|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Antar
Kita |
|
1 September 2008
Bulan Budaya GKI Pondok Indah |
|
|
 |
Allah
menciptakan berbagai suku bangsa dan menyatukannya
sebagai bangsa Indonesia. Masing-masing mempunyai
budaya dan adat-istiadatnya sendiri, yang
kadang-kadang tidak kita ketahui. Seringkali karena
ketidaktahuan ini, kita kurang bisa mengerti sesama
kita.
Di bulan Agustus 2008, dalam rangka menyambut Hari
Kemerdekaan Indonesia, suasana kebaktian diterapkan
sesuai dengan berbagai suku bangsa yang ada di
negeri kita, karena Gereja Kristen Indonesia adalah
gereja yang terbuka bagi semua etnik yang ada di
negara kita ini. Kegiatan ibadah dengan format
liturgis GKI yang dibalut dengan nuansa etnik
merupakan simbol keterbukaan GKI bagi semua etnik. |
| |
Minggu Pertama: Nuansa Papua
Identitas Diri yang Baru |
Nuansa Papua, dibuka dengan
penayangan sebuah film tentang Penyebaran Injil di
Papua dan penjelasan dari Bapak Albert, mantan Ketua
Sinode dari Papua. Kemudian disampaikan ucapan
selamat datang dalam bahasa Papua oleh Kel. Musa
Fakdawer, disusul dengan tabuh tifa dan nyanyian
“Yesus Dombe.”
Semarak Papua tidak saja tampak dalam hiasan gereja
yang khas Papua, tetapi juga dalam rumbai-rumbai,
perhiasan dan ikat kepala yang dikenakan oleh semua
orang yang melayani ibadah hari Minggu itu.
Sebelum khotbah, Mannenkoor memersembahkan lagu dari
Biak yang khusus dikirimkan untuk kesempatan ini:
“Ruri Sara Nden”, ciptaan Theo Yembisar dengan
adaptasi not oleh A. Simon.
Khotbah yang disampaikan oleh Pdt. Rudianto
Djajakartika merangkum seluruh pembacaan Alkitab
yang diambil dari Kejadian 32:22-32, Mazmur 17:1-7,
Roma 9:1-5 dan Matius 14:13-21, dan terutama
mengupas kisah pergumulan Yakub sebelum ia bertemu
kembali dengan Esau, setelah belasan tahun berpisah
dengan kakaknya itu.
Pergumulan Yakub, layaknya tontonan TV, “Smack
Down,” yang merupakan suatu pergumulan dan
pergulatan yang sangat seru. Namun kalau “Smack
Down” hanya berlangsung selama beberapa menit,
pergumulan Yakub berlangsung dari petang sampai
fajar. Pergumulan ini diletakkan di dalam konteks
Yakub yang sudah menipu saudaranya, pamannya, dan
melakukan kelemahan-kelemahan manusiawi, tetapi
sekarang harus melakukan rekonsiliasi dengan Esau.
Ia harus mengulurkan tangan, merendahkan diri dan
meminta maaf. Di sisi lain, Esau juga harus menerima
uluran tangan Yakub dan mengatakan bahwa ia
memaafkannya.
Tentu tidak mudah mengulurkan tangan, merendahkan
diri dan meminta maaf. Begitu juga bila kita berada
di posisi Esau yang disakiti dan harus menyambut
uluran tangan itu, memeluk dan memaafkan. Bukankah
kisah ini juga sering muncul di tengah-tengah kita?
Suami dan istri, orang tua dan anak, yang harus
melakukan rekonsiliasi. Suatu bangsa yang bertikai
dan pada akhirnya melakukan rekonsiliasi. Sungguh
tidak mudah untuk mengatakan bahwa kita mau
memaafkan karena kita punya harga diri.
Di ruang pastoral, sering datang pasangan-pasangan
yang mau bercerai. Mereka mengatakan bahwa keputusan
mereka sudah final, tidak mau rujuk lagi. Pada saat
itu, mereka diperhadapkan pada pergumulan untuk
memaafkan atau tidak, maju atau tidak. Suatu
pergumulan yang panjang. Tetapi kita patut bersyukur
bahwa dalam kisah Yakub, Yakub menang. Di dalam ayat
28 dikatakan bahwa Yakub bergumul dengan Allah dan
menang. Sebenarnya menang di sini bukan berarti
bahwa Yakub menang terhadap Allah, tetapi menang
melawan kemanusiawiannya. Pergumulan Yakub ialah
untuk merendahkan dirinya dan datang kepada Esau.
Oleh karena kemenangannya itu, Tuhan memberinya
identitas baru, yaitu Israel, karena Allah
menyertainya dan memampukannya untuk menang.
Bagaimanakah dengan pergumulan kita sehari-hari?
Kita sering mengalami pergumulan yang sulit,
dibanting, diangkat seperti smack down. Ada banyak
pergumulan antara suami dan istri, juga antara
suku-suku bangsa seperti Apartheid di Afrika,
konflik di Aceh, Poso, Ambon dan beberapa daerah
lainnya. Oleh karena itu kita harus mengalahkan ego
kita dan kemanusiawian kita. Dan kalau kita berhasil
mengalahkannya, kita akan mendapat identitas baru.
Bukankah kita sudah mendapat identitas itu? Kita
disebut Kristen, pengikut Yesus yang disalib, yang
punya bela rasa, yang tak memikirkan diri sendiri.
Namun apakah perbedaan Yakub sebagai Israel dan
keturunan Yakub sebagai Israel? Yakub sudah mendapat
identitas baru karena ia sudah bergumul dan menang.
Tetapi keturunannya menerima status Israel sebagai
taken for granted. Karena itulah sering terjadi
kesenjangan antara perilaku dan identitas sebagai
bangsa Israel, sehingga Paulus menangisinya (Roma
9:3). Paulus melihat bahwa ternyata perilaku orang
Israel tidak sama dengan identitas mereka. Oleh
karena itu ia rela terkutuk dan terpisah dari
Kristus demi saudara-saudaranya, kaum sebangsanya
itu.
Keberadaan orang Israel itu, bukankah sama seperti
kita yang Kristen tetapi tidak bergumul? Kita hanya
ikut katekisasi karena disuruh oleh orang tua, hanya
karena kewajiban. Firman Tuhan juga dibaca tanpa
pergumulan dan tanpa upaya untuk melaksanakan ibadah
dengan sungguh-sungguh. Semua hanya sekadar
kebiasaan, dan sampai di rumah, Firman itu
dilupakan. Akibatnya ada orang-orang dengan
identitas baru sebagai Kristen, tetapi perilaku
mereka masih yang lama. Tidak ada kasih dan
pengampunan, tidak ada rekonsiliasi dan bela rasa.
Yang ada hanya ego, pride, kedagingan! Hari ini kita
memasuki Bulan Budaya. Agama Kristen melekat dengan
Papua, tetapi budaya minum-minum juga melekat dengan
Papua. Karena itu kita perlu mendukung gerakan
Pekabaran Injil di sana.
Marilah kita mengikut teladan Yesus yang memberi
makan kepada 5 ribu orang, teladan Paulus yang
berbelarasa, dan teladan Yakub yang bergumul. Tuhan
memberkati kita di dalam pergumulan kita. Setelah
saat hening, Mannenkoor menyanyikan lagu “Mawono
Berokro” (Menggema Bunyi Tifa).
Begitu pula setelah Pengakuan Iman Rasuli dan Doa
Syafaat, Kel. Fakdawer kembali menyanyikan kidung
pujian dalam bahasa Papua untuk mengiringi
persembahan. Ibadah diakhiri dengan menyanyikan
“Satu Pintu Masuklah” dan ucapan berkat. Haleluya!
(ib) |
|
|
| |
Minggu Kedua: Nuansa NTT
Ini Aku, Jangan Takut! |
Minggu kedua Bulan Budaya tahun ini
menampilkan nuansa Nusa Tenggara Timur, khususnya
Pulau Rote, yang menurut penjelasan Bapak Paul Poli
merupakan wilayah paling selatan di Indonesia. Pulau
ini terkenal dengan kekhasan budidaya pohon Lontar
yang juga disebut sebagai pohon kehidupan, musik
Sasando yaitu semacam Harpa dari daun Lontar dengan
45 dawai, dan topi adat Ti’i Langga. Rote terkenal
dengan gulanya. Penduduk biasanya mengolah nira
Lontar menjadi gula dan sopi, yang merupakan
fermentasi nira dan mengandung alkohol tinggi. Agama
Kristen masuk ke Pulau Rote melalui misi Belanda
pada tahun 1725.
Dengan diiringi lagu “Saya Mau Ikut Tuhan” dalam
bahasa Rote, paduan suara wilayah Pondok Indah yang
mengenakan topi Ti’i Langga dari daun lontar serta
selendang dan kain dari tenun ikat, memasuki gereja.
Semua orang yang berperan serta di dalam kebaktian
mengenakan busana dan perlengkapan adat Rote. Hiasan
pernak-pernik khas NTT juga menambah kesemarakan
ibadah. Tahun ini GKI Pondok Indah memang
menampilkan budaya dari beberapa daerah di Indonesia
untuk meningkatkan kepedulian jemaat kepada
saudara-saudara seiman yang tinggal di
wilayah-wilayah tersebut, dan memberikan dukungan
bagi perkembangan mereka.
Setelah votum dan salam berkat, anak-anak kecil dari
kelompok Kiut dengan penuh keceriaan menyanyikan
lagu “Hati yang Gembira Adalah Obat,” disusul oleh
paduan suara yang melantunkan “Lais Manekat” (Saling
Mengasihi).
Dalam khotbahnya yang diambil dari Matius 14:22-33,
yaitu kisah tentang murid-murid Yesus yang ketakutan
karena perahu mereka diombang-ambingkan oleh angin
sakal lalu Yesus datang menghampiri mereka dan
berkata, “Ini Aku, jangan takut,” Pdt. Agus Susanto
mengemukakan bahwa kata-kata “jangan takut” sudah
sering kita dengar dan sering pula diucapkan oleh
orang lain. Tetapi siapakah yang dapat membebaskan
diri dari perasaan takut dan mengatakan, “Saya tak
takut lagi?” Perasaan takut tidak saja dialami oleh
orang-orang kecil dan miskin yang tak tahu apa yang
akan dimakan besok, namun juga oleh orang-orang yang
berkelimpahan harta. Para pensiunan tidak
menguatirkan pemanasan global, namun takut apakah
ada dana cukup untuk menghadapi hari tua mereka.
Orang tua takut apakah ia mampu memersiapkan
anak-anaknya dengan baik. Bahkan para koruptor pun
kini takut menghadapi KPK.
Bagaimanakah kita mengatasi rasa takut? Ketakutan
yang paling mendasar di dalam hidup manusia bukanlah
tentang masalah-masalah yang praktis, tetapi
mengenai ketidakpastian hidup. Apabila orang merasa
pasti, ia akan exist, karena ia tahu bahwa ada
pendamping yang menopangnya di dalam menghadapi
kehidupan ini, seperti yang dikatakan oleh pemazmur
di dalam Mazmur 23, “Sekalipun aku berjalan dalam
lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab
Engkau besertaku.”
Di dalam kisah Injil Matius ini, para murid
menghadapi situasi yang tidak dapat mereka atasi.
Sebenarnya mereka adalah nelayan-nelayan yang
berpengalaman dan mengetahui kesulitan-kesulitan
yang menghadang mereka di laut. Tetapi ketika
situasi itu menjadi kritis dan tak ada kepastian
bahwa mereka dapat menyelamatkan diri, mereka
menjadi takut. Rasa takut, pesimis, tak bisa
berpikir secara nalar dan akal sehat ini bahkan
membuat mereka menyangka bahwa Yesus adalah hantu,
padahal sebenarnya mereka sudah sangat kenal dengan
sosok Yesus dan tak mungkin salah lihat.
Yang menarik ialah bahwa Yesus menawarkan diri
dengan hanya mengatakan, “Ini Aku, jangan takut.”
Dengan kata lain, Yesus mengatakan, “Inilah Aku yang
siap dan selalu bersamamu. Aku selalu menopang dan
mencintaimu.” Ketidakpastian para murid dijawab
Yesus dengan menampakkan diri dan memberikan jawaban
yang pasti. Ia tahu bahwa ketakutan hanya dapat
diatasi dengan semangat cinta, sehingga orang akan
merasa aman. Sama seperti seorang anak yang
meronta-ronta dan menangis, tetapi kemudian didekap
oleh ibunya dan akhirnya merasa tenang.
Di dalam kehidupan ini, kita menghadapi berbagai
ancaman. NTT merupakan daerah yang terancam
kemiskinan. Tetapi di dalam ketidakpastian akan masa
depan ini, Yesus mengatakan, “Ini Aku, jangan
takut.” Inilah semangat cinta yang kita perlukan,
sebab orang yang memiliki semangat cinta tidak akan
merasa putus asa.
Petrus menanggapi undangan Yesus dengan tindakan
iman. Ia melangkah dan berani berjalan di atas air.
Selama ia memusatkan pandangannya kepada Yesus, ia
bisa melakukannya, tetapi ketika ia melepaskan
perhatian daripada-Nya, ia mulai tenggelam. Akhirnya
ia berseru, “Tuhan, tolonglah aku yang tak percaya.”
Pada saat Petrus tidak bisa, Tuhan mengulurkan
tangan-Nya sehingga Petrus merasakan kasih Yesus
yang mencintainya. Tetapi iman Petrus tidak
selamanya kuat melainkan terus diproses. Kita
ketahui bahwa di dalam perjalanan hidupnya, ia masih
menyangkali Yesus, sampai pada akhirnya ia
benar-benar diteguhkan dan membuka diri bagi-Nya.
Semangat cinta itu juga kita jumpai di dalam diri
Yusuf (Kej. 37:1-4, 12-28) yang mengalami perjalanan
hidup yang berliku-liku. Semula ia merasakan suasana
cinta kasih orang tuanya, tetapi ketika ia dijual,
ia menghadapi realita baru, yaitu hidup yang sangat
menderita dan penuh kesulitan. Meskipun demikian, ia
tetap exist karena ia memiliki kekuatan cinta itu.
Ketika akhirnya ia menjadi mangkubumi dan
saudara-saudaranya yang dulu menjualnya meminta maaf
kepadanya, Yusuf mengatakan, “Memang kamu telah
mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah
telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.” Itulah
kekuatan cinta yang mengalahkan ketakutan. Itulah
spirit cinta yang tumbuh di hati kita dan menjadi
berkat, karena kita merasakan cinta Tuhan. Cinta itu
mau mengampuni orang yang bersalah terhadap kita.
Alangkah damainya negeri kita apabila spirit cinta
itu ada di dalam hati setiap orang. Namun untuk
mengalami perubahan itu, kita harus memulainya dari
diri kita sendiri. Apakah semangat cinta itu ada di
dalam diri kita? Marilah dengan semangat cinta kita
mewarnai orang-orang di sekeliling kita.
Paduan suara kemudian menyambut khotbah dengan
menyanyikan “Hoi Ale’ To Tafa” (Hai Umat Tuhan).
Setelah kebaktian diadakan bazaar di plasa gereja
dengan iringan lagu-lagu khas NTT yang riang
gembira. (ib) |
|
|
| |
Minggu Ketiga: Nuansa Merah-Putih
Rekonsiliasi dan Hidup Rukun |
Dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan,
jemaat GKI Pondok Indah dan pos-pos pelayanannya di
Desa Kemang dan Telaga Kahuripan bersama-sama
memeringati Hari Kemerdekaan negeri kita ke-63 yang
tahun ini jatuh pada hari Minggu, 17 Agustus.
Bendera-bendera merah-putih yang melatari mimbar dan
menghiasi sepanjang tepi balkon, rangkaian bunga
putih di mimbar dan tonggak-tonggak ramping di
sisi-sisi lorong gereja dengan bunga-bunga yang
menyembul di atasnya, membawa jemaat pada suasana
gembira. Para ibu dari Kolintang Gloria dan Hosiana
dengan cekatan mengiringi seluruh lagu yang
dinyanyikan jemaat di dalam ibadah ini.
Sebelum kebaktian dimulai diadakan upacara
penyerahan akte kelahiran anak oleh Majelis GKI
Pondok Indah yang diwakili oleh Bapak Zilvanus
sebagai Ketua Majelis, kepada keluarga Hong Sin
sebagai wakil dari Desa Kemang. Akte lahir bagi 40
anak dan 5 orang dewasa keturunan Tionghoa di Desa
Kemang ini merupakan wujud nyata kepedulian jemaat
gereja kita, yang bekerja sama dengan LADI telah
mengurus akte-akte tersebut sampai selesai.
Tiga pemuda pembawa bendera mendahului iring-iringan
Majelis dan Pendeta memasuki ruang gereja. Sebuah
sajak tentang kemerdekaan dibacakan sementara ketiga
pemuda itu menancapkan bendera yang mereka bawa.
Setelah Pdt. Riani Josaphine mengucapkan votum dan
salam berkat, jemaat dengan serempak menyanyikan
lagu “Indonesia Raya” diikuti dengan lagu “Dirgahayu
Indonesiaku” yang dilantunkan dengan penuh semangat
oleh anggota-anggota senior kita dari P.S. Effata.
Di dalam khotbahnya, Pdt. Riani mengungkapkan bahwa
di dalam Thesaurus, rekonsiliasi berarti perdamaian.
Sejak 1 Januari 2000, Perserikatan Bangsa-Bangsa
telah mendorong masyarakat internasional untuk
mengusahakan perdamaian dunia dengan menetapkan Hari
Perdamaian dan Anti Kekerasan Bagi Anak-Anak
Sedunia. Namun sementara dunia menggerakkan
perdamaian, mengapakah di dalam kisah Matius
15:10-20 Yesus justru memulai pertengkaran?
Mengapakah Ia mengucapkan kata-kata yang begitu
menantang dan keras kepada orang-orang Farisi dan
ahli-ahli Taurat? Kalau orang-orang Farisi dianggap
tidak tahu Taurat, tentu hal ini akan memicu
pertengkaran dengan mereka.
Banyak orang mengira bahwa rekonsiliasi berarti
diam. Padahal, apabila sebuah keluarga terlihat
rukun dan hidup bersama, belum tentu keluarga itu
hidup damai, sebab apa yang kelihatan pada permukaan
yang tenang dapat menyimpan ranjau. Orang juga
menyangka bahwa damai itu harus tutup mulut dan
mengikuti cara-cara lama. Seperti orang-orang Farisi
yang mengikuti cara-cara lama yang sesungguhnya
merupakan peraturan-peraturan atas tafsiran terhadap
10 hukum Taurat. Misalnya hukum tentang kekudusan,
mereka menganggap seseorang kudus bila ia menyuci
tangannya. Peraturan-peraturan inilah yang ditentang
oleh Yesus.
Padahal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
rekonsiliasi berarti perbuatan mengembalikan ke
keadaan semula. Yesus melakukan tiga langkah untuk
memulihkan peraturan di dalam Taurat:
- Mengingat sambil mengonfrontir atau membuka
kesalahan. Di dalam Injil, Yesus membuka
kesalahan-kesalahan orang-orang Farisi dan ahli-ahli
Taurat. Ada kisah tentang seorang pemuda yang
berniat menguburkan masa lalunya karena ketika masih
kecil, ia mengalami pelecehan yang sangat melukai
hatinya. Namun sebenarnya yang harus dilakukannya
ialah mengingat peristiwa pahit itu, karena dengan
mengingatnya, proses pemulihan dimulai. Begitupun
dengan Yusuf (Kej. 45:1-15) yang berusaha mengingat
dan membuka kesalahan kakak-kakaknya. Mengingat
tidak sama dengan menyalahkan, tetapi mengingat itu
perlu untuk memulai proses perdamaian. Oleh karena
itu, agar hati kita damai, luka-luka lama yang kita
alami di dalam berbangsa dan bernegara juga harus
dibuka untuk memulai proses rekonsiliasi, sehingga
kita dapat merasa bangga dengan identitas kita
sebagai suatu bangsa.
-
Mengampuni. Yesus tidak berbicara kepada
orang-orang Farisi, tetapi kepada murid-murid-Nya.
Hal ini dilakukan-Nya untuk menetralisir hati mereka
yang sakit karena teguran orang-orang Farisi dan
ahli-ahli Taurat itu. Di dalam bahasa sehari-hari
kira-kira dapat diterjemahkan demikian, Yesus
berkata, “Jangan ambil hati pada perkataan mereka,
jangan ambil pusing. Mereka tidak mengerti makna
Taurat seperti kita.” Yesus tidak memerkeruh
suasana. Yusuf pun demikian. Ia memeluk dan
mengampuni saudara-saudaranya. Ada legenda abad
pertengahan tentang seorang uskup yang bertemu
dengan seorang zuster yang konon dapat melihat
Yesus. Si uskup lalu berpesan kepada zuster itu
untuk menanyakan kepada Yesus, dosa terbesar apakah
yang dilakukannya sebelum ia menjadi uskup. Ternyata
Yesus menjawab, “Saya tidak ingat lagi.” Yesus bukan
pelupa, tetapi pengampun. Kitapun diajarkan hal yang
sama. Jika kita mengalami hal-hal buruk di dalam
sejarah bangsa kita, kita harus dapat mengampuni
agar kita dapat kembali merasa bangga pada bangsa
kita.
- Memerbaharui. Yesus mengatakan bahwa apa yang
tidak kudus bukanlah yang masuk ke dalam mulut,
tetapi yang keluar dari hati manusia. Kita perlu
mempunyai hati yang bersih dan pikiran yang baik.
Hati yang bersih itu bersyukur, tidak mengeluh,
jujur dan tidak bersumpah palsu. Memerbaiki juga
berarti memulihkan relasi seperti yang telah
dilakukan oleh Yusuf. Di dalam kehidupan berbangsa,
kita dipanggil untuk memerbaharui citra bangsa
dengan pembaharuan karakter, dengan semangat yang
mau berdamai dan hidup di dalam cinta kasih. Hati
manusia diibaratkan sebagai salep maafin. Kalau kita
membuka dan mengeluarkan isinya berupa senyum
perdamaian, hal itu seperti embun Gunung Hermon yang
turun ke atas gunung-gunung Sion (Maz 133). Mungkin
kita masih menyimpan dendam sebagai korban kebodohan
massa, karena itu kita perlu membereskan diri kita
dan membiarkan kekuatan Ilahi mengampuni dan
memerbaiki hidup bersama Tuhan, Sang Pengampun.
Maukah kita?
Paduan Suara Pos Pelayanan Kahuripan kemudian
menyambut khotbah dengan menyanyikan “It Is Well
With My Soul.” Setelah rangkaian ibadah usai,
diselenggarakan bazaar di pelataran gereja yang
ramai dikunjungi oleh jemaat. (ib) |
|
|
| |
Minggu Keempat: Nuansa Toraja
Diselamatkan untuk Menjadi Pembebas |
Jemaat
GKI Pondok Indah yang datang ke kebaktian Minggu
tanggal 24 Agustus disambut dengan keindahan balutan
kain-kain tenun ikat Toraja di pilar-pilar gereja
dan di meja altar, replika mini bagian depan rumah
Toraja (Tongkonan) di belakang mimbar dan
hiasan-hiasan kerucut berumbai-rumbai di beberapa
tempat.
Agama Kristen diperkenalkan pertama kali di Toraja
oleh utusan Zending dari Nederland, Antonie Aris van
de Loosdrecht, pada tahun 1913. Meskipun ia kemudian
mati syahid pada tahun 1917 akibat ditombak oleh
penduduk setempat, namun Pekabaran Injil terus
meluas di seluruh wilayah Tana Toraja, terutama di
Makale dan Rantepao.
Setelah ucapan “Selamat Datang” disampaikan oleh
sepasang warga Toraja, paduan suara wanita Gracia
dengan busana merah, coklat, hijau, biru dan ungu
memasuki gereja. Jemaat kemudian menjawab ajakan
penatua dengan menyanyikan “O Puang, Tontong Bang
Kupudi SangamMi” (Ya Tuhan, Kami Puji Nama-Mu Besar),
sementara pendeta dan penatua-penatua lainnya
memasuki ruang kebaktian dengan didahului oleh
beberapa pasang pemuda-pemudi berbusana Toraja.
“Puang Manna Unnampui Kasendean Sae Lako “(Kami Puji
Dengan Riang) menyambut ayat pembuka, dan setelah
jemaat saling memberikan salam damai, Bapak Agus
Tangyong membacakan Firman Tuhan dalam bahasa Toraja
dari Amsal 2:6-9. Paduan Suara Gracia menyanyikan
lagu “O Puang Pentiongananku” (Ya Tuhan, Kau
Perlindunganku) sebelum pelayanan khotbah yang
disampaikan oleh Pdt. Cipto Martalu Sapangi dari GKI
Kali Pasir Bandung, dalam rangka pertukaran mimbar
untuk memeringati Hari Ulang Tahun GKI yang ke-20.
Dalam khotbahnya, Pdt. Cipto terlebih dahulu
menanyakan kepada jemaat, siapa tokoh pejuang hak
asasi manusia (HAM) Indonesia yang telah
mengharumkan nama bangsa dengan keteladanan sampai
akhir hayatnya. Ternyata dia adalah Yap Thiam Hien,
pengacara yang telah membuktikan integritasnya
sebagai penegak hukum, keadilan dan HAM di negeri
kita. Setelah pendidikannya di negeri Belanda, Yap
aktif di dalam organisasi kepemudaan bahkan pernah
menjadi penatua di GKI Samanhudi. Ia sering membela
orang yang lemah, orang yang didiskriminasikan dan
diperlakukan tidak adil, orang miskin. Pada saat
peristiwa G-30-S PKI, ia membela Soebandrio sehingga
Soebandrio dipulihkan harga dirinya. Ia juga
berjuang bagi pembebasan tahanan politik di Pulau
Buru. Perjuangannya sering dikritik, ia dicap
pemfitnah oleh aparat negara dan bahkan pernah
dipenjarakan. Namun Yap pantang menyerah. Ia adalah
pembebas sejati bagi orang-orang yang terpinggirkan.
Begitu juga Romo Mangun yang mengangkat harkat dan
martabat masyarakat pinggiran Kali Code di
Jogjakarta.
Namun Yesus adalah pembebas yang terbesar. Berbeda
dengan murid-murid lainnya yang menganggap Yesus
hanya seorang nabi, Simon Petrus dengan yakin
mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah
yang hidup (Mat. 16:13-20). “Mesias” berarti, Orang
yang diurapi, Raja besar yang menyelamatkan manusia
dari dosa dan maut. “Anak Allah yang hidup”
mencerminkan hubungan yang harmonis antara Yesus
dengan Allah Bapa. Karena keyakinannya ini, Simon
Petrus dipanggil untuk menjadi rekan sekerja Allah.
Suatu hari Bunda Teresa tergerak hatinya untuk
membantu sebuah keluarga miskin dengan 8 anak. Ia
membawa nasi dan lauk-pauk kepada mereka, tetapi ia
sungguh heran ketika si ibu tidak segera memberikan
makanan itu kepada anak-anaknya yang sudah lapar,
tetapi membagi dua makanan tersebut, lalu membawa
separuhnya keluar rumah. Ternyata si ibu
memberikannya kepada tetangganya, seorang nenek yang
tinggal seorang diri. Ibu itu, di dalam
kemiskinannya, tetap menolong orang lain. Sikapnya
itu menunjukkan bahwa ia adalah rekan sekerja Allah.
Ia melakukan tindakan nyata untuk membebaskan
sesamanya yang kelaparan.
Paulus prihatin terhadap keberadaan jemaat Kristen
di Roma (Roma 12:1-8) yang kaya tetapi cenderung
tidak menunjukkan kekudusan mereka. Oleh karena itu
Paulus mengajak mereka untuk berubah dan saling
mengasihi.
Di dalam Keluaran 2:1-10 dikisahkan tentang putri
Firaun yang tidak percaya kepada Allah namun dapat
dipakai Allah untuk menyelamatkan orang percaya.
Tuhan tidak tinggal diam ketika terjadi bencana
pembunuhan bayi-bayi laki-laki bangsa Yahudi. Ia
menyelamatkan Musa melalui tangan putri Firaun. Jika
Tuhan menghendaki, keselamatan dapat diberikan
kepada setiap orang.
Jemaat diajak Pdt. Cipto untuk bermain, yaitu dengan
melipat tangan di depan dada dan meletakkan
masing-masing tangan di bawah ketiak. Setelah itu
lipatan dibalik. Jika sebelumnya tangan kanan di
atas, sekarang tangan kirilah yang di atas. Ternyata
jemaat merasa tidak nyaman ketika posisi diubah. Ini
menandakan bahwa tidak mudah bagi seseorang untuk
mengubah kebiasaan.
Begitu juga permainan lain, yaitu jemaat diminta
untuk menganggukkan kepala jika berkata “tidak” dan
menggelengkan kepala jika berkata “ya.” Ketika
beberapa pertanyaan diajukan oleh Pdt. Cipto, jemaat
harus benar-benar berkonsentrasi agar tidak salah
menjawab. Memang manusia pada umumnya sulit mengubah
kebiasaan, terutama kebiasaan jelek, karena manusia
lebih cepat menangkap yang jelek daripada yang baik.
Bagaimana kita bisa menjadi pembebas dan rekan
sekerja Allah kalau kita tidak dapat membuang
kebiasaan-kebiasaan jelek kita? Kebiasaan terlambat
datang ke kebaktian, mengobrol dalam ibadah, tidak
menyiapkan persembahan, gosip, dsb.?
Kita perlu meneruskan semangat keteladanan Yesus
yang merendahkan diri dan mengosongkan diri demi
menyelamatkan manusia. GKI dalam perkembangannya
telah sangat diberkati Tuhan, namun janganlah itu
menyebabkan kita berbangga hati. Kita harus menjadi
perpanjangan tangan Allah bagi orang-orang yang
terpasung kebebasannya, yang dilecehkan moralnya,
yang diambil hak hidupnya. Kita harus membangun
solidaritas sosial. Sudahkah kita mengenal
anggota-anggota jemaat yang diduk di sekitar kita,
keluarganya, kegiatannya? Ataukah kita hanya
membangun kemegahan diri sendiri, menonjolkan
individualisme dan masa bodoh kepada orang-orang
yang terpuruk?
Orang-orang membutuhkan bantuan kita sebagi pembebas,
sebagai rekan sekerja Allah yang menolong sesama
kita dan mau menyuarakan kebenaran di tengah-tengah
segala kepalsuan.
Paduan suara Gracia menyambut khotbah dengan
menyanyikan “Pabantangmi Mamaseku” (Kuatkanlah Aku,
Tuhan). Setelah kebaktian, jemaat diajak menikmati
hasil karya budaya Toraja di pelataran gereja. (ib) |
|
|
| |
| |
|
>> Arsip
|
|
|
| |
|
|
|