|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
26 Mei 2007
Marilah Memuji Tuhan 2 Nono Purnomo |
|
|
|
Amazing Grace (Ajaib Benar Anugerah - K.J. 40) |
| |
In Him we have redemption through
His blood the forgiveness of sins, in accordance
with the riches of God’s grace.
Sebab di dalam Dia dan oleh darahNya kita beroleh
penebusan yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan
kasih karuniaNya (Efesus 1:7). |
|
Pada pertengahan tahun 1700 seorang kelasi telah
menembakkan harpun penangkap ikan paus kepada kapten kapal
yang jatuh ke laut. Kapten John Newton adalah seorang yang
jahat, menjijikkan dan pimpinan kapal yang kejam tehadap
awak kapal dan muatan kapal, yaitu budak belian yang
terantai di kapal pengangkut budak belian. Harpun itu
menancap di pinggulnya dan ia ditarik ke kapal seperti
layaknya ikan besar yang tertangkap... Luka yang
dideritanya dari kejadian itu membuatnya pincang seumur
hidup.
John Newton dilahirkan di London, Inggris, pada tahun 1725
dan sudah ikut berlayar sejak berusia sepuluh tahun.
Ibunya seorang wanita yang sangat saleh dan ketika John
masih kecil, selalu mengajarkan ayat-ayat Alkitab dan
lagu-lagu rohani kepadanya, namun ia meninggal ketika
putranya itu berumur hampir tujuh tahun. Kemudian John
bersekolah selama tiga tahun sebelum dibawa oleh ayahnya
untuk berlayar, karena tampaknya hanya itulah cara
satu-satunya yang dapat dilakukan oleh sang ayah untuk
merawat putranya.
Kehidupan awak kapal yang keras di kapal telah membentuk
karakter John. Sebagai akibatnya ia menjadi lebih rusak
daripada teman-teman sepergaulannya. Gaya hidupnya
semrawut: ia suka memberontak, melarikan diri dari tugas,
suka menimbulkan onar di tempat umum, kasar dan
menghabiskan semua yang dimilikinya. Inilah konsekwensi
dari kelakuannya yang tidak memiliki kepedulian lagi.
Pada
waktu ia menginjak dewasa, ia bergabung dengan kapal lain
dan menjadi awak kapal pengangkut budak belian. Dalam
salah satu pelayaran ke Afrika, ia jatuh sakit keras dan
perawatannya diserahkan kepada seorang perempuan Afrika
yang membencinya. Oleh perempuan itu ia dikunci di sebuah
ruangan dan hampir-hampir dibuat mati kelaparan. Hanya
oleh belas kasihan dari para budak belian yang terantai ia
masih bertahan hidup, karena mereka membagikan makanan
kepadanya dari ransum mereka yang sangat terbatas itu.
Pada saat-saat mengalami penderitaan, John sering
merindukan suasana bersama ibunya yang telah merawatnya
dengan penuh kasih sayang. Dalam situasi batin sedemikian
itu ia kemudian membaca Alkitab, terutama pada hari Minggu,
namun setelah itu ia jatuh kembali dalam pola kehidupannya
yang lama, bahkan semakin parah. Di kemudian hari ia
mengaku sering mempengaruhi teman-temannya untuk
bersama-sama berbuat dosa. Dalam kondisi demikian,
tampaknya ia tidak menyadari sama sekali akan kasih
karunia Tuhan yang luar biasa, yang menyelamatkan hidupnya
dari waktu ke waktu.
Meskipun masih termasuk muda usia, namun karena
pengalamannya selama bertahun-tahun di laut, akhirnya John
Newton diangkat sebagai kapten kapal pengangkut budak.
Setelah mengalami pengalaman yang sangat menakutkan dalam
suatu badai laut yang dahsyat dan merasakan hidupnya
terancam, barulah ia dengan sungguh-sungguh mencari
hadirat Tuhan. Ia membaca buku “Imitation of Christ”
karangan Thomas a’ Kempis, sebuah buku yang sangat dalam
mempengaruhi jalan pikirannya.
Tuhan juga mengubah hidupnya melalui pengalaman badai yang
sangat mencekam dalam suatu pelayaran kapal pengangkut
ternak, kayu dan lilin tawon (lebah) sehingga ia
memutuskan untuk menyerahkan dirinya ke tangan Tuhan yang
Maha Kudus. Pelayaran kapal itu sudah berlangsung beberapa
bulan lamanya, dan suatu hari menghadapi badai yang sangat
ganas dan dahsyat. Angin badai tersebut sangat kencang
sehingga bagaimanapun baiknya kapal, pasti akan karam.
Upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan diri ialah dengan
membuang semua ternak dan barang-barang lainnya ke laut
dan kemudian masing-masing awak kapal mengikatkan diri
mereka dengan kapal tersebut untuk menghindarkan diri
tersapu ke dalam laut.
Selama empat minggu mereka terkatung-katung tanpa
pengharapan hidup. Saat mereka bangun, mereka memompa air
di dalam kapal agar mengurangi beratnya. Bahan makanan
tinggal sedikit sehingga mereka terancam mati kelaparan.
Kekhawatiran John bertambah karena dalam kenyataannya ia
tidak bisa berenang. Akhirnya kapal terdampar di Irlandia.
Sejak saat itu ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk
hidup dengan benar di hadapan Tuhan.
Beberapa waktu kemudian, ketika berumur dua puluh tiga
tahun, ia berada di suatu pulau kecil di lepas pantai
Afrika Utara. Saat itu ia sedang sakit keras, badannya
terasa lemas disertai demam tinggi. Pengalaman ini
ditulisnya kemudian sebagai berikut “Dalam keadaan lemah
dan setengah sadar, saya bangun dari tempat tidur dan
merangkak ke tempat yang sunyi di pulau itu, dan di
situlah saya bebas berdoa. Saya tidak mau mencari alasan
lagi dan menyerahkan hidup saya kepada Tuhan agar Ia dapat
melakukan kehendakNya atas hidup saya. Saya merasa
memiliki pengharapan dan saya percaya kepada Juru Selamat
yang tersalib itu. Beban yang selama ini menghimpit hidup
saya telah terangkat.” Berdasarkan autobiografinya, sejak
saat itu keadaan fisik dan kerohaniannya mulai membaik. Ia
mendapat karunia Tuhan dan memulai kehidupan yang baru.
John Newton melabuhkan kapalnya. Ia menikah dengan
kekasihnya yang telah dikenalnya selama beberapa tahun,
dan mulai belajar pendidikan kependetaan. Akhirnya ia
menjadi pendeta di sebuah jemaat kecil di Olney Inggris di
mana ia melayani selama dua puluh tahun. Selama di sana ia
telah menulis rangkaian kata-kata (lirik) pujian dan
beberapa lagu pujian. Pada tahun 1779, bersama William
Cowper, penulis buku “There is Fountain Filled with
Blood”, ia menerbitkan koleksinya yang diberinya judul
“The Olney Hymns” di mana himne “Amazing Grace” termasuk
di dalamnya. Melodi lirik “Amazing Grace” yang begitu
mengharukan baru ditulis lima puluh tahun kemudian.
| |
Amazing grace, how sweet the
sound
that saved a wretch like me.
I once was lost, but now am found,
was blind, but now I see.
Through many dangers,
toils and snares,
I have already come,
‘t is grace hath brought me safe thus far,
and grace will lead me home.
‘T was grace that taught my
heart to fear,
and grace my fears relieved.
How precious did that grace appear,
the hour I first believed.
Ajaib benar anugerah
pembaru hidupku!
“Ku hilang, buta, bercela;
olehnya ‘ku sembuh
Ketika insaf,’ku cemas,
sekarang ‘ku lega!
Syukur, bebanku t’lah lepas
Berkat anugerah!
Di jurang yang penuh jerat
Terancam jiwaku;
Anug’rah kupegang erat
Dan aman pulangku. |
|
|
|
|
Setelah beberapa lama berselang, John Newton mengaku:
“Kepincangan saya ini selalu mengingatkan saya akan kasih
karunia Tuhan yang telah menyelamatkan manusia yang rusak
ini.” John Newton meninggal pada tanggal 21 Desember 1870
pada usia 82 tahun dan sebelumnya telah merancangkan
tulisan pada batu nisannya seperti berikut:
| |
John Newton, seorang kerani,
bekas orang tak percaya dan liar,
seorang pelayan budak belian
di Afrika, oleh belas kasihan
Tuhan dan Juru Selamat, Yesus Kristus,
yang telah menyelamatkan,
memperbaiki dan mengampuniku
dan menugaskan untuk
memberitakan iman yang selama ini
hendak kuhancurkan. |
|
Setiap orang yang membaca riwayat John Newton dapat
melihat kasih karunia Kristus kepada John Newton. Bukankah
kita juga membutuhkan kasih karunia seperti John Newton
dan percaya bahwa kuasa dan mukjizat Tuhan mampu mengubah
hidup kita. |
|
|
|
Because He Lives (1971) |
| |
A little while longer and the world
will see Me no more,
but you will see Me. Because I live, you will live
also.
Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku
lagi,
tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu
pun akan hidup (Yohanes 14:19). |
|
Para pelanggan Indovision, yang salah satu salurannya
menyiarkan TBN (Trinity Broadcasting Network), pasti
pernah melihat acara konser “Gaither Homecoming” atau
barangkali melihat video Homecoming yang penjualannya
telah mencapai jutaan kopi. Konser “Homecoming” yang
dihadiri oleh ribuan orang di berbagai kota di Amerika
Serikat telah direkam. Melalui konser dan rekaman video/cd
keluarga Bill Gaither, publik diperkenalkan dengan
lagu-lagu gospel dari Amerika Serikat bagian selatan dan
lagu-lagu pujian gubahan keluarga ini, yang dikaruniai
dengan talenta yang luar biasa, serta dari para penggubah
lagu lainnya.
Lebih dari empat dasawarsa pelayanan keluarga Gaither
telah menyentuh kehidupan jutaan orang di seluruh dunia.
Gaither dan isterinya Gloria telah menggubah dan
menerbitkan ratusan lagu dan banyak di antaranya menjadi
lagu pujian favorit umat Kristen.
Keberhasilan pelayanan keluarga tidak diperoleh dengan
segera tetapi dimulai dengan penuh pergumulan dan
tantangan. Pada tahun 1970, ketika Gloria sedang
mengandung tua menantikan kelahiran anak mereka yang
ketiga, keluarga ini menghadapi situasi yang
menggoncangkan jiwa. Bill baru saja pulih dan masih lemah
dari penyakit klintir darah merah yang abnormal. Pada
waktu itu keluarga Gaither juga sedang menjadi korban
gunjingan palsu dan dianggap remeh oleh jemaat. Gloria
mengalami siksaan batin yang berat. Ia sangat kuatir
bagaimana kelak dapat membesarkan anak-anaknya dalam dunia
yang penuh dengan ketidakpastian ini.
Menjelang akhir tahun 1970 Gloria duduk sendirian dengan
perasaan amat tertekan di kamarnya yang gelap. Ia sangat
mencemaskan situasi lingkungannya yang terancam budaya
narkoba, ketegangan rasial yang sedang melanda seluruh
negeri, ribuan anak-anak muda yang meninggal di peperangan
di Vietnam serta munculnya gerakan yang semakin kuat untuk
menghilangkan unsur-unsur kristiani dari sistem pendidikan
Amerika Serikat dengan menggunakan slogan “Tuhan sudah
mati”.
Tetapi Tuhan yang Maha Kasih, yang disembah dan dilayani
oleh Gloria, tiba-tiba memberikan rasa damai yang luar
biasa kepadanya. Rasa damai ini memberi keyakinan
kepadanya bahwa masa depan mereka akan baik-baik saja
karena berada di tangan Tuhan. Dalam salah satu tulisan di
bukunya, Gloria menulis sebagai berikut:
Perpaduan antara kekalutan yang sedang terjadi secara
nasional serta berbagai kesulitan yang sedang dihadapi
keluarga, mematahkan semangat kami. Jikalau dunia sekarang
seperti ini, bagaimana nantinya nasib anak-anak kami pada
15-16 tahun mendatang? Apakah yang akan mereka hadapi?
Selagi kami merenungkan dan berdoa atas situasi ini, Tuhan
memberi pengertian kepada kami bahwa ketabahan bukan
datang dari dunia yang tenang. Dunia tidak pernah tenang.
Yesus sendiri dilahirkan dalam zaman yang penuh dengan
kekejaman. Karena itu kami disadarkan untuk tidak menyerah
terhadap situasi yang tampaknya tidak memberikan harapan
dan kami akan menghadapinya dengan penuh iman karena
kebangkitan Kristus adalah nyata. Akhirnya lahirlah anak
kami yang ketiga dalam keadaan sehat dan kami menamakannya
Benyamin, yang artinya “anak yang sangat dikasihi”.
Pengalaman ini mendorong suami-isteri ini untuk menulis
lagu dengan judul ”Because He Lives”. Waktu mereka
menggubahnya, mereka merasakan kehadiran Roh Kudus yang
sangat luar biasa dan mereka sungguh-sungguh merasakan
bagaimana kuasa Tuhan memberikan kemampuan pada mereka
untuk bangkit kembali. Kuasa kebangkitan Kristus telah
memulihkan kehidupan mereka. Gloria sadar bahwa
kebangkitan yang telah mengalahkan maut itulah yang
mengatasi rutinitas yang mencengkeramnya selama ini.
Sukacita surgawi yang diperolehnya telah mengatasi
ketakutannya, dan pengalaman inilah yang memampukan mereka
untuk menghadapi masa-masa sulit dalam kehidupan keluarga.
Dalam buku karangan Gloria yang berjudul “Fully Alive”, ia
menceriterakan sebuah pengalaman lain yang memberikan
keyakinan kepadanya bahwa kebangkitan Kristus dapat
mengalahkan semua keadaan, bahkan maut sekalipun. Pada
suatu ketika, menjelang akhir musim gugur, keluarga ini
telah menugaskan pemborong untuk mengaspal halaman
belakang kantor mereka yang menjadi tempat parkir.
Pemborong kemudian mendatangkan berbagai bahan pengerasan
yang terdiri atas batu, pasir dan bahan pengeras lainnya.
Ia juga mendatangkan mesin giling pemerata yang besar dan
mulai meratakan tempat tersebut. Berkali-kali mesin
penggiling itu bergerak dari ujung ke ujung sehingga
tempat parkir tersebut rata dan keras. Setelah itu
didatangkan beberapa truk yang mengangkut aspal yang sudah
diolah, siap untuk mengaspal tempat parkir ini.
Pada awal musim semi berikutnya, ayah Bill Gaither
mengunjungi mereka dan mulai melihat-lihat kantor serta
halaman parkir. Ketika tiba di tengah-tengah halaman
parkir yang berkilau terkena sinar matahari, sang ayah
berjingkat-jingkat mengangkat kakinya secara bergantian
kemudian tertawa karena melihat sesuatu yang lucu. Ia
memanggil Bill dan isterinya, yang segera keluar dari
kantor dan mendatanginya. Ayah Bill berseru: “Lihat ini.”
Terlihat sebuah tunas hijau yang berhasil menembus
kegelapan dan lapisan-lapisan yang keras. Tunas itu lembut,
bukan batang yang keras, dan tampak rapuh. Seorang anak
tanpa menggunakan tenaga ekstra pun dapat dengan mudah
mematahkannya. Tetapi lihatlah betapa megahnya tunas itu
berdiri dalam kehijauannya seakan-akan berkata: “Lihat,
betapa hebatnya aku. Hidup telah menang.”
Gloria menulis: “Kami saling menatap dan tidak banyak
bicara. Kami hanya saling tersenyum karena kejadian ini
memperteguh iman kami, dan mau tidak mau kami ingat akan
lagu yang kami gubah sebagai kesaksian pribadi bagaimana
kami melewati masa-masa gelap dan keras dalam kehidupan
kami.”
Lirik pertama dari lagu “Because He Lives” merupakan
rangkuman dari injil Kristus yang mengingatkan kita kepada
kematianNya, penguburanNya dan kebangkitanNya. Lirik kedua
mengungkapkan kehidupan bayi yang baru lahir, yang
memberikan kepada kita kepastian bahwa bayi mungil itu
akan memperoleh hidup berkemenangan karena Kristus hidup.
Kita dapat menghadapi hari esok yang sarat dengan
ketidakpastian karena Tuhan yang memegang hari esok, dan
inilah yang menjadikan hidup begitu berharga bagi setiap
orang yang percaya kepadaNya.
Kesadaran dan keyakinan akan kebangkitan Juru Selamat
Yesus Kristus memberi kekuatan kepada kita untuk
menghadapi segala rintangan kehidupan, karena Ia hidup
setiap hari di dalam hati kita.
| |
God sent His Son, they called Him
Jesus.
He came to love, heal and forgive.
He lived and died, to buy my pardon.
An empty grave is there to prove
my Savior lives.
Ref.:
Because He lives, I can face tomorrow.
Because He lives all fear is gone.
Because I know He holds the future.
And life is worth the living
just because He lives.
Anak Allah, Yesus namaNya.
Menyembuhkan, menyucikan.
Bahkan mati tebus dosaku.
Kubur kosong membuktikan
Dia hidup.
Ref.:
Sebab Dia hidup ada hari esok.
Sebab Dia hidup ‘ku tak gentar.
Kar’na ‘kutahu Dia pegang hari esok.
Hidup jadi berarti
s’bab Dia hidup. |
|
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|