Antar Kita
10 Juli 2006
Paska GKI Pondok Indah 2006

 
Malam Penghayatan Kasih
Pada Kebaktian Kamis Putih yang berlangsung pada Kamis malam, 13 April, Pdt. Rudianto Djajakartika dalam khotbahnya mengemukakan bahwa “malam ini merupakan suatu Malam Penghayatan Kasih Kristus.” Khotbah Pdt. Rudianto tersebut didasarkan pada Injil Yohanes 13:1, yang berbunyi: “Sementara itu sebelum hari raya paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya...”

Dengan mengambil tema “Masa Pengenangan Tindakan Kasih”, ibadah Kamis Putih itu dihadiri oleh sekitar 200 anggota jemaat dan simpatisan dari GKI Pondok Indah.

Menurut Pdt. Rudianto, tindakan kasih adalah merupakan suatu pelayanan yang mudah diucapkan namun sulit untuk dilaksanakan. Tidak seperti halnya Yesus, yang sudah terlebih dahulu mengasihi umat manusia dari sekarang hingga sampai kepada kesudahannya.

Untuk itulah maka Pdt. Rudianto juga mengingatkan bahwa “kita malam ini diajak untuk melihat diri kita apakah kita layak untuk esok hari hadir untuk memenuhi undangan Tuhan guna menghadiri suatu Perjamuan Kudus.”

“Kita juga diajak untuk mernghidupkan kembali kasih kita kepada Kristus sampai berkesudahan,” katanya lebih jauh. Dan satu hal lagi yang tak kalah pentingnya adalah “malam ini kita diajak untuk merefleksikan kasih Yesus kepada sesama,” kata Pdt. Rudianto mengakhiri khotbahnya. (skt)
 
 
Pdt. Agus Susanto: Ada Konspirasi Politik untuk Salibkan Yesus

 

Dalam khotbahnya pada Kebaktian Jumat Agung tgl 14 April 2006 lalu di GKI Pondok Indah, Pdt. Agus Susanto menyatakan bahwa ada suatu konspirasi politik dalam penyaliban Tuhan Yesus. Dan konspirasi politik itu pun hingga kini masih kita rasakan dan dapat kita lihat di depan mata kita untuk mematikan Yesus (gereja).

Sebagai contoh, Pdt. Agus Susanto mengemukakan kasus ditutupnya GKI Ciledug Raya. “Ini semua menunjukkan bahwa konspirasi politik antara pemimpin agama dan penguasa, yang dulu berkomplot untuk menyalibkan Yesus, hingga saat ini konspirasi semacam itu masih terjadi,” katanya. Dengan khotbah bertema “Masa Pengenangan Kematian Yesus”, yang dilandaskan pada Injil Yohanes 19:28-42, Pdt. Agus Susanto lebih jauh mengemukakan bahwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib itu adalah untuk menebus dosa umat manusia.

“Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu dari-Nya sendiri, dan kita mempunyai Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah,” katanya lebih lanjut dengan mengutip Ibrani 10:19-21.

Dalam Kebaktian Jumat Agung itu juga diselenggarakan sakramen perjamuan kudus, di mana untuk pertama kalinya empat orang pendeta melayani bersama-sama.
 
 
Paska Minggu Pagi
 
 
Paska Minggu Sore
 
 
Batu yang Terguling
Dengan mengambil tema “Batu Yang Terguling,” Komisi Senior GKI Pondok Indah pada Jumat petang tgl 21 April 2006, menyelenggarakan perayaan Paska th 2006 bertempat di gedung gereja. Lebih dari 100 orang warga senior turut hadir dalam perayaan Paska tersebut, di mana dalam kesempatan itu Pdt. Rudianto Djajakartika manyampaikan khotbahnya yang didasarkan pada Injil Yohanes 20:11–18.

Dikemukakan oleh Pdt. Rudianto bahwa kadang-kadang kita melihat sesuatu itu hanya dengan mata dan mendengar dengan telinga. Padahal untuk dapat lebih memahami sesuatu itu maka kita juga harus melihat dengan hati dan pikiran demikian pula halnya kalau kita mendengar.

Pdt. Rudianto mensitir apa yang dikatakan oleh Maria dalam Yoh 20:15b di mana Maria menyangka Yesus adalah penjaga Taman di mana Yesus dikuburkan. Padahal mestinya kita melihat sesuatu itu harus seksama, artinya selain melihat dengan mata kita juga harus melihatnya dengan hati. Dan barulah setelah mendengar Yesus berkata, Maria tersadar dan akan menjamahnya. Namun hal itu tidak dikehendaki oleh Yesus, yang memintanya untuk segera pergi menemui “saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”

Yesus yang telah bangkit itu telah meminta kepada Maria untuk mewartakan berita sukacita kepada “saudara-saudara-Ku” dan juga kepada kita semua. Ini adalah juga merupakan permintaan Yesus kepada kita untuk meyampaika kabar sukacita, yaitu “kebangkitan dan kemenangan” itu kepada semua orang.

Menurut Pdt. Rudianto batu penutup kubur yang telah terguling itu juga melambangkan telah tersingkirnya penghalang bagi kita untuk memperoleh akses langsung kepada Tuhan. Namun diakuinya bahwa di dalam kehidupan ini masih banyak batu-batu penghalang yang menghadang di depan kita.

“Namun dengan telah tersingkirnya batu kubur itu, Tuhan telah memberikan pengharapan kepada kita semua. Akses telah dibuka dan sekarang tergantung kepada kita mau tidak kita melewati jalan yang telah dibukakan oleh Tuhan tersebut,” katanya menegaskan.

Dalam mengakhiri khotbahnya Pdt. Rudianto juga mengutip Kol 3:1–4 dengan mengatakan bahwa kita sebagai orang beriman dan telah diselamatkan oleh Yesus, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.

Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” Turut pula menyampaikan sambutan dalam perayaan Paska tersebut Ketua Komisi Senior Bp. Nyoto Subandrio, yang menyesalkan telah terjadinya “sesuatu yang mengganggu” dalam ibadah Perayaan Paska pada Minggu sore tgl 16 April lalu, yang seharusnya tidak dan tidak boleh terjadi dalam suatu peristiwa yang sangat penting ini.

Dalam perayaan Paska Senior ini juga tampil PS Effata dan Kolintang Emanuel yang membawakan beberapa pujian. Acara yang dimulai pada pukul 16:00 WIB ini diakhiri dengan ramah-tamah dan santap malam bersama sekitar pukul 18:30 WIB. (skt)
 
Komisi PI dan Kombas TCC Layani Perayaan Paska di LP Dewasa Tangerang
Komisi Pekabaran Injil dan Kombas Terogong, Cilandak dan Cipete (TCC) bekerjasama dengan Pokja PLP PGI Jakarta pada hari Sabtu, 22 April 2006 melakukan pelayanan Perayaan Paska 2006 untuk warga dalam di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I (Dewasa) Tangerang. Selain dengan Pokja PLP PGI Jakarta, juga turut melayani dalam perayaan Paska tersebut GKI Bungur, GKI Samanhudi dan juga Yasindo, di mana dalam kesempatan ini tampil sebagai pembawa firman, Bp. Rico Sahuleka dari GKI Pondok Indah.

Dalam renungannya, yang dilandaskan pada Injil Yohanes 14:6, Bp. Rico mengemukakan bahwa dalam firman tersebut Yesus dengan jelas menyebutkan bahwa “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Namun diakui oleh Bp. Rico bahwa jalan Tuhan itu amatlah sulit. Untuk itu Bp Rico memberikan contoh, betapa sulitnya untuk mengikuti jalan salib yang telah dilalui oleh Tuhan Yesus. Berapa murid-murid Tuhan yang mau mengikuti-Nya lewat jalan salib itu. Nol, katanya.

Ini juga merupakan suatu tantangan bagi kita bahwa jalan Tuhan itu amatlah sulit. “Namun bagi kita-kita, termasuk saudara dan saya, sebagai orang beriman, Tuhan telah menjanjikan bahwa Dia-lah jalan dan benar dan hidup untuk menuju Bapa di sorga. Ini adalah suatu kepastian. Dan untuk melaluinya kita pun juga dituntut untuk melakukan segala sesuatu dengan benar dan barulah kita akan memperoleh suatu hidup dan kehidupan di dalam Tuhan,” katanya menegaskan.

Oleh karenanya, Bp. Rico juga mengingatkan bahwa apa yang dialami oleh saudara-saudara warga binaan (para nara pidana) saat ini adalah merupakan jalan yang harus mereka tempuh yang terasa sulit dan pedih untuk dirasakan. Tuhan telah banyak memberikan kebebasan, kita bebas untuk melakukan apa saja dan itu terasa sangat mudah jika hanya untuk mencapai hal-hal yang sangat menyenangkan secara duniawi. Namun Tuhan Yesus telah menjanjikan suatu jalan, kebenaran dan hidup jika kita sebagai umat-Nya mau mengikuti-Nya.

Perayaan Paska di LP Dewasa Tangerang ini diikuti oleh sekitar 80 warga binaan yang beragama Kristen.

Menurut Ibu Nirwana Ginting, Pembina Rohani di LP tersebut, lembaga ini pada saat ini dihuni oleh sekitar 900 orang napi dan sebanyak 100 orang napi beragama Kristen. Sebagian besar dari mereka ini terlibat dalam kasus narkoba dan tiga orang di antara mereka adalah terpidana mati. Mereka ini adalah tiga orang warga negara Nigeria, yang kini tinggal menunggu eksekusi mereka.

Turut menyemarakkan perayaan ini PS warga dalam, PS GKI Samanhudi dan PS Kombas TCC mewakili GKI Pondok Indah.
Dalam kesempatan tersebut, GKI Pondok Indah, yang diwakili oleh Pnt. Sri Asih Wohon menyerahkan seperangkat komputer yang diterima oleh Ibu Nirwana Ginting untuk menunjang kegiatan administrasi di Gereja Anugerah yang terletak di dalam LP ini.

Acara yang dimulai sekitar pukul 10:00 WIB ini diakhiri dengan ramah-tamah dan santap siang bersama sekitar pukul 12:00 WIB. (skt)
 
Donor Darah dalam Rangka Paska
Sebanyak sekitar 75 anggota jemaat dan simpatisan GKI Pondok Indah, pada hari Minggu, 26 Maret lalu seusai Kebaktian I dan Kebaktian II mengambil bagian dalam aksi donor darah yang diselenggarakan oleh Komisi Dikkesra bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Jakarta.

Pelaksanaan aksi donor darah itu dilakukan di gedung pertemuan lantai III, di mana dalam kesempatan ini sejumlah penatua dan aktivis turut pula menyumbangkan darah mereka untuk sesama. Aksi ini merupakan kegiatan yang kesekian kalinya dilakukan oleh Komisi Dikkesra bekerjasama dengan PMI Cabang Jakarta. (skt)
 
Kebaktian Paska di Desa Kemang
Kebaktian Paska pada hari Minggu, 16 April 2006, yang dipimpin oleh Pdt. (Em) Wirakotan, berlangsung dengan penuh khidmat dan diikuti oleh sekitar 50 orang anggota jemaat desa Kemang serta para pelayan dari Komisi Pekabaran Injil GKI PI. Dengan tema sentral, “Batu Itu Sudah Terguling”, Pdt. Wirakotan mengajak kita semua untuk mewartakan kabar sukacita dengan telah bangkitnya Tuhan Yesus dari kematian-Nya kepada semua orang, khususnya kepada saudara-saudara terdekat kita, karena kebangkitan Yesus itu akan membuka pintu keselamatan bagi kita semua.

“Khusus untuk ibu-ibu di sini. Saya minta agar kabar sukacita ini juga disampaikan kepada para suami,” kata Pdt. Wirakotan yang mendasarkan khotbahnya pada Injil Markus 16:1-8.

Dalam kebaktian Paska ini juga tampil untuk menyampaikan beberapa pujian PS Ibu-ibu Desa Kemang dan Paduan Suara Sangkakala dari GPIB Sawangan, yang kebetulan letaknya sangat berdekatan dengan desa Kemang.

Seusai kebaktian dan saling mengucapkan “Selamat Paska”, para anggota jemaat diajak untuk beramah-tamah dan makan siang bersama. Sementara anak-anak sekolah Minggu yang dipimpin oleh Bp. Benny juga menampilkan beberapa permainan untuk mencari “telor paska.” (skt)
 
>> Arsip
 

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003