|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
9 Desember 2004
Perjanjian Lama & Baru Paul P. Poli, SH |
|
|
|
Pendahuluan |
Dalam rangkaian acara peringatan hari ulang tahun GKI
Pondok Indah ke-XX, pada hari Jumat, 15 Mei 2004,
bertempat di gedung gereja diselenggarakan Persekutuan
Nostalgia, berjudul: “GKI Pondok Indah Tempo Doeloe.”
Selain kesempatan berjumpa dengan rekan-rekan sepelayanan
yang sudah lama tidak bersilang jalan, dalam tayangan
foto-foto ”tempo doeloe,” ingatan penulis tersentak
melihat wajah rekan-rekan yang telah berhasil mencapai
garis “finish,” menurut ungkapan Rasul Paulus.
Tulisan ini diilhami oleh penyelenggaraan acara tersebut,
yang dikaitkan pula dengan kisah empat puluh tahun
perjalanan umat Israel menuju Tanah Perjanjian. Dalam
konteks itu dilihat peran Roh Kudus dalam kepemimpinan
Musa dan jajarannya, sebagai refleksi pola kepemimpinan
Kristus, yakni pelayanan yang memimpin serta kepemimpinan
yang melayani (ministerial leadership), dan proses alih
generasi kepemimpinan. Pola itu kemudian dikembangkan oleh
Rasul Paulus dalam lintasan sejarah pelayanan gerejawi (2
Kor. 3:7-9).
Berdasarkan perjalanan iman dalam konteks duapuluh tahun
sejarah pelayanan Jemaat GKI Pondok Indah, dengan
sendirinya terdapat aspek alih generasi secara alamiah.
Pada kesempatan merayakan Hari Ulang Tahun ke-XX ini perlu
direnungkan proses persiapan dan alih generasi tersebut
serta tantangan pelayanan masa depan. Bagaimana perspektif
kurun waktu duapuluh tahun mendatang, khususnya mengenai
pelaksanaan visi dan misinya di bawah terang kepemimpinan
Roh Kudus? |
|
Perjanjian lama |
Kitab Kejadian pasal 15:17-18 tentang Perjanjian Allah
dengan Abram, memberikan suatu laporan pandangan mata
rohani, demikian: “Maka kelihatanlah perapian yang berasap
berserta suluh yang berapi lewat di antara
potongan-potongan daging itu. Pada hari itulah Tuhan
mengadakan perjanjian dengan Abram.”
Allah dengan sukarela melepaskan kedaulatan-Nya, dan
merendahkan diri menjadi setaraf dengan Abram (level
playing field) agar dapat melakukan perjanjian. Dalam rupa
suluh berapi, Allah lewat di antara potongan-potongan
daging, sehingga menginjak darah yang tercurah. Darah
itulah meterai perjanjian, dan ”Pada hari itulah Tuhan
mengadakan perjanjian dengan Abram.” (ayat 18). Jadi tanpa
meterai darah, tidak akan ada perjanjian, serta sifat
sakral dan kekhidmatan. Di dalam kekhidmatan perjanjian
(covenant) itu Allah berfirman kepada Abram, bahwa: “Oleh
dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat.” (Kej.
18:18).
Kitab Kejadian juga mencatat, bahwa umat Israel
“diperbudak dan dianiyaya empat ratus tahun lamanya” (ayat
13). Itulah kasih setia Allah yang menetapi janji-Nya
kepada Abram empat ratus tahun sebelumnya, dengan
memberdayakan Musa dalam pelaksanaan misinya membawa umat
Israel ke luar dari Mesir memasuki Tanah Perjanjian,
Palestina. |
|
Musa dan Jajarannya |
Padanan istilah pendeta dalam bahasa Inggris ialah
minister (to minister = melayani, oleh karena itu dalam
tulisan ini dipakai ungkapan ministerial leadership dalam
struktur kemajelisan, sebagai padanan ungkapan
kepemimpinan yang melayani). Ungkapan itu dipakai dalam
kaitan dengan fungsi kepelayanan para pejabat gerejawi,
bahwa: “Tuhan memanggil sebagian anggota gereja menjadi
pejabat gerejawi yang berperan melayani dan memperlengkapi
gereja agar mampu melaksanakan misi gereja.” (alinea 5b
Penjelasan Mukadimah Tata Gereja GKI).
Pernyataan itu membuka kesempatan, tanpa kecuali, bagi
setiap anggota Jemaat GKI Pondok Indah untuk melayani
dalam status sebagai pejabat gerejawi. Dan ini adalah
penjabaran atas doktrin teologi “imamat am orang percaya”
(1 Pet. 2:9). Itu adalah pemahaman kita kini dan di sini,
yakni di GKI Pondok Indah. Lalu bagaimana dengan Musa dan
jajarannya waktu itu, yang zamannya diberikan predikat
purba? Cerita Sekolah Minggu tentang kisah “semak duri
yang menyala” (Kel. 3:2), akhirnya membawa kita kepada
perintah penugasan kepada Musa. Tetapi untuk melenyapkan
unsur keraguan manusiawi Musa, maka Allah pun berfirman:
“Bukankah Aku menyertai engkau?” (Kel. 3:12).
Kepemimpinan Musa dengan panduan Roh Kudus (Bil. 11:25)
memberikannya kejernihan pemahaman tentang misinya,
ketabahan iman, dan keteguhan hati menghadapi kesulitan.
Musa bahkan menerapkan prinsip manajemen modern, yaitu
delegasi wewenang (delegation of authority) dalam pola
manajemennya, dengan mendengarkan advis gratis dari
konsultannya, yakni sang mertua, Yitro (Kel. 18:17-27).
Karakter Musa memperlihatkan, antara lain, sifatnya
sebagai “seorang yang sangat lembut hatinya” (Bil. 12:3).
Di dalam kelembutan dan keteguhan hatinya itu ia menghadap
hadirat Allah, seraya menyembah dan minta ampun bagi para
pengikutnya yang memberontak; bahkan dia rela
mempertaruhkan segala-galanya. Musa pun memohon kepada
Allah, seraya berkata: “Hapuskanlah kiranya namaku dari
dalam buku yang telah Kautulis.” (Kel. 32:32).
Lingkungan orang yang mengelilinginya, yang seharusnya
adalah bagian jajaran pimpinan yang mendampingi Musa,
tetapi ternyata masing-masing mempunyai agenda sendiri.
Bahkan kedua orang kakaknya, Miryam dan Harun, tidak
terkecuali. Mereka memberontak terhadap Musa, sehingga
Miryam terkena tulah, dan dihukum Tuhan dengan penyakit
lepra. (Bil. 12:9-15). Demikian pun duaratus limapuluh
pemimpin umat Israel, “semuanya orang-orang yang kenamaan,
“ tetapi mereka berhasil dihasut oleh tiga serangkai:
Korah, Datan, dan Abiram (Bil. 16:1-35). Akibatnya, mereka
semuanya dimusnahkan Tuhan.
Setelah memimpin selama empat puluh tahun, dan menjelang
saat memasuki Tanah Perjanjian terjadilah proses alih
generasi kepemimpinan. Musa diganti oleh Yosua bin Nun.
Sewaktu Musa meninggal dia berusia seratus duapuluh tahun,
dan “matanya belum kabur dan kekuatannya masih belum
hilang.” (Ul. 34:7). Ternyata untuk memasuki Tanah
Perjanjian, Tuhan memerlukan dan menghendaki jenis dan
kualitas kepemimpinan lain (job requirements). Menurut
hasil pernilaian Tuhan (fit & proper test), Yosua bin Nun
diberikan yudisium: “seorang yang penuh roh” (Bil.
27:18-23). |
|
Perjanjian Baru |
Ketiga penulis Injil Sinoptik: Matius, Markus, dan Lukas,
mengisahkan tentang “darah perjanjian” (Mat.26:28) dan
(Mark 14:24), tetapi dokter Lukas agak berbeda, karena dia
mempergunakan ungkapan “perjanjian baru” (Luk. 22:21).
Penulis berpendapat bahwa makna yang terdapat pada
perumusan Rasul Paulus adalah kongruen dengan ungkapan Kej.
15:17-18, yang telah dikutip di atas, karena menyatakan,
bahwa: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan
oleh darah-Ku.” (1 Kor. 11:25). Kembali kita lihat, bahwa
perjanjian dimeteraikan dengan darah, tetapi kali ini
bukan darah hewan melainkan darah Kristus sendiri, yakni
pada peristiwa Kalvari (The Passion of the Christ).
Dalam proklamasi tentang kasih-Nya, Allah Abram, Ishak,
dan Yakub (Kel.3:6) berfirman mengenai karya kasih Kristus
(Yoh.3:16). Kita mengenal identitas Kristus, bahwa Dia
adalah inkarnasi Firman (Yoh.1:14), yang mati dalam
peristiwa Kalvari, tetapi bangkit pada hari yang ketiga,
naik ke sorga dan “duduk di sebelah kanan Allah Yang
Mahakuasa.” (Luk.22: 69).
Dengan demikian, firman Allah dalam Perjanjian Lama (Kej.
15: 17-18 serta Kej. 18:18) digenapi dalam Perjanjian Baru,
yang diungkapkan dengan indah sekali oleh Rasul Paulus,
seperti telah dikutip di atas (1 Kor.11:25).
Kristus dan Allah adalah satu (Yoh. 10:30), dan “Jika
seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku
akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam
bersama-sama dengan Dia.” (Yoh. 14:23). Yang hadir itu
adalah Roh Kudus, yakni “Roh Kebenaran,” yang… “menyertai
kamu dan akan diam di dalam kamu.” (ayat 17). Itulah
secara singkat dan padat doktrin Trinitas, yang jelas
bukanlah bagian dari matematika modern. |
|
Para Rasul Dan Angkatan Penerus |
Paralel dengan penugasan kepada Musa yang menyandang misi
untuk mengantar umat Allah memasuki Tanah Perjanjian, maka
Kristus pun menugaskan para rasul-Nya melalui Amanat Agung
(Mat. 28:18-20) untuk membawa umat-Nya memasuki Kerajaan
Allah. Dan sama seperti jaminan Allah kepada Musa
(Kel.3:12), maka Krsitus pun bersabda: “Dan ketahuilah,
Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
(ayat 20). Itulah garansi Kristus!
Proses alih generasi kepemimpinan pada angkatan Musa di
zaman purba juga dialami generasi martir Polykarpus (116
M), Uskup Smirna, dalam jajaran para Bapa Gereja, yang
adalah murid Rasul Yohanes. Mereka secara estafet menerima
misi pelaksanaan Amanat Agung dari para rasul, tanpa
merasa perlu menyandang gelar nabi atau rasul (Kis.
1:21-22), seperti ditampilkan mode kontemporer yang
menghasilkan dan mengedarkan produk imitasi, untuk
memenuhi selera “pasar.”
Perenungan sekitar Hari Ulang Tahun ke-XX GKI Pondok Indah
dapat mengangkat ke permukaan peristiwa pendewasaan GKI
Cinere dan GKI Sarwo Indah. Akan tetapi, sebagai pelaku
sejarah penulis dapat mengatakan, bahwa yang disebut
pertama dimulai oleh Komisi Pemuda GKI Kebayoran Baru di
rumah keluarga Silalahi. Sedang kehadiran GKI Sarwo Indah
diprakarsai oleh Komisi Sekolah Minggu GKI Kebayoran Baru.
Dengan demikian, apabila Desa Kemang dapat berkembang
menjadi jemaat dewasa, maka itulah merupakan “anak pertama”
dalam rangka pelayanan visioner yang misioner Jemaat GKI
Pondok Indah. Itulah partisipasinya dalam proses
meneruskan tongkat estafet pemberitaan Amanat Agung, yang
dimulai pada peristiwa Bukit Zaitun beberapa ribu tahun
yang lalu.
Pelaksanaan visi dan misinya itu membawa kita kepada
proses mempersiapkan generasi penerus yang memberikan
ministerial leadership sesuai pola Kristus, yang
dikembangkan oleh Rasul Paulus dalam surat-suratnya,
seperti telah dikutip di atas. Dalam hal ini, Majelis
Jemaat secara berencana menempatkan Pdt. Tumpal Tobing
sebagai Pendeta Siswa di Sekolah Tirta Marta dan Permata
Bunda. Angkatan demi angkatan telah dihasilkan, di
antaranya ada yang kini turut memperkuat jajaran
kemajelisan.
Program Christian Character Building, sebagai bagian
kurikulum sekolah dalam menghadirkan etika kristiani,
merupakan jenis pelayanan kategorial gereja untuk membantu
para keluarga, tanpa mengambilalih fungsi pendidikan dari
tangan orangtua. Sangat membesarkan hati melihat anggota
majelis dalam kategori muda dewasa muncul di gereja
bersama isteri yang mendorong kereta anak. Dapat
dibayangkan, bahwa kereta anak itu ditumpangi seorang
calon anggota majelis GKI Pondok Indah, mungkin untuk
periode pelayanan pada waktu generasi penerus memasuki
kurun waktu ke-XX berikutnya.
Pandangan Rasul Paulus mengenai pemberitaan Injil secara
kontekstual dengan menghadapi segala tantangan zaman (2
Kor. 4:1-15), yang diungkapkan secara metaforis, dengan
memakai “bejana” sebagai konteks, yang berisikan “harta
rohani,” yakni Injil kiranya masih relevan bagi generasi
penerus di GKI Pondoki Indah. Teks di dalam konteks, di
mana konteks berubah, tetapi Teks adalah abadi.
Dalam merayakan Hari Ulang Tahun GKI Pondok Indah ke-XX,
dan dengan melihat generasi penerus, yang dengan penuh
keyakinan menjemput periode duapuluh tahun berikutnya di
bawah kepemimpinan Roh Kudus. Penulis ingin menutup
tulisan ini dengan sebuah sajak tanpa nama dan tanpa
identitas penggubahnya, yang dijumpai dalam buku “Paul W.
Powell: Basic Bible Sermons, 1992,” tentang Keraguan
(doubt) versus Iman (faith), dalam terjemahan bebas:
Keraguan sibuk hitung kendala
Iman dengan pasti terus berjalan
Keraguan diliputi gelap gulita
Iman dipandu sinar harapan
Keraguan terus bermuram durja
Iman terbang membelah awan
Keraguan bertanya siapa percaya?
Iman tegas menjawab: “Saya.”
Jakarta, 22 Mei 2004 |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|