Antar Kita
11 Oktober 2006
Masih seputar Gempa Yogya dan Jateng

Soekamto
Pembangunan shelter sementara untuk warga Gantiwarno, Klaten
Anggota masyarakat, khususnya jemaat GKJ Gantiwarno di Kab. Klaten, Jawa Tengah, cukup menderita akibat gempa bumi yang mengguncang DI Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah akhir Mei lalu. Banyak di antara mereka kini terpaksa harus tinggal di tenda-tenda darurat maupun gubug-gubug yang mereka bangun dengan bahan seadanya sisa-sisa reruntuhan rumah mereka yang hancur akibat gempa tersebut.

Dengan diprakarsai oleh Bpk. Ragil Sugiarto dari Dusun Bangan, Kel. Muruh, Kec. Gantiwarno, penduduk setempat diajak untuk bangkit tanpa menunggu uluran bantuan yang dijanjikan oleh Pemerintah, membangun shelter-shelter sementara sebagai tempat tinggal sementara mereka sebelum dapat membangun kembali rumah mereka secara permanen. Dengan menggunakan bahan-bahan bangunan sisa-sisa reruntuhan mereka ditambah dengan semen, pasir, lembaran plastik dan kayu lapis mereka diajak untuk membangun shelter tersebut. Dengan biaya paling tinggi sebesar Rp 1,5 juta mereka sudah dapat tinggal secara aman, terlindung dari hujan dan teriknya matahari.

Dalam upayanya memberdayakan warga Dusun Bangan tersebut, Pak Ragil Sugiarto dibantu oleh para mahasiswa yang dikomandani oleh Pdt. Janne yang tergabung dalam Tim Trauma Healing, yang secara sukarela membantu segala gerak warga masyarakat untuk dapat bangkit kembali dari kehancuran akibat gempa tersebut.

Dalam upaya ini, sebuah tim dari GKI Pondok Indah yang dipimpin oleh Pnt. Laudin Simanjuntak pertengahan Juli lalu melakukan kunjungan dan peninjauan ke dusun tersebut serta menyerahkan bantuan untuk pembangunan enam buah shelter bagi warga yang memerlukannya. Tim ini, yang juga terdiri dari Pdt. Agus Susanto, Pdt. Tumpal Tobing, Pnt. Albert Napitupulu, Pnt. Benny Murtono dan Ketua Komisi Dikkesra Hindra Tjahjadi dan S. Soekamto.

Selain bantuan berupa pembangunan shelter, Tim juga menyerahkan bantuan untuk warga setempat berupa sarana pemulihan jemaat yang terdiri dari kasur, minyak goreng, sabun mandi dan sabun cuci dan lain sebagainya. Tim juga memberikan bantuan berupa 147 buah Alkitab untuk jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI) Aletheia di Klaten yang diterima oleh Pdt. Tommy Dumgair. (skt)
 
 
Pembangunan kembali GKJ Patalan Pepanthan Pundong
Gempa berkekuatan 5,9 pada Skala Richter yang melanda DI Yogyaklarta dan sebagian Jawa Tengah pada tgl 27 Mei 2006 yang lalu telah meninggalkan kepedihan yang mendalam bagi warga di kedua propinsi tersebut. Bukan hanya warga biasa yang menderita akibat gempa tersebut, namun juga warga jemaat sejumlah gereja dari berbagai denominasi di kedua propinsi, karena mereka telah “kehilangan” tempat ibadah mereka yang hancur porak-poranda akibat goncangan gempa tersebut.

Salah satu jemaat yang cukup menderita karena hilangnya tempat ibadah tersebut adalah Gereja Kristen Jawa (GKJ) Patalan, Pepanthan Pundong. Bangunan gedung gereja ini mengalami rusak berat sehingga harus dirobohkan untuk memudahkan rehabilitasi atau pembangunan kembali, yang setelah dihitung-hitung ternyata memerlukan biaya tidak kurang dari Rp 281 juta.

Sejarah

Perjalanan GKJ Patalan sebenarnya sudah cukup panjang. Bermula dari Dusun Turen, Canden atas bimbingan rohani dari seorang diaken, Iskak dari GKJ Temon, Kulon Progo, pada th 1900 ada dua orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat. Benih yang tumbuh dalam diri dua orang tersebut akhirnya berkembang ke dusun-dusun lain di wilayah Bantul dan membentuk kelompok-kelompok kecil sebagai embrio jemaat yang hidup di tengah perkembangan situasi dan kondisi yang relatif kondusif pada saat itu bagi perkembangan Injil Kristus.

Pada th 1924 jemaat Patalan yang sudah mulai berkembang di wilayah Bantul, yang terletak sekitar 13 km di sebelah selatan kota Yogyakarta, berkeinginan untuk mendewasakan diri. Keinginan tersebut kemudian dijajaki oleh Pdt. Van Dyk dan Ds. Nitelenbas serta diteruskan dengan persiapan majelis oleh Ds. Bakker dan Ds. Merkelyn. Pada tgl 15 Maret 1925 usaha tersebut membuahkan hasil dengan diteguhkannya Bpk. Reso Sentono, Bpk. Darmosoewito, Bpk. Samuel Paulus Martosoebroto sebagai Tua-tua dan Bpk. S. Karso Husodo sebagai juru Pamulosoro atau Diaken. Pada tgl 19 Juli 1929, jemaat Patalan membangun gedung gereja yang pada perkembangannya menjadi gedung gereja induk GKJ Patalan sampai mengalami kerusakan hebat akibat gempa akhir bulan Mei lalu.

Berkat campur tangan Sang Kepala Gereja, jemaat mula-mula GKJ Patalan membentuk pos-pos Pekabaran Injil di wilayah Yogyakarta Bagian selatan. Oleh karena berkat-Nya, berturut-turut GKJ Patalan mendewasakan Pepanthan Bantul menjadi GKJ Bantul pada th 1970, Pepanthan Beji menjadi GKJ Sumberagung dan pada th 1997 mendewasakan Pepanthan Sidomulyo menjadi GKJ Sidomulyo.

Sementara itu, seiring dengan perkembangan waktu, GKJ Bantul berhasil mendewasakan Pepanthan Madukismo menjadi GKJ Madukismo, Pepanthan Jodog menjadi GKJ Jodog serta GKJ Sumberagung mendewasakan Pepanthan Canden menjadi GKJ Canden pada th 1976.

Cagar budaya

Perjalanan panjang telah dijalani oleh GKJ Patalan yang sampai saat ini masih melayani dua pepanthan atau bakal jemaat, yaitu Pepanthan Pundong dan Pepanthan Imogiri dengan jangkauan wilayah di empat kecamatan di Kabupaten Bantul. Berdasarkan sisi sejarah tersebut, Pemerintah Kabupaten Bantul maupun Propinsi DI Yogyakarta telah menetapkan GKJ Patalan sebagai salah satu cagar budaya yang layak untuk dilestarikan.

Namun Tuhan berkehendak lain. Akibat gempa yang melanda Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah pada tgl 27 Mei lalu telah menghancurkan secara fisik hasil jerih payah dan buah-buah pengharapan dari perjalanan panjang yang dimuali mpada tgl 25 Maret 1925 hingga saat ini dalam memikul salib Kristus di tengah masyarakat Bantul. Kebanggaan masa lalu yang hancur secara fisik menyisakan semangat untuk bangkit, tumbuh dan berkembang dalam menebar pengharapan di tengah-tengah puing-puing gedung bersejarah GKJ Patalan.

Kehancuran secara fisik tersebut tidak hanya dialami oleh gedung induk GKJ Patalan, tetapi dua pepanthan yang masih menjadi asuhannyapun, yaitu Pepanthan Pundong dan Pepanthan Imogiri, turut hancur akibat gempa tersebut.

Secara keseluruhan (di gereja induk dan dua pepanthan), kerugian yang diderita akibat gempa tersebut mencapai sekitar Rp 1.495.800.000,- (Satu milyar empa tratus sembilan puluh lima juta delapan ratus ribu rupiah). Berkat keuletan serta campur tangan Kepala Gereja, Tuhan Yesus Kristus, Majelis Jemaat GKJ Patalan berupaya untuk bangkit serta membangun kembali ketiga bangunan gedung gereja di Patalan, Pundong dan Imogiri dan hingga saat ini secara swadaya mereka telah berhasil menghimpun dana sebesar Rp 359.350.000,- dan sisanya sebesar Rp 1.136.450.000 akan dicarikan dari para donatur serta mereka yang terpanggil untuk mengulurkan tangan kasihnya bagi pembangunan kembali ketiga gedung gereja tersebut.

Dan khusus untuk Pepanthan Pundong, dana yang diperlukan untuk pembangunan kembali gedung gereja dan segala sarananya mencapai Rp 281. 600. 000,- dan dana yang sudah tersedia untuk pembangunan kembali gedung gereja di sana sudah terhimpun sebesar Rp 70. 400. 000,- sehingga masih diperlukan dana sebesar Rp 211.200.000,- untuk merampungkan pembangunan kembali bangunan gedung gereja tadi.

Bantuan GKI Pondok Indah

Dalam kaitan ini, sebuah Tim dari GKI Pondok Indah yang dipimpin oleh Pnt. Laudin Simanjuntak pada tgl 17 dan 18 Juli lalu berkunjung ke GKJ Patalan untuk melihat dari dekat bantuan apa yang kiranya dapat disumbangkan oleh jemaat GKI Pondok Indah untuk GKJ Patalan.

Setelah mempelajari laporan yang disampaikan dalam suatu pertemuan dengan Majelis Jemaat GKJ Patalan pada tgl 17 Juli malam, maka Tim memutuskan untuk menutup kekurangan biaya untuk pembangunan kembali GKJ Patalan Pepanthan Pundong sebesar Rp 211.200.000,- dan pada pagi harinya, Selasa 18 Juli 2006 dengan mengambil tempat di tengah puing-puing gedung gereja Pepanthan Pundong, Pnt. Laudin menyerahan bantuan awal sebesar Rp 30 juta yang diterima oleh Ketua Majelis Jemaat GKJ Patalan, Pnt. Petrus Sutoto.

Diharapkan dengan bantuan awal sebesar Rp 30 juta itu Majelis Jemaat GKJ Patalan, Pepanthan Pundong, sudah dapat memulai pekerjaan rehabilitasi tersebut. Harapan tersebut akhirnya dapat terwujud dengan telah dilakukannya peletakan batu pertama pembangunan kembali GKJ Patalan Pepanthan Pundong oleh Pdt. Purboyo W. Susilaradeya pada tgl 27 Juli yang lalu.

Dalam waktu dekat sebuah tim lain juga akan ke Yogyakarta kembali untuk melakukan monitoring dan evaluasi. (skt)
 
 
>> Arsip
 

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003