|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
8 Januari 2008
Apakah yang ”Mulia dan Ajaib Benar” dari ”Anugerah”? Fabian Buddy Pascoal |
|
|
Nomor 28 adalah nomor rumah kami. Ketika kami
mempertimbangkan untuk membelinya, sang pemilik “memberi
pencerahan” bahwa nomor ini (menurut salah satu budaya)
merupakan apa yang dikenal umum sebagai “nomor cantik”.
Artinya, angka “8” menunjukan keberuntungan, dan angka “2”
menggandakan keberuntungan tersebut. Begitu kata beliau.
Karena informasi yang diberikan merupakan kabar baik, saya
menerimanya sebagai suatu masukan, kendati bukan merupakan
faktor penentu bagi keputusan kami membeli rumah tersebut.
Baru belakangan saya menyadari bahwa angka “28” adalah
juga bagian dari Efesus 2:8: “Sebab karena kasih karunia
kamu diselamatkan oleh iman…”. SOLA GRATIA! Hanya karena
Anugerah ALLAH. Kami mengamini bahwa rumah kami yang
sekarang ini semata merupakan Anugerah TUHAN dalam segala
dan setiap rinciannya, baik sumber keuangan, waktu, hikmat
dan kesempatan.
Saya memang sempat terlewatkan menemukan makna alkitabiah
angka “28” ini, sebagaimana juga saya sering melewatkan
atau bahkan menempatkan pelbagai Anugerah TUHAN sebagai
sesuatu yang ”taken for granted” bahwa sudah sewajarnya
saya mendapatkan apa yang saya nikmati tersebut. Hal ini
berbeda sekali dengan John Newton yang menulis lagu
“Amazing Grace” yang kita kenal di Indonesia sebagai
Kidung Jemaat No. 40: AJAIB BENAR ANUGERAH. (Beberapa
waktu lalu, ensembel Imago Dei secara luar biasa
membawakan lagu ini di kebaktian minggu GKI-PI.)
John Newton meninggalkan bangku sekolah saat berusia 11
tahun dan menjalani kehidupan yang keras sebagai pelaut.
Ia kemudian menghidupi dirinya sebagai pedagang budak
dengan menangkap penduduk di Afrika Barat dan menjual
mereka ke seluruh dunia. Pada 9 Maret 1748, kapal yang
diawakinya diobok-obok oleh badai besar yang tidak diduga
sebelumnya. Dilanda ketakutan luar biasa, ia mulai membaca
buku Imitation of Christ tulisan Thomas a Kempis, yang
kemudian membawa perubahan drastis dalam hidupnya.
Keesokan harinya di dalam keputus-asaan yang luar biasa ia
berteriak kepada TUHAN dan TUHAN mendengar doanya sehingga
akhirnya ia diselamatkan. Dari pengalamannya sendiri itu,
John Newton menemukan kontras antara Kasih ALLAH dan
dirinya dengan profesi sebagai seorang pedagang budak
belian. Ia bahkan menyebut dirinya “wreck” (barang
rongsokan). Ia begitu memahami dan menghidupi begitu
ajaibnya Anugerah ALLAH.
Melalui tulisan ini, kita akan merenungkan pertanyaan
“Apakah yang Ajaib Benar dari Anugerah ALLAH?” Saya
melihat setidaknya ada tujuh (7) keajaiban yang luar biasa
dalam Anugerah ALLAH. Sesuai dengan konteks Efesus 2:8,
maka istilah “Anugerah” yang digunakan di sini merujuk
pada “Anugerah Khusus” ALLAH, yakni keselamatan kekal
melalui Yesus Kristus.
Kedatangan Kristus yang kita rayakan dalam semangat natal
ini merupakan Anugerah Terbesar ALLAH. Berbeda dengan
“Anugerah umum”, seperti sinar matahari dan udara, yang
dapat dinikmati oleh semua ciptaan, “Anugerah Khusus”
hanya dapat dinikmati oleh mereka yang mengambil pilihan
untuk bertobat dan menerima Kristus sebagai Juru Selamat
satu-satunya. |
|
|
|
1. ALLAH Memungkinkan Keselamatan |
Pertama-tama, kita perlu memahami tentang konsep “dosa”.
Tanpa itu, tawaran keselamatan ALLAH bukan akan menjadi
kabar baik, tetapi sebaliknya dapat membuat tersinggung
orang yang mendengarnya.
Beberapa waktu lalu ketika mengendarai mobil di luar
negeri, saya tanpa sengaja memasuki jalur yang hanya boleh
digunakan oleh mereka yang menjadi pelanggan jalur tol
elektronik. Karena mobil yang saya kendarai tidak
mempunyai alat pengenal elektronik sebagai pelanggan,
sensor lalu lintas di tempat itu mendata pelanggaran saya.
Sekembali ke Indonesia, saya diberitahu adik saya yang
tinggal di sana bahwa ia telah membayarkan denda atas
pelanggaran tersebut. Kalau saja adik saya tidak
memberitahu adanya pelanggaran yang mendasari hukuman
denda yang dibayarkannya untuk dan atas nama saya itu,
saya akan tersinggung dengan menangkap berita tersebut
sebagai suatu penghinaan dan tuduhan tidak berdasar.
Tetapi, karena saya diberitahu dan sadar bahwa saya memang
melakukan pelanggaran dan karenanya patut mendapatkan
hukuman denda, saya menanggapi inisiatif “penebusan” oleh
adik saya tersebut sebagai kabar baik.
Demikian juga dengan konsep dosa dalam hubungannya dengan
pemberitaan injil tentang pengampunan ALLAH. Isi Injil
bahwa Kristus sudah mati bagi dan menebus dosa kita akan
ditangkap oleh mereka yang tidak sadar akan dosanya,
sebagai penghinaan karena ia tidak akan merasa berdosa,
dan karenanya tidak memerlukan Karya Penebusan Kristus.
Sebaliknya, bila ia memahami dosanya, maka ia akan
mengakui dan menghargai bahwa Karya Penebusan benar
merupakan kabar baik baginya. Hanya orang berdosa yang
butuh pengampunan dosa. Tragisnya, semua orang sudah
berdosa dan kehilangan kemuliaan ALLAH.
Dosa bukan lagi menjadi “culture”, tetapi sudah menjadi
“nature” manusia. Artinya, dosa sudah tidak lagi merupakan
produk di luar diri manusia, tetapi sudah menjadi sifat
integral di dalam manusia. Sebegitu merasuknya sifat dosa,
manusia akan senantiasa mempunyai kecenderungan berbuat
dosa. Bahkan, manusia tidak dapat lagi menghindari dosa.
Marthin Luther pernah berkata bahwa dalam setiap perbuatan
baik, selalu ada potensi dosa. Misalnya, ketika kita
membagikan roti, dalam hal rinci, pasti ada satu yang
medapatkan lebih daripada yang lain. Berlaku tidak adil
sudah merupakan dosa. Ketika kita berusaha menaati Hukum
Taurat, bukankah Yakobus 2:10 berkata: “Sebab barangsiapa
menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian
dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya”.
Dosa manusia telah membuat manusia menjadi seperti daun
kering yang dihadapkan dengan Kesucian ALLAH yang, menurut
Ulangan 4:24 dan Ibrani 12:29, adalah seperti api yang
menghanguskan (consuming fire). Dosa telah membuat manusia
tidak dapat mendekati dan bersatu dengan ALLAH. Daun
kering akan langsung hancur ketika bertemu atau tersentuh
dengan api. Dosa memang telah memisahkan manusia dan
ALLAH. Karena ALLAH adalah Sumber Hidup yang Pokok, maka
keterpisahan kita dengan Sumber Hidup berarti kematian
yang kekal. Makanya Roma 6:23 berkata bahwa upah dosa
ialah maut.
Hingga titik ini, sejarah manusia akan berakhir tragis.
Semua manusia akan menuju ke neraka. Tetapi, terpujilah
ALLAH. Ia adalah Kasih. ALLAH tahu bahwa tidak ada
seorangpun dapat menjangkauNya dengan usaha manusia
sendiri.
Kendati dalam setiap manusia TUHAN sudah menempatkan benih
naluri Ilahi (God spot) untuk menyembah Suatu Subjek di
luar manusia yang jauh lebih berkuasa daripada manusia,
manusia tetap tidak akan mampu mengupayakan sendiri
keselamatannya melalui segala agama dan aliran kepercayaan
yang merupakan produk manusia. Kriteria untuk bersatu
dengan ALLAH di Sorga hanyalah kesucian ALLAH yang
sempurna, artinya kita harus sempurna seperti ALLAH.
Padahal di hadapan ALLAH, menggunakan istilah dalam Kitab
Yesaya, kita seperti kain kotor. Karena itu, terpujilah
TUHAN, di tengah-tengah ketidak-berdayaan manusia dalam
menciptakan jembatan keselamatan dengan ALLAH, ALLAH
sendiri berinisiatif menyediakan keselamatan itu.
Keselamatan yang disediakan ini bahkan sudah dirancangNya
ketika (bahkan sebelum) manusia pertama kali jatuh dalam
dosa. Kejadian 3:15: “Aku akan mengadakan permusuhan
antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan
keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu...”
Kristus di dalam kekekalan (kairos) telah dirancang untuk
menjadi manusia biasa sebagai keturunan Adam dan Hawa
untuk kemudian mati disalib sehingga menjadi satu-satunya
Jembatan dan Kompas yang menghubungkan dan menunjuk arah
ke keselamatan kekal (I Kor. 2:7, Yoh. 17:5,24, Ef. 1:4
dan I Pet.1:20). |
|
|
|
2. ALLAH Menyediakan Jalan Keselamatan dan Jalan Itu adalah Anak Tunggal Nya Sendiri |
TUHAN tidak berkata, “Oke dech, kamu manusia, kamu nanti
bisa selamat; tapi jalannya kamu cari sendiri, yah..”.
Kalau ALLAH demikian, kita akan bertanya, niat nggak sih
ALLAH ?
ALLAH sendiri menyediakan Jalan Keselamatan, bukan sekedar
membuka kemungkinan untuk selamat. Hanya sayangnya manusia
masih berusaha menjangkau ALLAH dengan jalan agama dan
aliran kepercayaan yang notabene adalah produk manusia
sebagai bagian dari kebudayaan. Tanpa mengurangi
penghargaan atas niat dan sisi baik umumnya dari
usaha-usaha ini, Amsal 14:12 berkata “Ada jalan yang
disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” Di
dunia ini tidak ada pendiri agama manapun yang pernah
berada di ujung perjalanan tersebut dan kembali lagi,
kecuali Yesus Kristus yang adalah ALLAH itu sendiri. Amsal
30:4 “Siapakah yang naik ke sorga lalu turun?”
Dalam salah satu buku terbarunya “The Journey”, Billy
Graham memperkenalkan ilustrasi berikut.
Suatu ketika seorang pengelana tersesat di hutan. Setelah
berusaha mencari jalan keluar, ia akhirnya menemukan dua
rute. Ia bingung, manakah rute yang harus ia ambil? Ia
melihat bahwa salah satu rute kelihatannya lebih lebar dan
lebih gampang dilalui, serta tampaknya lebih banyak
dipilih orang. Ia sempat tergoda untuk mengambil rute
tersebut karena, pikirnya, kalau banyak orang yang
mengambul rute tersebut, itu pastilah rute yang benar.
Sebelum ia membuat keputusan, datang seseorang. “Aha,
mungkin ia dapat membantu ku”, pikir pengelana tersebut.
Ia lantas bertanya kepada orang kedua tersebut apakah ia
mengetahui rute yang benar dan seharusnya diambil di
antara kedua rute yang ada tersebut.
Orang yang baru datang itu kemudian dengan sangat yakin
menunjuk ke rute kedua, yakni rute yang sempit dan tidak
banyak dilalui orang. Menurut orang kedua tadi, hanya
dengan rute itu, pengelana yang kehilangan arah tadi akan
dibawa ke tujuan yang dituju. Sang pengelana takjub
melihat cara orang kedua tadi memberi petunjuk, dan
kemudian bertanya “Kenapa Anda begitu yakin bahwa inilah
jejak yang benar?”. “Tentu”, jawab orang kedua tadi,
“karena akulah yang membuat rute tersebut; aku memang
kembali sedang menuju ke tujuan yang sama dengan Anda, dan
akan menemani Anda supaya Anda tidak tersesat”.
Begitulah pula Jalan Kristus. Hanya Jalan Kristus-lah yang
menuju tujuan yang benar, yakni Sorga, sebab Kristus
sendirilah yang membuat rute tersebut. Karena Kristus
memang dari Sorga, Jalan yang Ia buat tentu mengambil arah
yang benar. Terlebih lagi, Jalan itu adalah Kristus
sendiri. Jalan itu bukan suatu objek, tetapi Subjek.
Sayangnya, Jalan Kristus itu bukan jalan yang favorit.
Matius 7:13-14: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu,
karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada
kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena
sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada
kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Memang,
orang lebih banyak memilih jalan lain di luar Kristus.
Mengapa? Karena, terutama, Jalan Kristus adalah Jalan
Salib.
Orang yang berpikir bahwa Jalan Kristus selalu dipenuhi
kesuksesan duniawi, akan kecewa. Hanya orang-orang yang
mempunyai iman sejati akan benar mengambil Jalan Kristus
walau harus memikul salib selama di dunia ini. Memang, God
does not promise a comfortable journey, only a safe
landing dan bahwa the cross we bear precedes the crown we
will wear.
Sebaliknya, ada juga orang yang melihat fakta bahwa Jalan
Kristus tidak menuntut akumulasi perbuatan baik, tetapi
hanya pertobatan sejati dan menerima Kristus sebagai Juru
Selamat, adalah sesuatu yang too good to be true. Padahal,
Jalan Kristus sedemikian justru adalah so good that it
must be true! |
|
|
|
3. IA Mengampuni Dosa Kita Kendati Dosa Kita yang Membawa Kristus, AnakNYA yang Tunggal, ke Salib |
IA mengampuni kita bukan karena siapa kita atau karena apa
yang kita perbuat, tetapi semata-mata adalah karena siapa
ALLAH itu sendiri dan karena apa yang ALLAH perbuat.
ALLAH mempunyai dua sifat utama. IA adalah Maha Adil
sekaligus Maha Kasih. Keadilan ALLAH mengharuskan yang
bersalah untuk dihukum. Karena tidak seorangpun yang benar,
dan semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan
Kemuliaan ALLAH, maka Keadilan ALLAH menuntut semua kita
menerima penghukuman ALLAH.
Ada pandangan yang mengatakan bahwa ALLAH berkuasa
menghapus dosa manusia begitu saja. Bukankah IA Maha Kasih?
Memang benar ALLAH Maha Kasih, tetapi sebatas bahwa Dia
tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan
sifatNya yang lain. Di dalam dunia ini saja, seorang hakim
yang adil akan menghukum mereka yang bersalah. Keadilan
tidak akan ditegakkan kalau hakim tersebut tidak menghukum
yang bersalah.
Kedua sifat utama ALLAH tadi, yakni Maha Adil dan Maha
Kasih tadi memang kelihatannya saling bertentangan.
Berbeda dengan sifat pertama, sifat ALLAH yang Maha Kasih
justru menjadi sumber anugerah pengampunan dosa. Kedua
sifat utama ALLAH tersebut hanya menemukan harmoninya di
dalam Kristus. Kematian Kristus menjadi tempat Keadilan
ALLAH ditumpahkan sekaligus di mana Kasih ALLAH berupa
pengampunan dosa dari ALLAH dicurahkan pada saat yang sama.
2 Korintus 5:21: “Dia yang tidak mengenal dosa telah
dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita
dibenarkan oleh Allah.”
Kristus menjadi Objek Murka ALLAH di mana Kristus menerima
upah dosa, yakni maut, menanggung dosa seluruh umat
manusia. IA mati supaya kita tidak mati. Kristus dapat
saja meluputkan diri dari Salib, tetapi dengan begitu IA
tidak akan dapat menyelamatkan kita. Ketika Yesus disalib,
berlegiun-legiun pasukan Malaikat Sorga sudah siap turun
ke bumi untuk menebas habis para penyalib Yesus, hanya
dengan sekali komando dari Yesus. Tetapi, IA tetap
menjalani tujuan satu-satunya dari inkarnasiNya ke dunia,
yakni menjadi manusia agar IA dapat mati dan selanjutnya
bangkit mengalahkan maut (Ibrani 2:14) yang adalah musuh
terbesar dan terakhir manusia.
Kristus harus mati karena dosa kita. Dosa kita yang memaku
Dia. Tetapi yang menahan Dia tetap di kayu salib bertahan
hingga mati bukanlah paku di tangan dan kakiNya, tetapi
semata-mata KasihNya kepada kita. Kita diselamatkan bukan
dengan rumus akumulasi perbuatan-perbuatan “baik” kita,
tetapi hanya dengan rumus Anugerah: “GOOD - GOD = 0” dan
“1 cross + 3 nails = 4given”. Kasih ALLAH tercurah kepada
manusia lewat kematian Kristus karena dengan kematian
Kristus manusia dapat kembali berdamai dengan ALLAH. Tirai
pemisah di Bait Suci terbelah dua ketika Kristus mati,
yang menandakan tiadanya lagi tabir pemisah antara ALLAH
dan mereka yang menerima Kristus sebagai Juru Selamat. |
|
|
|
4. Anugerah Diberikan “Meskipun…”, bukan “Karena…” atau “Supaya…” |
Dosa manusia sudah jelas mengarahkan manusia ke
penghukuman kekal dan tidak ada seorang pun dengan
usahanya sendiri dapat merubah arah rute tersebut. Tetapi,
karena ALLAH itu Kasih, ALLAH kemudian berinisiatif turun
menjangkau kita melalui Kristus. IA turun begitu jauh,
sungguh jauh, di mana IA rela menyangkal dan mengosongkan
diriNya lahir sebagai bayi manusia yang tidak berdaya.
ALLAH sendiri yang turun, karena tidak seorangpun dapat
naik menjangkau ALLAH dengan usaha sendiri.
Kalau kita memahami konsep ini kita akan jauh lebih
menyadari betapa ajaibnya Anugerah ALLAH. Dosa bukan hanya
membuat kita tidak layak untuk menerima Anugerah ALLAH,
tetapi bahkan melayakan kita menerima penghukuman ALLAH.
Itulah Kasih Agape yakni Kasih ALLAH yang tidak bersyarat
dan dicurahkan meskipun kita sebenarnya tidak layak
menerima dan meskipun kita sebenar-benarnya hanya pantas
menerima kebalikannya, yakni murka ALLAH. Anugerah
pengampunan melalui Kristus diberikan bukan “karena kita
telah berbuat sesuatu bagiNya”, juga bukan “supaya kita
berbuat sesuatu bagiNya”.
Karena itulah “Anugerah (grace)” menjadi ciri terpenting
dalam kekristenan yang sekaligus tidak dapat ditemukan di
agama lain. Bukan konsep “inkarnasi”, karena dalam
agama-agama lain juga terdapat konsep dewa menjadi manusia.
Bukan pula “kebangkitan”, karena kebangkitan juga terjadi
dalam tradisi agama dan kepercayaan lain. Tetapi, memang
benar, hanya dalam kekristenan saja kita dapat menemukan
adanya Kasih ALLAH yang dianugerahkan turun dari atas
kepada kita bukan karena siapa kita dan perbuatan kita
terhadap ALLAH, tetapi karena siapa ALLAH dan perbuatan
ALLAH bagi kita. |
|
|
|
5. ALLAH Mengangkat Kita Menjadi AnakNya |
Dalam kerusuhan etnik di Rwanda, seorang wanita bernama
Deborah kehilangan anak tunggalnya yang mati terbunuh.
Sekian bulan setelah kematian anaknya tersebut, Deborah
dikunjungi seorang anak muda. Ia mengaku telah membunuh
anaknya dan meminta Deborah membawanya ke pihak berwajib
untuk menerima hukumannya. Kalimat-kalimat anak muda
tersebut sungguh luar biasa, tetapi yang lebih mengejutkan
lagi adalah tanggapan Deborah: “Aku tidak hendak
menegakkan keadilan untuk menggantikan kematian anakku.
Aku memintamu mau menjadi anakku”.
Sejalan dengan butir (3) dan (4) di atas, kita mempunyai
bagian dalam kematian Kristus, di mana sebelum mati IA
terlebih dulu didera, dirajam, dimahkotai duri, disuruh
memikul salibNya sendiri setelah kehilangan darah begitu
banyak, dan dipaku di kayu salib. Setelah 33 tahun
sebelumnya lahir ke dunia dengan cara yang bagi seorang
wanita merupakan hal paling memalukan: hamil tanpa suami,
Kristus kemudian harus mati dengan cara paling hina ketika
itu: disalib.
ALLAH karenanya mempunyai semua alasan untuk menyalahkan
dan menghukum kita. Tetapi, sebagaimana kisah di Rwanda di
atas, kita yang telah ikut berperan dalam kematian Kristus,
Anak Tunggal ALLAH, sebaliknya justru diberi kesempatan
oleh ALLAH untuk menjadi anak-anak ALLAH bila kita
bertobat dan menerima Kristus sebagai Juru Selamat. |
|
|
|
6. Anugerah itu Gratis Tetapi Sangat Mahal |
Salah satu keanehan dalam hidup ini adalah bahwa
barang-barang yang sangat esensial bagi kehidupan, seperti
udara dan sinar matahari, tersedia bagi kita secara gratis
(sehingga kita sering melihatnya sebagai sesuatu yang
taken for granted). Di sisi lain, barang-barang yang tidak
(terlalu) esensial bagi kehidupan, seperti emas, permata
dan berlian, hanya dapat kita peroleh dengan harga yang
mahal.
Lebih ajaib lagi, fakta di atas yang berlaku dalam dunia
sementara ini tidak menandingi fakta bahwa Anugerah
kehidupan kekal dapat kita peroleh secara gratis. Namun,
fakta ini harus juga dilengkapi oleh kesadaran penuh bahwa
kita kini dapat memperolehnya secara gratis karena Kristus
sendiri yang telah membayarnya bagi kita dengan harga yang
sangat mahal, yakni nyawaNya. 1 Petrus 1:18-19: “Sebab
kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang
sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan
dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas,
melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus
yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan
tak bercacat.”
Memang, tidak ada sesuatu di dunia ini yang sangat mahal
tetapi gratis, kecuali Anugerah Pengampunan ALLAH melalui
Kristus. “GRACE”: God Redemption At Christ’s Expense”. |
|
|
|
7. Kehendak Bebas |
Salah satu anugerah umum luar biasa yang TUHAN berikan
hanya kepada manusia sebagai makhluk yang TUHAN buat
menurut gambar dan rupaNya sendiri adalah “free will”,
yakni kemampuan untuk membuat pilihan-pilihan moral. ALLAH
tidak memaksa manusia untuk menerima Kristus. IA memberi
manusia kebebasan karena IA ingin agar manusia
mencintaiNYA bukan karena tidak ada pilihan lain (forced
love), tetapi justru walaupun ada pilihan lain, manusia
tetap memilih mencintai TUHAN. Bukankah cinta sejati lahir
ketika ada pilihan?
Anugerah yang satu ini dapat juga menjadi kutuk terbesar
bagi kita, bila kita salah menggunakannya, yakni membuat
pilihan di luar Anugerah Khusus dalam Kristus. Efeknya
sangat serius karena akan membawa kita menjalani
konsekuensi pilihan itu dalam kekekalan. Memang, kendati
kita bebas membuat pilihan, tetapi kita tidak bebas dari
konsekuensi pilihan kita. Setelah kita menetapkan pilihan
dan menghembuskan napas terakhir, kita akan mencapai
“point of no return”. Kali ini, tiket perjalanan kita
hanya “one way ticket” dan kita akan berada di tujuan
tersebut secara kekal.
Demikianlah, Kedatangan Kristus sungguh menjadi Anugerah
Paling Ajaib dari ALLAH bagi kita. Kita diminta bukan
hanya memuliakan kedatanganNya, tetapi lebih jauh lagi,
untuk memancarkan kemuliaan kedatanganNya. Kristus adalah
matahari kita, Sumber Cahaya. Tidak ada lagi yang dapat
kita lakukan untuk membuat matahari lebih terang bersinar.
Usaha kita untuk itu akan ibaratnya seperti kita
menggarami lautan, atau mengajari Rudy Hartono bermain
bulu tangkis.
Yang harus kita lakukan adalah menjadi seperti bulan, yang
bersinar bukan dari dirinya sendiri, tetapi semata
memantulkan cahaya matahari sehingga malam-pun tetap
mendapatkan cahaya, sebagaimana yang dapat saya nikmati
juga dari rumah saya yang nomor 28 tadi. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|