguh
merendahkan diri dan bertobat secara tulus serta tanpa
mengasihi Dia tanpa syarat. Karena itu makna pertobatan
yang benar di hadapan Allah bukanlah suatu publikasi
berupa simbol-simbol sikap rohani yang ditampilkan secara
sengaja dengan berdiri di tikungan-tikungan jalan (Mat.
6:5), mengucapkan kalimat doa yang panjang bertele-tele
(Mat. 6:7), atau menampilkan wajah yang kusam karena dia
sedang berpuasa (Mat. 6:16). Makna pertobatan adalah sikap
hati yang mau berubah di hadapan Allah, yang mana efek
perubahan hidup itu dapat dirasakan oleh setiap orang di
sekitarnya. Jadi umat yang bertobat tentunya tetap wajib
berdoa dengan khusuk, berpuasa dengan kesungguhan hati,
dan sikap yang ikhlas, serta beribadah di rumah Tuhan
dalam semangat spiritualitas yang tersembunyi. Tetapi
kemudian dalam hidup sehari-hari mereka mampu membuktikan
buah pertobatan dalam kehidupan mereka. Jadi puasa dan
berdoa sebenarnya hanyalah awal dari sikap bertobat,
tetapi perubahan hidup merupakan wujud yang sesungguhnya
dari pertobatan.
Salah satu bentuk dari pertobatan adalah sikap yang tidak
terbelenggu oleh harta, kekayaan dan uang. Itu sebabnya di
Mat. 6:19, Tuhan Yesus berkata: “Janganlah kamu
mengumpulkan harta di bumi; sebab di bumi ngengat dan
karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta
mencurinya”. Orang yang bertobat pada hakikatnya
menyatakan bahwa hidupnya sepenuhnya milik Allah; jadi
kehidupan orang percaya pada hakikatnya tidak lagi
dimiliki oleh kuasa lain. Sehingga hati dan roh orang
percaya hanya terarah kepada Allah. Sebaliknya orang yang
tidak bertobat walau secara ritual dia telah banyak berdoa
dan berpuasa, sesungguhnya dia masih dimiliki dan
dibelenggu oleh kuasa dunia ini. Hatinya tetap melekat
kepada kuasa dunia ini. Sehingga bagi mereka, makna puasa
hanya dihayati sebagai “diet” terhadap makanan dalam kurun
waktu yang cukup panjang.
Selama masa puasa mungkin mereka mampu menolak setiap
makanan yang ada di depannya, tetapi mereka menjadi sangat
serakah setelah puasa selesai. Juga mereka mungkin sangat
taat untuk tidak menyentuh setiap makanan selama masa
berpuasa, tetapi tak lama kemudian mereka merebut secara
sewenang-wenang dengan tipu daya setiap “makanan” yang
dimiliki oleh sesamanya. Dalam hal ini mereka berpuasa
bukan karena mereka bertobat dan menyesali semua kesalahan
atau dosanya, tetapi puasa dilakukan agar mereka dapat
memperoleh pahala dari Tuhan dan dosa-dosa yang diperbuat
sebelumnya diampuni. Kemudian pada tahun mendatang mereka
berpuasa kembali agar Tuhan juga mau mengampuni dosa-dosa
yang telah dilakukan.
Dalam pemahaman yang demikian puasa telah dimanipulasi
secara teologis untuk menyembunyikan dan melegalkan
berbagai perbuatan dosa yang telah dilakukan. Mungkin
mereka tidak menyadari manipulasi teologis tersebut karena
mereka memiliki keyakinan dalam alam bawah sadar, bahwa
puasa pasti mendatangkan pahala bagi yang melakukannya.
Padahal sesungguhnya hati mereka tidak pernah bertobat,
sebab jiwa dan roh mereka masih terikat oleh kuasa Mammon.
Bukankah kita makin menyadari bahwa betapa sangat sulit
bagi kita untuk melepaskan diri dari kuasa Mammon? Mungkin
kita cukup mampu berpuasa untuk tidak makan pada saat
tertentu, tetapi kita sering gagal melepaskan diri dari
kuasa harta dan uang yang kita miliki. Sehingga benarlah
perkataan Tuhan Yesus yang berkata: “Karena di mana
hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:21).
Selaku umat percaya kita dipanggil oleh Tuhan agar kita
berpuasa untuk melawan kuasa Mammon. Sehingga makna puasa
dalam pengertian ini adalah berarti melawan dengan rahmat
dan anugerah Allah segala bentuk nafsu konsumerisme dan
dorongan materialisme, sehingga hidup kita tertuju hanya
untuk mempermuliakan namaNya. Jika demikian, sampai sejauh
mana kita telah mempraktikkan spiritualitas yang bebas
dari keterikatan dengan harta milik dan kuasa Mammon?
Sebenarnya ketika kita mampu melepaskan diri dari
keterikatan dari harta milik dan kuasa Mammon, saat itu
kita telah mempraktikkan puasa dalam pengertian yang
sesungguhnya. Sehingga mungkin kita tidak pernah “diet”
makanan selama masa berpuasa, tetapi sesungguhnya jiwa dan
roh kita telah berpuasa sebab terbukti kita telah mampu
menolak segala keinginan dan hawa nafsu dunia ini. Jadi
bagaimanakah sikap hidup saudara pada saat ini? Apakah
kita kini makin dapat menghayati makna hari Rabu Abu
sebagai sikap pertobatan agar hidup kita seluruhnya tidak
lagi dibelenggu oleh kuasa dunia ini? Jika kita telah
hidup dalam pertobatan, apakah kita kini mau memberlakukan
kasih dan pengampunan Allah secara nyata kepada setiap
orang? Saat kita berpuasa dengan tulus, apakah
spiritualitas kita makin menjadi jernih sehingga kita
makin dapat merasakan dengan penuh empati setiap orang
yang sedang menderita dan kelaparan? Amin. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|