|
Tulisan ini merupakan suatu ajakan untuk mengenal kitab
Mazmur, terutama dalam kaitannya dengan penghayatan fungsi
paduan suara dalam kebaktian jemaat. Dalam hal ini dipakai
sebagai rujukan paduan suara Korah dan Asaf dalam kitab
Mazmur, serta dikaitkan dengan liturgi GKI, seperti
dijumpai di jemaat GKI Pondok Indah.
Rujukan kepada kitab Mazmur pada peribadatan umat Israel
menurut Alkitab Perjanjian Lama, dilakukan dalam kaitan
fungsi paduan suara pada tata kebaktian hari minggu jemaat
GKI Pondok Indah. Dengan demikian, kita dapat melihat
benang merah yang terbentang antara masa lampau dan
keadaan kini dan di sini, sehingga dapat kiranya membantu
kita menempatkan persoalan penghayatan paduan suara, yakni
dalam kaitannya dengan peningkatan pelayanan, sebagai
bagian dari upaya Majelis Jemaat untuk meningkatkan peran
jemaat.
MAZMUR DAN PADUAN SUARA
Kitab yang terbesar dalam Alkitab Perjanjian Lama, dengan
frekuensi penggunaan sangat tinggi, ialah Kitab Mazmur.
Syair-syair pujian Kitab Mazmur di dalam peribadatan umat
Israel dinyanyikan dengan iringan alat musik. Alat musik
yang pertama disebut, ialah kecapi, kesukaan raja Daud.
Himpunan keseratus limapuluh nyanyian pujian itu diberikan
nama Ibrani: Sepher Tehellim, artinya Buku Pujian. Kata
Ibrani Tehellim mengingatkan kita pada padanannya dalam
bahasa Arab, yakni Tahlil, nama yang diberikan kepada buku
nyanyian lama kita: “Mazmur dan Tahlil.” Jadi Mazmur dan
Tahlil merupakan pujian kuadrat, karena dalam mazmur sudah
terdapat unsur tahlil.
Tujuhpuluhtiga dari seratus limapuluh buah mazmur dianggap
sebagai ciptaan raja Daud.
Persembahan mazmur memberikan tempat khusus bagi paduan
suara. Dalam hal ini, paduan suara Korah dihubungkan
dengan sebelas, sedang Asaf duabelas buah mazmur. Hal itu
diartikan bukan sebagai hasil ciptaan, tetapi sebagai
daftar repertoir mereka, termasuk juga Heman, yang
tercatat sebagai biduan utama (I Taw. 15:1-19).
Dibandingkan dengan paduan suara Korah, kelompok Asaf
diberi kedudukan khusus, karena Asaf diangkat raja Daud
sebagai kepala ”beberapa orang sebagai pelayan di hadapan
tabut Tuhan untuk memashurkan Tuhan, Allah Israel, dan
menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi-Nya.” (I Taw.
16:4-5).
Nampaknya dalam mempersembahkan suatu mazmur, paduan suara
yang menyanyikannya perlu menghayati dengan cermat suasana
yang diharapkan hadir bersama dengan mazmur yang
dikumandangkan.
Hal ini berkaitan catatan yang diberikan, yang melukiskan
pengaruh suasana, seperti: “rusa di kala fajar” (Maz. 22),
atau “bunga bakung” (Maz. 45 & 80), serta suasana “merpati
di pohon-pohon tarbantin nan jauh [di sana]” (Maz. 56).
Terus terang, mutu sajian seni suara yang begitu rapih
penataannya, mungkin terletak di luar jangkauan imajinasi
penulis. Tetapi suasana yang tercipta itu, diharapkan
dapat mendukung deklamasi syair-syair dalam untaian nada
dan irama. Dengan demikian, berkumandanglah sajian paduan
suara yang indah dan merdu dalam kebaktian umat Israel,
seperti misalnya diwakili oleh Mazmur 103.
Mazmur ini biasa digunakan pada perayaan sakramen
Perjamuan Kudus di GKI PI. Sungguhpun pujian dalam Mazmur
103 intinya bersifat persekutuan seluruh jemaat, namun
dimulai dengan syair-syair yang bersifat pribadi (ayat
1-5). Pujian pribadi Raja Daud, yang dimulai dan diakhiri
di bagian penutup, dengan dorongan pribadi: “Pujilah Tuhan,
hai jiwaku.” (ayat 1 dan 22). Itulah peran paduan suara,
dan kehadiran aspek pribadia, yang diberikan tempat yang
wajar dalam keserasian persekutuan jemaat, sehingga
terciptalah kehangatan suasana beribadah.
LITURGI GKI PI
Tata Kebaktian Hari Minggu GKI PI (berdasarkan keputusan
Sinode) dimulai dengan votum dan salam. Karena kebaktian
jemaat itu merupakan sarana pertemuan antara Bapa Surgawi
dan umatnya, maka pada perjumpaan itu sudah selayaknya
pendeta menyampaikan Salam Bapa Surgawi dalam persekutuan
dengan Tuhan Yesus Kristus (Yoh. 10:30). Sedang kebaktian
diakhiri dengan Pengutusan Jemaat disertai Berkat, yang
menjamin penyertaan Roh Kudus dalam pelaksanaan tugas
pengutusan tersebut (Mat. 28:20).
Interior gedung gereja GKI Pondok Indah (GKI PI)
memperlihatkan, bahwa di sebelah kiri mimbar (bukan altar,
karena di gereja Kristen Protestan tidak ada altar/mezbah),
terdapat tempat duduk majelis. Tempat khusus disediakan di
sebelah kanan mimbar, yakni bagi paduan suara. Tempat yang
khusus itu menandakan peran paduan suara dalam liturgi
kebaktian. Kekhususan itu dipertegas lagi dengan
mencantumkannya pada No. 14 urutan liturgi, yakni peran
pelayanan paduan suara dalam keseluruhan tata kebaktian.
Oleh karena itu, yang pertama-tama perlu kita hayati,
ialah bahwa peran paduan suara dalam melayani pujian dan
ibadah (praise & worship) bersama-sama dalam persekutuan
jemaat, sebagai Tubuh Kristus. Titik sentral pujian dan
ibadah itu, ialah Tuhan, dan Raja Gereja. Ini adalah
kegiatan yang, tanpa kecuali, bersifat Christ-centered,
yang dilakukan dengan penuh kekhidmatan.
Memang harus diakui, bahwa tanpa disadari adakalanya
pengaruh lingkungan turut hadir, sehingga kekhidmatan
kebaktian disusupi unsur show, yang dapat mengarah kepada
pergeseran fokus dan kehadiran suasana entertainment.
Itulah sebabnya mengapa Majelis Jemaat merasa perlu untuk
menghentikan kecendrungan pengunjung kebaktian untuk
memberikan aplaus kepada paduan suara.
Pengaruh lingkungan yang bisa merembes masuk ke dalam
gereja, dapat mempengaruhi pemahaman kita tentang
pelayanan paduan suara, yang bersifat Christ-centered,
dalam suasana praise & worship di lingkungan jemaat GKI
PI.
PERTUNJUKAN
Kita tetap merujuk kepada peribadatan umat Israel yang
mempergunakan mazmur, serta peran paduan suara Korah dan
Asaf, yang turut melayani. Di pihak lain, kita menjumpai
kebaktian hari minggu di GKI PI, yang mempergunakan
liturgi di mana paduan suara berperan, sebagai bentuk
nyata peran jemaat. Peran tersebut ingin ditingkatkan oleh
Majelis Jemaat, yang telah mengundang jemaat untuk
memberikan masukan ke arah pencapaian tujuan yang
dijadikan sasaran.
Yang perlu kiranya kita hayati bersama, bahwa pujian dan
ibadah terjadi dalam suasana kekhidmatan kebaktian. Hal
itu diperlihatkan oleh benang merah, yang membentang dari
zaman paduan suara Korah dan Asaf, hingga paduan suara
kini dan di sini, yakni dalam persekutuan jemaat GKI PI.
Oleh karena itu, show & entertainment, dengan menyuguhkan
lagu-lagu rohani, yang adalah suatu kebutuhan wajar jemaat,
sehingga perlu diberikan saluran oleh Majelis Jemaat.
Pertunjukan ini dapat saja digelarkan di gedung gereja,
yang pernah dilakukan oleh para pemuda kita, bahkan dalam
kerjasama dengan gereja-gereja lain.
Dalam konteks itu, yang menjadi fokus, ialah interaksi
antara paduan suara di atas pentas dan para penggemar
mereka. Oleh karena itu, pagelaran yang ramai meriah nada
dan iramanya itu, sudah selayaknya terjadi di luar dan
bukan merupakan bagian dari suatu kebaktian jemaat GKI PI.
|