|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
5 Mei 2007
Pemulihan Melalui Kebangkitan Kristus Pdt. Bob Jokiman |
|
|
Sudah berapa kalikah anda
merayakan Paska, hari Kebangkitan Tuhan? Apakah yang anda
harapkan terjadi dalam hidup anda melalui Kebangkitan
Kristus kali ini?
Rasul Petrus yang pernah beberapa kali gagal sebagai orang
pilihan Tuhan, di hari tuanya mengingatkan pembaca
suratnya yang pertama dan juga kita, orang-orang percaya
pilihan Tuhan; sebagai berikut: ”Terpujilah Allah dan Bapa
Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang
besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus
Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang
penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak
dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat
layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” (1 Petrus 1:3)
Melalui tulisan tersebut Petrus ingin setiap orang percaya
mengalami kelahiran kembali melalui kebangkitan Kristus,
agar terjadi pemulihan dalam hidup kita, khusus dalam
hubungan kita dengan Tuhan, sesama orang percaya dan
pelayanan serta dunia sekitar.
Kita kenal siapa Petrus itu sebelum dan sesudah
kebangkitan Kristus. Petrus yang dipanggil dan dipilih
Tuhan untuk menjadi penjala manusia, tanpa ragu telah
meninggalkan perahu dan jalanya mengikut Yesus. Petrus
yang demikian mengasihi Tuhan bahkan yang mau mati untuk
Kristus: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati
bersama-sama dengan Engkau!” (Lukas 22:33), ternyata
begitu pengecut dan lemah hingga sampai tiga kali
menyangkal bahwa ia mengenal Yesus!
Bukankah dalam hidup kita sering juga melakukan
“penyangkalan” yang serupa sekalipun tak sama sebagai
orang percaya dan pilihan Tuhan? Karena tekanan lingkungan
dan keluarga atau karir dan pelayanan yang serba berat
serta tidak ramah. Dengan sadar atau tidak kita gagal
menyatakan iman kita dalam Kristus sebagai suatu kesaksian
hidup di tengah dunia dan masyarakat di mana kita berada.
Betapa sering orang-orang disekitar kita entah dalam
keluarga, pekerjaan, kampus, lingkungan sekitar bahkan
Gereja di mana kita berjemaat tidak melihat tindakan dan
ucapan kita bahwa kita adalah orang-orang percaya dan
pilihan Tuhan!
Tindakan dan ucapan kita bukan saja tidak sesuai dengan
kebenaran yang kita tahu, bahkan lebih celaka lagi
tindakan dan ucapan kita lebih brutal dari orang-orang
yang tidak mengenal Kristus. Tindakan dan ucapan yang
tidak mau dilakukan orang-orang tidak percaya malah dengan
berani, tanpa takut dan malu kita lakukan! Tindakan dan
ucapan kita tidak lagi menyatakan kerendahan hati,
kebaikan, keadilan serta kekudusan Tuhan! Yang ditonjolkan
hanyalah kemanusiaan yang tidak dikontrol dan dikuasai Roh
Kudus!
Tindakan dan ucapan kita tidak lagi menyatakan kasih
Kristus yang tanpa syarat, tanpa menuntut, tanpa
menghakimi dan tidak berubah. Tetapi kebencian yang tidak
dapat disembunyikan lagi! Sungguh tragis memang, namun
itulah kenyataan yang tidak dapat kita pungkiri! Moga
Tuhan mengampuni, mengasihani dan memulihkan kita yang
telah gagal ini seperti yang telah dilakukan-Nya terhadap
Petrus di hari Kebangkitan-Nya.
Dari sekian kali penampakan Kristus setelah
kebangkitan-Nya, tercatat dua kali Yesus menampak diri dan
mengadakan percakapan khusus dengan Petrus. Dalam suratnya
yang pertama kepada jemaat Korintus Rasul mencatat: “bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada
kedua belas murid-Nya.” ( 1 Korintus 15:5) Dalam
penampakan tersebut, kita tidak mendapatkan keterangan
lebih lanjut apa saja yang dipercakapkan Yesus dengan
Kefas atau Petrus ketika itu. Namun dari catatan Rasul
Yohanes di akhir Injilnya (Yohanes 21:15-24), kita tahu
bahwa Yesus telah melakukan percakapan pribadi dan intim
dengan Petrus untuk memulihkannya.
Yang menarik dari percakapan tersebut, Yesus sama sekali
tidak menegur Petrus ataupun mengingatkan kegagalannya
dengan menyangkali Yesus. Dia tidak berkata
kepadanya:”Benar kan Simon, Aku ingatkan bahwa kamu akan
menyangkal Aku tiga kali sebelum ayam berkokok pada malam
Aku ditangkap! Ayo, ngaku dosa dan nyesal dulu baru Aku
mau memulihkanmu!” Sebelum Petrus mengaku dosa dan minta
ampun, Yesus telah mengampuninya.
Yesus sungguh adalah Allah, yang mengampuni dan melupakan;
forgive and forget; sebagaimana yang diungkapkan oleh
pemazmur: “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang
sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut,
dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak
dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan
tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan
kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian
besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan
Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari
pada kita pelanggaran kita.” Mazmur 103:8-12. Ya
bersyukurlah kita mempunyai Tuhan yang demikian maha
pengasih!
Tuhan Yesus bukanlah Tuhan yang pendendam dan suka
menyimpan kesalahan serta mengorek-ngorek kesalahan kita!
Seperti polisi yang menginterogasi seorang penjahat! Yesus
tidaklah demikian, malah sebaliknya dengan penuh
pengertian dan kasih Dia menggugah kembali kasih Petrus
kepada-Nya dengan tiga kali menanyakan apakah Petrus
mengasihi Dia.
Saya tidak tahu bagaimana perasaan Petrus ketika Yesus
bertanya kepadanya sampai tiga kali: “Simon, anak Yohanes,
apakah engkau mengasihi Aku?”. Namun jikalau pertanyaan
tersebut ditujukan kepada diri saya, jangankan sampai tiga
kali, sekali saja ditanya pasti saya sudah menangis karena
pertanyaan yang tentu diucapkan dengan nada yang lembut
tersebut begitu menyentuh dan menggugah hati nurani kita.
Saya percaya Petruspun menjawab dengan suara
bergetar:”Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu,
bahwa aku mengasihi Engkau.” Setelah tiga kali ditanya dan
tiga kali menjawab bahwa ia mengasihi Tuhan, maka tanpa
ragu lagi Yesus berkata kepada Petrus: “Gembalakanlah
domba-domba-Ku.” Itulah pemulihan, panggilan dan
kepercayaan Yesus kepada Petrus untuk memimpin
rekan-rekannya serta umat-Nya dikembalikan! Kesalahan
diampuni, kegagalan dilupakan dan tugas serta
tangung-jawab dipulihkan!
Maka tidaklah mengherankan di hari pencurahan Roh Kudus,
Pentakosta itu; dengan gagah berani tanpa gentar Petrus
memproklamirkan di hadapan para pemimpin Yahudi yang
sebelumnya sangat ditakutinya: “Yesus inilah yang
dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah
saksi.Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah
dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka
dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini…Jadi
seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah
telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan
dan Kristus.” (Kisah 2:32,33,36). Bahkan ketika dilarang
oleh para pemimpin agama untuk tidak memberitakan Yesus,
dengan tegas tanpa tedeng aling-aling Petrus berkata:”Dan
keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di
dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama
lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat
diselamatkan… Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang
benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada
Allah.” (Kisah 4:12, 19).
Itulah Petrus yang dipulihkan melalui kebangkitan Kristus.
Dari seorang pengecut menjadi saksi yang berani, dari
seorang yang hanya memikirkan keselamatan diri sendiri
menjadi rasul yang melupakan diri sendiri namun
mengutamakan keselamatan orang banyak. Dari seorang yang
sering berbicara karena dorongan emosi menjadi pengkotbah
yang berbicara atas dorongan dan kuasa Roh Kudus! Dalam
merayakan Paskah, yang penting bukan sudah berapa banyak
kali kita merayakannya. Namun sudahkah kuasa kebangkitan
Kristus memgubah hidup kita. Sudahkah kita mengalami
pemulihan melalui kebangkitan Kristus? Semoga! |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|