|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
7 September 2005
Kemerdekaan Sejati, Sudahkah Kita Sungguh-Sungguh Merdeka? Fabian Buddy Pascoal |
|
|
|
“Grace is not an excuse to sin, but it is the power not
to!“ |
Di tiap bulan
Agustus, terdapat beberapa negara merayakan hari
kemerdekaannya, salah satunya negara Indonesia kita yang
tercinta ini. Sebagai warga negara Indonesia, kita bangga
punya pemerintahan yang mandiri terlepas dari kendali
bangsa lain, sehingga ke dalam kita punya keleluasaan
mengatur diri kita sendiri, dan di luar kita berdiri
sejajar dengan negara-negara lain dalam pergaulan
internasional.
Selain sebagai warga negara Indonesia, kita juga adalah
warga Kerajaan Sorga. Masing-masing status ini diperoleh
sebagai hasil dari yang disebut sebagai “pembebasan” yang
membuahkan kemerdekaan. Kemerdekaan Negara Indonesia dan
kemerdekaan seorang Kristen yang sejati diperoleh melalui
pengorbanan dan curahan darah. Kemerdekaan Indonesia
diraih melalui perjuangan para pendahulu-pendahulu kita
yang rela mati demi terbebasnya bangsa Indonesia dari
kolonialisme. Sama dengan itu, kita juga dibebaskan dari
belenggu dosa karena Kristus rela menderita bahkan mati.
Film “Passion of Christ” memberi kita gambaran tentang
betapa menderitanya Kristus di hari penyaliban-Nya.
Namun, dari kesamaan tersebut, terdapat perbedaan yang
substansial antara kedua kemerdekaan dimaksud, yakni bahwa
(a) kemerdekaan Negara Indonesia diraih (achieved) sebagai
hasil perjuangan rakyat Indonesia sendiri, bukan diberikan
oleh bekas penjajah, dan sebaliknya, (b) kemerdekaan kita
dari belenggu dosa, semata-mata adalah hasil anugerah
Tuhan bagi kita yang kita terima (received) secara
cuma-cuma. |
|
|
|
Kemerdekaan Semu |
Hidup di alam
kemerdekaan sekarang ini memang memberi banyak kenyamanan.
Apalagi di dalam dunia globalisasi saat ini. Globalisasi
dan teknologi telah memberi manusia modern akses ke suatu
produk yang disebut “kebebasan” yang lebih besar untuk
memilih. Setiap orang pasti mendambakan kebebasan (dalam
batas tertentu secara subjektif). Kebebasan memberi wadah
dan kepuasan bagi manusia untuk menyalurkan daya cipta,
rasa dan karsanya. Kebebasan memang menjadi hak asasi
manusia.
Tetapi, “kebebasan” dapat berubah menjadi “kebablasan”
apabila, dalam hubungan sosial, kebebasan yang ada tidak
menghormati kebebasan orang lain. Kebebasan manusia yang
merupakan suatu potensi, justru akan menjadi “krisis”
apabila tidak dibatasi. Oleh karenanya, kebebasan saya
harus dibatasi oleh kebebasan Anda, dan sebaliknya.
Apabila tidak, manusia akan menjadi “serigala” bagi
manusia lainnya (homo homini lupus).
Kebebasan akan mencapai tahap paling tragis dan ironis
apabila kebebasan justru menciptakan “penjara” bagi yang
bersangkutan. Tanpa kita sadari, kita pernah atau mungkin
kerap terperangkap dan terbelenggu dengan “kebebasan” kita,
apabila kita sudah tidak dapat berkata “tidak” untuk suatu
pilihan dalam kebebasan dimaksud. Berapa banyak manusia
yang sangat menikmati “kebebasan” yang melekat padanya
sehingga ia sudah begitu tergantung pada “kebebasan” itu
sendiri.
Mereka yang katanya hidup “merdeka” sehingga memilih
menjalani suatu kebiasaan buruk tanpa ada yang menghalangi
atau membatasi, hanya justru akan menjadi narapidana dari
penjara “kebebasan”nya sendiri apabila ia tidak dapat lagi
menolak melakukan hal yang sama. Dalam hal demikian, it’s
not about freedom—it’s about addiction.
Dosa memang manis. Tetapi “ada jalan yang disangka orang
lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 14:12; 16:25).
Dunia tanpa Kristus ibarat sementara berbaris pada rute
sedemikian. |
|
|
|
Kemerdekaan oleh dan dari Kristus |
Maut: musuh
terbesar manusia
Adakah ketakutan manusia yang lebih besar dari ketakutan
menghadapi maut?
Semua orang pasti punya rasa takut karena rasa takut
memang manusiawi. Yang beda hanyalah tingkat dan jenis
rasa takut. Ada ketakutan yang rasional, ada pula yang
sudah tidak rasional. Rasa takut membantu manusia untuk
terhindar dari bahaya yang lebih besar. Takut kena api
mencegah orang untuk tidak merasakan sakit bila terbakar.
Ada yang takut untuk hal-hal yang baru sehingga orang
tersebut tidak berani mengambil keputusan tegas melakukan
perubahan.
Tetapi, seberani-beraninya seseorang, orang tersebut,
sepanjang dia belum mengenal dan menerima Kristus sebagai
Juru Selamatnya, pasti akan mengalami ketakutan saat ajal
menjemput dia. Bahkan, kata orang, ada orang yang masih
dalam proses kematiannya sudah mengalami penderitaan
secara spriritual, umpama, karena ketika hidup ia akrab
dengan okultisme (ilmu hitam).
Pada umumnya orang takut mati, antara lain mungkin karena,
dia terlalu mengasihi dunia ini, atau dia tidak mengetahui
ada apa di balik kematian, atau bahkan dia sadar bahwa dia
pantas mengalami penghukuman yang menanti dia setelah
kematiannya dan dia tidak menemukan atau tidak mau
menerima jalan keselamatan kekal melalui Kristus hingga
kematiannya.
Maut: musuh terakhir manusia (I Kor.15:26)
Di dalam menjalani proses kehidupan di dunia ini, setiap
orang pasti menghadapi kesulitan, baik pergumulan batin di
dalam dirinya maupun ketegangan dengan faktor-faktor di
luar dirinya. Ada yang melihat “kesulitan” secara positif
di mana setiap “kesulitan” ditanggapi sebagai tantangan
bahkan peluang untuk menjadi makin baik. Tetapi ada juga
mereka yang melihat dari sudut lain dan menjadikan
“kesulitan” sebagai musuh, termasuk orang-orang yang
menciptakan “kesulitan” bagi dia. Tetapi, pada umumnya
segala hal yang mengancam eksistensi atau kemapanan
seseorang akan selalu dilihat sebagai “musuh”, terlepas
dari apakah yang bersangkutan akan menghadapi, melarikan
diri atau menyikapi dengan cara lain atas “musuh” nya
tersebut.
Di dalam konteks waktu, rangkaian proses upaya
“penaklukan” musuh apapun tadi akan berujung pada
kenyataan absolut bahwa ada “kematian” menanti setiap
orang yang menjadi musuh terakhir untuk dihadapi, kalau
tidak bisa ditaklukkan. Pada umumnya, orang berusaha
mengelak atau “menunda” datangnya kematian dan ingin
menikmati umur panjang (namun, lucunya, tidak mau jadi tua).
Tapi, setiap orang sudah ditetapkan untuk mati. Bahkan
kematian dapat datang tanpa peringatan (Amsal 27:1). Semua
manusia pada dasarnya berbaris antri menunggu saat ajal
menjemput. Ada yang lama berbarisnya, ada yang relatif
singkat.
Tidak ada manusia di dunia ini yang dapat mengalahkan
kematian. Kenapa? Karena semua manusia sudah berdosa (Roma
3:10, 23) dan upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Semua
manusia pasti mengalami kematian. Manusia telah ditetapkan
untuk mati sekali saja dan kemudian dihakimi (Ibrani
9:27).
Apabila sejarah manusia hanya sampai di situ, sorga tidak
akan pernah dihuni oleh manusia dan sejarah manusia akan
berakhir tragis: setelah dicipta menurut rupa ALLAH dan
menikmati segala ciptaan lainnya dari ALLAH yang luar
biasa selama hidupnya, manusia akan berakhir pada ruangan
penghukuman kekal.
Puji syukur kepada ALLAH! ALLAH kita adalah ALLAH yang
“mengosongkan diri” dan menyangkal diri-Nya bersedia turun
ke dunia mengambil rupa seorang manusia. Tidak ada jalan
lain bagi manusia untuk diperdamaikan dengan Pencipta-Nya
selain berdasarkan inisiatif perdamaian yang datang
sendiri dari ALLAH. Dosa manusia yang membuat manusia
gagal memenuhi standar ALLAH, telah membuat manusia seteru
ALLAH. Dosa manusia telah menciptakan suatu jurang antara
ALLAH dan manusia yang tidak terseberangi oleh manusia.
Semua manusia karena dosanya pasti mengalami maut (Roma
3:23 dan 6:23). Memang, hanya manusia sajalah yang
mengalami kematian (untuk kemudian dihakimi). Karenanya,
agar Kristus dapat mengalahkan maut, Kristus harus menjadi
manusia sehingga Kristus dapat mati, dan kemudian bangkit
(Ibrani 2:14). Tetapi, berbeda dengan kematian manusia
yang disebabkan karena dosa manusia sendiri, kematian
Kristus adalah satu-satunya kematian yang terjadi karena
kehendak ALLAH (Galatia 1:4) dan kematian yang saatnya
ditentukan sendiri oleh Kristus, bukan karena dibunuh
tentara Romawi (Yoh.10:17-18).
Kematian Kristus adalah kematian yang menelan kematian (Yesaya
25:8). Kebangkitan Kristus merupakan kemenangan-Nya atas
kuasa maut. 1 Korintus 15:17: “jika Kristus tidak
dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu
masih hidup dalam dosamu.”
Kemerdekaan yang dibawa oleh Kristus adalah kemerdekaan
yang sejati karena telah menaklukkan sekali dan untuk
selama-lamanya “musuh” terbesar dan terakhir manusia,
yakni dosa dan kematian.
Kehidupan kita saat ini menjadi relevan bagi kehidupan
setelah kematian karena sudah ada Kristus yang
menjembatani kehidupan saat ini dan kehidupan setelah
kematian. Tanpa Kristus, hidup kita sekarang tidak akan
membawa nilai tambah apa-apa bagi kehidupan setelah
kematian karena sebaik-baiknya, sesaleh-salehnya dan
sesuci-sucinya kita hidup di dunia ini, semuanya tidak
mempunyai nilai apa-apa dan tidak dapat memuaskan standar
kesempurnaan ALLAH untuk berdamai dengan ALLAH.
Kemerdekaan oleh Kristus bagi kita 2000 tahun lalu sudah
membereskan dan mempersiapkan bagi kita kehidupan berikut
kita.
Ada suatu hikayat tentang suatu kerajaan yang mempunyai
tradisi yang unik. Orang yang menjadi raja di kerajaan
tersebut diberi kesempatan untuk mendapatkan apa saja yang
dikehendakinya, dengan ketentuan, setelah mencapai “usia
pensiun” sebagai raja ia harus turun tahta dan dibuang ke
pulau yang tidak menyediakan fasilitas kemudahan apapun
sehingga yang bersangkutan harus berusaha sendiri
melakukan survival untuk bertahan hidup. Pulau pembuangan
itu telah menjadi saksi bisu bagi kehidupan yang tragis
dan ironis dari para mantan raja yang sangat menderita
mengalami post power syndrome. Walaupun hidup
berkelimpahan di pulau istana, hidup masing-masing raja
tersebut tidak pernah tenteram karena mereka sudah
mengetahui bagaimana jadinya mereka di pulau kedua.
Tetapi satu kali bertahta–lah seorang raja yang berhikmat.
Selama ia bertahta, salah satu perintahnya adalah
melakukan renovasi total atas pulau angker tersebut. Pulau
yang tadinya menjadi mimpi buruk bagi para raja
pendahulunya kini telah disulap menjadi tidak kalah indah
dengan pulau pertama. Begitulah, selama masa hidupnya di
pulau pertama, ia tidak pernah mengkuatirkan kualitas
kehidupannya di pulau kedua. Ketika saatnya tiba bagi raja
ini untuk “dibuang”, ia dengan senang hati menyongsong
tibanya hari itu.
Demikiankah hidup kita saat ini? Hanya apabila pulau
tujuan kita sudah siap, kita dapat benar-benar menikmati
hari dan tahun di pulau asal. Hanya dengan menerima
Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita, maka
kita dapat memperoleh kepastian mendapatkan tempat di
Sorga kelak. Hanya bila kita siap mati, maka kita siap
hidup. |
|
|
|
Kemerdekaan yang dipersembahkan bagi Kristus |
Kita yang
sudah benar-benar mengalami kemerdekaan oleh Kristus kini
benar-benar mengalami kemerdekaan yang sesungguhnya.
Dengan kekuatan yang kita terima melalui kesatuan kita
dengan Kristus, kita akan dimampukan untuk tidak lagi
terikat dengan tabiat-tabiat dan belenggu-belenggu dosa.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan sehari-hari
kita mungkin masih kurang iman dan dalam sejumlah hal
masih mengalami upaya-upaya penarikan oleh kekuatan dunia
ini.
Memang, selama kita hidup selama itu pula cobaan menanti
kita. Tingkat kualitas cobaan tersebut akan setara dengan
potensi kegunaan kita bagi Kristus. Makin tinggi potensi
kita, makin besar ancaman yang kita bawa atas rencana
jahat iblis atas dunia ini. Dengan demikian, akan makin
gencar pula serangan iblis bagi kita. Perjuangan iman ini
memang tidak mudah karena perjuangan tersebut adalah
perjuangan melawan roh-roh di angkasa, yakni kuasa si
jahat (Efesus 6:12).
Salah satu jendela strategis yang Iblis selalu coba
terobosi adalah pikiran kita.
Dengan mengendalikan pikiran dan pola pikir kita Iblis
akan menguasasi salah satu sumber daya terbesar orang
bersangkutan. Ia akan menggerogoti pikiran kita dengan
membombardir kita dengan suara-suara yang mematahkan
semangat dan iman kita, dan berusaha mengalihkan fokus
hidup kita dari iman kepada Kristus kepada keadaan di
depan mata dengan segala kemustahilan secara manusia.
Iblis akan berusaha menutup pikiran kita bahwa kita
sebenarnya sudah diselamatkan dan karenanya dengan
kesatuan bersama kuasa kebangkitan Kristus, kita telah
dilayakkan dan senantiasa akan dimampukan ALLAH untuk
melayani-Nya.
Oleh karenanya, sisa hidup ini haruslah diisi dengan
kehidupan yang senantiasa mengarahkan pandangan rohani
kita kepada Kristus.
Sebagaimana lensa kamera yang harus selalu disesuaikan
kembali dari waktu ke waktu setiap kali mengambil suatu
gambar, demikian juga dengan fokus lensa hidup kita.
Setiap keadaan di sekeliling kita, bahkan kondisi di dalam
diri kita, senantiasa berbeda dari waktu ke waktu. Di
tengah kondisi yang berubah-ubah sedemikian, Iblis selalu
berupaya mencuri perhatian kita agar kita melepaskan fokus
dan konsentrasi kita dari Kristus ke keadaan semu di
sekeliling kita.
Sebagaimana Petrus yang akhirnya tenggelam setelah ia
melapaskan fokusnya dari Kristus setelah beberapa waktu
Petrus sempat berjalan di atas air ketika ia hanya
mengarahkan konsentrasinya kepada Kristus semata, demikian
juga kita akan ditaklukkan ketika kita justru fokus pada
keadaan kita, kelemahan, kekuatiran kita atau “angin
kencang” lain yang mengancam kita. Kita butuh mental
rohani lensa kamera yang harus selalu difokus ulang dari
waktu ke waktu untuk mempertahankan fokus pada Kristus
semata.
Hanya hidup yang fokus pada Kristus membuat kita
benar-benar merdeka dari beban hidup yang tidak perlu.
Kita akan mampu juga untuk memilih dan memilah mana yang
berguna bagi kemuliaan Kristus, mana yang tidak dan
karenanya harus dilepas. Kalau kita benar-benar fokus pada
Kristus, tidak akan ada unsur dunia ini yang akan terlalu
berat bagi kita untuk dilepaskan demi Kristus. Pada titik
ini kita mengalami kemerdekaan sejati, dan hidup terasa
jauh lebih ringan dan dapat dinikmati dalam damai Kristus.
Ketika Petrus diangkat kembali oleh Yesus setelah mulai
tenggelam, saya yakin Petrus menyambut uluran tangan Yesus
dengan kedua tangan Petrus, tidak dengan satu tangan saja.
Artinya, ketika kita datang kepada dan bergantung pada
Kristus untuk hal keselamatan, mari kita datang dengan
seluruh keberadaan kita. Jangan biarkan satu tangan kita
ada di tangan Kristus, tapi tangan yang satu lagi masih
memegang sesuatu yang lain.
Tetapi, setelah diangkat oleh Kristus dari lautan maut dan
selanjutnya mendapatkan kemerdekaan, kemerdekaan yang kita
terima dari Kristus tersebut tidak boleh kita simpan untuk
diri kita sendiri.
Pembebasan oleh Kristus telah bekerja (work in) dalam diri
kita. Menindak-lanjuti hal itu, kita harus mengerjakan
(work out) kemerdekaan dan keselamatan kekal yang telah
kita terima (Filipi 2:12). Kristus telah mendamaikan (a)
kita dengan ALLAH sehingga kita tidak perlu lagi mengalami
sendiri murka ALLAH, dan (b) kita dengan diri kita sendiri.
Kini, yang harus kita kerjakan adalah membawa pendamaian
dengan ALLAH melalui Kristus, kepada sesama kita. Artinya,
kita akan hidup dalam kedamaian dengan orang lain, kita
mendamaikan orang lain dengan sesamanya, dan yang paling
penting dan mendesak adalah kita mendamaikan sesama kita
dengan ALLAH.
Berita pendamaian dengan ALLAH melalui Kristus harus kita
teruskan, melalui pemberitaan Injil. 1 Korintus 9:16-18:
“Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai
alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan
bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan
Injil. Kalau andaikata aku melakukannya menurut
kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah.
Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku
sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang
ditanggungkan kepadaku. Kalau demikian apakah upahku?
Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa
upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai
pemberita Injil.”
ALLAH menghendaki kita mempunyai kerelaan untuk
memberitakan Injil damai sejahtera (Efesus 6:15), karena
boleh memberitakan Injil sudah merupakan upah bagi kita.
Apa isi pemberitaan Injil kita? 2 Timotius 2:8 “Ingatlah
ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara
orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud,
itulah yang kuberitakan dalam Injilku. “
Kemerdekaan yang ALLAH berikan sebagai anugerah-Nya bukan
merupakan alasan bagi kita untuk berbuat dosa, tetapi
sebaliknya, justru menjadi kekuatan bagi kita untuk
melawan godaan dosa, dan bahkan untuk meneruskan
kemerdekaan tersebut ke orang lain. Kita akan
sungguh-sungguh merdeka bila kita sudah mampu mengalahkan
dan mengalihkan perhatian kita atas kenikmatan semu dunia
ini, dan memasangkan pada kaki kita kasut kerelaan untuk
memberitakan Injil damai sejahtera (Efesus 6:15).
Äpakah orang yang mendengar pekabaran Injil yang kita
sampaikan jadi bertobat dan menerima Kristus, itu bukan
yurisdiksi kita tetapi hak prerogatif ALLAH sendiri (Yohanes
6:44 dan 1 Korintus 3:7-8).
Tugas kita hanya menabur Injil Kristus pada orang-orang
yang ALLAH tempatkan di tempat dan waktu kita. Kalau ALLAH
berkenan kita akan dipakai juga sebagai penuai jiwa
sebagai hasil Injil yang mungkin ditaburkan orang lain
sebelumnya. Sebagaimana rakyat Indonesia merayakan
kemerdekaannya setiap tahun, demikian juga akan ada
sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang
berdosa yang bertobat (Lukas 15:10).
Mari kita bijaksana dalam mengerjakan kemerdekaan kita.
Daniel 12:3 “… orang-orang bijaksana akan bercahaya
seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun
banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang,
tetap untuk selama-lamanya.”
Yohanes 8:32,36 ”… kamu akan mengetahui kebenaran,
dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu… Jadi apabila
Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”
Inilah kebenaran dan kemerdekaan sejati!
Rise and shine! Bangkit dan jadilah terang! (Yesaya 60:1) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|