|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
1 April 2006
Dia Datang untuk Melayani Roesanto |
|
|
Kelahiran Yesus Kristus, diperingati sebagai “Terang”.
Kristus lahir untuk melayani dengan mengorbankan diri-Nya
sebagai “Penebus” umat manusia. Bagaikan “lilin” yang
termakan “api” untuk menerangi dunia kelam. Terang, telah
memberi jalan kebenaran bagi kehidupan umat manusia agar
mengikuti teladan-Nya dalam melayani sesama.
Kita orang percaya yang telah dimerdekakan oleh Kristus
diajak agar “tidak mempergunakan kemerdekaan itu sebagai
kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah
seorang akan yang lain oleh kasih” (Galatia 5:13).
Natal, seharusnya mengingatkan kita agar selalu
menjalankan Firman-Nya untuk melayani sesama dengan penuh
kasih yang tulus. Sayangnya, kita umat manusia kerap
kurang mencermati makna kelahiran Kristus. Bahkan setelah
Natal tahun lalu, kita diingatkan dengan keras – melalui
berbagai bencana, mulai Tsunami, badai Katrina, gempa bumi
di Khasmir, penyakit flu burung sampai kelaparan di
Kabupaten Yohukimo, Papua – agar antar kita saling
melayani dan saling mengasihi.
Ketika bencana terjadi, memang berhasil menggugah
kesadaran manusia untuk saling membantu dan berbagi kasih.
Relawan dari berbagai penjuru, berdatangan untuk melayani.
Seolah-olah, kehidupan saling melayani dan mengasihi di
antara umat manusia, sudah membudaya. Solidaritas antar
sesama manusia, tampak mengemuka. Beragam perbedaan –
politik, ekonomi, ras ataupun agama – seolah sirna oleh
rasa kemanusiaan sebagai toleransi dadakan akibat bencana.
Dahsyatnya bencana, seharusnya membuka mata kita semua
untuk menyadari perlunya hidup rukun saling melayani,
saling membantu dengan tulus. Bahkan kita harus patuh akan
Firman-Nya;
“Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan
pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu
akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang
Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak
tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah
murah hati" (Lukas 6:35-36). Firman inilah yang telah
menggerakkan orang-orang percaya untuk selalu berbagi
kasih dengan sesama, tanpa pandang bulu.
Namun, begitu bencana lewat, karakter asli manusia – yang
lebih mementingkan kekuasaan duniawi – kembali mencuat
kepermukaan. Kekuasaan mengalahkan rasa kasih. Hasrat
untuk melayani sesama jadi sirna ditelan kepentingan
pribadi. Kecongkakan kekuasaan, bermunculan.
Ketidak-pedulian kepentingan sesama, semakin mengemuka.
Demi arogansi kekuasaan, bom bunuh diri kembali terjadi di
Bali, di India, di Israel, seolah jiwa manusia tak
berharga. Pertengkaran antarsuku, konspirasi politik,
peperangan antarmanusia, serta perseteruan antaragama,
terus terjadi. Bahkan pembunuhan kejam atas tiga siswi
sekolah Kristen di Poso, yang ditebas kepalanya,
dipertontonkan sebagai refleksi kekuasaan sekegelintir
manusia.
Kapan kita menyadari untuk bisa hidup saling melayani? |
|
|
|
Melayani penuh kasih, sangat
diperlukan |
Melalui
berbagai cara, orang ingin mempertontonkan kekuasaan.
Bahkan, teror pun, digunakan sebagai senjata perjuangan
untuk meraih kekuasaan. Apakah kita umat manusia, sudah
tidak punya hati untuk saling melayani dengan penuh kasih?
Rasanya, ini benar adanya, karena kemunafikan sikap
manusia. Ini terungkap dalam Firman berikut: “Bangsa ini
memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari
pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan
ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia” (Matius
15:8-9). Karena dari hati timbul segala pikiran jahat,
pembunuhan, perzinahan, pencabulan, pencurian, sumpah
palsu dan hujat (Matius 15:19).
Kedahsyatan berbagai bencana, semoga bisa menggugah
kesadaran manusia untuk saling mengasihi. Melalui
Firman-Nya, kita diingatkan; “kasihilah saudara-saudaramu,
takutlah akan Allah” (1Petrus 2:17).
Di balik petaka berbagai bencana alam yang menyedihkan itu,
ternyata ada “kasih” yang mengetuk hati semua anak bangsa.
Setiap hati yang terluka akan sembuh apabila kita
menjalankan firman-Nya; “Kasihilah sesama manusia seperti
diri sendiri ...”(Markus 12:31).
Sebab, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang
sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung
hukuman dan barang siapa takut, ia tidak sempurna di dalam
kasih”(I Yohanes 4:18).
Memang harus disadari bahwa “Untuk segala sesuatu ada
masanya; untuk apapun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah
3:1). Ada waktunya kita merasa bebas merdeka. Namun harus
selalu mawas diri. Janganlah “over acting” apabila kita –
sebagai petinggi atau pejabat – yang memiliki kekuasaan.
Janganlah mentang-mentang berkuasa, segalanya bisa
dilakukan seenak perut dan dengan bebas berperilaku
semena-mena.
“Jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu
sandungan” (I Korintus 8:9). Ingatlah bahwa hidup bagaikan
mimpi saja. Hanya dalam waktu singkat, kehidupan manusia –
bisa ditelan bencana – sehingga kehidupan kita berubah
drastis. “Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti
uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (Yakobus
4:14).
Sulit rasanya menerima kenyataan, berbagai bencana silih
berganti terjadi begitu cepat dan mencekam hati. Dalam
menghadapi musibah, terkadang merasa bahwa Tuhan tidak
adil. Kita merasa bahwa Tuhan tidak mengasihi kita. Namun
harus disadari bahwa setiap langkah kita telah diatur
oleh-Nya. Namun sayang, kita sebagai manusia, kerapkali
tidak mempercayai janji janji-Nya melalui firman-Nya.
Kita harus yakin bahwa janji-janji-Nya adalah benar adanya,
karena Tuhan berkata “Bahwasanya Aku, Tuhan, tidak berubah...(Maleakhi
3:6). Demikian pula firman-Nya tidak akan berubah.
Janji ini jelas terungkap dalam firman-Nya “Seperti hujan
dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ,
melainkan mengairi bumi membuatnya subur dan menumbuhkan
tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti
kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang
keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku
dengan sia sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Ku-kehendaki
dan akan berhasil dalam apa yang Ku-suruhkan kepadanya” (Yesaya
55:11-12).
Mengapa banyak orang gagal menerima berkat yang telah
disediakan Tuhan? Mungkin kita tidak mengerti bahwa Allah
akan memenuhi apa yang kita butuhkan. Masalahnya kita
kurang meyakini bahwa janji-janji Allah melalui firman-Nya
adalah benar. Tanpa keyakinan tersebut rasanya sulit bagi
kita untuk bisa menikmati semua berkat berkat-Nya. Sebab
berkat Tuhan tak terhitung jumlahnya.
Terkadang terpikir, apa yang menjadi tujuan hidup ini
sebenarnya? Dan mengapa kita perlu membangun keluarga,
sampai mempunyai keturunan dan akhirnya meninggal? Untuk
apa semua itu? Apakah kita hidup sekadar untuk cari makan
dan kekayaan duniawi? “Bukankah hidup itu lebih penting
dari makanan dan tubuh itu lebih penting dari pakaian?” (Matius
6:25). Untuk itu kita harus memahami esensi kehidupan kita.
Caranya “...carilah dahulu Kerajaan Allah dan
kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu!”
(Matius 6: 33).
Dalam hidup ini, kita harus memahami benar semua firman
Allah dengan sepenuh hati. “Hai anakku, perhatikanlah
perkataan-Ku, arahkan telingamu kepada ucapan-Ku;
janganlah semua itu menjauh dari matamu. Simpanlah itu
dilubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi
mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh
tubuh mereka" (Amsal 4: 20-22). Firman Allah tidak akan
menjadi dasar kehidupan dan kesembuhan jiwa beserta tubuh,
sebelum firman itu didengar, diterima dan diyakini.
Untuk menjaga kesehatan jasmani, setiap hari kita makan
dua atau tiga kali. Tetapi ini tidak cukup menjamin
kesembuhan jiwa, sebab “Manusia hidup bukan dari roti saja,
tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius
4:4). Jika kita ingin memperoleh kehidupan dan menerima
kesembuhan dari Tuhan, sediakan waktu untuk mendapatkan
firman Tuhan setiap hari demi ketenangan jiwa. “… marilah
kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu
merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam
perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (Ibrani 12:1).
Harus diyakini bahwa kehidupan kristiani merupakan suatu
perlombaan yang telah digariskan bagi kita. Perlombaan ini
harus diwarnai dengan suatu kualitas yang baik yakni
“ketekunan” dan “kesabaran”. Perhatian dan mata kita harus
tertuju kepada Kristus Yesus. Kita tak boleh berpaling
dari pada-Nya agar kita tidak akan kehilangan kemampuan
untuk memenangkan perlombaan. Sebab Kristus Yesus adalah
Pemimpin kita dalam iman. Dia yang mendukung iman kita dan
membawa iman kita menjadi sempurna. |
|
|
|
Kita diingatkan untuk melayani |
Bencana
tsunami telah membuka mata hati manusia akan pentingnya
kebersamaan untuk saling malayani. Relasi antarpribadi
manusia agar bisa saling melayani, harus terus dipererat
melalui tali kasih. Sebab, manusia sebagai makhluk sosial,
sangat membutuhkan relasi antarsesama secara tulus.
Kebersamaan hidup antarsesama, semakin terasa penting,
begitu kita hidup di era informasi. Kemajuan teknologi,
telah mengucilkan kehidupan pribadi. Sekarang ini,
berjuta-juta manusia – baik lelaki maupun perempuan –
banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja demi memenuhi
kebutuhan hidupnya. Sepulang kerja pun, kita disibukkan
dengan acara televisi, berselancar ke berbagai situs di
internet, menyimak “infotaintement dan gosip di acara
berbagai stasiun TV, bermain PS2 atau sekadar menonton
DVD.
Banyak di antara kita sudah tidak punya waktu untuk
instrospeksi. Tidak sempat meluangkan waktu untuk bercanda
dengan keluarga atau tetangga. Tidak bisa menyisihkan
waktu untuk berdoa atau mencermati Firman Tuhan.
Sebagai makhluk sosial, kita perlu bersosialisasi. Namun,
karena jarak pemukiman dengan tempat kerja yang jauh, di
mana kondisi lalu lintas begitu padat, mengakibatkan kita
terperangkap pada kesibukan. Keseimbangan hidup kita,
terganggu. Kehidupan terasa semakin menekan. Untuk
mengeliminasi stres, kita perlu membangun relasi
antarsesama untuk bisa saling memberi dan saling menghibur
melalui pelayanan kasih.
Relasi antarmanusia yang bertumpu pada asas saling
melayani dan saling mengasihi, sangat diperlukan. Sebab
setiap manusia perlu menjaga keseimbangan antara kehidupan
duniawi dengan kehidupan iman spiritualnya. Melalui
peristiwa berbagai bencana yang kita alami bersama, tampak
jelas bahwa relasi antar manusia agar mau saling melayani
dengan penuh kasih yang tulus, sudah menjadi faktor
penentu keseimbangan hidup umat manusia, sebab:
- Relasi antarsesama untuk saling melayani, telah memberi
makna kehidupan yang berarti. Begitu bencana tsunami
ataupun topan Katrina, ditayangkan melalui berbagai
stasiun televisi, rasa kasih untuk saling melayani antar
sesama, muncul disugesti bawah sadar mereka. Rasa kasih
antarsesama – tanpa pandang bulu – mencuat kepermukaan
dilandasi oleh kuatnya keinginan untuk saling melayani.
Hubungan antarmanusia – yang muncul dengan tulus dalam
mengatasi bencana – telah memberi arti penting bagi
kehidupan. Kebersamaan dalam kasih merupakan dasar untuk
saling melayani. "Sebab tidak ada seorang pun di antara
kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada
seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri" (Roma 14:7).
- Relasi antarmanusia bisa menjadi jalan-terang bagi
kehidupan saling melayani dengan penuh kasih. Menjalin
hubungan, relasi atau networking dengan sesama, sangatlah
penting. Jejaring hubungan antarsesama, bisa membuka jalan
bagi kehidupan. Kita bisa saling membantu, saling memberi
atau saling melayani. Pelayanan penuh kasih, telah
memberikan terang bagi kehidupan umat manusia yang saling
membutuhkan akibat pergumulan hidup dalam menghadapi
kesulitan.
- Relasi antarmanusia merupakan peluang baik untuk
membangun kehidupan penuh kasih. Memang, hubungan
antarmanusia, harus didasarkan pada saling pengertian
untuk mau saling malayani dengan kasih yang tulus. Allah
sendiri menghendaki kita untuk membangun kehidupan menurut
kehendak-Nya untuk saling melayani dengan kasih. "Untuk itu
carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka
semuanya itu akan ditambahkan kepadamu!" (Matius 6:33).
Hari Natal merupakan peluang bagi kita untuk terus belajar
membangun rasa kasih untuk saling melayani. Karena ini
merupakan investasi yang akan memberikan imbalan maha
besar. Kasih tidak pernah gagal – tak pernah ketinggalan
zaman atau tidak pernah akan obsolet atau tidak akan
berakhir - ...(I Korintus 13:8). Lebih-lebih Allah Bapa
begitu kasih, sampai-sampai kesalahan manusia tidak pernah
diungkit-ungkit. Kebesaran dan keagungan Rahmat-Nya yang
mendorong kita untuk selalu patuh akan Firman-Nya. Melalui
Kuasa dan Fiman-Nya lah, pola pikir dan perilaku manusia
akan mudah diubahnya ke jalan yang benar.
Pertengkaran, permusuhan atau perseteruan antar sesama
akan teredam apabila kita menjalankan firman-Nya, seperti
yang tercatat dalam Markus 12:31 “Kasihilah sesama manusia
seperti diri sendiri...” Dalam arti, apabila kita gampang
mengampuni kesalahan atau kejahatan orang lain dengan
penuh kasih, kita akan merasakan kebahagiaan dalam hati.
Sebab, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang
sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung
hukuman dan barang siapa takut, ia tidak sempurna di dalam
kasih” (I Yohanes 4:18).
Untuk mengampuni dan mengasihi memang tidak gampang. Sebab
untuk mengasihi seseorang secara tulus, kita harus
menyisihkan waktu, bersedia berkorban, mampu menekan
perasaan dan penuh kesabaran dalam melayani dengan kasih
yang tulus. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati, ia
tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong"
(1Korintus 13:4). Agar kita mampu bersikap panjang sabar,
kita harus tahan menghadapi godaan, kita harus selalu
tekun dalam doa.
Janganlah beranggapan bahwa apabila kita sudah mapan, kita
tidak perlu membangun hubungan antarmanusia dan merasa
bisa mandiri. Ini tidak benar. Sebagai makhluk sosial,
kita harus bisa hidup dalam kebersamaan. Memerlukan
hubungan antar manusia untuk saling mengasihi.
Di sini diperlukan kematangan iman. Di mana untuk
memelihara iman, kita secara berkesinambungan harus
berupaya menerima, memahami, menghayati dan meyakini semua
firman Allah sebagai landasan keseimbangan hidup. “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada
pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai
memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia
sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibrani
4:12).
Hidup saling melayani dan saling mengasihi, perlu terus
dipraktekkan melalui kehidupan yang harmonis. Melalui
persekutuan. Melalui kehidupan bergereja agar kita bisa
memantapkan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dengan
kebutuhan rohani. Semangat kebersamaan untuk saling
melayani penuh kasih inilah yang akan menumbuhkan
kerinduan untuk bisa hidup bersama dengan sesama.
“Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan
mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan;
dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk
memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih,
aku sama sekali tak berguna" (1Korintus 13:2).
Sampai di mana kesiapan hati kita untuk meneladani Kristus,
yang lahir untuk melayani dengan penuh kasih yang tulus?
Semoga kita mampu meneladani Kristus |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|