Antar Kita
15 Desember 2005
Pelayanan Natal Di Lapas Wanita Tangerang
Komisi Pekabaran Injil GKI Pondok Indah dan lima Komunitas Basis (Kombas) Wilayah Pondok Indah di bawah koordinasi Pokja Pelayanan Lembaga Pemasyarakatan PGI (Pokja PLP PGI) pada hari Sabtu 10 Desember lalu melakukan pelayanan perayaan Natal 2005 bersama para penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wanita Tangerang, Banten.

Sebanyak sekitar 35 warga GKI Pondok Indah dari lima Kombas Wilayah Pondok Indah berbaur dengan rekan-rekan sepelayanan Lapas dari jemaat-jemaat lain, seperti dari GKI Pakisraya, GKP Kampung Tengah, dan GKI Bungur merayakan Natal 2005 di Lapas Wanita Tangerang, di mana di dalamnya terdapat 380 narapidana (napi) dalam kasus-kasus narkoba, baik sebagai Bandar/penjual, pengedar maupun pemakai, dengan hukuman bervariasi dari beberapa bulan, 20 tahun bahkan sampai hukuman mati. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen atau sebanyak 120 orang, beragama Kristen.

Dalam pelayanan perayaan Natal di Lapas Wanita Tangerang ini, GKI Pondok Indah dipercaya sebagai koordinator, yang dalam hal ini dilakukan oleh Komisi Pekabaran Injil yang diketuai oleh saudara Arman Sulaiman.

Pada pelayanan Perayaan Natal 2005 di Lapas Wanita Tangerang ini, Komisi Pekabaran Injil bekerjasama dengan Kombas 1 s/d 5 Wilayah Pondok Indah. Dalam kaitan ini kelima Kombas Wilayah Pondok Indah juga menyiapkan bingkisan-bingkisan Natal baik untuk warga binaan (napi) maupun untuk para petugas lapas yang berjumlah 90 orang dan delapan di antaranya beragama Kristen sebagai wujud kepedulian sosial yang diprogramkan melalui Kombas.

Ikut mendampingi di dalam perayaan Natal di Lapas Wanita Tangerang tersebut Pnt. Halim Atmadja (Koordinator Wilayah Pondok Indah), Pnt. Sri Didayat (Koordinator Wilayah Pondok Indah), Pnt. Tom Surjadi, Pnt. Grace Tabaluyan, Pnt. Yan Watung dan dari Komisi Pekabaran Injil Bpk. Martin B. Naffi dan Bpk. Rico Sahuleka. Dari Pokja PLP PGI hadir ketuanya, Bpk. Gustav Dupe, serta staf Pokja lainnya. Dari pihak Lapas hadir antara lain, Ibu Arti Wirastuti, SH, Kepala Lapas, dan beberapa staf lainnya.

Setelah sambutan oleh koordinator perayaan Bpk. Martin B. Naffi dan doa pembukaan oleh Pnt. Tom Surjadi, sekitar pukul 09:30 Perayaan Natal dimulai ditandai dengan penampilan para warga binaan (napi) dengan beberapa lagu dengan iringan musik kolintang, yang disusul dengan beberapa pujian oleh vocal group dengan berbagai lagu Natal. Turut pula memberikan kesaksian pribadi oleh empat orang warga binaan, sementara khotbah disampaikan oleh Pdt. Ny. Nurkiana Simatupang dari GKI Pakisraya yang dilanjutkan dengan pujian paduan suara oleh PS GKI Pi Wilayah Pondok Indah.

Dari 380 napi wanita yang menghuni Lapas Wanita Tangerang, enam di antara mereka telah divonis mati oleh pengadilan dalam kasus penjual/Bandar dan pengedar narkoba dan mereka kini tinggal menunggu eksekusi saja. Dan lima di antara keenam orang yang telah divonis mati, ternyata adalah orang-orang Kristen. Tentu saja hal ini sangat memprihatinkan. Beberapa dari mereka sempat kami wawancarai.

Merry Hutami, usia sekitar 27 tahun, divonis mati empat tahun lalu. Namun selama berlangsungnya perayaan Natal itu tidak nampak tanda-tanda kegusaran di wajahnya dalam menghadapi hari-hari yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk pelaksanaan eksekusinya. “Mudah-mudahan ada mujizat dari Tuhan untuk mengubah hukuman saya menjadi hukuman seumur hidup atau 20 tahun penjara, di mana harapan untuk bebas masih terbuka,” katanya.

Selama perayaan berlangsung, nampak suka-cita di wajah Merry dan bahkan dia juga memimpin PS Lapas dengan memainkan musik kolintang dengan baik serta mempesona tamu-tamu yang hadir.

Edith, 25 th, nampak lebih damai di wajahnya dalam menghadapi eksekusi mati di hari-hari terakhirnya ini. Dia sudah menghuni Lapas Wanita Tangerang ini selama sekitar lima tahun. Mungkin saat menerima vonis mati itu lima tahun silam ketakutan luar biasa telah menyelimuti hidupnya. Namun saat ini kedamaian telah menyelimutinya karena Kristus.

Ketika kami menanyakan perasaan hatinya bila eksekusi mati itu dilaksanakan, Edith hanya menyatakan perasaan suka-citanya karena setelah itu dia merasa pasti akan bersama dengan Bapanya di Sorga.

Ola, juga masih berusia di bawah 30 tahun, juga telah menerima vonis mati. Ola ini dulunya adalah dari golongan Ismail lalu menerima Yesus sebagai juruselamatnya. Namun karena dia melihat cara hidup sebagian orang-orang Kristen yang tidak sesuai dengan ajaran Kristus, maka dia berbalik kembali memeluk agama Islam. Dia menekuni kembali ajaran agamanya dengan banyak membaca Kitab Sucinya, dan pada suatu saat ketika membaca Surat Anisa, maka di situ dia menemukan jawaban tentang Tuhan yang sebenarnya dan kemudian dia kembali percaya kepada Kristus, yang telah turun ke dunia untuk menebus dan membebaskan umat manusia dari segala dosanya.

Sebelumnya Ola juga sudah menyaksikan teman-temannya di dalam lapas yang telah divonis mati, namun mereka semua itu selalu bersukacita dan bernyanyi, padahal mereka sedang menghadapi eksekusi mati yang akan segera mereka jalani. Di lapas ini Ola dijamah dan dipilih oleh Tuhan Yesus menjadi pewaris dalam Kerajaan yang Kekal selama-lamanya itu.

Kelima wanita terpidana mati itu sadar bahwa mereka sedang menghadapi pelaksanaan eksekusi mati apabila ternyata tidak dapat memperoleh grasi dari presiden yang dapat mengubah hukuman mereka. Namun hal itu kini tidak lagi menguasai hati dan pikiran mereka. Mereka kini mengisi hari-hari mereka dengan berbagai kegiatan di lapas, dan terutama sekali mendekatkan diri mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di dalam lapas mereka mendengar suara Tuhan lewat saat teduh pribadi, persekutuan doa, serta pembinaan rohani dari berbagai gereja yang melakukan pelayanan di Lapas Wanita Tangerang.

Di dalam lapas ini Tuhan memakai mereka untuk melakukan berbagai perkara besar. Dalam khotbah perayaan Natal, Pdt. Ny. Nurkiana Simatupang antara lain mengemukakan bahwa ketika para gembala mendengar suara Tuhan dan melakukan apa yang Tuhan katakan untuk pergi ke Bethlehem, maka mereka langsung pergi ke sana dan menemukan bayi Natal Tuhan Yesus Kristus. Dan ketika kita masing-masing mendengar suara Tuhan lewat firman-Nya dan tidak mendengar suara-suara lain (iblis), maka di situ kita bertemu Tuhan!

Seusai ibadah Natal pada pukul 11:30, dilanjutkan dengan ramah-tamah serta penyerahan bingkisan secara simbolis kepada para napi dan para petugas lapas oleh Bpk. Sarwono kepada Kepala Lapas Wanita Tangerang Ibu Arti Wirastuti, SH. (myw/skt)
 
 
>> Arsip
 

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003