Antar Kita
29 Maret 2006
Program Gota Tumbuhkan Semangat Belajar bagi Penerimanya
Program Gerakan Orang Tua Asuh (GOTA) yang dikelola oleh Komisi Dikkesra GKI Pondok Indah sangat bermanfaat bagi para penerimanya, bukan saja anak-anak di sekitar gereja, tetapi juga bagi anak-anak di pelosok pedesaan di beberapa tempat di Jawa Tengah dan Darerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dari pemantauan selama kunjungan peninjauan oleh Tim Komisi Dikkesra, yang dipimpin oleh Ketua Komisi Dikkesra Hindra Tjahjadi, nampak terlihat adanya semangat belajar yang tinggi dari beberapa anak penerima bantuan GOTA maupun beasiswa. Tim Komisi Dikkesra yang melakukan peninjauan tersebut, selain Bpk. Hindra Tjahjadi, adalah Ibu Corry Tehusijarana, Ibu Liliana Imanto dan Ibu Josephine.

Sebagaimana diungkapkan oleh Bpk Djarwadi dari GKI Tegalrejo, Salatiga. Bpk Djarwadi adalah ketua Komisi Beasiswa GKI Tegalrejo, yang mengelola dana bantuan GOTA dari GKI Pondok Indah bagi 47 siswa SD, SMP dan SMU. Dalam percakapan dengan Tim Dikkesra di Salatiga tgl 11 Januari lalu, Bpk. Djarwadi yang didampingi oleh Ibu Mamik Suyami, bendahara, mengemukakan bahwa bantuan GOTA tersebut sungguh sangat bermanfaat bagi anak-anak dan ini dapat memotivasi anak-anak tersebut untuk memacu semangat belajar mereka.

Hal senada juga diungkapkan oleh Pnt. Mardayati, Ketua Majelis Jemaat GKI Prambanan. Menurut Ibu Hermien Widiastuti yang menangani beasiswa GKI Prambanan, dari para penerima bantuan GOTA tersebut terdapat siswa-siswa yang cukup berprestasi. Artinya, para penerima beasiswa tersebut selalu memperoleh ranking pada setiap menerima raport. Sebanyak 30 anak yang terdiri dari 12 siswa SD, 11 siswa SLTP dan tujuh siswa SLTA selama ini telah menerima bantuan GOTA dari GKI Pondok Indah.

Di antara anak-anak penerima beasiswa di GKI Prambanan adalah Yuli Susyani, siswa klas III jurusan akuntansi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) I Jogonalan. Yuli, 17 th, telah menerima beasiswa sejak masih duduk di bangku SLTP dan semenjak itu, dia selalu berada di lima ranking pertama.

Yuli mengemukakan bahwa beasiswa tersebut sangat berarti, karena dapat membantu meringankan beban orang tua, di samping dapat mendorong semangat belajarnya. Yuli menyadari karena orang tuanya hanyalah pegawai kecil. Ibunya, Ny. Otty, adalah seorang guru TK, sedang ayahnya Bp. Nicodemus Sukirno, hanya seorang pegawai pada sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat di Klaten, sementara kedua orang tuanya masih harus membiayai saudara-saudaranya yang lain. Yuli adalah anak ke-3 dari enam bersaudara.

Yuli berharap untuk dapat segera bekerja setelah menamatkan studinya di SMKN. “Saya belum berpikir untuk kuliah. Saya ingin membantu orang tua terlebih dahulu dengan bekerja sambil menabung untuk biaya kuliah nanti. Tabungan saya mungkin nanti juga akan dapat membantu biaya pendidikan adik-adik saya,” katanya menerawang jauh ke depan.

Hal senada diungkapkan pula oleh para penerima bantuan dana GOTA lainnya. Kristy Ningsih dari SMUK Imanuel, salah seorang penghuni Panti Asuhan “Mardi Siwi” di Yogyakarta, bahkan menyatakan bahwa bantuan GOTA tersebut sangat berarti baginya, terutama bagi anak-anak yang tinggal di panti asuhan seperti dirinya. Untuk itu, Kristy juga menyatakan akan selalu menjadi yang terbaik, baik dalam pendidikan, maupun nanti setelah terjun ke masyarakat. “Saya juga ingin berbuat yang terbaik bagi Tuhan. Karena apa yang telah saya peroleh, merupakan karunia dari Tuhan. Dengan kepandaian yang Tuhan anugerahkan kepada saya, saya juga tidak ingin mengecewakan Tuhan dan juga orang tua serta mereka yang telah mendukung pendidikan saya,” katanya sambil berkaca-kaca.

Lain lagi apa yang diucapkan oleh Rahmat Utomo, 16 th, seorang siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Pelem Sari, Kalasan, yang menyatakan, bahwa dia kini tinggal berfikir untuk belajar terus untuk meraih prestasi yang terbaik. Beban telah terbantu dengan adanya bantuan dana GOTA dari GKI Pondok Indah, kata Daryanto, ayah Rahmat, yang bekerja sebagai wiraswastawan kecil-kecilan di pedesaan dengan penghasilan yang tidak menentu. “Yang jelas, dengan bantuan dana GOTA ini uang sekolah menjadi tidak tersendat-sendat lagi,” katanya. Madrasah Tsanawiyah adalah setingkat dengan SLTA.

Dalam kesempatan peninjauan tersebut, Tim dari Komisi Dikkesra di Yogyakarta juga bertemu dengan lima orang siswa penerima beasiswa dari GKI Pondok Indah. Mereka adalah siswa-siswa berprestasi dari beberapa sekolah, baik swasta maupun negeri di kota Gudeg itu, dari SD, SMP Negeri maupun swasta sampai SLTA.

Luluk Anggoro S., siswa kelas III STM Negeri, mewakili teman-temannya dalam pertemuan itu mengemukakan harapannya agar program GOTA ini dapat terus berlangsung, karena masih banyak anak-anak, khususnya di daerah, masih banyak yang memerlukan bantuan. Luluk, yang mengambil jurusan otomotif, seusai menamatkan sekolahnya berharap untuk dapat bekerja terlebih dulu, untuk membantu orang tua dan adik-adiknya. Mereka senang sekali dapat bertatap muka dengan Tim, yang selama ini sangat memperhatikan nasib sekolah mereka.

Apa yang disampaikan oleh Luluk tadi juga merupakan ungkapan dari teman-temannya di beberapa daerah lainnya, seperti di Wonosari, Giribelah (Wonogiri), maupun Salatiga. Beberapa orang tua mereka maupun para pengelola beasiswa dari beberapa gereja yang dikunjungi oleh Tim juga mengungkapkan harapan serupa, karena apa yang telah diulurkan oleh GKI Pondok Indah ini benar-benar dapat membantu menggairahkan pendidikan anak-anak, terutama dari keluarga yang kurang mampu, baik yang beragama Kristen maupun non-Kristen.

Sebagaimana diungkapkan oleh Ibu Aris Kristanti dari GKJ Giribelah di Baturetno, Wonogiri, bahwa di daerahnya masih banyak anak-anak yang “mengantri” untuk dapat memperoleh bantuan dana GOTA tersebut. “Hal ini menunjukkan bahwa bantuan tersebut memang benar-benar bermanfaat bagi pendidikan anak serta dapat memicu serta memotivasi untuk terus giat belajar,” kata Ibu Aris Kristanti.

Selain ke Giribelah dan Kalasan, Tim Komisi Dikkesra juga mengunjungi SMP Bopkri di Wonosari, di mana di SMP Bopkri ini sebanyak 30 siswa menerima bantuan GOTA dari GKI Pondok Indah. Tim juga berkunjung ke Panti Asuhan “Mardi Siwi” di Purwomartani, Sleman, Yogyakarta, di mana di panti ini ditampung sekitar 60 anak, dari siswa SD sampai mahasiswa, di mana sebanyak 31 orang siswa di panti ini menerima bantuan GOTA dari GKI Pondok Indah. Panti Asuhan ini dipimpin oleh Pdt. Christofel Kanter dari Gereja Sahabat Indonesia (GSI) dan isterinya, Ibu Tri Yuli Esthi Rahayu.

Selain melakukan peninjauan, Tim Komisi Dikkesra juga menyampaikan bantuan pendidikan untuk beberapa sekolah maupun gereja, seperti di SMP Bopkri di Wonosari, GKI Tegalrejo di Salatiga dan GKJ Giribelah dan Panti Asuhan “Mardi Siwi”.

Ketua Komisi Dikkesra Bpk. Hindra Tjahjadi mengharapkan agar dana bantuan pendidikan tersebut dapat membantu meringankan beban dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di tempat-tempat tersebut. (skt)
 
 
>> Arsip
 

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003