|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Antar
Kita |
|
4 Juni 2008
Jembatan Kemang |
|
|
Di antara semua penemuan yang
membantu umat manusia untuk hidup lebih baik,
jembatan merupakan salah satu prioritas dari semua
peradaban. Bangunan yang sederhana dalam konstruksi
ini mempunyai fungsi yang lebih banyak dibandingkan
dengan alat transportasi lainnya. Jembatan tidak
hanya menghubungkan satu daerah dengan daerah
lainnya, tetapi juga membantu membuka jalan baru dan
kesempatan baru bagi penduduk untuk mendapatkan
perkembangan yang positif.
Hari Minggu 30 Maret yang lalu, Pemuda GKI PI dan
GKI Martadinata tidak membangun jembatan untuk
membuka jalur perdagangan atau menambah jumlah
pemukiman di sana, tetapi untuk membantu jemaat
beribadah tanpa halangan. Jembatan yang sedang
dibangun ini menghubungkan pos Tonjong dan desa
Kemang Raya. Dengan jarak 800 meter, jembatan ini
akan memudahkan masyarakat desa Kemang melintasi
tanah kosong yang langsung keluar menuju ke jalan
raya, sehingga akses kegiatan ibadah mereka lebih
mudah dijangkau dan dilalui oleh kendaraan bermotor.
GKI Martadinata yang diwakili oleh Sdr. Lim Hendra,
Sdri. Lena dan anggota-anggota pemuda lainnya,
tampak berseri-seri menyambut kedatangan kami
walaupun kami terlambat hampir satu jam lamanya.
Bapak RT Tanjong hadir dalam acara tersebut, dan
beliau menyatakan terima kasih kepada kami semua
karena membantu memajukan daerah ini setahap lagi.
Setelah meminta maaf karena membuat mereka menunggu,
Davidon memimpin semua anak dalam pujian dengan
gitar. Suasana menjadi lebih hangat dan bersahabat.
Setelah menutup dengan doa kami semua bersalaman
satu sama lain.
Cuaca hari itu agak mendung, kami semua berdoa
supaya tidak hujan selama melakukan pekerjaan kami.
Pak RT pun tak ketinggalan membantu dengan pacul (cangkul)
di tangannya. Tugas kami ialah memacul (mencangkul)
tanah dan memasukkannya ke dalam karung-karung goni
yang sudah tersedia. Setelah semua karung terisi,
penduduk akan memindahkan karung-karung tersebut ke
bawah lembah di mana terdapat jembatan yang sedang
dibangun itu. Jadi kalau dilihat dari skala besarnya,
kami hanya membantu sedikit dari yang telah mereka
kerjakan. Jembatan itu hampir selesai, dan
tanah-tanah itu dibutuhkan untuk dijadikan tangga
agar jarak jalan dan akhir jembatan tidak terlalu
tinggi.
Bersenjatakan 4 pacul, sekop dan karung-karung goni,
kami memulai misi kami. Stephanie, Hizkia, Nadine,
Andre, Sheryl dari GKI Martadinata dan
teman-temannya membantu membuka karung, sedangkan
Surya, Davidon, Yosafat dan Sandi mulai memacul.
Sementara Wanti, Karina, Debbie, Prita dan Amanda
mulai mengikat karung-karung yang sudah penuh.
Pacul-pacul yang kami pakai hanya dua yang
benar-benar kokoh, selebihnya rusak sewaktu
digunakan.
Kira-kira dua jam lamanya kita bekerja, diselingi
hujan rintik-rintik dan matahari terik, namun juga
angin sepoi-sepoi. Ketika semua karung sudah terisi,
kami kembali ke gereja. Di tengah perjalanan kami
melihat jembatan yang sudah hampir selesai itu dan
memutuskan untuk mencobanya. Jembatan ini merupakan
pengganti jembatan yang telah rusak karena usia, dan
sebentar lagi dapat menjadi sarana penyeberangan
yang berguna, khususnya bagi masyarakat di
sekitarnya.
Sesampai di gereja, kami disambut dengan sirup
dingin yang menyegarkan. Menurut laporan,
pembangunan jembatan yang diprakarsai oleh GKI
Martadinata ini disubsidi oleh Pemda sebesar 30 juta
rupiah dan sisa biaya sebesar 15 juta rupiah
merupakan swadaya mayarakat dan gereja.
Tujuan lain dari pembangunan jembatan ini ialah
untuk mengubah persepsi orang tentang Desa Kemang
yang saat ini dikenal sebagai tempat para penjaja
seks. Seringkali kaum wanita GKI Martadinata, dalam
perjalanan
menuju atau pulang dari gereja, merasa
tidak nyaman karena sedang diawasi atau diduga
sebagai WTS.
Apabila jalan pintas dan jembatan telah berfungsi
100%, diharapkan jemaat dapat melakukan kegiatan
gereja dengan tenang, masyarakat di daerah itu
semakin maju, dan kegiatan pelacuran di tepi jalan
desa itu dengan sendirinya akan lenyap.
Kami hanya berkunjung sekitar 4 jam lamanya, tetapi
pelajaran yang kami dapatkan lebih daripada waktu
dan bantuan yang kami berikan di dalam kegiatan
tersebut. Akhirnya dari GKI-PI kami berdoa, kiranya
Tuhan memberkati usaha dan jerih payah
sahabat-sahabat kami di sana. (Nadine Mustikarini) |
| |
|
>> Arsip
|
|
|
| |
|
|
|