Antar Kita
23 Juni 2005
Pembangunan Belum Usai, Berapa Lama Lagi?
Beberapa tahun belakangan ini rasanya tidak henti kita menyaksikan gereja kita direnovasi, buat ini dan itu, yang katanya bertujuan meningkatkan efektivitas pelayanan. Panitia Pembangunan dibentuk dan terus berkonsentrasi menyelesaikan proyek demi proyeknya. Apakah ini yang dimaksud dengan “Pembangunan Belum Usai”? Sampai kapan ini akan berakhir? Sebab bukan hanya banyak debu yang membawa polusi buat kesehatan seluruh karyawan dan warga jemaat, namun jujur saja tentulah kita mengharapkan bisa datang ke gereja dengan nyaman dan tenang. Jika [maaf] uang atau dana tidak boleh dijadikan alasan kendalanya.
 
Pembangunan Bait Allah
Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya akan membawa saudara untuk menelusuri kisah ‘gereja’ sebelum zaman Tuhan Yesus hidup di dunia. Mengapa? Sebab judul di atas, yang juga menjadi tema HUT GKI PI tahun ini, juga diinspirasikan oleh kisah ribuan tahun yang lalu dalam Alkitab. Jadi ada baiknya kita menengok ke belakang, demi kejelasan hari ini.

Jauh sebelum Yesus hidup, kata “bait” telah digunakan oleh masyarakat untuk menjelaskan hal yang berkaitan dengan kegiatan agamawi. Sebut saja pada zaman Abraham, di tempat tinggalnya Mesopotamia, terdapat bait yang diakui oleh masyarakat setempat sebagai tempat hidup Dewa. Dewa yang berkuasa memberi berkat pada masyarakat itu, dianggap sebagai Sang Pemberi tanah yang sudah dan akan terus digunakan demi kelangsungan hidup mereka. Berdasarkan keyakinan bahwa Sang Dewa hidup dan berkuasa atas mereka, masyarakat setempat menaruh hormat dan bakti yang besar pada para Dewa melalui pembayaran pajak ke bait tersebut. Pajak itulah yang digunakan membangun, memelihara dan memperbaiki keutuhan bait, tempat masyarakat bertemu dan menyembah ilah-ilah mereka.

Dalam Alkitab, dikisahkan juga masyarakat yang sibuk membuat bait (Kej 11). Sayangnya mereka tidak menyelesaikan pembangunan itu. Bukan karena mereka tidak punya biaya, atau karena tidak ada pekerja, melainkan karena Tuhan tidak berkenan.

Seandainya pembangunan bait “Menara Babel” diibaratkan pembangunan bait GKI PI betapa menggemparkannya. Bisa dibayangkan pekerjaan lift akan terhenti, besi-besi yang menjulang tinggi tetap menghias ruang gedung gereja kita, dan plastik-plastik yang biasa digunakan untuk menampung puing-puing masih terus berserakan.

Pertanyaannya, apakah pembangunan fisik GKI PI yang dimaksud oleh tema HUT GKI PI kali ini? Saya meyakini, tema itu tidak sedang berbicara tentang pembangunan jasmaniah gereja kita.

Teringat kembali, bapak-bapak leluhur orang Israel pun seringkali bahkan bongkar pasang bait mereka. Karena mereka merupakan pengembara, mereka tidak mendirikan bait khusus bagi Allah mereka. Sebab Allahlah yang menentukan tempat pertemuan antara diri-Nya dengan umat. Lantas, apa yang mereka dirikan sebagai tempat pertemuan mereka dengan Allah, sebelum Kemah Suci didirikan, umat Israel berjumpa dengan Allah di tempat yang bernama Kemah Pertemuan? (Kel 33:7-11). Kemah Pertemuan disebut juga “tempat tinggal” – misykan Yos 26:1 atau “kemah kesaksian” – edut karena di situlah disimpan loh tempat perjanjian ditulis. Dari satu tempat ke tempat yang lain, kemah pertemuan dibawa Musa seiring dengan perjalanan bangsa itu di padang gurun menuju tanah perjanjian. Bukan hanya sebagai tempat perjumpaan yang ditentukan Allah untuk bertemu dengan umat, tetapi juga kemah pertemuan merupakan rumah Yahweh (Kel 34:26). Kemah itu masih tetap digunakan sampai bangsa Israel masuk di tanah Kanaan dan pada akhirnya ditempatkan oleh Salomo dalam Bait Suci (1 Raj 8:4).

Apakah berarti tidak ada pembangunan di zaman pengembaraan Israel? Apakah bongkar pasang kemah merupakan alasan tidak diperlukannya pembangunan? Dan baru setelah Salomo membangun bait Allah yang tidak selesai-selesai karena memakan waktu bertahun-tahun (1 Raj 6), kita bisa mengatakan bahwa di situlah mulai ada Pembangunan? Menurut hemat saya, tentulah arti pembangunan yang sesungguhnya, tidak sempit hanya bicara pembangunan fisik.

Betul, pembangunan fisik itu perlu dan tidak dapat diabaikan. Lihat saja gereja-gereja di Jakarta yang kesulitan beribadah di gedung gereja miliknya sendiri. Bahkan ada di antara mereka yang harus menyewa gedung dari satu tempat ke tempat yang lain karena tidak kunjung turun ijin pembangunan fisik. Namun kembali lagi pada niatan memunculkan tema HUT GKI PI, apa makna pembangunan yang sesungguhnya?
 
Bait Allah yang Sesungguhnya
Pembangunan yang sesungguhnya dalam kehidupan bergereja, perlu ditelusuri mulai dari bait Allah yang sesungguhnya. Memang, Bait yang mulanya dibangun oleh Salomo, sekarang masih ada di tempat yang disebut Haram esy-Syerif di timur kota tua Yerusalem. Namun Bait Allah yang sesungguhnya, menurut Yesus bukanlah barang yang fana, yang sekarang berdiri dan besok bisa berubah bentuk, interior maupun ukurannya.
  • Pertama, Bait Allah yang dimaksudkan-Nya adalah tubuh-Nya sendiri (Yoh 2:21). Beberapa pemikiran yang dapat membantu kita memahami pernyataan ini adalah:

    1. Mulanya, seperti pemahaman manusia, Allah ada dalam bait;
    2. Lalu dengan kehadiran Yesus, gambaran yang tidak kelihatan tentang Allah yang ada dalam bait menjadi jelas. Yesus hadir di bait, Yesus menjalankan fungsi-Nya sebagai Allah yang menunjukkan kuasa, mengajar banyak orang dan membagi berkat;
    3. Sekaligus Yesus menunjukkan bahwa kehadiran Allah/diri-Nya tidak hanya terbatas di Bait. Di mana Yesus ada, di situ ada Bait.

    Apa yang membuat-Nya sempurna sebagai bait? Karena Ia-lah yang membangun bait itu sendiri. Ia telah membuktikannya pada kita, bahwa dalam tiga hari sejak kematian sampai kebangkitan-Nya (Yohanes 2:19) Ia telah menunjukkan karya-Nya yang sempurna, yang menunjukkan bahwa Dialah Allah. Dan jika Ia (Yesus) yang adalah Allah tinggal di dalam kita, maka kita sendiri pun telah memenuhi syarat sebagai Bait Allah.

  • Kedua, Bait Allah yang dimaksud oleh penulis Korintus ialah saudara dan saya, jika memang saudara dan saya membuka hati agar Allah tinggal di dalamnya (1 Kor 3:16), seperti penjelasan di atas.

  • Ketiga, Bait Allah juga ialah kita (Ef 2:21). Kesatuan dari Kita disebut bait Allah, sejauh kita hidup dan tumbuh bersama-sama, dengan Kristus sebagai dasarnya. Pertanyaan praktis, apakah ada kumpulan yang menjadikan Kristus sebagai dasar? Tentu saja banyak. Dan untuk itu mereka tidak dapat disebut sebagai bait Allah, sekalipun mungkin mereka meminjam gedung gereja sebagai tempat berkumpul.
 
Pembangunan tidak boleh Usai
Dari ketiga definisi di atas tentang Bait Allah, kita melihat ada tiga kata dasar yang sejalan yaitu: bangun, tumbuh dan berdiri. Ketiga kata ini dapat menyiratkan sebuah perubahan ke arah yang baik, positif dan benar, apalagi dengan pengukuhan kata kudus (Ef 2:21) dan percaya (Yoh 2:22) sebagai target atau tujuan dari sebuah pembangunan, pertumbuhan atau pendirian.

Ini berarti, selama saudara dan saya bertumbuh, selama itulah kita mengalami pembangunan. Justru sebuah ironi, jika pembangunan itu berakhir. Sebab seorang yang tidak lagi bersedia dan berupaya bertumbuh, berarti ia tidak sedang berupaya mencapai hidup kudus. Efesus 2:21b menyebutnya dengan (proses) menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.

Terus terang, inilah yang seringkali kita lupakan. Kita hanya berbicara seputar pembangunan fisik gereja. Kita ribut dan protes tentang hal-hal yang berkenaan dengan gedung gereja sehingga habislah waktu, tenaga dan pikiran kita untuk memfokuskan perhatian pada efektivitas pertumbuhan iman dan kedewasaan kita sebagai pengikut Kristus.

Usul saya, semoga berguna untuk saudara, bagaimana kita mengubah fokus perhatian kita pada pertanyaan-pertanyaan dan bahan pemikiran seperti:

  • Bagaimana caranya agar saya dapat tetap menjadi seorang Kristen yang jujur dan memegang teguh kebenaran di tempat kerja, di perkumpulan yang secara rutin saya mengikuti kegiatannya, atau di tempat studi saya?
  • Atau, topik apa yang bermanfaat meningkatkan kesadaran akan pelayanan di setiap program pembinaan badan pelayanan gereja kita?
  • Atau, bagaimana saya sebagai pengikut Kristus dapat mempengaruhi banyak orang agar mau peduli pada orang-orang yang membutuhkan?
  • Atau, dengan cara apa saya dapat mendukung pembangunan di gereja?
Dengan mempertanyakan hal-hal yang berkaitan dengan pertumbuhan pribadi demi pribadi agar lebih banyak lagi anggota jemaat yang hidup kudus, hidup benar dan hidup peduli di dalam Tuhan, saya mengimani cara pandang kita mengenai arti “pembangunan” dalam hidup bergereja, akan jauh berbeda dari sebelumnya. Sehingga kita tidak akan lagi bertanya, “pembangunan belum usai, berapa lama lagi?” tapi kita akan bertanya, “apa lagi yang harus saya lakukan untuk terus melanjutkan pembangunan ini?”

Selamat Membangun. Mari kita membangun bersama sebagai anggota keluarga Allah, sebagai anggota keluarga besar GKI Pondok Indah. Selamat Ulang Tahun!
Riani Joshapine Suharja
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003