Antar Kita
28 September 2007
Bulan Seni; Untuk Wujudkan KeIndonesiaan GKI
Dalam bulan Agustus 2007 ini berlangsung Bulan Seni di GKI Pondok Indah. Bulan Seni adalah kegiatan ibadah Minggu dengan format liturgi GKI, namun di dalamnya dimasukkan unsur seni budaya dari salah satu etnis yang mewakili banyak etnis yang menjadi anggota GKI Pondok Indah.
 
Nuansa Manado
Diawali dengan ibadah Minggu tgl 5 Agustus yang diisi dengan ibadah bernuansa Etnis Manado dengan tema “Kenikmatan Hidup Baru di Dalam Kristus” yang dipimpin oleh Pdt. Ny. Anna Nenoharan dari PGI. Dalam ibadah ini para petugas mengenakan pakaian adat yang sesuai, sementara dekorasi gereja mengambil suasana pantai dengan dihadirkannya sebatang pohon nyiur di belakang mimbar.

Kebaktian juga diiringi grup musik kolintang dengan pemadah yang melantunkan lagu-lagu rohani dalam bahasa Manado serta tarian syukur Maengket.

Di plaza gereja, seusai kebaktian kedua, juga digelar sebuah bazaar makanan serta pagelaran tarian poco-poco dengan iringan musik tradisional dan berbagai macam pernak-pernik khas Sulawesi Utara.
 
           
 
Nuansa Jawa
Minggu ke-2 tgl 12 Agustus ibadah berlangsung dalam suasana Jawa dengan tema “Siap Sedia Dalam Karya Keselamatan” dan dipimpin oleh Pdt. Purboyo W. Susilaradeya yang pada hari itu mengenakan busana Jawa beskap lengkap dengan kerisnya. Ketika dalam prosesi untuk memasuki gereja, Majelis dan Pendeta diiring pula dengan tarian Gambyong yang dibawakan oleh anak-anak remaja.

“Wah, Pak Purboyo kayak Panembahan Senopati,” komentar seorang anggota jemaat.

Namun sayang, para petugasnya amburadul, meskipun ada yang mengenakan busana Jawa seperti mengenakan surjan lengkap dengan kain dan udengnya, ada pula yang mengenakan pakaian biasa berkemeja batik, tapi mengenakan udeng (penutup kepala). Hal ini jelas tidak pas. Sementara para ibu agak lumayan, karena banyak yang mengenakan kain lengkap dengan kebayanya.

Sementara itu, seusai kebaktian kedua, di plaza gereja digelar pula bazaar anneka makanan dan masakan khas Jawa, seperti gudeg dll. Panitia juga menyediakan snack tradisional berupa tiwul, cenil, bengawan solo dan ketan hitam untuk anggota jemaat dan simpatisan serta para tamu lainnya.

Pagelaran di plaza gereja tersebut juga dimeriahkan dengan musik kentrung yang dibawakan oleh grup musik Kairos.
 
           
 
Nuansa Oriental
Sejak mulai hari Sabtu petang, suasana lingkungan gereja sudah menyerupai kawasan Pecinan, karena sejak itu persiapan untuk kebaktian hari Minggu, 19 Agustus, yang akan berlangsung dalam nuansa Oriental sudah hampir rampung. Pada Minggu ke-3 bulan Agustus dalam rangkaian Bulan Seni memang dihadirkan suasana Oriental. Para petugas mengenakan pakaian bernuansa China, bahkan Pdt. Tumpal Tobing yang memimpin ibadah dengan tema “Mataku Memandang Yesus, Tanganku Bekerja BagiNya,” juga mengenakan topi lengkap dengan kucirnya.

Dalam liturgi juga disisipkan narasi dengan bahasa Mandarin, demikian pula paduan suara juga melantunkan pujian-pujian dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Mandarin.

Seusai kebaktian ke-2, suasana di plaza gereja lebih meriah lagi karena adanya bazaar makanan dan juga penjualan lukisan bernuansa China serta grup musik yang melantunkan berbagai lagu rohani, yang semuanya bernuansa China/Oriental.
 
           
 
Nuansa Batak
Kebaktian Minggu ke-4 tgl 26 Agustus dipimpin oleh Pdt. Sutrisno dari GKI Krian, Jawa Timur. Kebaktian Minggu ke-4 ini berlangsung dalam nuansa Batak, sementara temanya adalah “Setia Dalam Panggilan.”

Kebaktian ini diawali dengan suatu prosesi tarian Tortor untuk menghantar Pendeta dan Majelis pada saat memasuki gedung gereja dengan iringan musik tradisional Tapanuli ‘uninguningan.’

Pada saat ibadah berlangsung, pemadah melantunkan lagu-lagu rohani dalam bahasa Batak. Seusai kebaktian ke-2, di plaza gereja para anggota jemaat berkesempatan untuk menikmati makanan tradisional Tapanuli bernama Pohulpohul Lapet sambil menyaksikan acara manortor.
 
           
 
Bersejarah
Secara keseluruhan acara Bulan Seni GKI Pondok Indah berjalan dengan baik dan lancar, dan melalui Bulan Seni ini kita juga ingin menunjukkan keindonesiaan GKI Pondok Indah.

Menurut Pdt. Rudianto Dj., penyelenggaraan Bulan Seni ini pada bulan Agustus bukannya tanpa makna, karena bulan Agustus adalah bulan yang bersejarah dalam perjalanan GKI. Di bulan Agustus, tepatnya tgl 8 Agustus 1945, jadi hanya beberapa hari sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI, lahirlah GKI Jawa Tengah yang menjadi akar dari GKI Pondok Indah.

Dalam suasana menjelang lahirnya Republik Indonesia, secara sengaja GKI Jawa Tengah memilih identitas Indonesia. Setelah GKI Jateng bergabung dengan Sinode GKI yang lain menjadi Gereja Kristen Indonesia, maka sinode GKI ternyata juga lahir pada bulan Agustus, tepatnya tgl 26 Agustus 1988. Selain itu, bulan Agustus juga merupakan hari lahirnya negara Indonesia tercinta ini, yaitu 17 Agustus, 1945.

“Karena itu, tepatlah di bulan yang bersejarah ini, Bulan Seni GKI PI diselenggarakan. Melalui Bulan Seni ini diharapkan identitas ke-GKI-an dan keindonesian semakin dipertegas, yaitu identitas GKI dan Indonesia yang plural tetapi bersatu dalam harmoni GKI dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Pdt. Rudianto menegaskan. (Skt)
 
>> Arsip
 

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003