|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
20 Mei 2005
Apakah Benar Saya Orang Kristen? Chandra Suria |
|
|
Dalam satu
kebaktian beberapa minggu yang lalu, sang pembawa Firman
memulai khotbahnya dengan memberikan pertanyaan di atas
kepada para Jemaat yang hadir.
Mendengar pertanyaan itu, sejenak saya merenung, karena
bagi saya kalau pertanyaannya adalah apakah saya beragama
Kristen?, tidak sulit bagi saya untuk membuktikannya.
Agama Kristen jelas tertera di KTP saya, saya juga
memiliki surat baptis dan sidi dari GKI Panglima Polim,
saya merasa yakin saya juga bisa meminta surat keterangan
tentang keanggotaan saya di GKI Pondok Indah ke kantor
gereja, dan kalau perlu saya bisa minta rekomendasi dari
Pdt. Agus Susanto yang telah menikahkan saya di GKI Pondok
Indah.
Tapi karena pertanyaannya adalah apakah saya benar orang
Kristen?, yang artinya adalah pengikut Kristus, apalagi
kalau ditambah dengan apakah saya benar pengikut Kristus,
di hadapan mata-Nya?, bagi saya jawaban dan pembuktiannya
menjadi sangat tidak mudah. Saya jadi berpikir lebih
lanjut lagi, karena hal ini merupakan hal yang penting
bagi saya – yaitu bahwa di mata Tuhan Yesus saya memang
benar orang Kristen dan berhak menjadi anak Allah, bukan
hanya sekadar beragama Kristen.
Berkaitan dengan itu, saya jadi teringat ayat yang
tertulis dalam kitab Yoh 14:6 tentang pernyataan Yesus
bahwa Dialah jalan dan kebenaran dan hidup, dan tidak ada
seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui
Dia. Ayat ini ditulis dalam kaitan dengan pernyataan Tuhan
Yesus kepada murid-murid-Nya bahwa Dia akan pergi untuk
menyediakan tempat bagi kita dan nanti akan datang kembali
untuk membawa kita ke sana (tempat di sini
diinterpretasikan sebagai surga). Nah, seringkali
berdasarkan ayat ini dianggap bahwa hanya orang Kristen
yang bisa masuk surga; walaupun hal ini juga ditentang
oleh sebagian orang yang menganggap bahwa pendapat
tersebut adalah satu interpretasi teologi yang sempit.
Saya kebetulan sudah dua kali ikut berdiskusi mengenai hal
ini dengan pendeta di GKI Pondok Indah, yaitu Pdt Joas dan
Pdt Purboyo, dalam kesempatan yang terpisah. Diskusi yang
menarik dan sangat bermanfaat bagi saya walaupun saya
belum dapat menemukan titik temu bagi beberapa pendapat
kami yang berbeda. Akan tetapi, rupa-rupanya Tuhan
mengerti akan pergumulan saya ini, di majalah Kasut bulan
Agustus 2002 (baru saya baca di website bulan Februari
2005), di rubrik Pastoralia, Pdt Rudianto mendapatkan
pertanyaan: Apakah Orang Kristen Pasti Masuk Surga?.
Di dalam jawaban beliau, ada satu kalimat yang menarik
buat saya, yaitu Jadi bukan agama Kristennya yang
menyelamatkan tetapi semata kasih dan anugerah Allah yang
anda terima di dalam Yesus Kristus. Jadi bisa disimpulkan
bahwa yang penting memang bukan agama Kristennya,
melainkan Tuhan Yesusnya. Dialah yang bisa menyelamatkan
kita dan membuat kita menjadi anak Allah yang berhak
memanggil Bapa kepada-Nya. Karena itulah, menjadi penting
artinya apakah saya benar pengikut Kristus di mata Tuhan
Yesus sendiri? Apakah saya layak menjadi anak-Nya dan
menerima keselamatan yang hanya bisa diberikan oleh Dia?
Karena penasaran, saya berusaha untuk mencari informasi
lebih lanjut dalam Alkitab. Di kitab Roma 8:14-17, saya
mendapatkan beberapa ciri orang Kristen, atau di sini
disebut sebagai anak Allah, di mata Tuhan Yesus yang
tertulis di Alkitab. Saya yakin ada banyak ayat-ayat lain,
baik di kitab Roma maupun di kitab yang lainnya, yang juga
membahas hal yang sama, akan tetapi pada waktu itu, yang
saya baca dan renungkan adalah ayat-ayat dari Roma 8:14-17
ini;
- Ayat 14, Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak
Allah.
- Ayat 15, Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat
kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh
yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru:
“”ya Abba, ya Bapa!’’
- Ayat 16, Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa
kita adalah anak-anak Allah.
- Ayat 17, Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli
waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima
janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama
dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama
dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama
dengan Dia.
Di ayat 14, saya melihat ciri yang pertama sebagai anak
Allah, yaitu dipimpin oleh Roh Allah atau Roh Kudus. Tapi
saya jadi bertanya kembali… terus artinya apa? apa artinya
dipimpin oleh Roh Kudus? Bagaimana saya bisa tahu kalau
saya itu dipimpin oleh Roh Kudus atau tidak? Ketika me-refleksikannya
pada diri saya sendiri, sebagai seorang pegawai di tempat
saya bekerja, saya melihat bahwa saya adalah seorang
pegawai yang mempunyai seorang atasan yang memimpin saya.
Dalam konteks pekerjaan, berarti saya harus mematuhi
perintah dan petunjuk dari atasan/pimpinan saya, serta
harus bekerja/melakukannya dengan sebaik-baiknya. Pada
prinsipnya, apa yang diinginkan dan diminta oleh pimpinan
saya akan mengarahkan serta menentukan prioritas kerja
saya, apa dan bagaimana saya melakukan pekerjaan saya
serta apa keputusan yang saya ambil setiap kali saya
menghadapi pilihan. Yang mengherankan, hal ini mudah
sekali untuk saya mengerti dan terima di dalam pekerjaan
saya sehari-hari, tetapi sukar sekali untuk saya ikuti di
dalam kehidupan rohani saya setiap hari, karena seharusnya
dengan analog seperti di atas, kalau saya dipimpin oleh
Roh Kudus, berarti:
- Pikiran saya harus selalu memprioritaskan hal-hal yang
sesuai dengan Roh Kudus
- Hati saya harus selalu mencerminkan kwalitas Roh Kudus
‡ kasih
- Kemauan dan keputusan saya harus selalu didasarkan
kepada Roh Kudus
Dalam konteks dan analog di atas, jelas bahwa saya belum
dipimpin oleh Roh Kudus. Saya masih seringkali
memprioritaskan hal-hal yang menyenangkan hati saya
sendiri, hati saya seringkali tidak peka akan kasih
terhadap sesama, dan hampir selalu saya mengandalkan
pengetahuan dan kemampuan saya sendiri dalam mengambil
keputusan di dalam hidup saya sehari-hari. Kalau boleh
disimpulkan, kehidupan saya masih terpusat pada
kepentingan diri saya sendiri, bahkan ketika kebetulan
saya terlibat di dalam pelayanan/kegiatan di gereja.
Tanpa disadari, seringkali terpikir: apa persyaratan
minimum yang saya harus lakukan sebagai anak Tuhan ....
nah, saya mau di situ saja. Tentunya saya tidak mau kalau
sama sekali tidak mengikuti kehendak Tuhan, tetapi juga
tidak mau kalau total saya mengikutinya semua. Jadi
kira-kira, yang sedang-sedang saja deh... ke gereja setiap
Minggu dan ikut beberapa kegiatan gereja, tentunya cukup
dong. Apalagi kalau saya sudah ikut aktif sebagai pengurus
Komisi dan/atau panitia. Yang penting, saya masih bisa
punya sisa waktu untuk melakukan hal-hal lain yang saya
inginkan dan perlukan. Saya yakin banyak di antara kita
yang sependapat dengan saya. Mungkin kita tidak selalu
berani mengatakannya terus terang, tetapi itu tercermin
dalam kehidupan kita setiap hari. Tercermin dalam
prioritas kegiatan kita.
Ciri kedua yang bisa saya lihat adalah di ayat 17b, yaitu
apabila kita sanggup menderita bersama-sama dengan Kristus,
supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.
Wah, berat betul persyaratannya... demikian pikiran saya
ketika membaca ayat ini. Bagaimana saya bisa sanggup
menderita bersama–sama dengan Kristus? Memikirkannya saja
sudah ngeri... Tapi kemudian saya jadi terus berpikir
lebih lanjut, apa iya jadi orang Kristen berarti kita
harus selalu menderita. Kalau iya, maksudnya menderita
yang bagaimana? tetapi kalau tidak, jadi apa yang dimaksud
oleh ayat 17 ini?.
Saya memang ingat ada ayat di Lukas 9:23, bahwa setiap
orang yang mau mengikut Tuhan Yesus harus menyangkal
dirinya dan memikul salibnya setiap hari, dan juga tentang
pernyataan Tuhan Yesus di Markus 10:25, tentang lebih
mudah bagi seekor unta untuk masuk ke lubang jarum
daripada orang kaya masuk ke surga. Semuanya itu
mengingatkan saya bahwa memang Tuhan Yesus sudah
mengatakan terlebih dahulu bahwa mengikut Dia bukanlah
perjalanan hidup yang bersenang-senang dan ringan,
melainkan justru sebaliknya. Namun demikian, naluri
manusia saya tetap berusaha menyangkal dan mencari
pembenaran bagi saya untuk mengejar/mencari kenikmatan
hidup... (sounds familiar?).
Padahal tidak saja harus memikul salib, tetapi Tuhan Yesus
juga mengatakan bahwa kita harus menyangkal diri kita
sendiri, yang dalam pemahaman saya berarti kita harus
melawan keinginan daging kita. Melawan keingingan duniawi
kita yang membuat kita menomorduakan Dia. Salah satu ayat
yang sangat berkesan dalam kehidupan saya adalah ayat yang
terkenal dari Matius pasal 6 ayat 33, tentang mencari
Kerajaan Allah dan kebenarannya, dan semuanya akan
ditambahkan kepada kita. Kalau kita baca ayat-ayat
sebelumnya, yang dimaksud semuanya itu adalah semua hal
yang selalu kita kuatirkan atau kita inginkan dalam
kehidupan kita sebagai manusia, sandang, pangan dan
mungkin juga papan dan kenikmatan lainnya.
Tuhan Yesus mengatakan, jangan kuatir tentang semuanya itu,
fokus pada hal yang utama yaitu mencari Kerajaan Allah dan
kebenarannya di dalam kehidupan kita.
Bagi saya, ini mudah untuk mengatakannya tetapi sangat
sukar untuk menerapkannya. Itu sebabnya saya masih selalu
merasa kekurangan waktu untuk beribadah, untuk terlibat
dalam pelayanan dan bersaat teduh dengan Dia. Itu sebabnya
saya masih berkonsentrasi untuk membina karir, rumah
tangga dan keluarga, menabung sebanyak-banyaknya dan
memprioritaskan waktu senggang saya untuk berekreasi dsb.
Bagaimana saya bisa ikut memikul salib dan menderita
dengan Tuhan Yesus? Masih banyak hal lain yang harus saya
lakukan sebagai bentuk tanggung jawab saya kepada keluarga
dan masyarakat. Itu kan juga yang Tuhan mau kita lakukan.
Suatu ketika, saya mendengar Firman yang dibawakan dari
kitab Lukas 21:1-4 tentang seorang janda miskin yang
memberikan dua peser ke dalam peti persembahan dan Tuhan
Yesus menyatakan bahwa dia memberikan jauh lebih banyak
daripada persembahan yang diberikan oleh orang-orang kaya
di situ. Karena janda miskin itu memberikan dari
kekurangannya sementara orang-orang kaya itu memberikan
dari kelimpahan mereka. Tiba-tiba saya tersentak, atau
kalau bahasa Jakartanya ”dijedotin”, dan saya melihat
bahwa di sini kata kuncinya adalah ”pilihan”.
Baik orang-orang kaya tersebut maupun sang janda miskin,
masing-masing memiliki pilhan pada saat itu. Pilihan bagi
orang-orang kaya tersebut lebih mudah dan straight
forward, yaitu antara tidak memberikan persembahan atau
memberikan persembahan berupa sebagian kecil (walaupun
nilai absolutnya besar) dari kekayaannya. Mudah bukan?
Tidak usah dipikir juga kita semua tahu. Beri saja
persembahan yang besar, toh itu tidak mengganggu keuangan/kehidupan
mereka sama sekali. Namun sebaliknya dengan janda miskin
tersebut, pilihannya benar-benar sangat sulit yaitu antara
memberikan persembahan dan berarti hari itu mungkin dia
dan keluarganya tidak makan, atau tidak memberikan
persembahan dan hari itu ada makanan di rumahnya. Janda
miskin tersebut memilih untuk tetap memberikan persembahan
dan Tuhan Yesus melihat serta sangat menghargainya.
Kalau saya pasti akan memilih yang sebaliknya dan akal
sehat saya akan mengatakan bahwa saya memiliki pembenaran
yang sangat kuat untuk pilihan tersebut.
Saya tahu pasti itu, karena dalam konteks yang berbeda
saya sudah sering melakukannya. Saya sudah mengambil
pilihan seperti itu ketika saya memutuskan untuk tidak
ikut acara di gereja karena sudah lelah bekerja atau masih
harus bekerja lagi malam itu, atau ketika saya tidak mau
terlibat membantu kegiatan pelayanan karena kesibukan saya
dalam meniti karir di pekerjaan, atau ketika saya pulang
duluan dari kebaktian gereja karena harus menghadiri acara
lain dan masih banyak lagi. Dan untuk setiap pilihan
tersebut, saya punya justifikasi atau pembenaran yang
sangat kuat secara akal sehat saya.
Tiba-tiba saya melihat ”memikul salib dan menderita
bersama dengan Dia” dalam konteks yang berbeda. Saya
melihat bahwa jika setiap kali menghadapi pilihan, saya
mengambil pilihan yang menomorduakan pekerjaan Tuhan, maka
berarti saya tidak menyangkal diri sendiri dan tidak mau
memikul salib bersama Yesus. Dan sebaliknya, jika setiap
saat saya punya pilihan, dan saya memilih hal yang
menyenangkan hati Tuhan, walaupun itu kebanyakan tidak
enak buat saya (dari kacamata dunia), pada saat itulah
saya sudah turut memikul salib dan menderita bersama
dengan Dia.
Saya percaya Tuhan Yesus juga punya pilihan ketika Dia
berdoa di Taman Getsemani pada malam Dia ditangkap, dan
saya sungguh bersyukur bahwa Dia telah memilih yang sesuai
dengan kehendak Bapa kita di Surga untuk menjalani
penyaliban, kematian dan kebangkitan-Nya. Dengan demikian
maka saya memiliki kesempatan untuk ditebus dosa saya dan
layak menjadi anak-Nya.
Oleh karena itu saya berdoa kepada Tuhan agar saya juga
dimampukan untuk selalu memilih yang sesuai dengan
kehendak dan rencana-Nya, supaya saya mampu untuk
menyediakan diri dan hidup saya untuk menyenangkan hati
Tuhan dan menjalani rencana-Nya. Dan semoga nantinya saya
bisa berkata dengan yakin bahwa saya benar orang Kristen,
anak Allah dihadapan-Nya.
Bagaimana dengan anda?
|
Catatan:
Tulisan ini merupakan salah satu rangkuman dari pergumulan
dan pengalaman pribadi yang kiranya boleh menjadi salah
satu bahan pemikiran kita semua. Pernyataan dan
interpretasi yang dituliskan di sini tentunya masih terus
berkembang seiring dengan perjalanan hidup saya.
Saya tidak ingin mempermasalahkan atau memperdebatkan
interpretasi teologi yang mungkin timbul, karena saya sama
sekali tidak berkompeten untuk itu. Harapan saya hanyalah
agar tulisan ini bisa bermanfaat di dalam perjalanan
pendakian iman kita masing-masing, karena itulah yang saya
alami.
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|