|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
30
Oktober 2004
Kanonisasi Alkitab Joas Adiprasetya |
|
|
Kata “kanon” berasal dari kata Yunani kanōn dan kanē (yang
merupakan kata pinjaman dari bahasa Semit kaneh) yang
berarti “tongkat pengukur.” Jadi, kanon Alkitab menunjuk
pada sekumpulan kitab yang dengan ukuran tertentu
sekaligus menjadi ukuran iman, ajaran dan tradisi Kristen.
Persoalan awal kanonisasi justru terletak pada isu: Apa
yang menjadi ukuran dalam menentukan kanon? Apa kanon bagi
kanon? Hal ini akan dibahas lebih lanjut belakangan. Namun
cukup untuk sementara mengatakan bahwa pertanyaan singkat
di atas ternyata menghasilkan kepelbagaian pandangan dan
hasil kanonisasi itu sendiri; mulai dari Gereja Katolik
Roma hingga gereja-gereja Protestant. Karena proses
kanonisasi Alkitab berbeda antara Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru, maka masing-masing akan dibahas secara
tersendiri. |
|
Kanonisasi Perjanjian Lama |
Alkitab Ibrani sering dikenal dengan nama TaNaKH (Torah,
Nevi’im dan Ketuvim – kitab-kitab Taurat, kitab-kitab para
nabi dan kitab-kitab lain). Proses kanonisasi PL yang
pertama dikenal berlangsung pada masa pemerintahan raja
Yosia (622 BCE), yang sering diberi nama Gerakan Reformasi
Deuteronomis. Gerakan ini berhasil menghimpun (dan
mengedit) dari berbagai sumber menjadi satu kumpulan
Taurat (Torah) yang terdiri dari 5 kitab.
Kitab nabi-kabi ditambahkan kemudian oleh para imam yang
dibuang ke pembuangan (586-539 BCE). Yang disebut kitab
nabi-nabi (nevi’im) terdiri atas kumpulan kitab nabi-nabi
terdahulu (Yosua, Hakim-hakim, Samuel dan Raja-raja) dan
kumpulan kitab nabi-nabi terkemudian.
Bagian ketiga kanon Alkitab Ibrani (ketuvim) ditambahkan
setelah mereka pulang dari pembuangan, kemungkinan besar
pada masa Ezra dan Nehemia. Termasuk di dalamnya: Mazmur,
Amsal, Ayub, 5 Megillot (Kidung Agung, Ruth, Ratapan,
Pengkotbah, dan Ester), Daniel, Ezra dan Nehemia (sebagai
satu buku) dan Tawarikh.
Yang menarik, kutipan-kutipan yang mengacu pada Alkitab
Ibrani, yang banyak dijumpai di PB, sebenarnya mengacu
pada tiga kumpulan kitab-kitab di atas, yang masih berada
pada bentuk yang tidak ketat. Yesus, misalnya, sering
mengacu pada “hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mt. 5.17;
7.12; 22.40; Lk. 16.16) dan sekali pada “kitab Taurat Musa
dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur” (Lk. 24.44).
Baru pada tahun 70 CE, setelah runtuhnya Yerusalem,
pemuka-pemuka Yahudi mengadakan Sidang Sinode di Jamnia,
untuk menentukan secara pasti kitab-kitab apa yang diakui
dan masuk ke dalam Alkitab Ibrani. Di sidang itulah kanon
PL bagi orang-orang Yahudi diputuskan secara final.
Namun ini tidak berarti bahwa dengan sendirinya kanon
Ibrani itu menjadi kanon PL umat Kristen. Gereja Kristen
perdana menerima Alkitabnya (PL) dari orang-orang Yahudi
berbahasa Yunani. Tentu saja Alkitab yang mereka terima
adalah Alkitab yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa
Yunani (sering disebut “Alkitab Alexandria”), yang dikenal
dengan nama Septuaginta atau LXX (karena dikerjakan oleh
sekitar 70 ahli dari Alexandria).
Perbedaan paling mencolok antara “Alkitab Ibrani” dan
“Alkitab Alexandria” terletak pada klasifikasi yg
dipergunakan dan jumlah kitab yang dikoleksi masing-masing.
Jika Alkitab Ibrani memakai klasifikasi TANAKH, Alkitab
Alexandria memakai klasifikasi berdasarkan jenis sastranya
(sejarah, puisi, kebijaksanaan dan nabi-nabi). Jumlah yang
dikoleksi masing-masing Alkitab juga berbeda.
Dalam tulisan bapa-bapa gereja (misalnya Augustinus,
Origenes dan Athanasius), kitab-kitab tambahan yang tidak
termasuk dalam Alkitab Ibrani dikutip dan diakui sebagai
kitab suci pula.
Perbedaan inilah yang kemudian memunculkan perdebatan
sengit antara gereja Katolik dan gereja Protestan.
Sementara gereja Katolik Roma mengakui “Alkitab
Alexandria” yang dipakai dalam kehidupan gereja selama ini
sebagai dasar pembentukan Alkitab PL Kristen, gereja
Protestan mengakui “Alkitab Ibrani” sebagai Alkitab PL
Kristen. Kitab-kitab lain yang ada di dalam “Alkitab
Alexandria” dan yang tidak ada di dalam “Alkitab Ibrani”
itu kemudian disebut sebagai deuterokanonika (sebutan oleh
gereja Katolik) atau kitab-kitab apokrif (sebutan oleh
gereja Protestan, yang artinya: “tersembunyi”).
Agak sukar mendaftarkan kitab-kitab apa saja yang
ditambahkan ke dalam LXX, karena LXX sendiri memiliki
beberapa versi. Misalnya dikenal tiga versi yang paling
penting: Codex Vaticanus (abad ke-4), Codex Alexandrinus (abad
ke-5) dan Codex Sinaiticus (abad ke-4). Namun prinsipnya:
LXX inilah yang kemudian diterima oleh Gereja Katolik Roma
sebagai dasar Alkitab PL. Di dalam Konsili Trente (1546)
ditetapkanlah berdasarkan LXX, susunan Alkitab PL yang
diakui oleh Gereja Katolik Roma. Daftar kitab-kitab lain (apokrif)
dalam Kitab Suci PL menurut Gereja Orthodox ternyata lebih
panjang lagi.
Genesis
Exodus
Leviticus
Numbers
Deuteronomy
Joshua
Judges
Ruth
1 Samuel
2 Samuel
1 Kings
2 Kings
1 Chronicles
2 Chronicles
Ezra
Nehemiah
Tobit
Judith |
Esther
(+ additions to Esther)
1 Maccabees
2 Maccabees
Job
Psalms
Proverbs
Ecclesiastes
Song of Songs
Wisdom of Solomon
Sirach (Ecclesiasticus)
Isaiah
Jeremiah
Lamentations
Baruch
(includes Letter of Jeremiah)
Ezekiel |
Daniel
(+ Susanna & Bel and the Dragon)
Hosea
Joel
Amos
Obadiah
Jonah
Micah
Nahum
Habakkuk
Zephaniah
Haggai
Zecariah
Malachi |
Dalam praktik, masalah kemudian muncul, karena beberapa
doktrin gereja Katolik memperoleh dasarnya dari
kitab-kitab deuterokanonika ini. Misalnya: ajaran mengenai
arwah dan api penyucian (2 Makabe 12:38-45). Jadi,
sebenarnya, pertanyaan “siapa yang menambahi Alkitab?” (pertanyaan
dari kalangan Protestan) atau “siapa yang mengurangi
Alkitab?” (pertanyaan dari kalangan Katolik) bermuara dari
perbedaan ini.
|
|
Kanonisasi Perjanjian Baru |
Kanonisasi Perjanjian Baru memiliki latar belakang yang
jauh berbeda. Sejak gereja perdana, Kristus yang bangkit
menjadi “ukuran iman” (rule of faith, regulum fidei). Iman
pada Kristus itu diturunalihkan dari satu generasi ke
generasi lain, baik melalui tradisi oral (kisah kehidupan,
kematian dan kebangkitan Kristus) maupun melalui
surat-surat dari para rasul kepada jemaat-jemaat.
Namun, masalahnya kemudian, ketika Injil tersebar dan
bersentuhan dengan banyak budaya, filsafat dan agama,
“Kristus yang bangkit” sebagai regulum fidei itu kemudian
diinterpretasi secara berbeda dan bahkan berlawanan satu
dengan yang lain, yg muncul lewat banyak tulisan, injil
dan surat. Banyak dari ajaran-ajaran tersebut di kemudian
hari dicap sebagai unorthodox atau heretic.
Kebutuhan menjawab ajaran-ajaran yang unorthodox ini
dibarengi dengan kesadaran bahwa tradisi oral yang
mengandalkan memori tidaklah dapat bertahan lama, selain
juga bahwa saksi-saksi pertama (para rasul) tidak akan
tinggal bersama jemaat selamanya. Karena itulah
injil-injil mulai ditulis, menambah koleksi surat-surat
rasuli lainnya, yang sudah terlebih dahulu beredar dan
diperbanyak di antara jemaat-jemaat.
Dengan makin menguatnya ajaran-ajaran sesat dan makin
meluasnya perkembangan Injil, maka muncul dua kebutuhan
mendasar: ditetapkannya kanon baru (untuk mendampingi
kanon PL) dan dirumuskan kredo-kredo yang menjadi intisari
pengajaran rasuli. Kanonisasi PB berlangsung melalui
proses yang panjang, sampai akhirnya diputuskan dalam
Konsili Carthage (419). Daftar yang muncul di konsili
itulah yang kita miliki hingga sekarang, yang diakui oleh
seluruh gereja Kristen.
|
100 CE |
200 CE |
250 CE |
300 CE |
400 CE |
Bagian-bagian yang
berbeda dari PB ditulis pada masa ini namun belum
terkoleksi dan didefinisikan sebagai “Kitab Suci.”
Para bapa gereja (Polikarpus, Ignatius, dll)
mengutip dari Injil-injili dan surat-surat Paulus,
selain dari tulisan lain dan sumber-sumber oral.
Surat-surat Paulus dikumpulkan pada akhir abad
pertama. Matius, Markus dan Lukas dikumpulkan
bersama-sama sekitar tahun 150 CE. |
PB di gereja Roma (“Muratorian Canon”) |
PB yang dipakai oleh Origenes |
PB yang dipakai oleh Eusebius |
Konsili Kartage (419) |
Empat injil
Kisah
Surat-surat Paulus:
Roma
1&2 Korintus
Galatia
Efesus
Filipi
Kolose
1&2 Tesalonika
1&2 Timotius
Titus
Filemon
Yakobus
1&2 Yohanes
Yudas
Wahyu Yohanes
Wahyu Petrus
Kebijaksanaan Salomo |
Empat injil
Kisah
Surat-surat Paulus:
Roma
1&2 Korintus
Galatia
Efesus
Filipi
Kolose
1&2 Tesalonika
1&2 Timotius
Titus
Filemon
1 Petrus
1 Yohanes
Wahyu Yohanes |
Empat injil
Kisah
Surat-surat Paulus:
Roma
1&2 Korintus
Galatia
Efesus
Filipi
Kolose
1&2 Tesalonika
1&2 Timotius
Titus
Filemon
1 Petrus
1 Yohanes
Wahyu Yohanes
(kepengarangan diragukan)
|
Empat injil
Kisah
Surat-surat Paulus:
Roma
1&2 Korintus
Galatia
Efesus
Filipi
Kolose
1&2 Tesalonika
1&2 Timotius
Titus
Filemon
Ibrani
Yakobus
1&2 Petrus
1,2&3 Yohanes
Yudas
Wahyu Yohanes |
|
Dipakai untuk pribadi namun tidak untuk ibadah
umum |
Diperdebatkan |
Diperdebatkan namun dikenal secara baik |
Dikeluarkan |
|
Gembala Hermas |
Yakobus
2 Petrus
2&3 Yohanes
Yudas
Gembala Hermas
Surat Barnabas
Pengajaran 12 Rasul
Injil Ibrani |
Yakobus
2 Petrus
2&3 Yohanes
Yudas |
Gembala Hermas
Surat Barnabas
Injil Ibrani
Wahyu Petrus
Kisah Petrus
Didache |
Apakah kriteria yang dipakai untuk menentukan diterima
tidaknya sebuah kitab? Setidaknya ada empat kriteria dasar:
- Kerasulan. Sebuah kitab diterima sejauh terbukti
meneruskan tradisi rasuli, yaitu para murid Yesus.
- Ortodoksi. Sekalipun harus diakui bahwa masing-masing
kitab memiliki keunikan masing-masing yang membuat
keseluruhan Alkitab berwujud sebuah “diversity”, namun
diakui pula bahwa masing-masing Alkitab memiliki kesatuan
(unity) yang berporos pada iman yang sama pada Kristus
yang bangkit dan dimuliakan.
- Antiquity. Yang diakui adalah kitab-kitab yang lebih
kuno atau yang paling dekat dengan peristiwa Yesus.
- Pemakaian dalam Komunitas. Hanya kitab-kitab yang
dipakai secara meluas oleh jemaat yang dimasukkan ke dalam
kanon.
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|