|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Antar
Kita |
|
20 Agustus 2007
Kombas 5 GKI-PI Wilayah Bintaro, Tabur Kasih ke Yogya |
|
|
|
Ketahuilah pada waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun pada salah seorang saudaraKu yang terhina, berarti kalian melakukannya kepadaKu! (Mat.25:40 BIS) |
Gempa
bumi dahsyat tanggal 27 Mei 2006 tahun lalu telah
menimpa saudara-saudara kita di sekitar Yogya dan yang
terparah di Kabupaten Bantul yang diporak porandakan
gempa bumi berkekuatan 5.9 skalarichter hanya dalam
hitungan detik meratakan ribuan bangunan rumah dan
tempat-tempat ibadah termasuk bangunan gereja. Sebagai
dampak dari peristiwa tersebut hingga kini terdapat
ribuan yang menderita stress dan depresi dan lebih
tragis lagi ada puluhan warga mengakhiri hidupnya
dengan bunuh diri karena tidak tahan menghadapi
penderitaan yang berkepanjangan di mana janji-janji
pemerintah menanggulangi bencana ini belum juga
teratasi hingga kini.
Sebagai bentuk kepedulian akan penderitaan yang
dialami saudara-saudara di Yogya ini, maka 5 Kombas
GKI Pondok Indah di Wilayah Bintaro dalam Bulan Peduli
GKI tahun 2007 ini melaksanakan program Tabur Kasih
ke Yogyakarta dari tanggal 17 Mei 2007 s/d 19 Mei 2007
diikuti lebih kurang 4 anggotanya didampingi Pdt.
Rudianto Djajakartika, Pdt. Agus Susanto, Pnt. Max
Setiadi, Pnt. Hetty Franz, Pnt. Chandra Suria.
Saat tiba di Yogyakarta, dalam mempersiapkan pelayanan
Tabur Kasih ini bertempat di Hotel MM-UGM di mana
semua peserta menginap, diadakan perenungan dari
Markus 8:22-28 dipimpin Pdt. Agus Susanto. Keesokan
harinya rombongan mengunjungi dan berbagi kasih dengan
saudara-saudara yang masih menyisakan derita gempa
bumi dahsyat tersebut. Satu hal yang harus disyukuri
karena kasih setia Tuhan tetap menyertai/menguatkan
anak-anakNya sehingga banyak yang tetap bersyukur
lewat ujian berat yang mereka alami dan tetap setia
dalam peribadahannya.
Panitia Tabur Kasih membagi dalam 6 kelompok pelawatan
dengan mengunjungi rata-rata dua atau tiga keluarga
yang terkena musibah berat dari gempa bumi tersebut.
Dalam mengikuti kunjungan pelawatan ini banyak para
peserta Kombas hanyut dalam keharuan mendengarkan
jeritan pengalaman tiap keluarga yang dikunjungi
bagaimana mereka bergumul dalam iman menghadapi
musibah gampa dahsyat tersebut antara lain: Ibu Diyem
yang dikunjungi oleh Kelompok I yang dipimpin Bpk
Chris Wibisono.
Dalam peristiwa gempa bumi ini Ibu Diyem mengalami
lumpuh, suami direnggut dari sisinya (meninggal), dan
dalam kelumpuhannya dia harus menanggung 7 orang anak
yang masih kecil-kecil tertua 13 tahun tidak
bersekolah lagi dan kini bekerja sebagai buruh
bangunan, rumah yang ditempatinya masih seperti saat
gempa melandanya. Menghadapi kehidupan berat ini
dengan dua tongkat yang menyandang di bahu dia
berjuang menghidupi keluarganya dengan turun memecah
batu-batu di kali untuk bangunan dan menjualnya dengan
memperoleh Rp 3.000,- s/d Rp 5.000,- per hari. Dari
hasilnya ini, dia juga masih memberikan bantuan kepada
tetangganya mencukupkan kebutuhan hidup. Dan karena
kelumpuhannya hamper setahun ini dia tidak dapat ke
gereja tetapi kerinduannya tetap menyala-nyala untuk
kembali dalam persekutuan orang percaya. Satu hal yang
menarik, dari derita yang dia alami sampai saat
kunjungan Kombas 2 Wilayah Bintaro ini, dari mulut
bibir Ibu Diyem tetap memuji dan mengakui kebesaran
Tuhannya Masih ada tangan-tangan Tuhan yang terus
menyertai menolong kami! Saat pamit, Ketua Kelompok I
Bpk.Chris Wibisono menyerahkan rumah sederhana, beras
gula dan lain-lain kebutuhan seperlunya.
Pada hari terakhir lawatan ini yaitu hari Sabtu 19 Mei
2007, rombongan mengadakan ibadah bersama di jemaat
GKJ Canden bersama warga korban gempa yang
dikunjungi dengan jemaat setempat yang dilayani oleh
Pdt. Rudianto Djajakartika. Gereja GKJ Canden tersebut
yang juga rusak berat oleh gempa kini telah berdiri
kembali. Gedung gereja tampak megah walaupun belum
dicat, dan dari jemaat GKI-PI ikut juga membantu
pembangunan kembali dan dari Kombas Bintaro sendiri
membantu pembangunan ruang Sekolah Minggunya yang
sudah dapat dipergunakan tempat ibadah Sekolah Minggu.
Pada waktu dan jam yang bersamaan tanggal 19 Mei
tersebut, di jemaat GKJ Pantalan Pepanthan Pundong
yang bangunan gedung gerejanya juga hancur oleh gempa
bumi tanggal 27 Mei 2006, juga berlangsung kebaktian
peresmian gedung gerejanya yang baru selesai dibangun
yang dilayani Pdt. Agus Susanto. |
| |
|
Tabur Kasih |
Lagu
inilah yang kita nyanyikan pada kebaktian penutupan
Bulan Peduli GKI Pondok Indah tanggal 27 Mei 2007.
Tapi apakah kita sungguh mengasihi orang lain baik itu
anak, orang tua, suami/istri, saudara atau bahkan
teman-teman dengan kasih Tuhan? Atau apakah mengenai
kasih hanya cukup di khotbah, di mimbar atau
dinyanyikan? Mungkin juga cukup hanya dengan
memberikan persembahan/sumbangan yang banyak tapi
tidak melakukan apa-apa.
Hal ini terlintas dalam pikiran saya waktu diajak
teman-teman Kombas Bintaro untuk pergi ke Yogya
mengunjungi beberapa saudara-saudara kita yang kena
musibah gempa dan telah mendapatkan rumah sangat
sederhana untuk tempat tinggal mereka. Saya berpikir:
lebih baik uang untuk tiket disumbangkan lagi. Tetapi
firman Tuhan dalam 1 Korintus 13:1-8a dengan jelas
mengatakan apa itu KASIH. Ayat ini juga yang mendasari
kami dari Kombas Bintaro dalam acara Natal tahun lalu
mengumpulkan sebagian berkat yang telah kami peroleh
dari Tuhan untuk membantu meringankan beban
saudara-saudara kita itu.
Dari dana yang terkumpul berhasil dibuat 23 rumah
sangat sederhana yang diberikan kepada warga yang
paling parah keadaannya sesudah gempa itu. Semua ini
dapat terlaksana berkat kerja keras dari teman-teman
di Jakarta dan Pendeta Yeanne, Sinyo dan lain lain di
Yogya.
Untuk melihat langsung keadaan di sana kami (sekitar
30 orang) pagi-pagi tanggal 18 Mei yang lalu pergi ke
Desa Berbah, Canden, Gantiwarno dan Jodog. Rombongan
dibagi menjadi 6 grup dan masing-masing grup
mengunjungi keluarga yang berbeda.
Sungguh pengalaman yang luar biasa dapat bersama-sama
dengan mereka. Dengan penuh sukacita mereka menantikan
kedatangan kami. Banyak mukjizat Tuhan yang terjadi
pada waktu gempa kami dengar dari mereka, misalnya ada
ibu yang tertimpa tembok yang roboh tapi tidak
mengalami cedera sedikit pun. Pada saat kami berada di
tengah-tengah mereka kami pun merasakan berkat Tuhan
yang besar.
Di dalam keadaan yang serba minim mereka tetap
bersyukur dan berpegang teguh kepada Tuhan. Melihat
hal ini kami sungguh merasa malu karena seringkali
kami cepat putus asa, bersungut-sungut hanya karena
hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupan kami.
Terima kasih Tuhan, kami boleh membagikan berkat dan
juga menerima berkat rohani dari perjalanan ini.
Siang hari kami mendapat kesempatan mencicipi makan
siang masakan istrinya Butet Kertarajasa (siapa yang
tidak kenal dengan presiden kita SBY: Si Butet Yogya).
Setelah perut kenyang supaya tidak ngantuk kami ikut
latihan main gamelan dan menari Jaipong, asyik.
Acara selanjutnya tentu saja shopping, batik, bapia
patok, gudeg entah apalagi menjadi hal-hal yang diburu
oleh kami semua (terutama Ibu-ibu). Akibatnya sesudah
makan malam, pada saat presentasi hasil kunjungan dan
latihan paduan suara, kami semua sudah kehabisan
tenaga.
Keesokan harinya kami bersama-sama dengan warga di
sekitar Canden mengikuti kebaktian di GKJ Canden yang
pada saat gempa hancur total. Sekarang walaupun
bangunan belum selesai seluruhnya tapi sudah dapat
dipergunakan. Kebaktian dilayani oleh Pdt. Rudianto
Djajakartika dan pujian oleh PS Agape (aspal, karena
sebagian penyanyinya bukan anggota).
Kalau ke Yogya tidak makan gudeg tentu saja tidak
lengkap, jadi makan siang nya so
pasti: gudeg. Untuk
mengejar gudeg, sehingga ada beberapa teman yang pergi
makan tengah malam, karena warung gudeg itu hanya buka
tengah malam dan hanya untuk sekitar 1 jam saja sampai
gudegnya habis.
Usai makan siang kami semua berpisah, sebagian besar
kembali ke Jakarta tapi ada beberapa yang melanjutkan
acaranya dengan mengunjungi sanak famili atau teman. |
| |
|
>> Arsip
|
|
|
| |
|
|
|