|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bible
Talks |
|
30
juli 2003
Pelayanan yang belajar dari Spiritualitas Perjanjian Lama
Pdt. Dr. Robert Setio |
|
|
|
Tulisan ini adalah bahan ceramah dalam seri pembinaan
untuk para anggota Majelis dan aktivis GKI Pondok Indah,
yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Robert Setio dari
Universitas Kristen Duta Wacana di Yogyakarta, 22 Maret
2003. (Red) |
|
Pandangan orang tentang Perjanjian Lama (PL) biasanya
dipenuhi dengan kesan yang tidak terlalu baik. Tidak
jarang orang mengatakan (mengikuti pendapat Marcion,
seorang tokoh gereja di abad ke-2 M) bahwa PL penuh dengan
kekerasan, sementara Perjanjian Baru (PB) justru
sebaliknya, banyak berisi perihal kasih.
Selain itu, ada lagi pendapat bahwa PL dipenuhi dengan
hukum-hukum yang begitu ketat sehingga membuat orang takut
dan tertekan. Bukankah kita (orang Kristen) tidak perlu
lagi tunduk terhadap hukum dan aturan yang macam-macam itu?
Belum lagi aturan-aturan mengenai ibadah dan korban.
Seakan-akan memberikan potret tentang sebuah zaman yang
belum maju, yang masih primitif. Kadang-kadang disebutkan
juga kesan negatif lainnya, bahwa PL tidak melarang
poligami
Tetapi di balik semua kesan tersebut, ada yang seringkali
terlewatkan, yaitu nilai-nilai spiritual yang sangat
berkaitan dengan kehidupan kita.
Keistimewaan PL adalah tidak hanya pada cerita-ceritanya
yang begitu banyak dan panjang-panjang, tetapi juga di
dalam cerita-cerita itu manusia seringkali digambarkan
secara apa adanya.
Tokoh-tokoh besar yang sering kita jadikan panutan,
diceritakan dengan jujur perjalanan hidupnya, sehingga
kitapun dapat melihat tidak hanya kisah-kisah suksesnya
saja, tetapi juga saat-saat yang kurang menggembirakan
dari tokoh-tokoh tersebut. Justru dengan kejujuran
tersebut kita bisa merasakan kedekatan mereka dengan
pengalaman kita sendiri.
Maka jika kita berbicara tentang spiritualitas orang-orang
PL, kita tidak akan mendapati uraian yang muluk-muluk dan
abstrak. Spiritualitas adalah apa yang dilakukan oleh para
tokoh PL itu dalam menanggapi berbagai peristiwa. Agar
kita dapat memahaminya, tidak ada jalan lain selain
mengikuti langkah-langkah yang diambil oleh para tokoh
tersebut.
Meski demikian, pada akhirnya kita dapat memperoleh
refleksi-refleksi dari berbagai pengalaman dan tindakan
para tokoh tersebut. Sebagaimana yang akan kita lakukan
berikut ini dengan melihat pengalaman dan tindakan dua
orang tokoh, yaitu Abraham dan Daniel.
...>> ABRAHAM: Pergi dan menjadi berkat
...>> DANIEL: Menjadi berkat di negeri asing.
...>>
Pelayan yang Belajar
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|