Antar Kita
19 Maret 2005
Kunjungan Tim Komisi Dikkesra
Panti Asuhan Mardi Siwi Nantikan Uluran Kasih
Terletak di Jl. Kadi Rojo I, Purwomartani, Sleman, sekitar 4 km sebelah timur kota Yogyakarta, Panti Asuhan “Mardi Siwi” dihuni tidak kurang dari 60 anak, seorang ibu tunawisma, Ibu Wiwik, yang baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Yeheskiel dan kini berumur sekitar tiga bulan.

Dengan menempati bangunan dua lantai, sekitar 60 anak-anak tadi, yang terdiri dari siswa SD sampai mahasiswa, belajar dengan kondisi seadanya. Namun mereka mempunyai semangat belajar yang tinggi. Hal itu terungkap ketika Tim Komisi Dikkesra belum lama ini berkunjung ke sana untuk meninjau dan mengunjungi anak-anak penerima beasiswa dan bantuan dana Gerakan Orang Tua Asuh (GOTA).

Dalam pertemuan tersebut, sebagian besar dari anak-anak tersebut mengungkapkan cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi tentara, ada pula yang ingin menjadi insinyur, desainer, model, penyanyi dan ada pula yang ingin menjadi pendeta karena di antara mereka ada mahasiswa yang sedang studi di Universitas Kristen “Imannuel” (UNKRIM) dengan mengambil jurusan Pendidikan Agama Kristen.

Sebagian dari mereka ini ada juga yang belajar di SMUK Imannuel, yang kebetulan UNKRIM maupun SMUK “Imannuel” tersebut letaknya sangat berdekatan dengan panti tersebut.

Dengan dibimbing oleh Pdt. Christofel Kanter dari Gereja Sahabat Indonesia (GSI) bersama isterinya, Ibu Tri Yuli Esthi Rahayu, anak-anak tersebut dengan tekun belajar. Mereka ini berasal dari berbagai macam latar belakang, ada anak petani, ada anak pegawai rendahan, anak buruh, bahkan ada pula yang berasal dari keluarga broken home.

Mereka juga berasal dari berbagai daerah yang berbeda, ada yang dari Jambi, Temanggung, Banyuwangi, Wonogiri, Gunung Kidul bahkan ada pula yang berasal dari Ambon (Maluku).

Namun di tempat ini mereka merasa homely, karena mereka merasa di-wong-ke (dimanusiakan) setelah berpisah dari sanak-keluarga mereka.

Beberapa anak mengemukakan bahwa mereka merasa bersyukur karena memperoleh bantuan dana GOTA dari GKI Pondok Indah untuk dapat melanjutkan studi mereka. “Saya nggak tau mau jadi apa kalau nggak dapat bantuan GOTA dari GKI Pondok Indah,” kata Aria Berlinda, 15 th, siswi klas III SMP Negeri III Kalasan. “Saya sangat berterima kasih dan bersyukur atas segala apa yang kami peroleh dari Tuhan melalui GOTA GKI Pondok Indah,” tambahnya.

“Kami sangat senang tinggal di sini. Papi (maksudnya Pdt. Christofel), sudah menganggap kami sebagai anak sendiri. Kami sangat kerasan, karena seperti di rumah sendiri,” kata Yohar Tatik, 14 th, siswi SMP Kanisius, Kalasan.

Dalam pertemuan yang berlangsung sangat akrab dengan para penghuni panti asuhan, anak-anak tersebut saling memperkenalkan diri serta mengungkapkan cita-cita mereka bila sudah selesai sekolah nanti. Di antara mereka bahkan ada yang menampilkan kebolehan mereka dengan bernyanyi. Mereka juga mempunyai suatu paduan suara yang sering pula melayani di beberapa kebaktian.

Sementara itu, Pdt. Christofel dalam bincang-bincang dengan Kasut, mengemukakan bahwa pihaknya masih bersedia menerima segala macam bantuan, baik berupa dana maupun barang-barang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari panti. “Kami juga mau menerima pakaian layak pakai seandainya jemaat GKI Pondok Indah dapat mengusahakan untuk kami,” katanya.

Menurut Pdt. Christofel, anak-anak yang diasuhnya sebagian besar mempunyai prestasi di atas rata-rata. “Ya memang ada satu-dua yang kurang beruntung. Namun hal itu sangat wajar di dalam kehidupan ini,” katanya. Dikemukakan pula bahwa dia juga masih memerlukan dana untuk melakukan berbagai perbaikan di panti yang kondisinya sudah memprihatinkan. Untuk itu, Pdt. Christofel mengimbau kepada siapa saja yang bersedia membantu panti asuhan yang dipimpinnya. Diakuinya bahwa sangat sulit baginya dalam situasi seperti sekarang ini untuk dapat mandiri tanpa adanya uluran kasih dari saudara-saudara seiman.
 
Yayasan Bina Kasih
Yayasan “Bina Kasih” adalah sebuah panti asuhan untuk penyandang tuna grahita (mental retarded) yang saat ini dihuni oleh sebanyak 17 orang dari berbagai daerah. Bahkan di antara penghuni tersebut ada yang berasal dari Jakarta dan Hong Kong. Saat ini panti dipimpin oleh Ibu Yanti, sementara para pendiri adalah Ibu Benjamin dan Bpk. Hardoyo.

Secara organisatoris, yayasan ini berada di bawah payung GKI Peterongan di Semarang, sementara untuk pembinaan iman penghuninya diserahkan kepada GKI Tegalrejo, Salatiga, yang kebetulan bertetangga, karena terletak di jalan yang sama dengan GKI Tegalrejo. Menurut Ibu Yanti, panti ini sebenarnya mempunyai kapasitas sebanyak 23 tempat tidur, namun saat ini penghuninya hanya berjumlah 17 orang, karena sebagian dari penghuni sudah diambil oleh keluarganya.

Ibu Yanti juga mengucapkan rasa syukur serta terimakasih atas uluran bantuan yang diterima dari jemaat GKI Pondok Indah melalui Komisi Dikkesra. Selain bantuan dari para donatur, yayasan ini juga memperoleh bantuan dari Dinas Sosial Pemda setempat.

Di Yayasan “Bina Kasih” ini Tim menyerahkan bantuan berupa sprei dan lain-lain. Tim juga bertatap muka dengan para penghuninya, dan pada saat pertemuan berlangsung beberapa orang dari mereka minta untuk dapat memberikan kesaksian dengan melantunkan beberapa lagu pujian. (skt)
 
Smp Bopkri Wonosari Tampung 30 Anak Nelayan
SMP Bopkri Wonosari, yang terletak di Jln. Sumarwi 29, Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta, pada saat ini menampung tidak kurang dari 30 anak nelayan dari pantai Baron dan daerah sekitarnya agar mereka dapat melanjutkan studi mereka di jenjang SLTP.

Menurut Ibu Rahyuni Taliningsih, Kepala SMP Bopkri Wonosari, mereka ini tadinya putus sekolah, karena orangtua mereka tidak mampu membiayai pendidikan mereka. Karena rasa trenyuh melihat kondisi mereka ini, maka Ibu Rahyuni dan kawan-kawan di SMP Bopkri berinisiatif untuk membantu mereka mencarikan beasiswa agar mereka dapat melanjutkan studi. Untuk itu maka Ibu Rahyuni menghubungi GKI Pondok Indah untuk dapat memperoleh bantuan dana GOTA guna menopang studi mereka ini.

Dikemukakan oleh Ibu Rahyuni bahwa kehidupan nelayan di pantai Baron dan daerah sekitarnya sangat menyedihkan. “Lebih-lebih saat ini mereka sudah sangat sulit untuk dapat melaut sehubungan dengan kenaikan harga BBM belum lama ini,” katanya. Bahkan banyak di antara nelayan tersebut kini beralih profesi sebagai buruh tani, yang sudah tentu sangat sulit untuk dapat menyesuaikan diri.

Menurut Ibu Rahyuni, saat ini mereka ditampung di bekas SD Bopkri, yang terpaksa harus ditutup karena “kehabisan siswa” dengan menghuni beberapa ruang kelas yang disulap menjadi asrama.

Biaya hidup anak-anak ini diperoleh dari sumbangan berbagai kalangan, oleh karena itu, Ibu Rahyuni juga menghimbau kiranya ada jemaat GKI Pondok Indah yang berkenan untuk dapat membantu biaya hidup anak-anak ini agar mereka dapat belajar dengan tenang.

Mereka juga mengharapkan bantuan dana dan lain sebagainya, seperti pakaian layak pakai, bahan-bahan bacaan, serta peralatan lainnya untuk dapat melengkapi kebutuhan asrama. Bagi yang tergerak untuk menyalurkan bantuan dapat menghubungi Komisi Dikkesra melalui kantor gereja atau langsung kepada Ibu Rahyuni Taliningsih d/a SMP Bopkri Wonosari, Jln. Surmawi No. 29, Wonosari, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55812 telp. 0274.391407. (skt) 
 
 
>> Arsip
 

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003