|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Antar
Kita |
|
20 Juli 2006
Serba-serbi Gempa Yogya dan Jateng Purwy |
|
|
| Gempa dengan kekuatan 5.9 Skala
Richter yang melanda Jogja dan Jateng pada tanggal 27
Mei 2006 pukul 06.10 wib yang lalu masih menyisakan
kepedihan mendalam bagi bangsa Indonesia. Ibarat
airmata belum lagi kering karena mengenang Tzunami di
Aceh, gempa Nias, gempa Papua, dan lainnya, kini isak
tangis kita menjadi pecah kembali karena dihenyakkan
oleh gempa nan dahsyat yang menelan korban tidak
kurang dari 7.000 jiwa. Sertamerta kita bertanya:
kapankah derita bangsaku berakhir? Kali ini kami
memungut kisah dan cerita yang tercecer di balik gempa
Jogja dan Jateng yang luput dari pemberitaan media.
Silakan simak! |
| |
|
KIAMAT, Brosot-Kulonprogo |
Hari masih pagi. Sumarno berangkat ke
pasar mau belanja buah dengan mengendarai sepeda motor
miliknya. Hari itu Sumarno mendapat orderan dari
tetangganya untuk membuatkan es buah yang mau dibuat
suguhan acara resepsi pernikahan.
Dalam perjalanan, tidak ada hujan tidak ada angin,
tiba-tiba ia terpental bersama motornya. Ketika masih
terhuyung-huyung ia melihat pohon besar tak jauh dari
pandangannya tumbang. Ia amat ketakutan. Kontan, ia
berlari mencari perlindungan, tidak banyak berpikir
lagi ia langsung menuju gedung (Hotel Kulonprogo) tapi
baru separoh perjalanan menuju gedung itu, bangunan
megah itu runtuh. Hah?
Dengan napas tersengal dan berkeringat dingin, ia
mencari perlindungan baru, ia berlari dan berlari.
Setibanya melintasi tiang listrik sekilas ada yang
terayun. Dan tiang besi itu roboh. Untung ia hanya
terserempet. Ia masih berlari dengan sisa tenaganya
hingga akhirnya ia duduk lemas dengan mata ditutup. Ia
berpikir: KIAMAT. Dan semua orang di muka bumi pasti
mati hari ini. |
| |
|
MASIH HIDUP, Gantiwarno-Klaten |
Jam 08.15 pagi, Pak Bagio (63),
bersama istrinya (52) tiba di Bendogantungan (Terminal
kecil di Klaten). Mereka habis menjenguk anak dan
menantunya yang barusan syukuran tujuhbulanan yang
tinggal di Solo. Harusnya mereka pulang semalam tapi
karena ditahan maka mereka musti menginap dan baru
pulang dari Solo jam tujuh pagi.
Setibanya di Bendogantungan Pak Bagio terheran karena
jam segitu tidak ada mobil menuju Wedi dan Gantiwarno
justru yang ada mobil-mobil ambulans yang lalu-lalang.
Apa yang sudah terjadi? Ia membatin, apa ada
hubungannya dengan gempa tadi pagi yang terasa hingga
di Solo?
Nah, akhirnya ada satu mobil, tapi sopir bilang: tidak
bisa sampai Wedi karena jalanan rusak berat akibat
gempa. Hah? Langsung Pak Bagio bersama istrinya naik
mobil itu. Setelah diturunkan di tengah perjalanan Pak
Bagio membayar yang harusnya ada kembalian, anggap
saja pas. Tak sadar mereka berlari sambil menyaksikan
pemandangan yang tak lazim, di pinggir jalan
tergeletak orang-orang menahan sakit, rumah-rumah yang
runtuh, motor dan mobil mengangkuti orang sakit.
Terlintas di benak Pak Bagio, bagaimana dengan anak
dan cucuku, dua mertuaku yang sudah sepuh? Dengan
tubuh berpeluh, mereka sampai di Wedi. Anak dan
cucunya ternyata selamat. Hanya bangunan rumahnya
retak. Ia bersyukur.
Kini Pak Bagio teringat mertuanya. Langsung cabut
menuju kampung Ngalian ke rumah mertuanya. Dari
kejauhan hatinya sudah tak karuan. Karena di kampung
ini tidak ada satu bangunan pun yang berdiri. Tak
terkecuali rumah mertuanya, rata dengan tanah.
Pak Bagio menangis. Sungguh-sungguh menangis. Rasa
sakit, ya... rasa sakit itu ketika orang-orang yang
dicintai meninggalkan dan mendahuluinya.
Setelah ia tenang, ia mendapat informasi dari tetangga
yang selamat, ternyata Mbah Kakung dan Mbah putri kini
ada di tempat pengungsian. Mereka cidera karena
tertimpa blandar, tapi lukanya tidak parah. Plong
rasanya. |
| |
|
ISSUE TZUNAMI, Jabung-Gantiwarno |
Masih kisahnya Pak Bagio. Kini ia
berdiri di depan rumahnya. Sambil menatap sekitarnya,
bangunan yang runtuh, pohon yang tumbang. Tidak ada
yang kuat, desisnya. Rumahnya sendiri sedikit retak
tapi bagian belakang ambruk. Bangunan ini lebih kuat
karena dengan kerangka kayu jati tua dengan tembok
bata yang diplester semen hasil pekerjaan tangannya.
Siang itu keluarganya berduka, dengan tercekat ia
berkata kepada adik perempuannya: Jangan menangis!
Adiknya perempuannya pagi itu telah kehilangan suami
dan cucunya. Mereka tertimpa gedung serbaguna kantor
desa. Seperti biasanya, kalau Sabtu pagi suaminya
mempersiapkan gedung yang dipakai untuk Bulu Tangkis.
Dan pagi itu seperti biasanya cucunya Kiki turut serta.
Naas, gempa itu terjadi. Kakek dan cucunya tertimpa
bangunan beton dan meninggal seketika.
Mereka hanya berenam: Pak Bagio, Bu Bagio, Lik Kuwati
(suami dan cucunya menjadi korban), kedua orang tua
Kiki dan seorang tetangganya, sore itu mengantar
jenazah ke pamakaman. Tidak ada tetangga yang lain.
Sepi. Sangat sepi. Tidak ada Pendeta, tidak ada
Majelis. Mungkin, ini gara-gara merebak issue tzunami
waktu gempa terjadi sehingga semua yang luput dari
maut menyelamatkan diri. Tapi kasihan, Pak Bagio. Dua
familinya meninggal harus menggali kubur untuk mereka,
menggotong sendiri dan didoakan sendiri menurut cara
yang ia bisa. Semoga Tuhan memberi kekuatan. |
| |
|
AKIBAT GEMPA BUMI, Wedi-Klaten |
Pasca gempa. Menurut penduduk
setempat ini aneh. Sumur di Bayat Wedi yang tadinya
airnya mempunyai kedalaman 18 meter tiba-tiba
permukaan airnya naik menjadi sekitar 10 meter. Tentu
saja yang punya sumur senang karena bisa lebih ringan
dan tidak mencampekkan bila menimba. Tapi beda halnya
dengan sebuah semur di Desa Ceper justru permukaan
airnya menjadi hilang tertutup oleh pasir. Dan
kejadian yang umum di desa-desa lain saat gempa
terjadi air muncrat keluar (menyembur ke atas).
Di antara penuturan yang aneh menurut awam, inilah
menurut ilmuwan gempa. Gempa bumi, adalah suatu
fenomena pergerakan permukaan bumi disebabkan oleh
pergerakan yang banyak di permukaan bumi yang berbatu.
Gempa bumi berlaku apabila tenaga yang tersimpan dalam
bumi, biasanya di dalam bentuk geseran batu, tiba-tiba
terlepas. |
| |
|
KARENA BISA BERJABAT TANGAN, Gantiwarno-Klaten |
Pasca gempa menyisakan kepedihan. Itu
pasti. Hidup di tenda-tenda, dingin, sepi tanpa
televisi dan makan seadanya sambil menunggu bantuan
datang. Tidak ada yang enak. Di antara pemandangan
bangunan rubuh dan antrian panjang dari warga penerima
bantuan terlihat anak-anak yang ceria. Karena heran,
maka seorang Tante dari Jakarta bertanya pada anak
kelas lima SD yang masih keponakannya sendiri bernama
Ndari.
Tante: nDuk kamu koq tidak kelihatan sedih. Kenapa?
Ndari: Ya saya senang. Karena Tante pulang.
Tante: O ya? Hanya itu?
Ndari: Juga bisa melihat bule-bule.
Tante: Masak, sih?
Ndari: Juga karena saya bisa berjabat tangan dengan
Ibu Megawati. |
| |
|
HATI-HATI BANYAK KRISTENNYA LOH, Jakarta |
Seperti air yang mengalir ke dataran
rendah demikian kita sering mengikuti arus. Gempa
ternyata menggugah anak bangsa dalam hal peduli kepada
sesama. Terlihat penggalangan dana ada di mana-mana.
Yang perlu dicermati: ada yang legal dan ada yang
ilegal. Memang begitu. Ironisnya sulit membedakan mana
penggalang dana yang baik dan mana yang tidak baik.
Di Jakarta ada penggalang dana yang wanti-wanti kepada
temannya begini: Nanti kalau membantu masyarakat di
Jogja hati-hati. Loh, kenapa, tanya temannya. Karena
di Jogja banyak orang Kristennya. Maksudnya apa? Ya...
jangan salah orang!
Membantu orang susah koq pilih-pilih agamanya. |
| |
 |
| |
|
>> Arsip
|
|
|
| |
|
|
|