Bible Talks
24 April 2007
Marilah Memuji Tuhan
Nono Purnomo
Tidak dapat disangkal lagi bahwa pujian kepada Tuhan merupakan bagian yang penting dalam ibadah umat Kristen. Bahkan dalam kitab Wahyu pasal 4, Rasul Yohanes menyaksikan kegiatan yang dilihatnya di surga:
 
 
..., dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam:

“Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahahuasa, Yang sudah ada, dan yang ada, dan yang akan datang.” (Wahyu 4:8b)

Dari ayat di atas kita mengetahui bahwa di surga tidak ada lagi kebaktian dan doa, melainkan hanya puji-pujian.

Puji-pujian kristiani sebagian besar diilhami oleh ayat-ayat dalam Alkitab yang berbicara secara pribadi kepada penggubahnya. Puji-pujian tersebut telah mendatangkan berkat yang luar biasa kepada kita semua, baik pada waktu kita berada di dalam pergumulan maupun pada saat kita bersukacita. Pengetahuan kita tentang latar belakang terciptanya puji-pujian tersebut akan sangat membantu penghayatan kita pada waktu melantunkannya.

Bahan-bahan tulisan ini disadur secara bebas dari buku Then Sings My Soul karya Robert J. Morgan, The Sacrifice of Praise karya Lindsay Terry (dari Integrity Publisher), dan Hundred Greatest Songs in Christian Music terbitan CCM Magazine (Intergrity). Untuk setiap ayat Alkitab, kami sertakan juga kutipannya dalam bahasa Inggris, karena lirik asli dalam bahasa tersebut sangat selaras dengan lagunya.

 
Now Thank We All Our God (1636) / Sekarang Bersyukur - KJ 287
Seorang pengkhotbah Inggris yang sudah lanjut usia pernah sekali berujar: “Pikiran yang mengucap syukur adalah pikiran yang besar,” dan hal ini dikonfirmasi oleh Alkitab. Ada 138 bagian Alkitab yang membahas pengucapan syukur, dan sebagian di antaranya dengan tegas menyebutkannya.

 
 
And whatever you do in word or deed, do all in the name of the Lord Jesus, give thanks to God the Father through Him.

Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan,
lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. (Kolose 3:17)
 
In everything give thanks; for this is the will of God in Christ Jesus for you.

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:18)

Namun dalam kenyataannya, tidak banyak pujian yang liriknya secara eksklusif diperuntukkan bagi pengucapan syukur. Satu di antaranya adalah judul lagu di atas. Jemaat Kristen Jerman melantunkan lagu ini sebagaimana jemaat Amerika menyanyikan doksologi.

Lagu ini digubah oleh Martin Rinkart (1586-1649), seorang pendeta gereja Lutheran di sebuah desa kecil Eilenberg Saxony Jerman. Martin berasal dari keluarga miskin pengrajin tembaga, namun merasa terpanggil untuk menjadi hamba Tuhan. Setelah menyelesaikan pendidikan teologi, ia segera melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, bersamaan dengan terjadinya perang di Jerman (melawan Swedia), yang dalam sejarah Eropa disebut perang 30 tahun.

Pada waktu itu, banyak sekali pengungsi datang berlindung ke Eilenberg karena desa tersebut memiliki pagar pertahanan. Suasana terasa sangat mencekam. Tentara Swedia sudah mengepung desa tersebut dan persediaan makanan serta obat-obatan menipis. Penduduk terancam oleh wabah penyakit, kelaparan dan ketakutan. Kurang lebih 800 rumah hancur berantakan dan jumlah korban yang meninggal dunia semakin meningkat. Para pendeta menghadapi beban berat karena tetap harus menyampaikan firman Tuhan sambil menolong orang-orang yang menderita sakit, sekarat, meninggal dunia serta menguburkan mereka. Tidak lama kemudian bahkan para hamba Tuhan pun jatuh sakit dan meninggal dunia, sehingga hanya tinggal Martin yang masih hidup. Kadang-kadang dalam sehari ia harus melayani 50 penguburan.

Tidak lama kemudian orang-orang Swedia menawarkan perdamaian namun meminta pampasan perang yang sangat besar. Akhirnya hanya Martin seorang diri yang bersedia meninggalkan desa untuk berjalan keluar menuju ke daerah musuh dan berunding dengan mereka. Ia melakukannya dengan penuh iman dan keberanian sehingga perdamaian tercapai dan masa penderitaan pun berakhir.

Martin Rinkart menyadari bahwa pemulihan tidak akan terjadi tanpa didahului oleh pengucapan syukur, oleh karena itu ia menggubah lagu ini bagi sisa-sisa penduduk Eilenberg yang selamat.

Kita berharap bahwa pada tahun 2007 ini Indonesia mengalami pembaharuan dan bangkit dari keterpurukannya, namun marilah kita terlebih dahulu mengawalinya dengan pengucapan syukur kepada Tuhan Yesus yang telah menyelamatkan kita. Lagu ini sekarang dinyanyikan di seluruh dunia:
 
 
Now thank we all our God, with heart and hands and voices,
Who wondrous things has done, in Whom this world rejoices.
Who from our mothers’ arms, hath blessed us on our way,
With countless gifts of love and is still ours today.

Sekarang bersyukur, hai hati, mulut, tangan!
Sempurna dan besar segala karya Tuhan!
Dib’riNya kita pun anug’rah dan berkat
Yang tak terbilang t’rus, semula dan tetap.
 
This is the Day (1960)
Bisa saja dalam persekutuan, satu-satunya bahan nyanyian yang tersedia ialah Alkitab yang mengandung banyak ayat-ayat yang dapat dibaca dengan dinyanyikan (terdapat lebih kurang 300 puji-pujian dalam versi bahasa Inggris).

Lagu di atas merupakan puji-pujian yang sangat terkenal di seluruh dunia, yang diambil dari Mazmur 118 ayat 24:
 
 
This is the day the Lord has made we will rejoice and be glad in it.

Inilah hari yang dijadikan Tuhan, Marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!

Lagu tersebut tercipta pada tahun 1960, yang merupakan era di mana terjadi banyak pencurahan Roh Kudus dalam bentuk penciptaan puji-pujian yang menggunakan ayat-ayat Alkitab.

Pencipta lagu di atas ialah Les Garrett, seorang penginjil keliling yang lahir di Selandia Baru dan sekarang bertempat tinggal di Australia. Tidak pernah terlintas di dalam benaknya bahwa suatu saat ia akan menulis sebuah lagu yang begitu luar biasa. Satu-satunya pendorong yang memampukannya menggubah lagu tersebut ialah kecintaannya kepada Alkitab. Les Garretts sangat senang mengingat kembali bagaimana lagu tersebut tercipta.

Ketika Les berumur 24 tahun, ia dan keluarganya pindah ke kota Brisbane di Australia. Pada masa itu, hidupnya sebagai penginjil keliling sangat berat. Pada suatu hari, ia mengadakan perjalanan melewati suatu lembah dengan berbekal uang yang sangat sedikit, bahkan untuk membeli bensin pun tidak cukup. Ia pun beristirahat dan membuka Alkitab yang dipangku di atas pahanya, lalu membaca Mazmur 118. Pada saat sampai ke ayat 24, ia berhenti dan membacanya sekali lagi. Seketika terngiang di telinganya serangkaian nada untuk ayat tersebut. Pada waktu itu ia sama sekali tidak berniat menulis lagu, karena ia tidak merasa berbakat musik dan tidak dapat memainkan alat musik apa pun juga. Karena itu semakin lama ia memikirkannya, semakin yakinlah ia bahwa lagu itu merupakan karunia Tuhan. Les tidak mengajarkan lagu tersebut kepada siapa pun juga selama dua tahun.

Pada tahun 1969 Les diundang untuk berkhotbah dalam suatu pertemuan retret kamping di Selandia Baru. Suatu malam, hamba Tuhan yang menyelenggarakan acara tersebut bertanya: “Apakah ada di antara Anda yang tergerak hati untuk bersaksi sebelum Pendeta Garrett berkhotbah?” Seorang ibu yang sudah lanjut usia berdiri dan menatap Les, lalu berkata: “Ada seseorang di sini yang memiliki sesuatu dari Tuhan namun tidak mau membagikannya. Tuhan telah memberikan sesuatu kepadanya yang semestinya harus dibagikan.”

Pada saat ibu tua tadi duduk kembali, Les sadar bahwa selama ini ia belum pernah membagikan lagunya kepada orang lain. Segera ia berdiri dan berkata: “Pesan ibu tadi sesungguhnya ditujukan kepada saya. Saya mempunyai sebuah lagu yang Tuhan berikan kepada saya dan telah saya nyanyikan selama beberapa tahun dan sekarang akan saya ajarkan kepada anda sekalian.”

Lirik lagu tersebut diambil dari Mazmur 118 ayat 24, dan dengan lagu yang digubah oleh Les, seluruh peserta kamp sangat bersukacita. Dimulai dari kamp yang sederhana tersebut lagu “This is The Day” dalam waktu 6 bulan berkumandang di seluruh Selandia Baru dan dengan sangat cepat direkam oleh penerbit Australia yang terkenal Scripture in Song dan disebarkan ke seluruh dunia. Menurut Christian Copyright Licensing, lagu ini bertahun-tahun secara konsisten menduduki peringkat puncak 25 lagu-lagu rohani yang paling populer.

Selama 10 tahun Les tidak mendaftarkan hak cipta lagu tersebut karena ia berpendapat bahwa lagu tersebut merupakan pemberian Tuhan untuk gereja sehingga tidak dapat diakuinya sebagai penciptanya. Namun pada tahun 1987 ia disarankan oleh seorang pendeta dari Amerika Serikat untuk mendaftarkan hak ciptanya, dan royalti yang diperolehnya telah membantu biaya perjalanan pelayanannya ke luar negeri (setiap tahun ia mengadakan perjalanan dua kali ke Amerika Serikat).

Banyak orang heran ketika mengetahui bahwa lagu “This is The Day” merupakan satu-satunya lagu yang digubah oleh Les. Les sendiri mengakui bahwa ia sering terinspirasi oleh banyak ayat di dalam Mazmur tetapi tidak menggubah lagu untuk ayat-ayat itu sehingga momentum tersebut terlewat. Kurang lebih dua puluh delapan tahun lamanya ia melayani di banyak gereja, tetapi pada tahun-tahun berikutnya ia sepenuhnya memusatkan diri sebagai penginjil keliling.

“This is The Day” adalah lagu yang berdasarkan ayat Alkitab. Lagu ini mudah dinyanyikan tetapi kata-katanya tidak mudah dipraktikkan dalam hidup kita. Kita dapat mewujudkan kemenangan di dalam hidup kita apabila menyambut setiap hari baru dengan sukacita karena merupakan hari pemberian Tuhan.

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003