|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
21 Januari 2005
Masa kanak-kanak Yesus Pdt. Agus Hendratmo, S.Si |
|
|
|
Injil Masa Kanak-kanak Yesus |
Apakah anda
tahu bahwa kisah hidup Yesus pada waktu masih kanak-kanak
tidak diceritakan di dalam keempat kitab Injil, baik itu
Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes? Surat-surat Rasul
Paulus maupun kitab-kitab perjanjian Baru lainnya juga
tidak memuat kisah hidup Yesus pada waktu masih
kanak-kanak.
Oleh karena itu, kita hampir tidak tahu mengenai bagaimana
Yesus hidup sewaktu masih kanak-kanak. Misal: Sejak kapan
Yesus mulai belajar membaca dan menulis? Apakah Yesus
sudah tampak sebagai manusia ajaib sejak kecil ataukah
baru sesudah menjelang dewasa? Sejak kapan Yesus bisa
melakukan mukjizat-mukjizatNya?
Hanya di dalam Injil Lukas 2: 41-52, kita membaca cerita
tentang Yesus pada waktu usia 12 tahun, berdiskusi dengan
para ahli Taurat dan membuat para ahli Taurat itu
terkagum-kagum pada Yesus karena kepandaiannya. Barangkali
bagi para penulis Alkitab pada waktu itu, kisah-kisah
Yesus sewaktu masih kanak-kanak tidak begitu penting untuk
diceritakan, atau paling tidak, masih kalah penting
apabila dibandingkan dengan masa dewasa Yesus yang
memuncak di dalam peristiwa kematian dan kebangkitanNya,
yang menjadi fondasi keyakinan gereja perdana terhadap
Yesus.
Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada sama sekali
kitab yang menceritakan masa kecil Yesus. Ada satu kitab
yang memuat kisah-kisah luar biasa mengenai masa
kanak-kanak dan remaja Yesus, yakni Injil tentang Masa
Kanak-kanak Yesus menurut Tomas.
Seorang bapak gereja pada abad kedua, Irenaeus, pernah
mengutip bagian-bagian tertentu dari Injil ini dalam
sebuah karangannya. Meskipun demikian, Injil ini bukan
Injil kanonik, artinya kitab ini oleh para Bapak Gereja
tidak dianggap memiliki kewibawaan yang sama dengan 27
kitab-kitab yang ada di dalam Perjanjian Baru. Dalam
bahasa sederhananya, kitab ini tidak dianggap sebagai
kitab suci seperti yang lainnya.
Manuskrip atau naskah
tulisan tangan yang tertua yang pernah ditemukan dari
injil ini berasal dari abad keenam dalam bahasa Siria.
Sedangkan manuskrip dalam bahasa Yunani yang pernah
ditemukan berasal dari abad keempatbelas hingga
keenambelas.
Dalam tulisan ini, saya hanya akan menceritakan beberapa
kisah Yesus pada waktu kanak-kanak seperti yang tertulis
dalam Injil tentang Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas
tersebut. Saya menceritakan semua ini hanya sekedar untuk
menambah pengetahuan, jadi bukan untuk dipercayai, apalagi
dengan gegabah dianggap sebagai cerita-cerita historis
tentang Yesus. Injil tentang Masa Kanak-kanak Yesus
menurut Tomas ini terdiri dari 19 pasal.
|
|
“Kenakalan” Yesus pada waktu
masih anak-anak |
Seperti
anak-anak kecil pada umumnya, Yesus juga cenderung nakal,
egois, melanggar hukum Sabat, mudah marah bila terganggu
dan membantah nasihat orang tuaNya. Dalam beberapa perikop
yang ada, diceritakan bagaimana Yesus membuat jengkel dan
marah tetangga-tetangganya, ahli taurat, dan juga orang
tuanya.
- Suatu hari, pada saat Yesus berusia 5 tahun, ia bermain-main
dengan kolam-kolam kecil buatannya sendiri yang ia isi
dengan air. Entah kenapa, teman sepermainan Yesus, anak
seorang ahli Taurat yang bernama Hanas, merusak
kolam-kolam buatan Yesus ini dengan sebatang ranting pohon.
Yesus tentu saja marah, ketika melihat kolam-kolamnya
rusak. Yesus memaki anak itu, “Kamu betul-betul kurang
ajar dan bodoh! Apa kolam-kolam buatanku ini
membahayakanmu? Mulai detik ini, kau akan layu dan kering
seperti sebatang pohon, dan kau tidak akan mengeluarkan
daun-daun atau akar atau buah lagi.”
Begitu selesai Yesus mengatakan hal itu, sekujur tubuh
anak itu layu dan kurus kering. Orang tua anak yang telah
layu dan kurus kering ini mendatangi Yusuf, bapak Yesus,
dan berkata, “Ini semua kesalahanmu! Anakmu yang melakukan
semua itu!” Kisah Yesus ini segera mengingatkan kita pada
cerita di dalam Injil Markus 11: 12-14 dan Matius 21:18-22
mengenai pohon ara yang juga oleh Yesus dewasa dijadikan
layu dan kering.
- Suatu hari, ketika Yesus sedang santainya berjalan, ada
seorang anak yang berlari kencang menabrak punggung Yesus.
Ditabrak begitu, Yesus marah, dan berkata, “Kamu tidak
akan bisa meneruskan perjalananmu.” Begitu Yesus selesai
bicara, mendadak saja anak itu jatuh dan mati. Orang tua
anak yang mati itu datang kepada Yusuf dan menyalahkannya.
Kata mereka, “Karena kamu punya anak seperti Yesus, kamu
tidak boleh lagi tinggal bersama-sama kami di desa ini.
Kalau kamu memang masih ingin tinggal di desa ini, ajari
anakmu untuk memberkati dan bukan mengutuk orang lain. Ia
terus saja membunuh anak-anak kami.”
Maka Yusuf segera memanggil Yesus dan menasehatinya,
“Mengapa kamu melakukan semua itu? Lihatlah, orang-orang
ini menderita, jengkel dan membenci kita!” Tetapi Yesus
tidak mau dipersalahkan, Ia bahkan menghukum orang-orang
yang telah melaporkan dirinya kepada ayahnya sehingga
mereka semua menjadi buta. Ketika Yusuf mengetahui Yesus
melakukan hal itu, ia marah dan menjewer keras-keras
telinga Yesus. Yesus protes terhadap tindakan ayahnya ini,
Ia mengatakan bahwa bukan hak Yusuf untuk memperlakukan
Yesus dengan cara semacam itu.
- Yesus juga pernah membuat burung-burung pipit tanah liat
sebanyak dua belas ekor pada hari Sabat. Ketika
tetangganya melihat apa yang dikerjakan oleh Yesus, ia
melaporkan kepada Yusuf bahwa Yesus telah melanggar hukum
hari Sabat. Segera Yusuf datang dan bertanya kepada Yesus,
“Mengapa kamu melakukan hal yang tidak boleh dikerjakan
pada hari Sabat?” Mendengar pertanyaan bapaknya tersebut
Yesus hanya diam saja, bahkan kemudian
mengeplok-ngeplokkan tangannya dan berteriak kepada
burung-burung tanah liat itu, “Pergilah, terbanglah, dan
ingat aku, kamu semua yang sekarang hidup!” Burung-burung
mainan dari tanah liat itu kemudian hidup dan beterbangan.
Kisah Yesus yang menciptakan burung dari tanah liat ini
ternyata juga dicatat di dalam Al-Quran. Dalam Sura Ali
‘Imran ayat 49 termuat ucapan Yesus demikian:
“Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa
suatu tanda (mujizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat
untuk kamu dari tanah berbentuk burung, kemudian aku
meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin
Allah.“
Sura Al Maa-Idah ayat 110 mengacu pada peristiwa yang sama:
(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai, Isa putera
Maryam…, ingatlah pula di waktu kamu membentuk dari tanah
(suatu bentuk) yang berupa burung dengan izinKu, kemudian
kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang
sebenarnya) dengan seizinKu…” Rupanya kisah Yesus yang
menciptakan burung dari tanah liat ini terus diceritakan
ulang dan beredar sampai ke Arab pada masa tampilnya nabi
Muhammad pada abad ketujuh untuk menyampaikan wahyu Allah.
Kisah-kisah “kenakalan” Yesus ini tentu saja bisa
mengagetkan jemaat, dahulu maupun sekarang ini, yang
mengenal sosok Yesus hanya melalui keempat Injil: Matius,
Markus, Lukas dan Yohanes. Dalam keempat Injil, Yesus
tidak pernah digambarkan sebagai sosok yang begitu keras,
tidak tahu sopan-santun, tidak punya empati dan kejam
melainkan sebagai sosok yang penuh belas kasih.
Saya kira,
inilah salah satu alasan mengapa bapak-bapak gereja pada
waktu itu tidak menerima Injil Masa Kanak-kanak Yesus
menurut Tomas ini sebagai kitab kanonik, yang diakui
kewibawaannya sebagai kitab suci.
|
|
Kasih Yesus pada waktu masih
anak-anak |
Sebenarnya ada banyak bagian
dari Injil Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas yang juga
menceritakan Yesus sebagai anak yang lemah-lembut,
pengampun, penolong, penyembuh, dan sebagainya. Hal ini
tampak dalam kisah-kisah sebagai berikut:
- Suatu hari, Yesus sedang bermain-main di atap rumah
bersama-sama anak-anak yang lain. Tiba-tiba salah seorang
dari anak itu jatuh dari atap dan mati. Semua anak lari
ketakutan dan meninggalkan Yesus sendirian. Tidak lama
kemudian orang tua anak itu datang, marah pada Yesus dan
menuduh Yesus yang mendorong anak itu hingga jatuh dari
atap rumah. Yesus tidak terima tuduhan ini, Ia berkata,
“Saya tidak mendorongnya. Ia jatuh sendiri hingga mati,
karena tidak hati-hati.” Yesus membuktikan perkataannya
ini dengan berseru dengan suara yang nyaring pada anak
yang telah mati itu, “Zeno (demikian nama anak itu),
bangunlah dan katakan padaku, apakah aku mendorongmu
hingga jatuh?” Tiba-tiba saja anak itu bangun (bangkit
dari mati) dan berkata, “Tidak, engkau tidak mendorongku,
malah engkau telah membangkitkan aku.”
- Beberapa hari kemudian, ada anak muda yang sedang membelah
kayu sekarat karena kehabisan darah, akibat kejadian yang
baru saja menimpanya. Kapak yang ia pakai untuk membelah
kayu meleset dan menghantam tungkai kakinya. Yesus yang
mengetahui kejadian itu segera memegang kuat-kuat kaki
orang yang berlumuran darah itu. Segera saja orang itu
menjadi sembuh.
- Pada waktu Yesus berumur 8 tahun, ada seorang bayi, anak
tetangga dekat rumah Yesus, yang mati karena sakit. Ibu
bayi tersebut sangat berduka cita. Ketika Yesus mendengar
ratapan keras serta jeritan menyayat hati ibu ini, Yesus
menjadi tersentuh hatinya. Ia segera saja berlari masuk ke
rumah tetangganya itu, menyentuh dada bayi yang mati itu
dan berkata, “Hai bayi, kamu tidak boleh mati, melainkan
hiduplah! Temani ibumu!” Lantas saja bayi itu membuka
matanya dan tertawa.
- Pada hari yang lain, Ia membantu ayahnya memanen hasil
ladang. Banyaknya hasil panenan sebenarnya hanya satu
timbangan, tetapi ketika ayahnya menyerahkan hasil panenan
itu kepada Yesus, hasil panenan itu menjadi 100 timbangan.
Yesus kemudian membagi-bagikan hasil panenan itu kepada
orang-orang miskin.
|
|
Refleksi |
Masih ada
beberapa kisah lain yang menceritakan kasih Yesus sewaktu
kanak-kanak yang dapat kita baca di dalam Injil Masa
Kanak-kanak Yesus menurut Tomas. Kisah Yesus yang
bertanya-jawab dengan para pemuka agama sewaktu berusia 12
tahun yang kita baca di dalam Injil Lukas, menjadi pasal
terakhir dari Injil ini.
Yang menarik untuk diperhatikan dan direfleksikan adalah
kisah yang menceritakan kasih Yesus ini, secara kronologis
semuanya terjadi setelah kisah-kisah yang menceritakan
“kenakalan” Yesus. Sehingga kita bisa menangkap ada aspek
perubahan dan kematangan sikap Yesus. Dari sikap egois,
mudah marah bila terganggu, keras, tidak punya empati dan
kejam, berangsur-angsur menjadi sosok yang penuh belas
kasih pada sesamanya.
Saya kira memang begitulah mestinya kita memandang Yesus.
Ketika hidup di dunia ini, Yesus bagaimana pun adalah
sosok yang mencapai kematangan dan kedewasaannya melalui
suatu proses. Yesus anak pasti berbeda dengan Yesus dewasa.
Pikiran yang dimiliki Yesus sewaktu masih anak-anak
pastilah tidak sama dengan pikiran yang dimiliki Yesus
pada waktu Ia dewasa.
Di dalam pasal terakhir ayat 12 dari Injil Masa
Kanak-kanak Yesus menurut Tomas juga dituliskan: Dan Yesus
pun semakin bertumbuh di dalam belajar dan di dalam
mendapatkan hormat. Ungkapan senada juga kita temukan di
dalam Injil Lukas 2: 52, Dan Yesus makin bertambah besar
dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi
oleh Allah dan manusia.
Tambah besar, Yesus ternyata juga semakin bertambah
hikmatnya. Ia tidak hanya sekedar cerdas, tapi juga
berhikmat! Ia semakin matang baik dalam hal-hal moral
maupun spiritual. Di samping itu, Ia juga makin dikasihi
Allah dan manusia. Jadi tidak perlu membayangkan bahwa
sejak kecil Yesus sudah mengetahui segala sesuatu tentang
Allah dan dunia ini.
Kehidupan Yesus di Nazaret tidak begitu jauh berbeda
dengan kehidupan saudara-saudara sebangsanya. Seperti
saudara-saudara sebangsanya, Ia juga belajar membaca dan
menulis. Tahap demi tahap, Ia juga berkenalan dengan
kitab-kitab suci. Ia juga belajar berdoa, menghafal
doa-doa yang wajib diucapkan oleh setiap orang Yahudi. Ia
juga dibiasakan menuruti semua peraturan agama Yahudi.
Beriman kepada Yesus berarti menerima bahwa Yesus tumbuh
dan berkembang secara wajar. Tidak instant dan juga tidak
mendadak. Yesus mencapai kesempurnaannya tahap demi tahap.
|
|
Penulis adalah Pendeta Jemaat GKJ Nehemia. Pengarang buku:
"Butir-butir Iman, Tegar dalam Iman, Berani dalam Iman." |
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|