|
Dalam buku sejarah (Jagersma, 1991) kita jumpai nama
Herodes Yang Agung (37 - 4SM). Selanjutnya, menurut
cacatan sejarah raja ini mempunyai hobi unik, yakni
menambah jumlah isteri dalam koleksinya.
Tetapi sejarah juga tidak lalai memberitakan kebengisannya,
bahkan menurut Alkitab ia merencananakan tetapi gagal
membunuh Kristus, sang Bayi Natal. Namun, gelar Yang Agung
toh diberikan sejarah kepadanya berdasarkan kriterium:
keluasan kekuasaan yang dimilikinya.
Terdapat asumsi bahwa bukan karena faktor kesalehannya,
tetapi semata-mata untuk konsumsi politik serta demi
perluasan pengaruhnya Herodes pun membuat suatu keputusan
brilyan, yakni merestorasi Bait Allah.
Dari koleksi sepuluh isteri Herodes Yang Agung, Filipus
adalah anaknya dengan Cleopatra dari Yerusalem (jadi bukan
yang dari Mesir, teman sangat akrab Jenderal Antonius).
Filipus inilah, raja Iturea dan Trakhonitis (4 SM 33 M),
dan adalah saudara tiri Herodes Antipas, raja Perea dan
Galilea (Luk. 3:1). Herodes Antipas (4 SM - 39 M), anak
Malthace, ternyata mewarisi perangai kebengisan ayahnya,
sehingga mendapat nama julukan serigala dari Kristus (Luk.
13:32).
Pepatah mengatakan: pohon dikenal dari buahnya. Kata
bersayap dari Kristus ini dapat kiranya dipakai untuk
menjelaskan kasus pemindahtanganan isteri Filipus kepada
Herodes, yakni Herodias (Mark. 6:17). Maka tampillah di
atas panggung sejarah dua sejoli legendaris: Herodes dan
Herodias.
Catatan kaki sejarah menghadirkan anak Herodias, yakni
Salome, sebagai gadis cantik jelita dengan bakat yang
penuh pesona di bidang seni tari. Itulah sebabnya mengapa
tarian sensualnya membuat hadirin begitu terpukau, dan
sang raja bahkan hampir copot jantungnya karena sangat
tinggi tingkat kepekaannya di bidang ini, yang sudah
menjadi rahasia umum.
Sambutan hadirin yang demikian hebat itu ditambah dorongan
ibundanya, membuat Salome mematok tarif tariannya seharga
kepala Yohanes Pembaptis. Herodes pun langsung melunasinya,
dengan menyerahkan kepala yang dimintanya itu kepada
Salome. Itulah tarian maut Salome berdasarkan koreografi
hasil ciptaan ibunda tercinta, yang digelar di atas pentas
sejarah dengan peran utama: Herodias dan Herodes (Mat. 14:
3-12 dan Mark. 6:17-29).
Apabila kita singkirkan raja Filipus dari fokus pengamatan
kita, maka kita berhadapan dengan: Filipus dan Filipus.
Lalu bagaimana membedakan mereka? Baiklah yang satunya
ditampilkan sebagai rasul, karena dia memang benar rasul (bukan
dari kategori imitasi kontemporer), sedang yang lainnya
diberikan predikat evangelis (jabatan aslinya adalah
diaken), agar memudahkan dan membantu kita membedakan
keduanya.
Sekarang marilah kita berkenalan dengan Filipus dan Filipus,
masing-masing dengan keunikannya sendiri, dalam mosaik
kisah-kisah Alkitab.
Jakarta, 14 April 2004
|