Antar Kita
26 Mei 2005
“Ketika Aku di Dalam Penjara, Kamu Mengunjungi Aku!” (Matius 25:36c)
Tulisan berikut adalah laporan perjalanan Pnt. Martin Jan Watung dalam pelayanan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusa Kambangan dalam rangka Perayaan Paska 2005 bersama Pokja PGI

Salah satu kegiatan pelayanan Jemaat GKI Pondok Indah adalah melayani mereka, yang karena situasi dan kondisi memaksa mereka harus tinggal di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Dalam kaitan ini, GKI Pondok Indah merupakan salah satu pendukung yang turut mengambil bagian dalam pelayanan bagi mereka yang tinggal di dalam Lapas melalui Kelompok Kerja Pelayanan Lembaga Pemasyarakatan PGI (Pokja PLP PGI) Wilayah Jabotabek dengan koordinator Pnt. Max Tannos dari GKI Gading Indah, Kelapa Gading.

GKI Pondok Indah sendiri dikoordinir oleh Bpk. Martin B. Naffi dari Komisi Pekabaran Injil, yang selama ini aktif "keluar-masuk" penjara (bukan sebagai nara pidana, tetapi untuk melayani kasih Kristus di tempat-tempat tersebut). Bahkan boleh dikata hampir semua Lapas di Jabotabek pernah dilayaninya bersama-sama dengan para aktifis lainnya.

Kali ini salah satu sasaran pelayanan Pokja PLP PGI adalah Lapas Nusa Kambangan dan ini adalah untuk kali pertama GKI Pondok Indah turut melakukan pelayanan di penjara pulau tersebut yang dilakukan bertepatan dengan Hari Raya Nyepi, yang jatuh pada hari Jumat, 11 Maret lalu.

Demikianlah maka ketika sebagian warga sedang menikmati liburan long-weekend, sebanyak 72 orang aktifis gereja dari berbagai denominasi anggota PGI bekerjasama dengan Yayasan Apostel Bangun Bangsa melakukan perjalanan pelayanan ibadah dan pelayanan medis di empat Lapas di Pulau Nusa Kambangan. Jemaat-jemaat yang ikut serta dalam pelayanan ini adalah GKJ Bekasi, GKI Gading Indah, GKJ Ebenhaezer, Gereja Kristus Petamburan, GKP Jatinegara, GKO Bekasi, GPIB Bukit Moria, GPIB Sumber Kasih, GPIB Ekklesia, POUL Kelapa Gading, GBI Mutiara, GPPI Kasih Samaria, Harvest dan GKI Pondok Indah, yang diwakili oleh Pnt. Martin Jan Watung, pendamping Komisi PI. Rombongan dipimpin oleh Pnt. Eko Setiadi dari GKJ Bekasi, yang adalah juga Sekretaris Pokja PLP PGI Jakarta.

Menuju Nusa Kambangan
Rombongan berangkat dari halaman Kantor PGI di Jln. Matraman tepat jam 08:30 WIB menuju Cilacap dan tiba di kota pelabuhan tersebut sekitar pukul 17:30 WIB atau setelah menempuh perjalanan selama sekitar sembilan jam. Cilacap adalah kota penyeberangan menuju Pulau Nusa Kambangan, di mana rombongan akan melakukan pelayanan. Sejenak memperhatikan kota Cilacap, nampak penataan kota yang cukup rapi, teratur dan indah dengan jalan-jalan yang lebar serta tidak terjadi kemacetan seperti di Jakarta. Selain itu juga tidak nampak adanya bangunan yang semrawut seperti di kota-kota besar.

Pelayanan di Nusa Kambangan baru dilakukan pada keesokan harinya, yaitu hari Sabtu, 12 Maret dan selama di Cilacap, rombongan menginap di Hotel Cilacap Inn milik Sdr. Paino Arlis Rizal di Jln. Sudirman. Di hotel inilah dipersiapkan dan diatur pembagian tugas para peserta yang dibagi ke dalam lima kelompok, yaitu empat kelompok bertugas di empat Lapas Nusa Kambangan, yaitu Lapas Batu, Lapas Kembang Kuning, Lapas Besi dan Lapas Permisan, yang merupakan Lapas terjauh dan tertua yang terletak sekitar 16 km dari Pelabuhan Nusa Kambangan, yang ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit karena jalanan rusak berat. Satu kelompok lagi melakukan pelayanan bagi para murid Sekolah Dasar yang terletak di dekat Lapas Besi.

GKI Pondok Indah sendiri turut melayani di lokasi terdekat, yaitu Lapas Batu bersama Pnt. M. Pasaribu dari GKO Bekasi yang melayani firman Tuhan, Pnt. Ferry Dharmawijaya dari Gereja Kristus Petamburan, Pnt. Paulus Bleguk dan Ibu dari GKO Bekasi, Pnt. Elbert Harikota dari GPIB Ekklesia, Bpk. Dolvie Kanter dari GPIB Bukit Moria, bersama seorang dokter dan lima perawat dari Yayasan Apostel Bangun Bangsa yang melayani pengobatan bagi para napi.

Didahului dengan pergumulan dan doa bersama maupun pribadi pada malam menjelang keberangkatan menuju Pulau Nusa Kambangan, rombongan pada Sabtu pagi 12 Maret meninggalkan hotel pukul 08:30 WIB dengan mengendarai dua buah bus menuju Pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap. Sebelum semua kelengkapan, bingkisan serta bawaan lainnya diturunkan dari bus, terlebih dahulu dilaporkan maksud dan tujuan kunjungan rombongan tersebut.

Tidak lebih dari lima menit setelah pengurusan ijin, rombongan diperkenankan untuk memasuki dermaga ferry Wijayapura menuju pelabuhan Sodom di Pulau Nusa Kambangan dengan menggunakan beberapa kapal ferry. Ada salah satu kapal ferry yang menarik perhatian rombongan, karena kapal ferry tersebut bernama “El Shaddai”.

Melihat Pulau Nusa Kambangan dari kejauhan, semula kami membayangkan sebagai sebuah pulau terpencil dan menakutkan yang berada di Samudera Indonesia. Ternyata pulau tersebut hanya terpisah sekitar 2 km saja dari daratan Pulau Jawa dan dapat ditempuh hanya dalam waktu sekitar 12 menit dari Cilacap. Bayangan semula pulau tersebut merupakan sebuah pulau yang menyeramkan dan dijaga ketat oleh para petugas bersenjata lengkap, sirna begitu kita mendarat di pulau tersebut, karena yang kami saksikan di situ jauh berbeda dari apa yang pernah kita dengar atau baca di media massa selama ini.

Menginjakkan kaki di daratan Pulau Nusa Kambangan, nampak para petugas Lapas yang juga berbaur dengan sekian banyak napi yang bebas berada di luar jeruji besi yang mengusik keingintahuan anggota rombongan. Mereka itu ternyata adalah napi yang sudah memperoleh remisi (pengurangan masa hukuman) yang tidak lama lagi akan segera meninggalkan Nusa Kambangan. Mereka diberi kelonggaran untuk beradaptasi dengan lingkungan bebas yang akan segera mereka nikmati.

Para petugas Lapas sangat bersahabat, kendati tetap dalam disiplin tinggi. Ada keramah-tamahan terpancar dari wajah mereka yang tiap hari bergelut bersama dengan para napi dengan berbagai kasus yang berat, kendati mereka tinggal di tempat yang jauh dan terpencil. Mereka patut memperoleh penghargaan, karena mereka ‘terpaksa meninggalkan keramaian kota-kota besar’ dan tinggal di tempat yang sunyi dan jauh dari mana-mana.

Pada waktu memasuki pelabuhan Cilacap, rombongan tidak melihat petugas yang menampakkan kecurigaan yang berlebihan, meskipun mereka tetap waspada. Demikian juga ketika mendarat di Sodom, Nusa Kambangan, para petugas sangat bersahabat dan nampak lebih santai dibanding derngan petugas-petugas di Lapas lain di Jabotabek yang pernah dikunjungi.

Di semua Lapas di Nusa Kambangan terdapat sekitar 400 orang petugas, di mana 10 orang di antaranya beragama Kristen Protestan dan Katolik serta menjaga sekitar 800 orang napi dan sebanyak 92 orang di antara mereka itu beragama Kristen/Katolik.

Kesaksian Petugas Lapas dan Pendeta
Sebenarnya Lapas Batu letaknya paling dekat dengan pelabuhan Nusa Kambangan namun karena kondisi jalan yang kurang baik utusan GKI Pondok Indah yang melayani di Lapas ini, terpaksa harus ikut mengantarkan tim yang akan melayani Lapas yang paling jauh.

Selama perjalanan menuju Lapas terjauh ini p.p., Pnt. Jan Martin Watung sempat berbincang-bincang dengan seorang petugas penjaga napi, Asmin Yosafat. Membaca namanya yang berbau kristiani, Pak Watung berusaha untuk menggali informasi mengenai suka-duka menjalankan tugas di Nusa Kambangan. Dan ternyata Pak Asmin Yosafat, SH, ini adalah seorang Kristen dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Bag. Tata Usaha.

Pak Asmin bersaksi bahwa dia menerima tugas ini dengan penuh suka-cita serta bersyukur dapat melakukan pelayanan rohani bagi para penghuni Lapas yang beragama Kristen. Keluarga Pak Asmin dikaruniai empat orang anak, tiga lelaki dan satu perempuan dan semuanya telah berhasil menyelesaikan studi S-1 mereka. Bahkan dua di antara mereka berhasil memperoleh beasiswa untuk mengambil S-2 di luar negeri.

Pak Asmin mengemukakan pula bahwa dia merasa tidak sia-sia atas tugas pelayanan yang dilakukan oleh berbagai denominasi gereja di Lapas Nusa Kambangan ini, terbukti sampai dengan tahun 2002 yang lalu telah ada tujuh napi yang akhirnya menjadi pendeta dan sekian banyak pula telah bertobat menjadi pengikut Kristus yang setia.

Kesaksian lain muncul dari Ibu Pdt. Nonce Koraag, Gembala Sidang dari dua jemaat GPPI, dan salah satunya adalah Jemaat GPPI Kasih Samaria, juga aktif melakukan pelayanan keluar-masuk penjara. Bahkan beliau pernah pula melayani di beberapa penjara di luar negeri.

Ibu Pdt. Nonce karena kasihnya melayani penjara, pernah suatu saat rumahnya dirampok oleh seorang bekas napi yang pernah dilayaninya di penjara dengan berpura-pura untuk menumpang tinggal sementara sekeluarnya dari penjara. “Namun Tuhan itu sangat baik. Tuhan mengijinkan harta saya dirampok, untuk diganti dengan yang lebih baik,” kata Ibu Pdt. Nonce.

Perbincangan kami terputus karena truk Lapas yang membawa rombongan telah tiba untuk melayani ibadah dan pelayanan kesehatan di Lapas Batu.

Pelayanan Ibadah Dalam Lapas
Sewaktu rombongan memasuki Lapas Batu di mana kami ditugaskan, di atas pintu masuk terbaca tulisan “Mereka Bukan Penjahat, Masih Ada Kesempatan Bertobat”. Di pintu masuk itu juga rombongan berhadapan dengan para petugas yang ramah dan bersahabat yang dengan sopan mempersilakan kami masuk. Rombongan juga dimohon untuk meninggalkan bawaan berupa ponsel dan kamera. Para napi yang ditemui di dalamnya juga tidak terlihat angker seperti di film-film, kendati Lapas ini dihuni oleh para napi kelas kakap. Demikian juga Lapas itu sendiri bersuasana tenteram damai dengan dikelilingi pohon-pohon rindang yang tumbuh subur dengan kicauan burung gereja di sekitarnya.

Rombongan Pokja PLP PGI melayani ibadah di salah satu ruangan yang khusus untuk kegiatan peribadahan bagi mereka yang beragama Kristen dan Katolik. Dulu mereka beribadah di sebuah bangunan gereja di samping Lapas Batu ini, tapi untuk sementara tidak diperbolehkan. Di Lapas ini terdapat 17 napi yang beragama Kristen/Katolik dan mereka hadir dalam ibadah bersama dengan 10 anggota rombongan yang melawat ke Lapas tersebut. Jumlah napi di Lapas Batu ini 220 orang termasuk, Tommy Suharto, dengan masa hukuman 10 tahun ke atas, seumur hidup atau hukuman mati tapi sudah memperoleh remisi. Napi yang Kristen ini terlibat dalam berbagai kasus, sepereti perampokan, pembunuhan dan narkoba. Terakhir dimasukkan pula ke Lapas ini mereka yang terlibat kasus korupsi.

Nampak adanya kerinduan yang terpancar dari wajah mereka saat mengikuti ibadah dan renungan yang dibawakan Bpk. St. M. Pasaribu. Bahkan ketika lagu-lagu pujian kepada Kristus dilantunkan, ada yang meneteskan airmata sukacita karena kasih Kristus. Salah seorang di antara mereka, F. Simatupang, mengungkapkan: “Kasih manusia itu terbatas, tapi kasih Tuhan Yesus tiada batasnya!” Di mata Tuhan Yesus jiwa seseorang begitu berharga, karena itulah Dia juga setia berada di tengah anak-anakNya yang ada di Lapas Nusa Kambangan ini dan banyak dari mereka bertobat dari kejahatan yang dilakukan. “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat!” (Lukas 15:10).

Rasa haru yang mendalam sangat mereka rasakan ketika mereka menyanyikan sebuah lagu berjudul “Oh, Indahnya kasih-Mu Yesus, Kau Sertai Aku”, yang digubah oleh terpidana H. Napitupulu. Ada lagi yang menarik perhatian anggota rombongan ketika mereka melaporkan bahwa di Lapas ini telah terbentuk Persekutuan Doa “Bukit Getsemani” yang diikuti ke-17 napi ini. Kegiatan persekutuan doa ini meliputi sharing firman Tuhan dan doa setiap Kamis dan Minggu, yang dipimpin seorang napi bernama Robert Manurung. Dia terpaksa menghuni Lapas ini karena kasus pembunuhan seorang petugas keamanan yang sedang mengejarnya.

Pelayanan Kesehatan
Sebanyak enam orang dokter (dr. Cynthia, dr. Santi, dr. Vero, dr. Thomas Moor, dr. Kulmant, dr. Irene) dari 24 peserta Tim Medis (perawat dan apoteker) yang tergabung dalam Yayasan Apostel Bangun Bangsa, merelakan diri selama tiga hari meninggalkan kesibukan mereka untuk melakukan pelayanan kesehatan di Lapas Nusa Kambangan ini.

Tidak kurang dari 523 pasien, termasuk napi, pegawai, keluarga pegawai memperoleh pelayanan kesehatan secara cuma-cuma. Sungguh merupakan pelayanan yang melelahkan namun tetap dilakukan dengan ceria dan penuh sukacita yang nampak dari wajah-wajah mereka seusai melayani. Kata Yesus: “Ketahuilah, waktu kalian melakukan kepada salah seorang dari saudara-Ku yang terhina, kalian melakukannya kepadaKu!” (Matius 25:40Bis).

Kembali ke Jakarta
Sekitar pukul 13.00 WIB, seluruh kegiatan pelayanan rohani dan medis di semua Lapas telah selesai. Demikian pula halnya pelayanan di SD Negeri Tambakreja yang terletak di dekat Lapas serta SD Desa Ujung Alang yang hanya bisa ditempuh dengan sepeda motor atau jalan kaki sejauh tiga km dari Permisan. Desa merupakan hunian penduduk asli Nusa Kambangan dan beberapa mantan napi yang tidak mau kembali ke kampung halaman mereka. Di SD-SD ini dibagikan tas sekolah, buku-buku dan alat tulis kepada 100 anak.

Semua anggota rombongan berkumpul di Lapas Permisan pada jam 14.00 untuk makan siang bersama. Kendati raga kami terombang-ambing dimainkan truk Lapas yang mengangkut kami, namun kami merasakan sukacita karena kami dapat berbagi rasa dengan para napi maupun dengan anak-anak SD di tempat ini. Setiap peserta rombongan mengungkapkan pengalaman yang menarik dalam melakukan pelayanan di Lapas Nusa Kambangan maupun sewaktu membagikan bingkisan kasih kepada semua anak SD yang gedung dan peralatannya sangat memprihatinkan. Di SD Ujung Alang, Kampung Laut, terdapat 45 siswa dengan dua orang relawan guru belajar di bangunan sekolah dari bambu berukuran 4 X 7m. Semuanya menjadi catatan bagi pelayanan mendatang.

Rombongan kembali menaiki kapal ferry ke Cilacap, dilanjutkan menuju Hotel Cilacap Inn untuk mengemasi barang bawaan, berdoa bersama dan langsung kembali ke Jakarta pada pukul 16.00 WIB dengan menggunakan dua buah bus dan dua mobil pribadi.

Di tengah perjalanan, kami dihadang hujan lebat disertai petir, dan ternyata bus yang kami tumpangi bocor, sehingga sebagian peserta basah kuyup. Tapi sebagian ibu rupanya cukup bijak, karena mereka ternyata telah sedia payung dan baru pertama kali inilah kami saksikan orang naik bus berpayungan. Namun di antara rombongan tidak ada keluh kesah, karena ini merupakan pengalaman manis bersama Tuhan, dengan suka duka dalam melakukan pelayanan. Sesuai dengan program Pokja PLP PGI, maka pelayanan di Nusa Kambangan akan dilakukan dua kali dalam setahun.

Rombongan tiba kembali di Jakarta pada pukul 02.00 WIB Minggu dini hari tgl 13 Maret 2005 dan langsung bertugas kembali dalam pelayanan di gereja masing-masing. (mjw/skt/rw)


 
         
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003