|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Antar
Kita |
|
11 Nopember 2008
Classic Hour di GKI Pondok Indah |
|
|
Pada
tanggal 20 September 2008 Komisi Semawi mengadakan
apresiasi musik klasik di GKI-PI. Acara ini
diharapkan menjadi wadah bagi pecinta musik–kali ini
musik klasik–untuk mempersembahkan sekaligus
menikmati karya para komponis. Para pendukung acara
ini cukup beragam, terdiri dari anak kecil, remaja,
pemuda, dewasa bahkan senior. Karya para komponis
ini dibawakan dengan solo piano, gitar, trio biola-flute-piano,
bahkan vocal. Acara ini juga diisi oleh para bintang
tamu yang kehadirannya diharapkan dapat memberikan
semangat bagi para pemusik GKI-PI.
Acara dibuka dengan nyanyian dari PS Gracia.
Kemudian para pianis pemula membawakan karya F.
Beyer, Burgmuller. Pada bagian karya JS. Bach yang
dibawakan Arga Sitanggang dan Dian Susilaradeya,
sangat terasa nuansa ‘keteraturan’ yang menjadi ciri
khas Bach dari zaman Barok. Begitu juga Andrew
Harahap yang membawakan Eccossaise karya LV.
Beethoven.
Suasana langsung berubah ketika Dhira Saphira, Damar
Susilaradeya dan Mutia membawakan karya F. Chopin
dari zaman Romantik. Atmosfir romantis langsung
terasa melalui melodi yang menjadi tema lagu serta
permainan tempo yang tarik-ulur. Juga kemahiran
tinggi dibutuhkan ketika Mutia membawakan Etude
‘Black Keys’ yang banyak menggunakan tuts hitam
piano. Tidak ketinggalan suasana melankolis juga
terasa melalui karya komponis muda yang dibawakan
Metta Niham melalui Le Salon de Musique. Demikian
juga Karina yang membawakan karya Ravel, seorang
komponis dari zaman modern sangat menonjolkan ciri
Ravel yaitu ‘penggambaran dari suasana bukan tema
melodi. Permainan gitar yang rapi pun dibawakan
Benigna melalui beberapa etude. Juga vocal oleh Ibu
Evelyn Simanjuntak yang sudah berusia 76 tahun masih
terasa indah.
Para bintang tamu juga tampil memukau jemaat yang
hadir. Maya Hasan dengan permainan Harpanya seakan
mengukuhkan pernyataan bahwa Harpa, salah satu alat
mwakan karya modern. The Voices yang tampil dengan
beberapa karya seakan membawa para pendengar berada
di tempat yang sangat indah melalui suara yang
sangat merdu serta harmonisasi yang begitu tepat.
Demikian juga Ade Simbolon, seorang pianis
kebanggaan Indonesia turut mengisi acara in dengan
dua buah lagu yang sangat berbeda (contrasting
mood). Pada lagu pertama karya Chopin sangat
diutamakan melodi, dinamika serta tempo yang lambat.
Begitu lagu kedua dimainkan langsung ada perasaan
bersemangat, serta konsistensi tempo yang harus
dimainkan dengan kemahiran serta stamina yang tinggi,
mengingat lagu ini memakan durasi yang cukup panjang.
Penampilan terakhir dari konser adalah Christine
Lubis, seorang penyanyi sopran yang membawakan dua
buah lagu. Pada lagu pertama sangat terasa kesedihan
yang mendalam, walau kata-kata dari lagu ini
dibawakan dalam bahasa lain, tetapi penggambaran
kesedihan seorang gadis yang menolak dijodohkan oleh
ayahnya sangat terasa dibawakan Christine melalui
karya Puccini ini. Lagu kedua menggambarkan
perjalanan Yesus ke bukit Golgota terasa mencekam
dengan dinamika yang keras serta pembawaan Christine
sebagai penyanyi bidang opera. Lagu ini pun diakhiri
Christine dengan nada yang sangat tinggi.
Demikian acara Classic Hour kali ini. Dengan
menikmati karya para komponis ini kita dapat semakin
merasakan kebesaran Tuhan melalui pikiran dan tangan
para makhluk ciptaan-Nya, dimana musik klasik juga
merupakan awal dari adanya musik gereja. Diharapkan
para pemusik GKI-PI semakin bersemangat untuk
meningkatkan kemahirannya dan jangan lupa untuk
memberikan talentanya melalui pelayanan musik gereja...
Selamat melayani, sampai jumpa pada konser
berikutnya! Tuhan memberkati. (eyh) |
| |
|
|
| |
| |
|
>> Arsip
|
|
|
| |
|
|
|