|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
22 Pebruari 2007
Kemuliaan Allah Riani T. Soerjodibroto |
|
|
Setiap
minggu-minggu Adven dan Natal kita sering menyanyikan
lagu-lagu yang berkaitan dengan kemuliaan Allah. Terlebih
lagi pada malam atau hari Natal,
liturgi kita sering memuat lagu “Muliakanlah”. Sebenarnya
ketika mendengar atau mengucapkan kata “kemuliaan” itu apa
yang terlintas di benak kita? Apakah kita membayangkan
kilaunya singgasana emas dengan permata yaspis, berlian
atau semacamnya? Atau mungkin juga jabatan tinggi, gelar
yang indah-indah dan sebagainya? Bayangan itu sah-sah saja
karena Kata “mulia” di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
mempunyai tiga arti, yakni:
- Tinggi yang dikaitkan dengan kedudukan, pangkat,
martabat;
- Luhur yang dikaitkan dengan budi dan
- Bermutu tinggi, berharga yang dihubungkan dengan logam.
Namun “kemuliaan” juga mengandung arti keadaan mulia;
keluhuran; keagungan; kehormatan dan diasosiasikan dengan
memuji Tuhan. Di dalam bahasa Inggris, kata “kemuliaan”
mempunyai banyak persamaan seperti magnificence, spendor,
grandeur dan sebagainya, di antaranya yang sering
digunakan untuk menggambarkan kemuliaan Tuhan adalah kata
glory dan majesty.
Tidak perlu disangkal bahwa pada umumnya pemahaman akan
kata kemuliaan terlalu sering digambarkan sebagai status
sosial ekonomi yang tinggi yang diperoleh dari
keberhasilan di dalam hidup seseorang. Pengertian
kemuliaan seperti ini memberi nuansa kebendaan, mengangkat
ego manusia.
Di dalam kitab Perjanjian Lama, Allah yang Maha Mulia
menyatakan kemuliaan-Nya melalui kehadiran-Nya di
sepanjang perjalanan kehidupan bangsa Israel. Umat Israel
menyaksikan kemuliaan-Nya melalui tuntunan sejak mereka
keluar dari Mesir. Bahkan sebelum itu, Abraham, bapak
orang percaya telah mengalami tuntunan ini. Sejak kabod
menurun menjadi kabed yang artinya ‘menjadi berat’,
berpindahlah pokok pikiran bahwa seseorang yang memiliki
kemuliaan dipenuhi dengan kekayaan (Kej. 1:1), kekuasaan
(Yes. 8:7), kedudukan (Kej. 45:13) dan lain-lain.
Kemuliaan Allah dapat nampak di dalam karya-Nya, mulai
dari ciptaan yang dilakukan-Nya pada awal terciptanya
dunia dan segala isinya, sampai kini nampak dari
pemeliharaan-Nya sampai selamanya. Tertulis di dalam
Mazmur 19 ayat 2-3: “Langit menceritakan kemuliaan Allah,
dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari
meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan
pengetahuan itu kepada malam.” Bahkan ciptaan Allah
sendiri memuliakan-Nya, memuji karya-Nya secara
terus-menerus. Berita yang didengungkan dari waktu ke
waktu membuat para raja bernyanyi karena mereka mengalami
kemuliaan Allah (Mzm. 138:5 “mereka akan menyanyi tentang
jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN”). Ini juga
yang dipuja-puji oleh penulis Kejadian “Siapakah yang
seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah
seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan
karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban
(Kej.15:11).
Kedatangan Yesus ke dunia ini adalah untuk membawa
kemuliaan Allah. Setelah kelahiran Yesus, para malaikat
menyerukan kemuliaan Allah: “Dan tiba-tiba tampaklah
bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala
tentara surga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi
Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di
bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Luk.
2:13-14). Peran Yesus memuliakan Allah Bapa-Nya di bumi
juga dapat diketahui dari jawabannya kepada orang Yahudi
yang menuduh Yesus kerasukan setan: “Jikalau Aku
memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikit
pun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku (Yoh
8:54a).
Konsep kemuliaan yang kita peroleh dari Injil Yohanes
berbeda sama sekali dengan konsep kemuliaan yang dipahami
manusia pada umumnya. Yohanes menyatakan kepada pembacanya
bahwa Yesus menyatakan kemuliaan Allah melalui
pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya, baik yang berupa
tanda-tanda atau mukjizat, juga berupa ajaran yang
disampaikannya. Namun kemuliaan Allah yang maha tinggi
adalah kemuliaan yang dinyatakanNya melalui penderitaan di
salib. Yesus benar-benar menderita sebagai manusia 100%.
Bagi dunia penyaliban Yesus sebagai kemuliaan Allah
dinilai aneh. Namun pesan Injil Yohanes pada masa kini
menjadi kekuatan inspiratif bagi komunitas orang percaya
masa kini dalam kehidupan iman Kristen, yakni bagaimana
menilai dunia dan lingkungannya untuk kehidupan yang
memuliakan Allah.
Yesus yang mengalami klimaks penderitaan-Nya di kayu salib,
mati lalu dibangkitkan dan kemudian naik ke Surga
mempunyai rencana penyelamatan Allah yang harus terwujud
di dalam dunia. Karena itu sejak awal pelayanan-Nya, Ia
memanggil dan mempersiapkan orang-orang yang secara khusus
diberi tanggung jawab melanjutkan karya-Nya. Kenaikan-Nya
ke Surga menyatu di dalam kemuliaan Allah Bapa tidak
berarti Ia meninggalkan murid-murid-Nya melaksanakan
rencana-Nya sendirian sepeti yatim piatu namun akan
kembali dan tetap hadir di tengah-tengah mereka (Yoh.
14:18).
Inilah arti kemuliaan Allah bagi hidup manusia pada masa
kini di sini. Kemuliaan Allah harus nampak di dalam karya
manusia, ketika karya itu memperlihatkan kuasa Allah yang
sarat akan kasih terhadap umat manusia. Panggilan ini
tidak berhenti sampai di situ saja, karena setiap orang
percaya yang telah menerima kasih karunia Allah juga
dipanggil untuk memuliakan Allah. Rasul Paulus
menekankannya di hadapan jemaat di Korintus: “Jika engkau
makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan
sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan
Allah.” (1 Kor. 10:31). Ini tidak berati bahwa apa yang
kita lakukan dan katakan menambah kemuliaan yang sudah
dimiliki Allah, namun berarti bahwa manusia menyatakan
kemuliaan Allah melalui kata-kata, gaya hidup dan perilaku.
Hal ini juga berati bahwa orang percaya memuji Allah dan
mengagumi-Nya.
Setiap orang percaya dapat membawa kemuliaan bagi Allah
dalam setiap hal juga kerelaan untuk menderita bagi Tuhan,
seperti tertulis di dalam Yohanes 21 ayat 19: Dan hal ini
dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati
dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia
berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.”. Kita harus
bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan (Fil.
4:11) dan tidak khawatir karena yakin akan pemeliharaan
Tuhan (Fil. 4:19 Kita menolong orang lain untuk juga
memuliakan Allah melalui pujian bagi Allah yang keluar
dari bibir kita. Dengan demikian orang dapat melihat bahwa
kita tidak mencari kepentingan diri sendiri dan rendah
hati (Fil. 2:3-4), menyatakan kasih, sukacita, damai
sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, menguasai diri (Gal. 5:22-23).
Tidak ada satu pun dari hal-hal tersebut di atas mudah
untuk dilakukan, terutama jika telah menyinggung perasaan
atau ego kita. Namun melalui percaya di dalam Yesus
Kristus, transformasi di dalam hidup kita dimungkinkan.
Dengan transformasi penyangkalan diri menjadi mungkin
dilakukan karena orientasi kita bukan lagi diri kita
pribadi, namun kepada Tuhan yang Maha Mulia itu. Dengan
melakukan kehendak-Nya, kita membawa kemuliaan bagi Allah.
Di dalam 2 Korintus 3 ayat 18 dikatakan: “Dan kita semua
mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak
berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan
yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan
gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. Apakah
yang dipikirkan oleh orang lain ketika mereka melihat
kehidupan kita? Apakah mereka melihat kehidupan kita yang
mempermuliakan Allah? Inilah yang perlu diingat oleh
setiap orang percaya untuk menjalankan panggilan Tuhan di
dalam hidupnya, karena hidupnya adalah bagaikan kitab yang
terbuka yang menyatakan apakah kita memuliakan Allah atau
tidak. |
|
|
|
DAFTAR PUSTAKA
Breemen, Peter G. SJ. Biarlah Kemuliaan Allah Terpancar.
Cet. ke-5. Jakarta: Kanisius. 2000
Brown, Raymond E. Kristus yang Tersalib dalam Pekan Suci.
Terj. Herman H. dan Martin H. Yogyakarta: Kanisius. 1992
Darmawijaya St. Pesan Injil Yohanes. Jakarta: Kanisius.
1988.
Groenen, C. OFM. Pengantar ke Dalam Perjanjian Baru. Cet.
ke-18. Jakarta: Kanisius. 1984
Hakh, Samuel B. Melihat Kemuliaan Tuhan. Jakarta: UPI STT
Jakarta. 2003
Jacob, Edmon. Theology of the Old Testament. New York and
Evanston: Harper & Row Publisher. 1959.
Kasemann, Ernest. The Testament of Jesus. London: SCM
Press, Ltd. 1968
Kee, Howard Clark. Miracles in the Early Christian World.
New Haven, London: Yale University Press. 1983.
Ramsey, Arthur Michael. The Glory of God and the
Transfiguration of Christ. London, New York: Toronto,
Longmans Green & Co. 1949.
Websites:
http://mb-soft.com/believe/txs/glory.htm
diakses pada tanggal 18 Oktober 2006 |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|