|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
5 Mei 2006
Perlu dan Haruskah Yesus Mati dan Bangkit? Fabian Buddy Pascoal |
|
|
|
I asked Jesus, “How much do You
love me?”; “This much”, He answered and stretched His arms
wide... and died for me. |
|
|
Pertanyaan
yang menjadi judul tulisan ini merupakan pertanyaan yang
sangat serius dan sangat penting dalam sejarah penciptaan
dan kehidupan manusia, karena jawaban atas pertanyaan
tersebut;
(a) bukan hanya terkait dengan dimensi kekinian, tetapi
juga mempengaruhi kehidupan di dimensi kemudian, dan pula
(b) bukan hanya memberi “informasi”, tetapi lebih penting
lagi membawa “transformasi”.
Tidak dapat disangkal betapa kehadiran Kristus di dunia
ini 2000 tahun lalu walaupun hanya 33 tahun telah sangat
mempengaruhi arah sejarah manusia di dunia ini dalam
sangat banyak segi dan cara.
[1] Tetapi, di atas pengaruh
Kristus atas kehidupan dunia fisik ini dan terhadap
kehidupan setiap kita selama kehidupan kita masing-masing
di dunia ragawi ini, yang justru lebih penting lagi adalah
bagaimana Kristus mentransformasi kehidupan kita selama
masih hidup di dunia ini dan menjadi satu-satunya faktor
penentu atas kehidupan kita kelak di seberang kematian
ragawi kita.
Dengan sudut pandang di atas, sebagai introspeksi,
pertanyaan tersebut di atas memang terlalu serius dan luas
untuk ditelaah dan dikaji dalam artikel singkat ini, belum
lagi bahwa penulis hanyalah seorang awam. Namun, dengan
segala keterbatasan tersebut, tulisan ini dimaksudkan
bukan semata untuk mendiskusikan “konsep tentang Kristus”
dimana Kristus menjadi “obyek” tulisan, tetapi juga
diharapkan dapat mendorong kita makin giat mempelajari
sehingga nantinya kita dapat memberi pertanggung-jawaban
atas iman kita (1 Petrus 3:15), dan yang paling penting,
dengan meminjam istilah yang sering dipakai Bapak Rico
Sahuleka, mitra pelayananan saya di Komisi PI GKI-PI,
Kristus bukan menjadi “juru obat”, “juru bayar”, dan
“juru-juru” lainnya dalam menangani keinginan duniawi kita,
tetapi Ia benar-benar menjadi “Juru Selamat” kita secara
pribadi.
Kristus harus menjadi “subyek” kehidupan kita, dan
karenanya Ia adalah sudut pandang dan rujukan kita dalam
mengisi hari-hari kita di dunia ini dengan didasarkan
hubungan pribadi dengan-Nya sehingga kita dapat mencapai
suatu tingkatan dimana kita memiliki hati dan pikiran
Kristus (1 Korintus 2:16), yakni kita akan membenci apa
yang Kristus benci dan mencintai apa yang Kristus cintai,
atau dalam istilah John Wesley “…fearing nothing but
sin…desiring nothing but God…” |
|
|
|
1. Dosa: “luput dari sasaran” |
Salah satu istilah Yunani yang digunakan untuk kata “dosa”
adalah “hamartia”, yang artinya “luput dari sasaran”.
Sederhananya, dosa membuat kita tidak dapat memenuhi
standar yang ALLAH tetapkan untuk menjadi satu dengan
ALLAH dan karenanya kita menjadi terpisah dari ALLAH.
Apakah standar ALLAH itu? Tidak lain adalah kesucian
ALLAH. ALLAH sungguh dan terlalu suci sehingga tidak ada
orang yang sanggup bertemu muka dengan ALLAH (Yohanes
1:18; 1 Yohanes 4:12). Kemaha-suci-an ALLAH akan serta
merta membuat manusia, yang berdosa, mati seketika (Kel
33:20). Tidak mungkin yang Maha Suci dapat bersatu dengan
yang berdosa, sebagaimana air dan minyak, semata karena
sifat mereka masing-masing, tidak akan dapat bersatu.
Dosa sudah menjadi sifat (nature) kita, bukan sekadar
merupakan suatu perilaku (culture). Sifat keberdosaan kita
membuat kita mempunyai kecenderungan untuk melakukan
perilaku dosa, bukan sebaliknya. Budaya manusia, antara
lain melalui agama dan pendidikan, berusaha “memanusiakan”
manusia, tetapi tetap gagal. Betapa ada agama yang
menghalalkan cara yang bahkan bertentangan dengan nilai
moral universal dalam upaya-upaya untuk “menegakkan suatu
nilai keagamaan”.
Lebih lagi, di tengah cara-cara yang tidak lagi manusiawi
dan agamawi pihak-pihak tersebut masih tanpa ragu
menyebut-nyebut, dan berkilah berlindung di balik, nama
TUHAN. Seolah-olah TUHAN begitu lemah sehingga memerlukan
“pembela”. Mereka mengabaikan fakta bahwa TUHAN itu adalah
Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya, dan
karenanya tidak membutuhkan manusia untuk “melindungi”Nya.
Selanjutnya, di dunia pendidikan, semua orang yang pernah
mengenyam bangku sekolah di Indonesia, atau setidaknya di
dalam keluarga sendiri, pasti pernah diajari ilmu tentang
budi pekerti. Namun, upaya “memanusiakan” manusia ini juga
tidak berhasil secara sempurna karena walaupun tanpa
pernah diajari berbuat jahat, manusia sudah punya
kecenderungan untuk melakukan bahkan menikmati dan, lebih
jauh lagi, membanggakan perilaku yang tidak benar di mata
TUHAN, sadar maupun tidak sadar.
Dosa juga sudah merupakan suatu realita objektif. Suka
maupun tidak suka, suatu saat nanti di hari penghakiman
setiap kita akan memberi pertanggung-jawaban kepada
Pencipta kita atas bagaimana kita menanggapi tawaran
keselamatan kekal dalam Yesus Kristus dan menghidupi
kehidupan kita di dunia ini. Percaya atau tidak percaya,
semua yang tidak bertobat dan menerima Kristus sebagai
Juru Selamat akan menghadapi kenyataan penghukuman kekal.
[2]
Umpamakan saya tidak percaya atas adanya ular kobra, suatu
kali memasuki kandang ular kobra dan tidak menghidarkan
diri saya dari ular kobra yang hendak menyerang saya,
fakta bahwa saya tidak percaya tersebut tidak akan merubah
realita bahwa ular kobra adalah suatu kenyataan objektif,
dan akan dapat membunuh saya bila saya berhasil dipagutnya.
Persepsi subjektif seseorang tentang ada tidaknya TUHAN,
sorga-neraka dan dosa tidaklah relevan dan tidak
mempengaruhi realita objektif adanya penghukuman kekal di
seberang kematian. |
|
|
|
2. Hukum Taurat: “cermin diri kita dan penunjuk jalan
keselamatan” |
ALLAH kemudian memberikan Hukum Taurat kepada manusia
sehingga manusia dapat bercermin dari Hukum Taurat betapa
kita sungguh telah berdosa kepada Pencipta (Roma 3:20).
Hukum Taurat bukan “jalan keselamatan”, tetapi Hukum
Taurat diberikan sebagai “penunjuk jalan” bahwa “rute
memenuhi Hukum Taurat” bukan merupakan pilihan bagi
keselamatan manusia karena tidak ada orang yang dapat
memenuhinya secara sempurna.
[3] Hukum Taurat disertai
kesadaran ketidakberdayaan manusia untuk memenuhinya
selanjutnya akan merujuk kepada Yesus Kristus sebagai
satu-satunya Jalan Keselamatan. Hukum Taurat juga
merupakan pintu masuk untuk menyadarkan manusia tentang
dosa, dan dasar rasional perlunya penebusan Yesus Kristus.
Guna menerangkan aplikasi Hukum Taurat ini, kita dapat
meninjaunya dari sudut hukum buatan manusia. Mari kita
bayangkan seseorang berkata kepada saya bahwa ia baru
membayarkan bagi dan atas nama saya denda atas pelanggaran
yang secara tidak sadar saya lakukan, umpama, karena
merokok di tempat umum di Jakarta. Walaupun apa yang
disampaikan ke saya itu adalah kabar baik, tetapi kabar
tersebut dapat saya tanggapi secara sebaliknya karena saya
tidak pernah merasa atau mengetahui bahwa saya mempunyai
kewajiban denda tersebut.
Kabar tersebut akan tampak di mata saya sebagai suatu
“kebodohan” atau penghinaan terhadap saya karena melalui
berita tersebut saya “divonis” telah melanggar suatu
aturan dimana saya sebaliknya tidak berpikiran atau
menyadari pelanggaran tersebut.
Sebaliknya, kabar tersebut akan mungkin dapat saya terima
apabila disampaikan dengan cara berikut: Sekarang ini,
Pemerintah DKI Jakarta menetapkan pembatasan merokok di
tempat umum; saya yang mungkin tidak mengetahui adanya
larangan tersebut, telah merokok di, umpama, Mal Pondok
Indah; Hukum segera akan ditegakkan terhadap saya atas
pelanggaran tersebut dengan pengenaan suatu denda uang
ketika kemudian ada orang lain yang membayarkan bagi saya
denda tersebut.
Dengan penyampaian demikian dimana pertama-tama harus
dijelaskan bahwa telah terjadi pelanggaran, maka berita
bahwa ada orang yang mau membayarkan bagi saya denda atas
pelanggaran tersebut semestinya akan menjadi kabar baik
bagi saya.
Demikian juga dalam konteks Hukum ALLAH. Ketika kabar baik
Keselamatan Yesus Kristus disampaikan sebagai satu paket
dengan pemaparan tentang Hukum ALLAH dan dosa, maka kabar
baik Keselamatan Yesus Kristus akan menjadi kabar baik
yang sebenarnya.
[4]
Hukum TUHAN harus senantiasa diberitakan sebagai bagian
organik pada setiap pemberitaan Injil Keselamatan dalam
Yesus Kristus agar pertobatan dan keputusan menerima Yesus
sebagai Juru Selamat memang didasarkan pada kesadaran akan
dosa dan ketidak-berdayaan manusia untuk menyelamatkan
dirinya sendiri.
Charles Spurgeon, yang dikenal sebagai Pangeran Pengkotbah,
berkata: “I don’t believe that any man can preach the
gospel who doesn’t preach the Law. The Law is the needle,
and you can’t draw the silken thread of the gospel through
a man’s heart unless you first send the needle of the Law
to make way for it.”
Pemberitaan Firman yang mengajak keputusan menerima Yesus
sebagai Juru Selamat dengan iming-iming insentif
kesembuhan, kekayaan, kesuksesan dan life enhancement
lainnya kemungkinan hanya akan melahirkan petobat-petobat
yang tidak akan tahan uji dan akan berpaling kembali dari
Yesus bila janji-janji tersebut tidak tercapai. Juga,
mereka yang sudah menikmati kenikmatan tersebut, mungkin
tidak akan mendapatkan bagi dirinya kebutuhan akan
Keselamatan Kristus. Keselamatan Kristus berlaku atas
orang miskin dan orang kaya, orang sehat dan orang sakit,
orang sukses dan mereka yang mengalami tantangan hidup.
Keputusan menerima Yesus sebagai Juru Selamat harus selalu
disertai pertobatan yang didahului kesadaran penuh akan
dosa. Sukacita pada malaikat-malaikat ALLAH lahir karena
adanya pertobatan orang berdosa (Lukas 15:10).
Damai dan sejahtera harus ditempatkan sebagai buah,
bukannya sebagai insentif bagi, keputusan menerima Yesus.
Sebagai “buah”, berkat-berkat dari ALLAH tersebut juga
akan menjadi “beban” dan bahkan “peluang” bagi kita yang
telah menerimanya untuk dibagikan kepada orang lain juga. |
|
|
|
3. Keadilan ALLAH: “yang bersalah harus tetap dihukum” |
ALLAH kita tidak kompromi dengan dosa. Berbeda dengan
persepsi sejumlah orang yang hanya menekankan bahwa ALLAH
itu kasih adanya, IA juga membunuh makhluk ciptaan-Nya.
Umpamanya, Kejadian 3: 21, ALLAH membunuh binatang guna
dikenakan oleh Adam dan Hawa. Kejadian 38:9-10 mencatat
bahwa ALLAH membunuh Onan karena melakukan perbuatan yang
jahat di mata TUHAN.
Jikalau kita masih hidup dan diberi kesempatan untuk
bertobat hingga saat ini, itu semata-mata karena
kesabaran-Nya pada kita.
Pada tanggal 8 Juli 1741 di hadapan jemaat Kota Enfield,
Connecticut, Amerika Serikat, Jonathan Edwards, pendeta
yang menjadi Rektor Universitas Princenton, membawa
khotbah yang sangat terkenal dan juga kontroversial
berjudul “Sinners in the Hand of an Angry God”. Ia
mengutip Ulangan 32:35 “Hak-Kulah dendam dan pembalasan,
pada waktu kaki mereka goyang, sebab hari bencana bagi
mereka telah dekat, akan segera datang apa yang telah
disediakan bagi mereka” untuk menggambarkan bagaimana
keadaan para pendosa yang sudah jatuh dalam penghukuman
ALLAH dimana kita sebenarnya berdiri di atas lantai yang
licin sehingga kita, karena sifat posisi kita sendiri yang
labil tersebut, dapat jatuh setiap saat tanpa perlu tangan
orang lain mendorong kita. Kalau hingga saat ini kita
masih tidak “jatuh” itu karena waktu yang TUHAN tetapkan
(“hari bencana”) belum tiba dan karena keMaha Kuasa-an
TUHAN sajalah yang menahan kita dari jatuh ke dalam
penghukuman.
Ketika khotbah tersebut disampaikan, Roh TUHAN bekerja
luar biasa sehingga khotbah tersebut sering disela oleh
teriakan dan tangisan “Apa yang harus aku lakukan untuk
dapat diselamatkan?”
ALLAH memang ALLAH yang Maha Baik dan Maha Kuasa. Namun,
penerapan sifat ALLAH itu tidak akan melanggar sifat ALLAH
lainnya yakni Maha Adil dimana IA harus tetap menghukum
yang bersalah. Dalam konteks kehidupan kita sehari-hari,
seorang hakim, justru apabila ia adalah hakim yang baik,
pasti akan menghukum orang yang bersalah. |
|
|
|
4. Kasih karunia ALLAH: “gratis tapi sangat mahal” |
Upah dosa yakni maut sudah dijatuhkan atas manusia dan
masih terus berlangsung dan berlaku. Hanya jika orang
tersebut ditebus Ia akan lolos dari hukuman. Jika tidak,
ia akan tetap berada dalam hukuman. Dosa manusia yang
telah melahirkan keterpisahan sejati tersebut juga telah
membuat manusia menjadi seteru ALLAH (Roma 8:7). Kita tidak mungkin datang ke Sorga dimana ALLAH tinggal apabila
kita tidak terlebih dahulu berdamai dengan-Nya. Tujuan
inilah yang menjadi maksud agama-agama di dunia ini.
Segala upaya manusia tersebut tidak akan pernah mencapai
standar ALLAH karena jurang hendak dijembati adalah jurang
yang bersifat kualitatif dan karenanya tidak akan pernah
dapat ditutup dengan upaya manusia sendiri. Disebut
“jurang kualitatif” karena dua pihak yang berada pada
masing-masing kutub jurang mempunyai perbedaan kualitas,
yang satu adalah Sang Pencipta dan yang satu lagi adalah
makhluk ciptaan belaka sehingga jurang yang ada mempunyai
posisi vertikal, bukan lagi horizontal dalam pengertian
jurang yang selalu kita temui. Semua upaya manusia
tersebut karenanya merupakan upaya “bottom up”, yang
sayangnya hanya akan berakhir sia-sia menjadi “mboten up”
(tidak naik-naik) karena ketidak-berdayaan sejati manusia
itu sendiri. Karenanya, upaya pendamaian harus bersifat
“top-down”.
Karya Keselamatan ALLAH merupakan suatu “operasi gabungan”
antara “Keadilan ALLAH” dan “Kasih ALLAH”. Sebagaimana
sudah disebut di atas, kedua sifat ALLAH ini harus
berjalan seiring dan menjadi satu paket kendati kedua
sifatnya kelihatannya berseberangan satu sama lain.
Keadilan ALLAH menuntut penghukuman atas setiap dan semua
manusia, yang sudah berdosa. Sebaliknya, Kasih ALLAH
membawa pengampunan atas setiap dan semua manusia, yang
sudah berdosa.
Sifat ALLAH yang satu tidak akan dapat menyangkal atau
mengesampingkan sifat ALLAH yang satunya lagi. Kedua sifat
yang sedemikian mendapatkan keselarasan dan harmoninya
hanya di dalam Yesus Kristus. Kematian Kristus merupakan
saat dan tempat dimana “Keadilan ALLAH” dan “Kasih ALLAH”
terjalin bersama pada saat yang sama sebagai suatu harmoni.
Kristus mati menggantikan kita semua menerima Keadilan
ALLAH sehingga pada saat yang sama Kasih ALLAH dapat
berlaku atas kita semua.
Dalam fungsi dan tujuan tersebut di atas, Kristus haruslah
manusia sejati sekaligus adalah ALLAH sejati. Kristus
adalah sepenuhnya manusia, tetapi juga sepenuhnya ALLAH.
Kristus menjalani kehidupan normal sebagai manusia, hanya
saja bahwa Ia tidak berdosa (1 Petrus 2:22; Ibrani 4:15).
Ia juga ALLAH (Kolose 1:19 dan 2:9).
Sang Juru Selamat harus mengambil rupa seorang manusia. Ia
disebut Juru Selamat karena misinya di dunia adalah untuk
mengalahkan musuh terbesar dan terakhir manusia, yakni
maut (1 Kor.15:26). Semua manusia karena dosanya pasti
mengalami maut (Roma 3:23 dan 6:23). Memang, hanya manusia
sajalah yang mengalami kematian (untuk kemudian dihakimi).
Karenanya, agar Kristus dapat mengalahkan maut, Kristus
harus menjadi manusia sehingga Kristus dapat mati, dan
kemudian bangkit (Ibrani 2:14).
Kristus adalah korban pengganti bagi manusia berdosa yang
menerima-Nya sebagai satu-satunya Juru Selamat. ALLAH
berkenan menerima-Nya (Efesus 5:2) karena Ia adalah “domba
yang sempurna”, tidak ada dosa pada-Nya. Sebagai pengganti,
Kristus harus mempunyai sifat yang sama dengan yang
digantikan-Nya, yakni manusia. Makanya Yesus adalah
sepenuhnya manusia. Dalam posisi dan fungsi tersebut,
Kristus akan mewakili seluruh manusia yang menerima-Nya
dalam menjalani ditimpanya murka ALLAH atas dosa-dosa
manusia.
Kita tidak dapat membayangkan betapa menderitanya Kristus
ketika Ia dalam kematian-Nya harus menerima tumpahan
Keadilan ALLAH atas seluruh dosa seluruh manusia sehingga
Ia harus menyerukan dengan suara nyaring tragedi dan ironi
terbesar dalam dunia ini: “Eli, Eli, lama sabakhtani?”
yang artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau
meninggalkan Aku? (Matius 27:46; Markus 15:34).
Jawaban atas pertanyaan Yesus itu adalah bahwa ALLAH Bapa
memang harus meninggalkan-Nya agar supaya kita yang
menerima Keselamatan Kristus dapat bersatu kembali dengan
ALLAH Bapa melalui persekutuan kita dengan Yesus Kristus.
Tabir Bait ALLAH yang terobek dua memberi simbol bahwa
tidak ada lagi pemisah antara ALLAH dan manusia, bahkan
kini kita dapat memanggil Pencipta langit dan bumi dengan
sebutan “Bapa…” yang menunjukkan keintiman dan kesatuan
dalam suatu hubungan yang sangat ekslusif.
Hanya Kristus yang sanggup menghadapi murka ALLAH dan
menanggung seluruh dosa manusia, karena Ia adalah
sepenuhnya ALLAH, yang karenanya Maha Kuasa dan tidak
terbatas.
Dalam matematika dikenal faktor dan simbol seperti angka
delapan yang diletakkan secara horisontal dan biasa
disebut sebagai “infinity” (artinya: tidak terbatas).
Jumlah berapa pun dikalikan, dikurangi, ditambahkan
ataupun dibagi dengan faktor tersebut, akan tetap
menghasilkan “tidak terbatas“. Begitulah Ketuhanan Kristus,
tidak terbatas. Dahsyatnya murka ALLAH, dan apapun jumlah
dan jenis dosa manusia yang ditimpakan pada-Nya, hal itu
tidak akan mempengaruhi sifat Keilahian-Nya yang tidak
terbatas. Sehingga, walaupun Ia harus memikul dan
menanggung dosa manusia, Ia tetap merupakan Yang Maha Suci
sehingga Ia kini tetap dapat berada di sorga dan duduk di
sebelah kanan ALLAH Bapa.
Orang sering menanyakan apakah kematian Kristus merupakan
bagian dari grand scenario ALLAH atau atas dasar
kerelaan Kristus? Pertanyaan yang bersifat alternatif
tersebut (lihat kata “atau” yang digaris bawahi),
seharusnya justru merupakan suatu pernyataan yang bersifat
kumulatif: “kematian Kristus merupakan bagian dari grand
scenario ALLAH dan didasarkan atas kerelaan Kristus”.
Karena Kristus adalah ALLAH itu sendiri maka Ia adalah
Subyek, dan karenanya bukan obyek dari, grand scenario
ilahi tersebut. Bahkan dalam Kolose 1:16 disebut “karena
di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu… segala
sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Berbeda dengan
kematian manusia yang disebabkan karena dosa manusia
sendiri, kematian Kristus adalah satu-satunya kematian
yang terjadi karena kehendak ALLAH (Yesaya 53:9-10;
Galatia 1:4) dan kematian yang saatnya ditentukan sendiri
oleh Kristus (Yesaya 53:12, Matius 27:50, Markus 15:37,
Lukas 23:46, Yoh.10:17-18, Yohanes 19:30, I Yohanes 3:16).
Kematian Kristus adalah kematian yang menelan kematian (Yesaya
25:8).
Ciptaan ALLAH yang kita nikmati saat ini penuh dengan
paradoks. Ciptaan yang paling bernilai dalam hidup kita,
seperti udara segar dan sinar matahari, dapat kita nikmati
secara gratis, sementara itu, permata dan emas, yang
sejatinya adalah batu dan tidak dapat menentukan mati
hidupnya kita, diberi harga yang sangat mahal.
Kehidupan dan kematian Kristus juga diliputi banyak
paradoks. IA yang adalah ALLAH itu sendiri harus lahir di
kandang binatang, IA yang dapat mengubah air menjadi
anggur, memberi makan 5000 orang sekaligus, menyembuhkan
orang sakit, menghentikan badai, membangkitkan Lazarus
bahkan mengampuni dosa, tidak berbuat perlawanan ketika
dicacimaki dan diolok-olok, disiksa dan diremukkan dengan
kesakitan. Bahkan, kayu salib-Nya pada dasarnya harus Ia
pikul sendiri dan akhirnya makam-Nya pun diberikan karena
belas kasihan. Kalau Yesus tetap bertahan di kayu salib,
itu bukan karena ketiga paku yang menahan-Nya, tetapi
semata karena KasihNya.
Paradoks terbesar Kristus adalah bahwa kita dapat menerima
keselamatan dan pendamaian dengan ALLAH melalui kematian
dan kebangkitan Kristus secara cuma-cuma. Kita untuk itu
tidak perlu memberi Yesus apa-apa kecuali secara pribadi
memberi diri kita sendiri melalui pertobatan dari
dosa-dosa kita dan menerima Kristus sebagai Juru Selamat
pribadi kita. Tetapi, kita harus selalu ingat paradoks
tersebut bahwa walaupun keselamatan dan pendamaian
tersebut gratis[5], tetapi sangat mahal karena untuk itu
Yesus Kristus harus mengalami kehidupan dan kematian
sedemikian (1 Petrus 1:19).
Oleh karenanya, sebagai penghargaan kita atas pengorbanan
Yesus dan pendamaian dengan ALLAH yang sudah kita terima
dariNya, kini sudah sewajarnya dan bahkan merupakan
perintah Yesus sendiri bagi kita untuk membagikan kabar
sukacita tentang pendamaian tersebut kepada sebanyak
mungkin orang di tempat dan saat TUHAN tempatkan kita
masing-masing. Damai dengan ALLAH adalah anugerah (grace),
kabar dan kebutuhan paling utama dan mendesak bagi manusia
di segala tempat dan zaman. Karena untuk anugerah
pendamaian itulah, Kristus perlu dan harus mati dan
bangkit. GRACE : God’s Redemption At Christ’s Expense.
Selamat Paska 2006! |
|
|
Artikel Lain:
|
|
|
|
|
|