Antar Kita
12 Mei 2006
Perahu Retak dari Teluk Naga

Rico Sahuleka & Soekamto
Dengan mengutip syair dari lagu Iwan Fals berjudul “Perahu Retak”, Sdr. Rico Sahuleka mengawali renungannya dalam kebaktian Minggu di desa Pangkalan, Teluk Naga, Banten, pada tgl 5 Maret 2006 yang lalu dengan kata-kata “Aku Heran... Aku heran...” Di depan sekitar 150 anggota jemaat di Teluk Naga, Sdr. Rico lebih jauh mengemukakan bahwa rasa heran adalah suatu perasaan yang wajar dan dapat menghinggapi siapa saja. Dikemukakan pula bahwa:
  • Kita heran melihat kemajuan teknologi sekarang ini, yang begitu canggih.

  • Kita heran sebuah pesawat terbang yang begitu hebat dan mahal bisa nyasar, bertabrakan, atau terperosok, sementara seekor lalat kecil yang tak berdaya tidak pernah bertabrakan dan tak pernah pula meleset dari sasarannya.

  • Kita heran, kota Jakarta ingin menjadi sebuah megapolitan, suatu kota yang dalam pikiran sangat waouwww, namun kenyataannya jalanannya masih berlubang dan berkubang.

  • Kita juga heran bahwa setelah 60 tahun negeri kita merdeka dan gedung pencakar langitnya juga selalu bertambah, namun masih banyak pula saudara-saudara kita yang tidur di bawah kolong langit dan beralaskan tanah. Serta masih banyak pula orang-orang yang hidup bukan saja miskin, tetapi jauh di bawah garis kemiskinan. Selain itu mereka hidup bukan hidup dari berjualan sesuatu, tetapi dari menjual anak atau cucu. Bahkan di Teluk Naga ini yang berjarak hanya beberapa kilometer dari Ibu Kota, penduduknya masih hidup jauh di bawah garis kemiskinan.

  • Kita heran melihat di Negara yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, yang merupakan azas pertama dari Pancasila kita, kok bisa tempat ibadah diawasi dan dibatasi pembangunannya, ketimbang tempat judi dan tempat mengobral birahi.

  • Kita juga heran, para koruptor bisa lolos dari pencekalan, tetapi orang yang menyatakan perasaan herannya malah dicekal.

  • Kita heran, ada orang yang menyampaikan rasa heran saja dapat membuat orang menjadi gusar dan marah.
Apa tidak boleh kita memiliki rasa heran? Wong Tuhan saja juga memiliki rasa heran ketika melihat tingkah laku manusia (Mat 6:6a). Apa kita mesti marah dan mencekal Tuhan? Tuhan kok sampeyan marahi.

Dikemukakan selanjutnya bahwa kalau ada kata-kata heran, maka yang tepat adalah buat saudara-saudara kita di Teluk Naga ini, seperti apa yang dikatakan Daud: Aku percaya, sekalipun aku berkata: “Aku ini sangat tertindas.” (Maz 116:10)
 
Hebat
Betul, hidup mereka sangat susah dan melarat, namun sangat hebat. Mereka mau percaya, percaya bahwa Tuhan akan menyelamatkan kehidupan mereka sekarang dan yang akan datang. Mereka percaya bahwa Allah peduli, sekalipun obat tak dapat dibeli. Mereka percaya bahwa kuasa Allah masih lebih mudah mereka jangkau daripada harga sembako yang tak terjangkau. Atas semuanya itu mereka hanya berucap satu kalimat saja: “Terima kasih Tuhan atas kebaikan-Mu.” Itu adalah wujud dari kepercayaan mereka.

“Ohhh... Aku heran... Aku heran... Aku heran kalau keberadaan kita lebih baik dari mereka, namun wujud kepercayaan kita pada Tuhan justru masih lebih rendah dari mereka!!!” katanya.

Dengan berseloroh, Sdr. Rico melanjutkan renungannya: “Anda anggak percaya? Tolong jangan marah dulu. Apa anda anggak mengerti? Ahh... masak iya. Coba kita lihat ketika berlangsung Persidangan Majelis Jemaat Yang Diperluas (PMJD) untuk mendengarkan pertanggungjawaban pelaksanaan program-program majelis dan gereja. Buat siapa program-program itu dibuat. Buat jemaat. Jemaat siapa? Jemaat Tuhan. Puji Tuhan.

Namun berapa banyak anggota jemaat yang peduli dan hadir dalam persidangan sepenting itu? Ternyata “cukup banyak juga” ... hanya sekitar 1,0 persen saja. Lho kok bisa? Ya bisa saja! Lalu coba kita tengok, berapa anggota jemaat yang hadir ketika berlangsung presentasi dari Tabitha pada hari Minggu, 5 Maret lalu? Tidak banyak juga, karena banyak anggota jemaat yang mungkin sudah mempunyai rencana atau acara lain, terus pulang seusai kebaktian. Belum lagi kegiatan-kegiatan lain seperti Persekutuan Doa Pagi (d/h Doa Subuh), Persekutuan Wilayah, Malam Puji dan Doa (MPD) dan lain-lain. Berapa persen jumlah jemaat yang hadir? Jauh-jauh di bawah lima persen saja.

“Aku heran... Aku heran. Di Teluk Naga orang banyak tak berpendidikan, namun ingin belajar Alkitab. Tentunya kita akan senang mendengarnya bukan? Tapi sabar, jangan senang dulu. Yang ini ada di depan kita. Coba, berapa banyak anggota jemaat yang rata-rata berpendidikan di atas rata-rata yang mau dan bersedia hadir di dalam program seperti Pendidikan Teologia Jemaat (PTJ)?

Memang harus kita akui, bahwa karena situasi dan kondisi serta latar belakang budaya mereka, warga masyarakat di Teluk Naga ini masih banyak yang belum dapat lepas dari cengkeraman judi. Oleh sebab itu, Sdr. Rico menekankan pentingnya pembinaan iman, pendekatan pribadi serta kepedulian sosial untuk terus dilakukan dan bahkan digalakkan, seperti yang telah dilakukan oleh Tim Pelayanan Bersama Kespel GKI Klasis Jakarta II. Sdr. Rico mengajak kita semua untuk mendoakan saudara-saudara kita di Teluk Naga agar mereka dapat segera terlepas dari cengkeraman judi ini.

“Kita doakan agar mereka dapat menghilangkan sifat perbuatan judi itu, kendati hal itu mereka lakukan dengan alasan untuk mencari keuntungan,” katanya. Namun sebelum kita mendoakan agar mereka dapat melepaskan diri dari cengkeraman judi dengan sesama itu, Sdr. Rico mengajak kita semua untuk sekali lagi memeriksa diri kita sendiri. Mungkin kita tidak berjudi dengan sesama, tetapi jangan-jangan kita justru malah berjudi dengan Allah. Kita berharap untuk memperoleh keuntungan dari Tuhan melalui apa yang kita lakukan, misalnya:
  • Saya sumbang itu, supaya Tuhan...

  • Saya melakukan ini, supaya Tuhan...

  • Saya ikut kegiatan itu, supaya Tuhan...

  • Saya aktif dan sibuk di sini, supaya Tuhan...
“Saya kira lebih baik berhenti deh, karena kita memang tak bakal memperoleh keuntungan dari Tuhan dengan cara-cara demikian. Justru nanti anda malah akan kecewa karena merasa rugi dan kalah telak,” katanya menegaskan.

Diingatkan pula bagi mereka yang hanya mau melayani tetapi dengan cara berjudi dengan Tuhan, yaitu dengan hanya mau melayani ke rumah-rumah orang terpandang, terkenal dan kaya, tetapi menutup mata dan telinga bagi orang-orang yang papa, hina dan tertindas, bahwa hal-hal sedemikian itu sangat dibenci oleh Tuhan. “Hentikanlah cara permainan demikian dengan Tuhan, bukan saja kita tidak bisa menang dengan Tuhan, tetapi Tuhan amat benci dengan yang demikian.” (Yes 1:14)
 
Belajar dari Teluk Naga
Lebih jauh Sdr. Rico mengajak kita semua untuk belajar dari perahu retak di Teluk Naga, seperti yang tersurat di dalam Mazmur 116:10, “Aku percaya, sekalipun aku berkata: “Aku ini sangat tertindas.”
  • Aku percaya, sekalipun aku tak mengerti semua rencana Tuhan;

  • Aku memberi, sekalipun aku tak menerima;

  • Aku ikut bekerja untuk Tuhan, sekalipun aku tak mendapat apapun;

  • Aku rela melayani Tuhan, sekalipun aku kecewa, aku bangkrut, aku sakit, keluargaku berantakan;

  • Aku mau aktif dalam kegiatan gereja, sekalipun aku ini lemah, kecil, hina dan tak berdaya;

  • Aku bersorak untuk Tuhan, sekalipun aku mengalami kegagalan, kepahitan dan kelelahan
“Aku mau belajar kembali, sekalipun aku telah mengenal, bekerja dan percaya kepada Tuhan lebih lama dari mereka. Aku mau belajar kembali sekalipun dari saudaraku yang baru percaya di Teluk Naga,” katanya. “Aku percaya, sekalipun aku berkata: ‘Aku ini sangat tertindas.’”

Kalau yang tertindas saja mau percaya, lalu bagaimana dengan anda-anda yang berkelimpahan? Kalau si hina dengan kepala tertunduk tetap percaya, bagaimana dengan anda yang terhormat dan berjalan dengan kepala yang terangkat? Kalau si miskin yang tidak tahu besok harus makan apa, tetapi tetap percaya kepada Allah yang terbukti hingga hari ini masih memelihara mereka, lalu bagaimana dengan si kaya yang percaya kepada Allah karena ada jaminan dari kekayannya itu?

Jika ada badai yang menerjang habis atau sebagian dari kekayaan dan kenyamanannya, apakah si kaya masih percaya dan berkata seperti si miskin... “Terima kasih Tuhan atas kebaikan-Mu.” Oleh karena itu sebelum terlambat belajarlah, kata Yesus, bahkan kita harus belajar kepada anak-anak sekalipun. Bahkan kalau perlu belajar ke Teluk Naga... Teluk Naga... sekalipun imannya masih anak-anak, tetapi tidak kekanak-kanakan.
 
Bingkisan Natal
Dalam kesempatan itu, seusai kebaktian di desa Pangkalan, Teluk Naga, Panitia Natal 2005 GKI Pondok Indah menyerahkan sebanyak 165 bingkisan berisi sembako serta 120 bingkisan untuk anak-anak Sekolah Minggu untuk warga di Teluk Naga dan sekitarnya, yaitu desa-desa Pangkalan, Gufo dan Tegal Angus.

Penyerahan bingkisan itu dilakukan secara simbolis oleh Ibu Darma Suria kepada Ibu Nelly mewakili warga Teluk Naga. Sementara untuk anak-anak Sekolah Minggu langsung diserahkan kepada anak-anak seusai kegiatan mereka di desa Pangkalan dan Tegal Angus.

Turut serta mengambil bagian dalam kegiatan di Teluk Naga tersebut sejumlah ibu dari Komisi Senior yang dalam kesempatan tersebut juga menyumbangkan bingkisan dari Charity Shop, beberapa anggota Panitia Natal 2005 GKI PI serta sejumlah pengurus Komisi Dewasa GKI PI.

Hadir pula dalam kebaktian Minggu siang ini beberapa tokoh masyarakat setempat, mewakili pengurus kampung, serta beberapa orang uztad yang selama ini telah menjalin kerjasama dengan Tim Pelayanan Bersama Kespel GKI Klasis Jakarta II. (rs/skt)
 
 
>> Arsip
 

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003