|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
27 Desember 2005
Natal, Sebagai Momentum Bagi Perubahan dalam Hidup Kita Chandra Suria |
|
|
Setiap tahun
menjelang hari Natal, umat Kristen di seluruh dunia
menjadi sibuk dengan berbagai macam kegiatan. Mulai dari
kegiatan yang bersifat kekeluargaan, perayaan di kantor
dan di gereja sampai pada kegiatan yang bersifat keagamaan.
Khususnya di gereja, biasanya panitia telah dibentuk 1-2
bulan sebelumnya, tema ditentukan dan program acara
disusun. Tidak lupa dipikirkan bagaimana bentuk dekorasi
yang dianggap paling pas dan menarik untuk bisa
merefleksikan pesan Natal itu sendiri. Tidak jarang harus
melalui berbagai perdebatan mengenai jenis dekorasi
tersebut – apakah yang bersifat konservatif dengan pohon
natal hidup, atau yang bersifat lebih modern dengan pohon
natal artifisial atau bahkan tanpa pohon natal sama sekali.
Semua itu dilakukan dan terjadi karena semua pihak ingin
memberikan dan mendapatkan yang terbaik dari masa Natal
tersebut. Memperingati proses kelahiran Tuhan Yesus, Juru
Selamat dan Tuhan kita, siapa yang tidak ingin mendapatkan
pengalaman yang terbaik, menurut selera dan kriteria
masing-masing tentunya. Dan biasanya setelah semuanya itu
selesai dan kita telah melewati masa liburan tahun baru,
maka kita akan masuk kembali kepada kehidupan rutin kita
sehari-hari seperti biasa. |
|
|
|
Pertanyaan klasiknya adalah: apakah ada yang berubah dalam
diri dan kehidupan kita setiap kali kita telah melewati
masa Natal setiap tahunnya? Apakah masa Natal adalah suatu
momen sementara di mana kita sejenak meninggalkan
rutinitas kehidupan kita sehari-hari untuk menjalani suatu
kehidupan yang berbeda untuk sementara waktu?; ataukah
masa Natal tersebut adalah suatu momentum yang bisa kita
pakai untuk mengubah diri kita seutuhnya, setahap demi
setahap, untuk mengarah kepada Tuhan kita Yesus Kristus,
seperti yang dikatakan di dalam Efesus 4:15 |
|
|
| 15 |
“tetapi dengan teguh berpegang kepada
kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam
segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” |
|
|
|
Berkaitan
dengan hal di atas, tema Natal GKI Pondok Indah tahun 2005
ini, ”Kedatangan-Nya Mengubahku”, menjadi sangat menarik.
Ini bisa dilihat sebagai suatu janji, komitmen dan
tantangan bagi segenap pihak yang terkait di dalam gereja
GKI Pondok Indah untuk menjadikan Natal kali ini sebagai
momentum untuk melakukan dan/atau mengalami perubahan
dalam diri kita masing-masing. Perubahan yang tentunya
sesuai dengan yang diinginkan oleh Tuhan kita Yesus
Kristus.
Nah, kira-kira perubahan yang seperti apa ya?
Setiap orang melihat Natal sebagai peringatan hari
kelahiran Tuhan Yesus, walaupun sebenarnya tidak ada yang
tahu persis kapan Tuhan Yesus dilahirkan.
Saya pernah mendengar bahwa kita perlu untuk melihat
perayaan Natal dalam konteks yang utuh dengan perayaan
Paskah; dan bahwa keduanya tidak dapat dilepaskan satu
dari yang lainnya. Natal ada untuk Paskah dan Paskah ada
untuk menyelesaikan Natal.
Natal dan Paskah merupakan perwujudan nyata dari kasih
Allah kepada dunia (manusia) dan merupakan penggenapan
dari segala nubuat yang telah ada di kitab Perjanjian
Lama. Natal dan Paskah merupakan proses di mana Tuhan
turun menjadi sama dengan kita manusia dan mengambil alih
segala permasalahan dan tanggung jawab dosa kita serta
menebusnya sepenuhnya. Semuanya telah lunas dibayar. Suatu
hal yang tidak akan pernah dapat kita (manusia) lakukan,
seperti Alkitab mengatakan di dalam Efesus 2:8-9, |
|
|
| 8 |
“Sebab karena kasih karunia kamu
diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu,
tetapi pemberian Allah, |
| 9 |
itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan
ada orang yang memegahkan diri.” |
|
|
|
Pernahkah
kita membayangkan seandainya suatu saat listrik di rumah
kita mati dan pasokan gas elpiji habis sehingga kita harus
memakai lilin sebagai penerangan di malam hari dan memakai
kompor minyak tanah untuk memasak. Dan kita harus
melakukannya sendiri karena tidak ada pembantu di rumah.
Pasti kita akan merasa sangat sengsara dan tidak
menyenangkan.
Memang salah satu hal yang paling sulit untuk kita lakukan
adalah untuk menurunkan standar hidup kita. Sangat jarang
di antara kita yang mau melakukannya, bahkan juga untuk
suatu alasan yang mulia. Saya ambil contoh sederhana:
bersediakah kita untuk tidak pakai pendingin udara lagi (di
rumah atau di gereja) supaya kita ikut menghemat energi
yang sekarang sedang krisis di negara kita ini? Pasti
tidak mudah buat kita untuk bersedia.
Akan tetapi, dalam skala yang jauh lebih besar (sampai di
luar akal pikiran kita manusia), justru inilah yang
dilakukan oleh Tuhan Yesus bagi kita. Dia melepaskan
segala kemuliaan-Nya untuk turun ke dunia ini menjadi
seorang hamba yang disalibkan, agar setiap orang yang
percaya kepada-Nya dapat diselamatkan.
Inilah makna Natal, pengorbanan yang luar biasa di mana
dengan kedatangan-Nya Dia telah mengubah hidup kita dari
hidup yang berhamba kepada dosa menjadi hidup yang merdeka
di dalam Kristus. Roma 6:11 mengatakan: |
|
|
| 11 |
“Demikianlah hendaknya kamu
memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi
kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” |
|
|
|
Jadi memang
sudah seharusnya bahwa kita menjadikan hari Natal sebagai
momentum bagi perubahan dalam hidup kita ini dan bukan
hanya sekadar perayaan dan bulan keagamaan yang bersifat
sementara saja. Karena kalau kita benar-benar telah
menerima kedatangan Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat
pribadi kita, maka hal tersebut harus terlihat dan
tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari.
Rasul Yohanes memberikan beberapa tanda perubahan tersebut
dalam Kitab 1 Yohanes sebagai berikut: |
|
|
|
1. Mengikuti perintah-Nya
(1Yohanes 2:3-6) |
| 3 |
Dan inilah tandanya, bahwa kita
mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti
perintah-perintah-Nya. |
| 4 |
Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia,
tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah
seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. |
| 5 |
Tetapi barangsiapa menuruti
firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna
kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita
ada di dalam Dia. |
| 6 |
Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada
di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus
telah hidup. |
|
|
|
|
Di sini Rasul
Yohanes mengatakan dengan tegas bahwa kalau kita memang
sudah menerima kedatangan Tuhan Yesus dalam kehidupan kita,
maka kita pasti akan mengikuti segala perintah-Nya. Kalau
tidak maka kita adalah pendusta. Permasalahannya, dapatkah
kita hidup seperti Kristus? Dalam bahasa Inggris, ayat ke
3 tersebut berbunyi: |
|
|
| 3 |
“And hereby we do know that we know
him, if we KEEP his commandments.” |
|
|
|
Kata “keep”
di sini merupakan kunci dari ayat ini. Kata ini berasal
dari kata Yunani ”tereo” yang antara lain memiliki arti
”to watch over” atau memperhatikan.
Kata ini dipakai oleh para pelaut di zaman dahulu ketika
pada saat itu belum ada global positioning system atau
radio komunikasi yang bisa memandu mereka, tetapi mereka
sudah bisa berlayar kemana-mana tanpa tersesat. Pada saat
itu mereka memakai bintang di langit sebagai sistem
navigasi mereka.
Mereka memperhatikan (to watch over) bintang di langit
sebagai petunjuk arah yang harus ditempuh. Kadang kala
mereka tertiup angin keluar dari jalur pelayaran mereka,
akan tetapi mereka selalu bisa kembali lagi ke jalur
semula dengan memperhatikan bintang di langit.
Hal seperti itulah yang dimaksudkan oleh rasul Yohanes
dalam ayat 3 tersebut.
Seringkali kita berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan
perintah Tuhan Yesus, tetapi kita akan selalu kembali
kepada-Nya dan memperbaiki hidup kita. Karena kita
memiliki hati yang selalu tertuju kepada Dia dan selalu
ingin mengikuti perintah-Nya.
Ketika kita tidak/belum mengenal Tuhan Yesus maka hati
kita selalu condong kepada dosa, tetapi setelah kita
mengenal Dia, hati kita selalu ingin menjauh dari dosa.
Ini adalah perubahan yang pertama.
Kita bisa mulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana;
apakah kita seringkali menyakiti hati orang lain, apakah
kita masih seringkali sombong dan selalu menganggap diri
kita benar, apakah kita peka terhadap sesama kita, dsb. |
|
|
|
2. Mengasihi (1Yoh 3:14-15) |
| 14 |
“Kita tahu, bahwa kita sudah
berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena
kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak
mengasihi, ia tetap di dalam maut.” |
| 15 |
“Setiap orang yang membenci
saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu
tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap
memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.” |
|
|
|
Kita perlu
mengingat bahwa sebagai manusia yang sudah ditebus-Nya,
kita memiliki karakter Tuhan di dalam diri kita, yaitu
kasih. Kita sudah masuk dalam keluarga-Nya dan memiliki
saudara-saudara seiman dengan siapa kita bisa saling
mengasihi dan bersama-sama mengasihi sesama kita yang
tidak seiman.
Inilah perubahan kedua yang seharusnya terjadi. Pertama-tama
saling mengasih di antara saudara seiman kita, di dalam
gereja kita, dan kemudian kita juga mengasihi sesama kita
yang lain yang kebetulan tidak seiman.
Dalam konteks mengasihi saudara seiman, kita patut untuk
merenungkan apakah benar kita sudah melakukannya. Apakah
kita sudah melakukan persekutuan di dalam lingkungan
gereja kita, apakah kita sudah mendukung pelayanan yang
dilakukan dalam gereja kita? Pertanyaan-pertanyaan
tersebut perlu untuk kita renungkan karena kalau benar
kita telah menerima kedatangan Tuhan Yesus dalam hidup
kita, berarti kita juga akan mengasihi Dia.
Mengasihi Tuhan Yesus berarti kita juga akan mengasihi
gereja-Nya (bukan gedungnya secara fisik) dan akan rindu
untuk terlibat di dalam kegiatannya. Nehemia 2: 18
mengatakan; |
|
|
| 18 |
“Ketika kuberitahukan kepada mereka,
betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku dan
juga apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah
mereka: ‘’Kami siap untuk membangun!’’ Dan dengan
sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang
baik itu.” |
|
|
|
Bangsa Israel
memberikan tanggapan yang positif ketika Nehemia mengajak
mereka untuk membangun kembali tembok kota Yerusalem yang
telah roboh.
Kalau kita baca dengan teliti ayat selanjutnya, dalam
Nehemia 3:1-32, kita bisa melihat bahwa karya Tuhan
melalui nabi Nehemia tersebut dilakukan dengan melibatkan
banyak pihak.
Kita bisa menemukan tidak kurang dari 38 nama yang berbeda
dan 42 nama kelompok dalam Nehemia pasal 3 tersebut.
Mereka berasal dari kalangan yang berbeda, profesi yang
berbeda, dan semuanya ikut berpartisipasi, bekerja sama
dan saling menguatkan.
Saya pernah mendengar seorang pendeta bertanya: ”In your
church, are you sitting or serving?” Di dalam gereja,
apakah anda hanya duduk saja atau ikut melayani?
Setiap orang memiliki kesempatan dan tempat untuk melayani,
dan itu sudah merupakan tanggung jawab kita sebagai orang
yang telah menerima Kristus. Ibrani 6:10 mengatakan: |
|
|
| 10 |
“Sebab Allah bukan tidak adil,
sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang
kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu
kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan
sampai sekarang.” |
|
|
|
|
Karya Tuhan
akan terus terjadi dengan atau tanpa keterlibatan kita.
Adalah suatu kehormatan bagi kita apabila kita dapat
terlibat di dalamnya. Ini merupakan refleksi dari kasih
kita kepada Tuhan kita Yesus Kristus, kepada saudara
seiman kita dan pada sesama kita manusia. |
|
|
|
3. Menjadi saksi Kristus (1Yoh
5:10) |
| 10 |
“Barangsiapa percaya kepada Anak
Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya;
barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia
menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan
kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.” |
|
|
|
Perubahan
yang ketiga adalah bahwa kita menjadi percaya kepada Tuhan
Yesus dan hal itu tercermin dalam sikap hidup kita. Kita
perhatikan bahwa ayat ini mengatakan “percaya kepada Anak
Allah” dan bukan “percaya akan Anak Allah”. Yang dimaksud
di sini adalah kepercayaan iman dan bukan hanya
kepercayaan intelektual.
Pagi ini, dalam perjalanan ke kantor, saya mendengar di
radio bahwa di Amerika Serikat 30% orang yang tidak
beragama percaya bahwa Tuhan Yesus telah mati dan bangkit
dari kuburnya. Mereka mempercayai bahwa Tuhan Yesus telah
mengalahkan maut, akan tetapi mereka tidak mau menerima
Yesus sebagai Juru Selamat mereka.
Kenapa? Karena mereka tidak mau menerima konsekwensi dari
menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Mereka sudah terlalu
terikat kepada kehidupan lama mereka, yang berorientasikan
pada dunia ini, dan mereka merasa bahwa yang penting
mereka menjadi orang yang ”baik” dan tidak merugikan orang
lain.
Mereka tidak mau menyerahkan hidup mereka untuk dipimpin
oleh Tuhan Yesus. Mereka percaya akan Tuhan Yesus, tetapi
mereka tidak mau percaya kepada-Nya.
Kita patut merenungkan apakah kita telah memiliki
kepercayaan iman tersebut, apakah kita sudah “percaya
kepada Anak Allah” dan bukannya sekadar “percaya akan Anak
Allah”.
Ketika Tuhan Yesus mengatakan: ”Tetapi carilah dahulu
Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan
ditambahkan kepadamu”, apakah kita berani mengimaninya dan
menerapkannya dalam kehidupan kita. Ataukah kita masih
tetap kuatir dengan kehidupan kita dan menghabiskan waktu
kehidupan kita pada prioritas dunia – harta lebih banyak,
karir lebih sukses, dsb.
Ketika Tuhan Yesus mengatakan: ”Marilah kepada-Ku, semua
yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi
kelegaan kepadamu”, apakah kita mau datang kepada-Nya dan
menyerahkan segala persoalan kita. Ataukah kita masih
berkeras hati untuk menyelesaikannya dengan cara dan usaha
kita sebagai manusia.
Kita juga perlu bertanya kepada diri kita sendiri, apa
yang orang lain lihat di dalam diri kita, dalam kehidupan
kita. Apakah sama saja dengan kebanyakan orang lain,
ataukah mereka bisa melihat Yesus di dalam diri kita?
Perayaan
Natal akan selalu ada setiap tahunnya. Saat ini kita
memasuki saat-saat yang sibuk penuh dengan acara, dan
setelah lewat tahun baru nanti, kita akan kembali memasuki
rutinitas kehidupan kita kembali. Rasanya kita perlu untuk
merenung, berpikir dan ber-refleksi ke dalam diri kita
sendiri.
Sudahkah kita memakai Firman-Nya sebagai mercusuar hidup
kita, sudahkah kita memiliki kasih-Nya dalam kehidupan
kita yang tercermin dalam partisipasi dan komitmen kita
dalam kegiatan pelayanan di gereja, dan sudahkah hidup
kita senantiasa menjadi saksi bagi kemuliaan-Nya?
Sekarang adalah saat yang tepat untuk berubah dan/atau
memperbaharui komitmen kita. Bagaimana caranya? Mudah saja
– seperti yang dikatakan oleh sebuah lagu – ”Dia hanya
sejauh doa”. |
|
|
Selamat Natal 2005 dan Selamat Tahun Baru 2006
Kiranya Tuhan senantiasa menyertai dan
membimbing kita semua. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|