Antar Kita
17 September 2005
Pertanyakan Kadar Kemerdekaan
Pada tgl 9 September lalu, di Aula STT Jakarta berlangsung suatu pertemuan para pelayan penjara se-Jabotabek, yang juga dihadiri oleh wakil dari GKI Pondok Indah, Pnt. Yan Watung.

Setelah sebuah renungan yang dibawakan oleh Pdt. Weinata Sairin, M.Th., dilanjutkan dengan sebuah refleksi 60 Tahun Indonesia Merdeka yang mempertanyakan Kadar Kemerdekaan Bangsa Indonesia hingga saat ini, di mana dalam kesempatan ini tampil para pembicara dr. Sukowaluyo Mintohardjo, M.Kes., yang membahas Refleksi 60 Tahun Indonesia Merdeka; DR. Bert Adrian Supit tentang “Kajian Kritis Atas Harga Yang Sangat Mahal 60 Tahun NKRI”; serta seorang pembicara Muslimah, Ibu DR. Musda Mulia dari The Indonesian Conference for Religion and Peace.

Dalam papernya, Dr. Bert Adrian Supit mengemukakan bahwa selama 60 tahun berdirinya NKRI yang dipelopori oleh para founding fathers, ternyata negeri ini mengalami dekadensi dan pembusukan yang signifikan. “Karena selama 60 tahun Indonesia merdeka bangsa besar Indonesia yang dipimpin oleh para elit politik, birokrat dan militer, tidak juga, bahkan gagal membentuk bangunan karakter manusia Indonesia yang kokoh bagi sebuah Nation Building Indonesia,” tegasnya.

Dikemukakan pula bahwa nasionalisme Indonesia ternyata hanya semu dan rapuh lantaran semangat patriotisme Nasionalisme Indonesia ini selama 60 tahun merdeka tidak dibangun dari bawah (daerah) dengan sifat dan wajah yang beraneka ragam (kebhinekaan) seperti Indonesia berjuang melawan kolonialisme dahulu. Bahkan selama 60 tahun Indonesia merdeka yang terjadi adalah bentuk-bentuk pemaksaan dengan kekerasan yang ‘ideologis-militeristis’ demi keuntungan dan kepentingan penguasa. Rakyat seakan-akan menerima saja nasibnya melalui pemilihan umum yang memilih wakil-wakilnya, namun setelah menikmati manisnya kekuasaan lantas bersikap ‘cuek’ atas nasib rakyat, tambahnya.

Menurut Dr. Bert Adrian Supit, kondisi ini makin runyam apalagi sejak reformasi bergulir, bangsa Indonesia mulai tenggelam dalam euphoria yang berlebihan. Terjadi pengkaburan makna demokrasi yang berdampak pada saling klaim kekuasaan dan kepentingan. Setelah 60 tahun merdeka terjadi penguatan radikalisasi agama yang ingin memaksakan ideologi agama kaum mayoritas atas kaum minoritas dan semangat pluralisme dalam cita-cita Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika mulai mengendor dan terkikis. “Apalagi dengan dikeluarkannya Fatwa MUI yang mengharamkan pluralisme, maka lengkaplah sudah kehancuran dasar pijakan Pancasila bangsa Indonesia,” tegasnya.

Acara ini diikuti oleh sekitar 75 orang peserta mewakili berbagai gereka yang tergabung dalam Pokja PLP PGI se Jabotabek. (MYW/skt)
 
 
>> Arsip
 

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003