Bible Talks
30 Desember 2006
Bina Liturgi, Pelaksanaan Ibadah Natal
Rasid Rachman
Ada serangkaian kebaktian yang dilaksanakan oleh gereja. Kebaktian-kebaktian tersebut memiliki tema-tema dan keistimewaan yang berbeda. Jika tema-tema dan keistimewaan tersebut ditekankan, maka kebaktian Natal menjadi lebih mengandung nilai-nilai penghayatan iman.
 
I. Memahami sejarah Natal agar perayaannya bermakna
Hari raya Natal 25 Desember yang dirayakan oleh Gereja-gereja kita berasal dari tradisi Romawi. Sebagai peristiwa inkarnasi Allah, Natal adalah hari raya lahirnya Yesus: Allah dan Manusia, di dunia. Masalahnya, tanggal kelahiran-Nya tidak dapat ditetapkan secara pasti. Selain itu, kisah kelahiran Yesus tidak populer di kalangan para penulis Alkitab, sementara kisah dan berita kematian-Nya jauh lebih populer.

Baru pada masa kemudian Uskup Agung Konstantinopel: Johannes Chrysostomus (± 347 – 407) ingin melogiskan hidup, mati, dan kebangkitan Tuhan. Jika Tuhan pernah hidup, mati dan bangkit, maka logisnya Ia pun dilahirkan. Sebab jika Kristus tidak dilahirkan, maka hidup dan mati-Nya pun tidak nyata. Demikian Chrysostomus menjelaskan alasan diadakannya perayaan kelahiran Yesus (disebut Epifania) bagi Gereja Mesir.

Lazimnya, Natal dirayakan pada tanggal 25 Desember, namun menerima tanggal itu sebagai hari kelahiran Yesus adalah soal rumit. Tanggal 25 Desember semula adalah perayaan hari kelahiran Dewa Surya. Masyarakat Romawi menyambut datangnya Sang Surya tersebut dengan meriah. Oleh karena itu Gereja Roma tidak segera menerima pengalihan pesta Sang Surya itu sebagai hari kelahiran Sang Juruselamat. Pada mulanya, Gereja Roma mengadopsi perayaan tradisional masyarakat Romawi. Gereja mulai menetapkan tanggal kelahiran Yesus berdasarkan Paska Yahudi, yakni 14 Nisan. Pada masa Kristus disalib, tanggal 14 Nisan jatuh pada 25 Maret.

Sementara itu, Hippolytus (± 160 – 236) dalam “Komentar terhadap Kitab Daniel” menuliskan bahwa kelahiran Yesus jatuh pada Rabu, 25 Desember tahun ke-42 masa pemerintahan Kaisar Augustus. Sebagaimana tafsiran Hippolytus, hal itu terungkap dalam “sampai tujuh masa berlalu” (Dan 4:23). Hal 25 Desember ini terlanjur diterima saja. Memang ada pula naskah dari abad ke-10 atau ke-11 yang menuliskan bahwa Natal dirayakan baik pada tanggal 25 Desember maupun 2 April. Hari Rabu (hari keempat dalam pekan), 2 April adalah persamaan dengan 14 Nisan yang dibuat oleh Hippolytus sesuai kalender Julian. Menurut mitos Midrash dan tradisi Yahudi, dan dalam pola pikir tipologi Ishak sebagai Kristus, Ishak dilahirkan pada 14 Nisan atau 2 April itu, begitu pula Yesus.

Ibadah surya sendiri telah dikenal dalam berbagai budaya masyarakat sejak lama. Di Roma sendiri, ibadah surya telah dilakukan sejak abad pertama sebelum Masehi. Setiap tanggal 9 Agustus di bukit persembahan Quirinal di sebelah utara kota Roma diadakan ibadah Sang Surya dalam perayaan Fasti. Kaisar Augustus (ia juga dijuluki Quirinus), konon, mendirikan dua monumen (yang diimpor dari Mesir) untuk ibadah surya. Satu didirikan di Campus Martius, lainnya di Circus Maximus. Di tempat terakhir itulah, setiap tanggal 28 Agustus ketika suhu udara Italia utara dapat mencapai 36-40°C, dilangsungkan perayaan ibadah surya, tepat pada puncak temperatur di musim panas. Peribadahan surya di Roma mengalami perkembangan hingga akhir abad pertama Masehi. Perkembangan yang menonjol adalah masuknya pengaruh peribadahan Mithras, Sang Dewa Terang. Begitu melekatnya masyarakat Romawi dengan peribadahan Sol, maka muncul istilah Sol indiges atau Surya pribumi.

Kembali kepada soal tanggal kelahiran Yesus. Dalam praktiknya tanggal 2 April ditolak, sebab pengaruh Clemens dari Mesir bahwa kelahiran Yesus terjadi pada musim dingin atau sekitar akhir Desember. Kemudian tanggal 25 Maret itu dijadikan tanggal penyataan Malaikat bahwa Maria mengandung janin Yesus (Luk 1:31) atau disebut: hari raya Kabar Sukacita.

Mematok tanggal Natal berdasarkan 14 Nisan (Pascha computus, perhitungan berangkat dari tanggal Paska) menurut kalender Julian juga terlihat dalam surat Cyprianus (± 200 – ± 258) atau Pseudo-Cyprianus pada tahun 243. Tanggal kelahiran Yesus dihitung berdasarkan kisah penciptaan, Abraham, kisah keluarnya umat Israel dari Mesir, dan dihubungkan dengan Paska, dan mengaitkan angka-angka simbolis. Menurut tradisi barat waktu itu, kisah penciptaan langit dan bumi di hari pertama (Kej 1:1) jatuh pada musim semi saat equinox, yakni 25 Maret. Yesus lahir bertepatan pada penciptaan matahari sebab Ia adalah Surya Sejati (bnd Mal 4:2 “surya kebenaran”), yaitu pada hari keempat (Kej 1:14-19), yakni Rabu 28 Maret.

Sementara itu di Roma, Gereja merayakan 25 Desember sejak tahun 336, sebagaimana tercatat dalam natus Christus in Betleem Judee (tanpa masa Adven) untuk menggantikan perayaan hari kelahiran Sang Surya Tak Terkalahkan (dies natalis Solis invicti). Perayaan natale tanggal 25 Desember telah dilakukan untuk menghormati Dewa Sang Surya Syria dari Emesa pada masa pemerintahan Kaisar Aurelianus († 274). Kaisar Aurelianus membangun kuil Dewa Matahari di Kampus Agrippae-Roma. Namun ibadah Sang Surya telah ada sejak abad pertama di Roma dan tetap berjalan. Pada masa itu, banyak tentara Romawi yang bertugas ke wilayah Syria, dan para serdadu berkenalan dengan ibadah kepada Dewa Sol. Seselesai bertugas di Syria, para serdadu yang memenuhi Roma itu, tetap ingin beribadah kepada Dewa Sol. Atas izin para petinggi Syria, Kaisar Septimius Severus († 211) dan putranya Caracalla († 217) – yang memiliki hubungan baik dengan para Imam Emesa (laki-laki dan perempuan) dan kaum pejabat Syria di Roma – mengizinkan dibukanya peribadahan Sol di Roma.

Teologi tentang ibadah dan penyembahan kepada Dewa Matahari pun dibawa oleh kedua Kaisar tersebut. Pengganti Caracalla adalah seorang Kaisar muda usia dari Syria: Varius Avitus Bassianus atau lebih dikenal dengan Elagabalus (218 - 222). Elagabalus dikukuhkan sebagai Kaisar atas pilihan para tentara dan neneknya: Julia Maesa, yang adalah Imam Besar Sol Invictus. Walaupun Elagabalus bukan seorang saleh dan fanatik menyembah Sol, namun dengan pengaruhnya, ia memberlakukan peribadahan Sol invictus di Roma.

Peribadahan Sol ditetapkan sebagai agama negara. Salah satu perayaan ibadah Sol di zaman Elagabalus adalah pengorbanan anak laki-laki pada pesta raya Sang Surya di puncak musim panas (28 Agustus). Kemudian ia pun mendirikan altar penyembahan sebelum Aurelianus mendirikan kuil Sol. Tak lama setelah itu, Elagabalus tewas dibunuh oleh militer. Ia digantikan oleh Aurelianus. Hanya, peribadahan Sol yang baru ini tidak segera lenyap di masyarakat. Sehingga dengan diam-diam tetap ada peribadahan Sol Invictus Mithra secara pribadi, walaupun secara resmi ditetapkan peribadahan Sol Invictus Elagabal.

Namun persoalan sinkretisme agama, korupsi di kalangan pejabat pemerintahan, moral warga negara, dan ketidakstabilan agama yang berwibawa mulai hidup. Adalah perhatian Aurelianus untuk memberantas hal-hal tersebut dengan didirikannya kuil Sol. Sementara itu ibadah Sang Surya dipandang sebagai penyelamat dan penyatu negara Romawi. Sebagai penguat wibawanya, ia menyatakan dirinya sebagai titisan Dewa Sol: roi soleil. Selain membentuk persekutuan Imam Sol yang baru –- ini yang langsung berhubungan dengan perayaan Natal – ia pun memindahkan pesta raya Solis invicti dari musim panas (28 Agustus) ke musim gugur (Oktober) dan musim dingin (Desember) pada tahun 274. Setiap empat tahun sekali di bulan Oktober diadakan kontes atletik, dan setiap tahun pada 25 Desember diadakan parade perang, yakni pesta rakyat besar-besaran. Hingga di sini, 25 Desember dijadikan pesta raya masyarakat Romawi. Sekitar enam puluh tahun kemudian, Gereja Roma juga merayakan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus.

Sekitar 60 tahun setelah tahun 274, Kaisar Konstantinus († 337) ingin mencengkeramkan kuasanya atas Gereja Roma. Salah satu caranya adalah dengan membiarkan agama Kristen mendapat tempat di kekaisaran Romawi, sekalipun bercampuraduk dengan peribadahan Sol. Namun – blessing in disguise – berpegang pada Edik Milano tahun 313, dapat dipastikan terbentangnya jalan mulus bagi Gereja sebagai agama resmi dalam melakukan perannya. Ketika kendali negara terhadap agama-agama mulai pudar, giliran Gereja menunjukkan otoritasnya. Di samping sebagai pembinaan iman umat dari pengaruh arianisme di Roma, jadinya perayaan Natal sebagai hari raya Gereja lebih merupakan strategi politis.

Gereja mau menguasai pesta kafir itu dengan merayakan hari kejadian (Natal = kelahiran) Kristus pada hari yang sama. Dan memproklamasikan Kristus sebagai terang baru dan satu-satunya Matahari Kebenaran, yang dinubuatkan oleh Nabi Maleakhi (bagimu akan terbit surya kebenaran [4:2]) Dengan proklamasi ini Gereja mau menobatkan penyembah-penyembah Sol Invictus.

Maka sejak tahun 336, Natal telah dirayakan oleh Gereja Roma pada tanggal 25 Desember. Jelas, tanggal tersebut bukan tanggal kelahiran Kristus yang sesungguhnya, melainkan strategi politis. Selain Maleakhi, Yohanes 8:12 “Aku adalah terang dunia” yang didasarkan dari Yohanes 1:9 “Terang yang sesungguhnya, yang mendatangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia” turut berperan memenangkan Sol Iustitiae atas Sol Invictus. Terang ini, yakni Kristus: simbol penyelamatan dunia.
 
II. Bentuk dan tema dalam rangkaian masa raya Natal
Kebaktian-kebaktian masa raya Natal terbagi dalam tema-tema. Tahun 2006-2007 ini tanggal-tanggal masa raya Natal adalah sebagai berikut: Minggu-minggu Adven (3, 10, 17, 24 Desember), Natal pertama (24 Desember, setelah pukul 18.00), Natal kedua (25 Desember), hari Minggu setelah Natal (31 Desember, sebelum pukul 18.00), Tahun Baru atau Perayaan Yesus Disunat (1 Januari), Epifania atau Pesta Orang Majus (7 Januari). Ada sembilan kebaktian dalam masa raya Natal. Kebaktian-kebaktian tersebut merupakan rangkaian prosesi Natal, yang berulang dan diperbarui setiap tahun. Namun, Tahun Baru dianggap tersendiri sehingga tidak dibicarakan di sini.

Secara ekumenis, Adven I hingga 16 Desember menekankan aspek eskatologis yang mengarahkan pandangan kepada kedatangan Kristus kedua kali. Mulai 17 Desember hingga 24 Desember tema bacaan lebih mengarah kepada penantian kelahiran Yesus.

 
Adven I Adven pertama diisi dengan tema sikap Gereja dalam menantikan masa kedatangan-Nya yang membebaskan umat manusia. Perjanjian Lama diambil dari kitab Yeremia, tentang Allah akan menepati janji-Nya dengan melaksanakan keadilan. Israel akan dibebaskan (Yer 33:14-16). Pembacaan Surat diambil dari 1 Tesalonika 3:9-13 tentang “Allah akan menambahkan yang kurang pada iman dan membukakan jalan kepada umat-Nya” sambil menantikan kedatangan Kristus. Injil yang dibacakan adalah tentang tanda-tanda Kerajaan Allah telah dekat dan supaya umat berjaga-jaga akan hari Tuhan (Lukas 21:25-36)
Adven II Tema utama pada Adven kedua ialah utusan Tuhan yang akan mempersiapkan jalan di hadapan-Nya (Mal 3:1-4). Persiapan itu dilakukan dengan memperbanyak kasih, menambah pengetahuan dan pengertian menjelang hari Kristus (Flp 1:3-11). Maka yang pertama dilakukan dalam persiapan itu adalah bertobat dan memberi diri dibaptis untuk pengampunan dosa (Luk 3:1-6).
Adven III Minggu Adven ketiga merupakan berita kesukaan karena Allah telah memulihkan keadaan Yerusalem dan membawa pulang umat-Nya (Zef 3:14-20). Pembacaan Surat rasuli menegaskan kembali akan kesukacitaan karena kebaikan Tuhan. hendaknya umat membersaksikan kebaikan Tuhan tersebut (Flp 4:4-7). Membersaksikan kebaikan Tuhan diperlakukan dengan berbuat baik. Hal itu dikemukakan melalui pembacaan Injil Lukas 3:7-18 tentang Yohanes Pembaptis yang menekankan perbuatan-perbuatan baik sesuai dengan pertobatannya.
Adven IV Fokus kebaktian pada Minggu Adven keempat mengarah menantikan seseorang yang akan memerintah Israel. Orang akan sedang dinantikan kelahirannya (Mi 5:2-5a). Pembacaan Surat rasuli, diajarkan tentang kedatangan seseorang yang dinantikan itu adalah untuk melakukan kehendak Allah (Ibr 10:5-10). Kedua pembacaan sebelumnya berpuncak pada Injil. Pemberitahuan kelahiran Yesus kepada Maria (Luk 1:39-55) disambut oleh Maria dengan nyanyian pujian. Nyanyian pujian mengisahkan tentang penghakiman dan keadilan Allah bagi mereka yang lemah.
Natal Pertama. Pembacaan pertama adalah kesaksian Yesaya tentang pemenuhan pengharapan mesianis dengan datangnya Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai (Yes 9:1-6). Pembacaan kedua adalah tentang kasih karunia yang menyelamatkan (Tit 2:11-14). Pembacaan Injil tentang kelahiran Yesus menurut Lukas (Luk 2:1-20). Pemanggungan dengan dekorasi bayi Yesus dengan para gembala di sekitar kandang adalah pengaruh Fransiskus Asisi (1181-1226). Tujuan semula adalah untuk menggambarkan penyembahan pada sang Bayi kudus, bukan penjelasan detail peristiwa itu. Liturgi Natal dapat dibuka dengan doa pembuka dan prosesi cahaya.
Natal Kedua (Pagi). Tema ibadah ini adalah kunjungan para gembala menjumpai Sang Bayi pada fajar. Ibadah Natal II ini dilaksanakan sekitar pukul 06.00. Penekanan pada liturgi fajar ialah Lukas 2:15-20, walaupun yang dibaca adalah 2:1-20. Liturgi ini sangat sederhana dengan memperlihatkan para gembala yang menyembah Bayi Kudus. Pembacaan Perjanjian Lama dari Yesaya 62:6-12, dan Perjanjian Baru dari Titus 3:4-7 yang menekankan makna kelahiran Yesus sebagai kabar baik bagi orang miskin.
Natal Ketiga (Siang). Tema istimewa Natal III adalah inkarnasi Allah menjadi manusia berdasarkan Yohanes 1:1-14. Ibadah Natal III ini dilangsungkan sekitar pukul 10.00. Tema ibadah untuk tiga tahun liturgi, yakni Yohanes 1:1-14, “Pada mulanya adalah firman,” dibacakan sebagai pembacaan ketiga. Pembacaan Perjanjian Lama sebagai pembacaan pertama ialah Yesaya 52:7-10 tentang kedatangan pembawa berita keselamatan. Pembacaan Perjanjian Baru ialah Ibrani 1:1-12 “Anak-Nya adalah Raja”. Liturgi Natal siang bertema tentang kelahiran kembali Yesus, namun pusat liturgi Gereja ialah kebangkitan Yesus. Oleh sebab itu waktu Natal pun tersirat soal sengsara dan mati dan bangkit Tuhan.
Epifania. Ibadah Epifania difokuskan kepada kabar baik (injil) bagi segala bangsa melalui kisah orang Majus. Bacaan pertama dari Yesaya 60:1-6 tentang terang atas bangsa-bangsa. Injil bagi segala bangsa diperkuat pada bacaan kedua dari Efesus 3:2-3,5-6 tentang Berita Injil bagi orang-orang bukan Yahudi. Itulah sebab, orang-orang Majus dari timur datang untuk menyembah Kristus (Mat 2:1-12).
 
III. Aksesori Natal
 
  • Pohon Natal seumumnya adalah figurasi pohon cemara. Bagi orang Eropa, pohon cemara memang mempunyai arti, namun bagi kita di Indonesia? Penyesuaian perlu dibuat – sekiranya tetap menggunakan cemara – misalnya tanpa salju (kapas). Pohon Natal juga dapat dibuat dengan figurasi lain, misalnya pohon bambu, pohon kelapa, bonsai, dsb. Lilin besar juga dapat dijadikan aksesori pengganti figurasi pohon. Dengan mengingat lingkungan, baik kalau pohon yang digunakan bukan hasil menebang pohon asli.

  • Gua Natal dapat ditempatkan di halaman Gereja. Kalau ditempatkan di ruang ibadah, sedapat mungkin gua tersebut tidak menutupi aksesori asli gereja, yakni salib dan perangkat ibadah lain, semisal: altar dan mimbar. Gua Natal biasanya berisi tokoh-tokoh Natal: Yusuf, Maria, para gembala, para Majus, dsb.

  • Pondok yang digunakan oleh Gereja-gereja mengimajinasikan kandang. Walaupun Yesus tidak lahir di kandang, figurasi pondok dan palungan di dalamnya kerap muncul dalam perayaan Natal.

  • Lampu-lampu dan lilin. Natal tidak terlepas dari lampu-lampu. Penggunaan lampu warna-warni –- mengingat harus hemat energi –- dapat juga diatur dengan lampu imitasi. Selain lampu, lilin berperan sebagai pembawa suasana doa. Selama Minggu-minggu Adven, lilin digunakan sebagai tanda urutan Minggu Adven.
 
IV. Merencanakan ibadah-ibadah pada masa raya Natal
Rencanakan sebuah kebaktian dari masa raya Natal. Perencanaan harus lengkap dengan tata ibadah, nyanyian, aksesori, dan tata pelaksanaan. Kebaktian juga didasari dari tema ekumenis sesuai leksionari hari tersebut.
 
 
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003