|
Dalam hidup bermasyarakat kini dan di sini kita jumpai,
bahwa biasanya presiden melalui jurubicaranya menyampaikan
pesannya kepada publik, dengan mempergunakan alat
komunikasi yang ada. Dan pesan itu dicatat oleh para
wartawan, bahkan menggunakan alat elektronik perekam gambar
dan berita, agar tidak salah kutip dan dapat ditelusuri
keaslian pesan presiden.
Alkitab Perjanjian Lama bersaksi, bahwa Allah mempergunakan
cara ber-komunikasi yang mirip dengan itu, tetapi tanpa
gambar, untuk menyampaikan pesan-Nya kepada umat-Nya. Dan
jurubicara yang menyampaikan pesan itu dinamakan nabi,
yakni yang bergender laki-laki, dan nabiah bagi yang
perempuan.
Dalam kasus jurubicara presiden, isi pesan menjadi titik
sentral perhatian wartawan dan publik. Hal yang sama kita
jumpai juga pada pesan seorang nabi. Karena isi pesan
itulah, yang merupakan kriterium dalam menentukan palsu
tidaknya sang nabi, yang menyampaikannya.
Marilah kita menelusuri apa yang dikatakan Alkitab
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengenai nabi palsu,
dan perkembangan terkini mengenai komersialisasi jabatan
kenabian.
Dalam tulisan sebelumnya mengenai Nabi Palsu, penulis
secara sepintas menyinggung juga jabatan rasul, yang banyak
diminati dan menjadi mode dewasa ini. Selain memakai
pajangan rangkaian gelar-gelar kesarjanaan, mereka
merasakan lebih berwibawa apabila mendandani juga namanya
dengan gelar nabi atau rasul. Karena mode ini diimpor dari
Negeri Paman Sam, maka biasa dipakai padanannya dalam
bahasa orang sono, yakni Prophet dan Apostle. Kalau dalam
logat lenong Betawi dikatakan, agar kelihatan lebih keren!
Dengan sendirinya perlu kita menelusuri Alkitab untuk
mencari pegangan dan keselarasan persepsi dalam pemahaman
kita mengenai masalah dan gejala tersebut. Mengenai nabi
palsu penulis telah mengutip, baik dari Alkitab Perjanjian
Lama, maupun Alkitab Perjanjian Baru, di mana kita bahkan
menjumpuai pesan dan nasehat Kristus sendiri tentang nabi
palsu.
Sumber informasi mengenai jabatan rasul dan kerasulan
tentunya hanya kita jumpai dalam Alkitab Perjanjian Baru.
Marilah kita lihat sekarang mode penggunaan gelar rasul itu
dalam suatu kerangka pemahaman yang jelas.
FUNGSI RASUL
Alkitab, menurut Injil Markus (New Interrnational Version/NIV),
menunjuk orang-orang yang sama sebagai murid/disciples
(3:7, 20) dan rasul/apostles (3:14), sehingga seolah-olah
murid dan rasul adalah sinonim. (Dalam konteks ini,
terjemahan LAI dalam bahasa Indonesia tidak membedakannya
dan membatasi diri hanya pada penggunaan istilah murid.
Bahkan berbeda dengan NIV, istilah murid tidak muncul
samasekali di ayat 20, karena digunakannya kataganti
mereka).
Sayang terjemahan LAI atas Markus 3:14 yang telah dikutip
di atas, hanya menyatakan, bahwa “Ia menetapkan dua belas
orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya
memberitakan Injil.”
Sedang terjemahan NIV dengan tegas menyatakan:
“designating them apostles,” artinya: mereka ditetapkan
sebagai rasul.
Dengan demikian, penggunaan istilah apostle/rasul
mengungkapkan fungsi sebenarnya dari murid-murid yang
diutus, karena seorang rasul adalah wakil/duta Kristus.
Itulah fungsi rasul. Dalam hal ini, Alkitab mau menarik
garis paralel antara Kristus, yang diutus Allah Bapa
Surgawi, sebagai Rasul dan Imam Besar (Ibrani 3:1) dan
para rasul yang diutus Kristus.
Konsekuensinya adalah, menolak Kristus berarti menolak
Bapa Surgawi, demikian pun menolak para rasul adalah
menolak Kristus (Luk. 10:16).
KUALIFIKASI RASUL
Dokter Lukas menuturkan dalam Kisah Para Rasul, bahwa
sebelum peristiwa Pentakosta, di bawah pimpinan Petrus,
dan melalui doa serta undian ditetapkanlah Matias untuk
mengisi jabatan “kerasulan yang ditinggalkan Yudas.”
(Kis.1:25). Dalam pengisian jabatan kerasulan itu, kita
jumpai apa yang sekarang dikenal di bidang management
dengan istilah: job requirement.
Kualifikasi yang ditetapkan dalam job requirement
kerasulan untuk bisa masuk dalam daftar nominasi, ialah:
“seorang yang senantiasa datang berkumpul dengan kami
selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai
dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga
meninggalkan kami, untuk menjadi saksi tentang
kebangkitan-Nya.” (Kis. 1:21-22). Maka Matias pun
ditetapkan menjadi rasul.
Sepanjang penilitian penulis, setelah undian jatuh padanya
dan Matias dikukuhkan sebagai rasul (Kis. 1:26), maka nama
itu hilang dari peredaran, karena tidak dijumpai lagi di
bagian lain dari Alkitab. Ini berbeda dengan Rasul Paulus,
yang diangkat menjadi rasul pada peristiwa perjumpaannya
dengan Kristus, dalam perjalanan ke Damaskus (Kis.
26:16-18), dan menjadi saksi kebangkitan-Nya (Kis.
1:21-22; 10:41-42), serta diterima oleh para rasul lainnya,
seperti Yakobus, Petrus dan Yohanes (Gal. 2:9). Dokter
Lukas dalam Kisah Para Rasul, tidak berbicara apa pun
tentang masalah kerasulan dalam kaitan Matias dengan
Paulus, sehingga kita tidak perlu berandai-andai.
WAHYU KERASULAN
Sebagai duta/wakil Kristus (2 Kor. 10:8; 13:10), maka
mereka menerima wahyu kerasulan, seperti disaksikan dalam
surat Rasul Paulus kepada jemaat Efesus (Ef. 3:3). Wahyu
yang diterima itu dan ditulis oleh para rasul, yang kini
terdapat dalam 27 kitab kanonik. Kitab-kitab kanonik
itulah yang membentuk Alkitab Perjanjian Baru kita. Dan
itulah yang sekarang dijadikan dasar iman dan kehidupan
Kristiani di dalam persekutuan jemaat-jemaat GKI, sebagai
tubuh Kristus (pasal 3 Tata Dasar, sebagai bagian dari
Tata Gereja GKI).
Di dalam pemahaman iman kita itu, yang berperan ialah Roh
Kudus, yaitu Roh Kebenaran (Yoh. 14:17), yang diam dalam
kita, dan menjadikan kita Bait Allah (1 Kor. 3:16). “Hanya
oleh Roh Kuduslah, Tuhan Yesus Kristus menjadi dan diakui
sebagai Dasar dan Kepala Gereja. Pada satu pihak, Roh
Kudus secara terus menerus membarui gereja dan kehidupan
kini dan di sini. Pada pihak lain, Roh Kudus secara
terus-menerus mengarahkan gereja untuk hidup dan bertumbuh
ke masa depan, yaitu ke arah penggenapan yang sempurna
dari karya penyelamatan Allah itu.” (alinea 2f Penjelasan
Atas Mukadimah Tata Gereja GKI).
PARA BAPA GEREJA
Setelah para rasul satu per satu dipanggil Tuhan, maka
mereka digantikan oleh generasi penerus, yakni para Bapa
Gereja. Dalam Tata Gereja GKI dilampirkan Pengakuan Iman
Athanasius. Beliau adalah Uskup Aleksandria, yang menulis
Surat Paskah tahun 367 tentang kitab-kitab kanonik, yang
membentuk Alkitab Perjanjian Baru.
Seorang Bapa Gereja lainnya, ialah Uskup Agustinus dari
Hipo (Afrika Utara), yang menulis: Tentang Trinitas. Karya
monumentalnya, berjudul: Kota Allah. Yang membaptiskan
Agustinus, adalah Uskup Ambrosius dari Milano. Uskup
Ambrosius inilah yang berhasil membuat Kaisar Theodosius
menyatakan penyesalan dan pertobatan dengan berpakaian
goni di katedral Milano, karena sang kaisar telah
melakukan pembantaian sesamanya di Tesalonika.
Tiga uskup kenamaan yang mewakili rekan-rekan sepelayanan
mereka, tetapi tidak satu pun begitu pandir untuk
mengangkat dirinya menjadi rasul agar mengisi kelowongan
yang terjadi. Mengapa? Jawabannya sederhana sekali. Karena
mereka sadar bahwa mereka samasekali tidak memenuhi
kualifikasi Alkitab (Kis. 1:21-22), yang telah dikutip di
atas. Jadi ternyata para Bapa Gereja itu sangat rendah
hati, dan tidak senekad generasi kita sekarang ini, yang
semudah dan semurah itu mengangkat dirinya menjadi rasul.
Konsekuensi logis pemunculan “rasul-rasul baru” itu ialah,
apakah mereka juga akan menerima wahyu kerasulan? Dan
apakah nanti dicatat dalam “kitab-kitab kanonik baru”
untuk membentuk “Alkitab Baru,” seperti dilakukan oleh
Marcion dan Valentinus di abad ke-2 Masehi, yang membentuk
Alkitab Gnostik? Proses itu kini dilanjutkan oleh Gerakan
Zaman Baru (Peter Jones: Pagans In The Pews, 2001, halaman
85-88.) dengan “Alkitab Baru” untuk “Agama Baru,” yang
bersifat sinkretistik dan berskala mondial! Siapa yang
berminat menjadi rasul? Tetapi tentunya di luar di GKI!
Mode penggunaan gelar rasul, yang ramai meriah kini dan di
sini, telah diimpor dari Negara Paman Sam, sama seperti
kita mengimpor junk food Kentucky Fried Chicken dan
sejenisnya. Kata yang empunya cerita, penggunaan gelar
rasul itu adalah demi kepentingan keberhasilan pekabaran
Injil, dan agar kelihatan berwibawa! Lalu bagaimana kita
di GKI?
Dalam hal ini kita mencari jawaban alkitabiah mengenai
cara-cara pekabaran Injil. Kita merujuk kepada sikap
bijaksana Rasul Paulus, yang masih tetap relevan hingga
saat ini. Dalam suratnya kepada jemaat Filipi, Rasul
Paulus mengatakan: “Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimana
pun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu
maupun jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku
tetap bersukacita.” (Fil. 1:18).
Dengan memakai sikap bijaksana Rasul Paulus itu, maka kita
berpendirian bahwa di dalam kegiatan pekabaran Injil,
bagaimana pun caranya, dan apa pun motivasinya, itu
merupakan tanggungjawab dan urusan yang bersangkutan
dengan Tuhan.
Dengan demikian kita terhindar dari dosa menilai dan
menghakimi orang lain, tanpa larut terbawa arus!
|