Bible Talks
30 Maret 2004
Siapa Berminat Menjadi Rasul?

Paul.P.Poli, SH

Dalam hidup bermasyarakat kini dan di sini kita jumpai, bahwa biasanya presiden melalui jurubicaranya menyampaikan pesannya kepada publik, dengan mempergunakan alat komunikasi yang ada. Dan pesan itu dicatat oleh para wartawan, bahkan menggunakan alat elektronik perekam gambar dan berita, agar tidak salah kutip dan dapat ditelusuri keaslian pesan presiden.

Alkitab Perjanjian Lama bersaksi, bahwa Allah mempergunakan cara ber-komunikasi yang mirip dengan itu, tetapi tanpa gambar, untuk menyampaikan pesan-Nya kepada umat-Nya. Dan jurubicara yang menyampaikan pesan itu dinamakan nabi, yakni yang bergender laki-laki, dan nabiah bagi yang perempuan.

Dalam kasus jurubicara presiden, isi pesan menjadi titik sentral perhatian wartawan dan publik. Hal yang sama kita jumpai juga pada pesan seorang nabi. Karena isi pesan itulah, yang merupakan kriterium dalam menentukan palsu tidaknya sang nabi, yang menyampaikannya.

Marilah kita menelusuri apa yang dikatakan Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengenai nabi palsu, dan perkembangan terkini mengenai komersialisasi jabatan kenabian.

Dalam tulisan sebelumnya mengenai Nabi Palsu, penulis secara sepintas menyinggung juga jabatan rasul, yang banyak diminati dan menjadi mode dewasa ini. Selain memakai pajangan rangkaian gelar-gelar kesarjanaan, mereka merasakan lebih berwibawa apabila mendandani juga namanya dengan gelar nabi atau rasul. Karena mode ini diimpor dari Negeri Paman Sam, maka biasa dipakai padanannya dalam bahasa orang sono, yakni Prophet dan Apostle. Kalau dalam logat lenong Betawi dikatakan, agar kelihatan lebih keren!

Dengan sendirinya perlu kita menelusuri Alkitab untuk mencari pegangan dan keselarasan persepsi dalam pemahaman kita mengenai masalah dan gejala tersebut. Mengenai nabi palsu penulis telah mengutip, baik dari Alkitab Perjanjian Lama, maupun Alkitab Perjanjian Baru, di mana kita bahkan menjumpuai pesan dan nasehat Kristus sendiri tentang nabi palsu.

Sumber informasi mengenai jabatan rasul dan kerasulan tentunya hanya kita jumpai dalam Alkitab Perjanjian Baru. Marilah kita lihat sekarang mode penggunaan gelar rasul itu dalam suatu kerangka pemahaman yang jelas.

FUNGSI RASUL

    Alkitab, menurut Injil Markus (New Interrnational Version/NIV), menunjuk orang-orang yang sama sebagai murid/disciples (3:7, 20) dan rasul/apostles (3:14), sehingga seolah-olah murid dan rasul adalah sinonim. (Dalam konteks ini, terjemahan LAI dalam bahasa Indonesia tidak membedakannya dan membatasi diri hanya pada penggunaan istilah murid. Bahkan berbeda dengan NIV, istilah murid tidak muncul samasekali di ayat 20, karena digunakannya kataganti mereka).

    Sayang terjemahan LAI atas Markus 3:14 yang telah dikutip di atas, hanya menyatakan, bahwa “Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil.”

    Sedang terjemahan NIV dengan tegas menyatakan: “designating them apostles,” artinya: mereka ditetapkan sebagai rasul.

    Dengan demikian, penggunaan istilah apostle/rasul mengungkapkan fungsi sebenarnya dari murid-murid yang diutus, karena seorang rasul adalah wakil/duta Kristus. Itulah fungsi rasul. Dalam hal ini, Alkitab mau menarik garis paralel antara Kristus, yang diutus Allah Bapa Surgawi, sebagai Rasul dan Imam Besar (Ibrani 3:1) dan para rasul yang diutus Kristus.

    Konsekuensinya adalah, menolak Kristus berarti menolak Bapa Surgawi, demikian pun menolak para rasul adalah menolak Kristus (Luk. 10:16).

KUALIFIKASI RASUL

    Dokter Lukas menuturkan dalam Kisah Para Rasul, bahwa sebelum peristiwa Pentakosta, di bawah pimpinan Petrus, dan melalui doa serta undian ditetapkanlah Matias untuk mengisi jabatan “kerasulan yang ditinggalkan Yudas.” (Kis.1:25). Dalam pengisian jabatan kerasulan itu, kita jumpai apa yang sekarang dikenal di bidang management dengan istilah: job requirement.

    Kualifikasi yang ditetapkan dalam job requirement kerasulan untuk bisa masuk dalam daftar nominasi, ialah: “seorang yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi tentang kebangkitan-Nya.” (Kis. 1:21-22). Maka Matias pun ditetapkan menjadi rasul.

    Sepanjang penilitian penulis, setelah undian jatuh padanya dan Matias dikukuhkan sebagai rasul (Kis. 1:26), maka nama itu hilang dari peredaran, karena tidak dijumpai lagi di bagian lain dari Alkitab. Ini berbeda dengan Rasul Paulus, yang diangkat menjadi rasul pada peristiwa perjumpaannya dengan Kristus, dalam perjalanan ke Damaskus (Kis. 26:16-18), dan menjadi saksi kebangkitan-Nya (Kis. 1:21-22; 10:41-42), serta diterima oleh para rasul lainnya, seperti Yakobus, Petrus dan Yohanes (Gal. 2:9). Dokter Lukas dalam Kisah Para Rasul, tidak berbicara apa pun tentang masalah kerasulan dalam kaitan Matias dengan Paulus, sehingga kita tidak perlu berandai-andai.

WAHYU KERASULAN

    Sebagai duta/wakil Kristus (2 Kor. 10:8; 13:10), maka mereka menerima wahyu kerasulan, seperti disaksikan dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat Efesus (Ef. 3:3). Wahyu yang diterima itu dan ditulis oleh para rasul, yang kini terdapat dalam 27 kitab kanonik. Kitab-kitab kanonik itulah yang membentuk Alkitab Perjanjian Baru kita. Dan itulah yang sekarang dijadikan dasar iman dan kehidupan Kristiani di dalam persekutuan jemaat-jemaat GKI, sebagai tubuh Kristus (pasal 3 Tata Dasar, sebagai bagian dari Tata Gereja GKI).

    Di dalam pemahaman iman kita itu, yang berperan ialah Roh Kudus, yaitu Roh Kebenaran (Yoh. 14:17), yang diam dalam kita, dan menjadikan kita Bait Allah (1 Kor. 3:16). “Hanya oleh Roh Kuduslah, Tuhan Yesus Kristus menjadi dan diakui sebagai Dasar dan Kepala Gereja. Pada satu pihak, Roh Kudus secara terus menerus membarui gereja dan kehidupan kini dan di sini. Pada pihak lain, Roh Kudus secara terus-menerus mengarahkan gereja untuk hidup dan bertumbuh ke masa depan, yaitu ke arah penggenapan yang sempurna dari karya penyelamatan Allah itu.” (alinea 2f Penjelasan Atas Mukadimah Tata Gereja GKI).

PARA BAPA GEREJA

    Setelah para rasul satu per satu dipanggil Tuhan, maka mereka digantikan oleh generasi penerus, yakni para Bapa Gereja. Dalam Tata Gereja GKI dilampirkan Pengakuan Iman Athanasius. Beliau adalah Uskup Aleksandria, yang menulis Surat Paskah tahun 367 tentang kitab-kitab kanonik, yang membentuk Alkitab Perjanjian Baru.

    Seorang Bapa Gereja lainnya, ialah Uskup Agustinus dari Hipo (Afrika Utara), yang menulis: Tentang Trinitas. Karya monumentalnya, berjudul: Kota Allah. Yang membaptiskan Agustinus, adalah Uskup Ambrosius dari Milano. Uskup Ambrosius inilah yang berhasil membuat Kaisar Theodosius menyatakan penyesalan dan pertobatan dengan berpakaian goni di katedral Milano, karena sang kaisar telah melakukan pembantaian sesamanya di Tesalonika.

    Tiga uskup kenamaan yang mewakili rekan-rekan sepelayanan mereka, tetapi tidak satu pun begitu pandir untuk mengangkat dirinya menjadi rasul agar mengisi kelowongan yang terjadi. Mengapa? Jawabannya sederhana sekali. Karena mereka sadar bahwa mereka samasekali tidak memenuhi kualifikasi Alkitab (Kis. 1:21-22), yang telah dikutip di atas. Jadi ternyata para Bapa Gereja itu sangat rendah hati, dan tidak senekad generasi kita sekarang ini, yang semudah dan semurah itu mengangkat dirinya menjadi rasul.

    Konsekuensi logis pemunculan “rasul-rasul baru” itu ialah, apakah mereka juga akan menerima wahyu kerasulan? Dan apakah nanti dicatat dalam “kitab-kitab kanonik baru” untuk membentuk “Alkitab Baru,” seperti dilakukan oleh Marcion dan Valentinus di abad ke-2 Masehi, yang membentuk Alkitab Gnostik? Proses itu kini dilanjutkan oleh Gerakan Zaman Baru (Peter Jones: Pagans In The Pews, 2001, halaman 85-88.) dengan “Alkitab Baru” untuk “Agama Baru,” yang bersifat sinkretistik dan berskala mondial! Siapa yang berminat menjadi rasul? Tetapi tentunya di luar di GKI!

    Mode penggunaan gelar rasul, yang ramai meriah kini dan di sini, telah diimpor dari Negara Paman Sam, sama seperti kita mengimpor junk food Kentucky Fried Chicken dan sejenisnya. Kata yang empunya cerita, penggunaan gelar rasul itu adalah demi kepentingan keberhasilan pekabaran Injil, dan agar kelihatan berwibawa! Lalu bagaimana kita di GKI?

    Dalam hal ini kita mencari jawaban alkitabiah mengenai cara-cara pekabaran Injil. Kita merujuk kepada sikap bijaksana Rasul Paulus, yang masih tetap relevan hingga saat ini. Dalam suratnya kepada jemaat Filipi, Rasul Paulus mengatakan: “Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimana pun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku tetap bersukacita.” (Fil. 1:18).

    Dengan memakai sikap bijaksana Rasul Paulus itu, maka kita berpendirian bahwa di dalam kegiatan pekabaran Injil, bagaimana pun caranya, dan apa pun motivasinya, itu merupakan tanggungjawab dan urusan yang bersangkutan dengan Tuhan.

    Dengan demikian kita terhindar dari dosa menilai dan menghakimi orang lain, tanpa larut terbawa arus!

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003