Bible Talks
13 Desember 2004
Alkitab Tidak Absolut

Joas Adiprasetya
Membaca Artikel Prinsip Protestan Yang Memerdekakan yang ditulis oleh Pdt. Joas Adiprasetya, khususnya mengenai Alkitab yang tidak absolut, saya kutipkan paragraf tersebut;

”Jika Anda kemudian bertanya apakah yang sungguh absolut, maka jawabnya tak lain adalah Allah sendiri. Dengan kata lain, selain Allah tak ada yang absolut. Gereja tidak absolut, ajaran atau doktrin tidak absolut. Bagaimana dengan Alkitab? Tanpa ragu saya mengatakan, Alkitabpun tidaklah absolut, karena Alkitab adalah kesaksian tentang Allah yang absolut, namun bukan Allah itu sendiri”.

Pertanyaan saya adalah, bukankah Alkitab itu adalah Firman Tuhan, kalau Alkitab tidak absolut apakah Firman Tuhan juga tidak absolut? Lalu bagaimana kita memandang Alkitab, yang sampai dengan hari ini menjadi pegangan bagi hidup kita?

Apakah Pdt. Joas dapat menjelaskan lebih lanjut mengenai paragraf di atas?

Atas kesediaannya, saya mengucapkan terima kasih.

Salam,

APS - Tangerang
 
Saudara APS di Tangerang,
Ketika saya menulis bahwa hanya Allah yang absolut dan karena itu “Alkitab pun tidaklah absolut,” saya berpikir dan berefleksi cukup lama untuk berani menuliskan kalimat tersebut. Salah satu yang saya pikirkan memang bahwa tentu akan ada respon kritis seperti yang Saudara tanyakan. Saya yakin bahwa Saudara tentu sepakat dengan prinsip utamanya terlebih dahulu: hanya Allah yang absolut. Jika kita sepakat dalam hal ini, tentu yang harus dijawab kemudian adalah, apakah mengatakan “Alkitab adalah Firman Allah” sama dengan mengatakan “Alkitab adalah Allah”? Tentu saja tidak, bukan? Itu berarti, ada dua tahap yang harus kita jernihkan.

Pertama, kita perlu mengatakan bahwa “Alkitab adalah Firman Allah” tidak sama dengan mengatakan “Firman Allah adalah Alkitab”. Hal ini menyangkut pengakuan gereja Kristen bahwa Allah mewahyukan kebenaran itu bukan secara mekanis, seperti mesin, kepada penulis Alkitab, sehingga yang tertulis di dalam Alkitab itu sepenuh-penuhnya dan semutlak-mutlaknya adalah Firman Allah. Tidak. Allah mewahyukan kebenaran dan Firman-Nya itu secara dinamis, di mana Roh Kudus memberi inspirasi kepada penulis Alkitab, sebagai manusia yang terbatas, penuh pergumulan dan terikat pada konteks hidupnya, untuk menyampaikan kebenaran itu dalam kapasitasnya sebagai manusia. Maka, Alkitab disebut Firman Allah (dan karena itu kita sebut benar), sejauh Alkitab secara keseluruhan itu menyampaikan kebenaran Allah itu. Tapi keyakinan ini tidak boleh dibalik menjadi: “Firman Allah adalah Alkitab.”

Atau dalam kalimat Tata Gereja GKI: “Alkitab berisikan kesaksian menyeluruh mengenai Allah yang menyatakan diri-Nya, kehendak-Nya serta karya penciptaan, pemeliharaan, penyelamatan, dan penggenapan-Nya kepada manusia dan dunia” (Pegangan Ajaran Mengenai Alkitab, poin 2, hlm. 272). Sebagai sebuah “kesaksian menyeluruh” maka Alkitab kita yakini benar. Namun fungsi Alkitab tidak boleh menggantikan Allah yang absolut dan karena itu tidak boleh kita mutlakkan. Alkitab sungguh berguna buat iman kita sejauh melaluinya kita dihantar untuk lebih mengenal Allah yang absolut itu.

Kedua, apa yang absolut pada Firman Allah tidak terletak pada Alkitab sebagai sebuah buku, tapi pada inti pesannya, yaitu Kristus, Sang Firman. Sebagaimana yang disaksikan dalam Yohanes 1:1, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” kemutlakan Firman Tuhan, terletak pada sang Firman yang hidup, yaitu Kristus, dan bukan pada Alkitab. Alkitab disebut Firman Allah sejauh “hanya” menyaksikan Sang Firman yang menjadi Jalan, Kebenaran dan Hidup. Ini terbukti dengan tidak tepatnya mengganti kata-kata Firman dalam Yohanes 1:1 dengan Alkitab. Mari kita coba: “Pada mulanya adalah Alkitab; Alkitab itu bersama-sama dengan Allah dan Alkitab itu adalah Allah.” Tentu sama sekali aneh dan dengan cepat Saudara bisa merasakan kejanggalannya.

Tentu saja pertanyaan selanjutnya: “Bagaimana menjadikan Alkitab pegangan hidup?” Kalimat “Alkitab sebagai pegangan hidup sendiri” juga bisa berbahaya kalau kita kemudian memang sungguh-sungguh menjadikan kata-kata yang tertulis sebagai pedoman dan pegangan hidup, sedemikian rupa hingga kita tidak menjadikan Allah sebagai pegangan hidup. Secara praktis tentu saja kita perlu membaca, menghayati dan menghargai Alkitab kita. Tapi secara prinsipiil, kita harus selalu mawas diri dan bertanya: Apa atau siapa yang menjadi peganganku? Allah yang disaksikan Alkitab atau Alkitab itu sendiri?

Semoga bermanfaat.

Joas Adiprasetya
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003