|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Antar
Kita |
|
30
Oktober 2004
Agustus - Oktober 2004 |
|
|
|
Program PTJ, Sangat
Bermanfaat dan Perlu Kesinambungan |
Program Pendidikan Teologia Jemaat (PTJ)
yang diselenggarakan oleh Seksi Pembinaan, Mabid
Pembinaan, yang telah berjalan
sejak bulan Agustus lalu, memperoleh respons yang
sangat positif dari para peserta. Pada umumnya mereka
mengemukakan bahwa
program ini sungguh sangat bermanfaat. “Bukan saja
membuka cakrawala baru bagi kami, tetapi telah
mengungkap hal-hal baru
yang belum kami ketahui selama ini mengenai berbagai
hal yang berkaitan dengan isi Alkitab,” kata salah
seorang peserta.
Seorang peserta lainnya menyatakan bahwa program
pendidikan semacam ini sungguh sangat diperlukan bagi
para aktivis untuk
memperlengkapi diri guna melakukan pelayanan, sehingga
apa yang dikerjakan dalam pelayanan tidak akan
melenceng dari apa yang
seharusnya dilakukan. “Program ini benar-benar telah
membuka mata dan hati kami guna memahami makna
teologis berbagai firman
yang terkandung di dalam Alkitab,” katanya lebih jauh.
Sementara itu, Bpk. P.P. Poli mengemukakan bahwa
program ini sangat
diperlukan bagi pembinaan jemaat. “Program ini sangat
bermanfaat dan perlu untuk diteruskan, dan kalau perlu
dapat dibuka
kelas-kelas baru,” katanya menambahkan.
Selama tiga bulan pertama, yaitu bulan-bulan Agustus,
September dan Nopember, kepada peserta diberikan mata
kuliah dasar yang
wajib diikuti oleh semua peserta. Mata-mata kuliah
dasar tersebut terdiri dari Hermeneutik (Alkitab dan
penafsirannya);
Pengantar Teologi Konstruktif serta Pengantar Etika
Kristen.
Para pengajar terdiri dari Pdt. Dr. Robert Setio dan
Pdt. Dr. Yahya Wijaya, keduanya dari Universitas
Kristen Duta Wacana di
Yogyakarta, sedang mata kuliah Pengantar Etika Kristen
menurut rencana akan diberikan oleh Pdt. Dr. R.P.
Borong dari STT
Jakarta.
Tahap kedua program PTJ ini akan dimulai kembali bulan
Januari nanti hingga Maret 2005, di mana para peserta
diminta untuk
melakukan pendaftaran ulang sebelum dimulainya program
tersebut. (skt) |
|
PS Serafim Pentas Kantata di
Salatiga |
Paduan Suara (PS) Serafim dari GKI
Pondok Indah pada hari Sabtu 14 Agustus lalu
memperoleh kesempatan untuk melakukan pentas
kantata serta pelayanan di GKI Salatiga, Jawa Tengah.
Pelayanan ini dilakukan dalam rangka memperluas
lingkup pelayanan, yang
bukan hanya di lingkungan GKI Pondok Indah saja,
tetapi juga ke luar. Beberapa waktu lalu, PS Serafim
juga berkesempatan
untuk melakukan pelayanan di kota-kota lain. Kali ini,
dalam pelayanan di GKI Salatiga menyajikan sebuah
kantata karya Clair
Cloninger dan Gary Rhodes bertajuk “My Utmost For His
Highest.” Clair Cloninger dan Gary Rhodes menggubah
karya musikal ini
diilhami oleh sebuah buku bacaan harian dengan judul
yang sama.
Dalam kantata ini Cloninger dan Rhodes mencoba untuk
menterjemahkan bacaan buku harian tersebut menjadi
suatu sajian musikal
yang mempesona. Persembahan ini menjadi tema utama
dari kantata yang terdiri dari 11 lagu itu.
Selain dalam pentas kantata, sebagian dari 11 lagu itu
juga dibawakan dalam kebaktian umum di GKI Salatiga
pada keesokan
harinya, Minggu 15 Agustus pagi, dan pada sore hari di
Gereja Kristen Jawa (GKJ) Salatiga.
Rombongan PS Serafim, yang terdiri dari 35 orang
vokalis, dua pemusik, seorang narator, empat orang
official di bawah
pimpinan Bpk. Budi Arlianto, berangkat dari gedung
gereja GKI PI pada jumat malam pukul 21:45 WIB dengan
menggunakan sebuah
bus. Mereka tiba di Salatiga setelah menempuh
perjalanan selama sekitar 12 jam pada Sabtu pagi
sekitar pukul 08:30. Setelah
menikmati sarapan, rombongan langsung menuju lokasi
penginapan di Wisma Tamu Sinode GKI-GKJ.
Sore harinya sekitar pukul 15:00, rombongan berangkat
menuju ke gedung GKI Salatiga untuk melakukan
persiapan-persiapan,
karena pukul 17:00 mereka sudah harus mementaskan
kantata tersebut. Pementasan yang berjalan sekitar 75
menit itu berjalan
dengan lancar, di mana dalam kesempatan ini Pnt. Didi
Nugroho Catur Kembar bertindak sebagai narator. Dalam
pementasan
tersebut, PS Serafim memperoleh sambutan yang cukup
menggembirakan dari jemaat setempat serta penggemar
musik lainnya di kota
Salatiga.
Pelayanan di Gereja
Seusai pentas, rombongan menikmati santap malam yang
disajikan oleh ibu-ibu dari GKI Salatiga. Setelah itu,
rombongan
berkesempatan untuk menikmati acara bebas di lingkup
dinginnya kota Salatiga. Sebelum beristirahat malam,
rombongan mengikuti
ibadah malam, di mana dalam kesempatan tersebut Pnt.
Didi menyampaikan renungannya. Dalam kesempatan
tersebut juga
diungkapkan rasa syukur atas bimbingan Tuhan yang
terus menyertai rombongan semenjak keberangkatan
sampai saat pelayanan
serta pementasan kantata pada Sabtu sore itu.
Pada Minggu pagi, 15 Agustus, PS Serafim melakukan
pelayanan di dalam kebaktian umum kedua di GKI
Salatiga, di mana pada saat
bersamaan GKI Salatiga juga melakukan pelantikan
berbagai komisi yang ada di lingkup GKI Salatiga. Sore
harinya, PS Serafim
kembali melakukan pelayanan di dalam kebaktian di GKJ
Salatiga dengan menyajikan dua buah lagu pujian.
Seusai kebaktian,
rombongan berkesempatan untuk beramahtamah dengan
jemaat GKJ Salatiga. Setelah ramah-tamah, rombongan
meluncur kembali ke
Wisma Tamu Sinode GKI-GKJ untuk mempersiapkan diri
sebelum kembali ke Jakarta pada malam harinya.
Rombongan tiba kembali di
GKI Pondok Indah pada Senin pagi, 16 Agustus, sekitar
pukul 07:30 dengan selamat.
Seorang anggota rombongan yang tidak bersedia disebut
namanya, mengungkapkan bahwa rombongan, selama
perjalanan pelayanan
kali ini, benar-benar merasakan penyertaan Tuhan, baik
selama dalam perjalanan maupun pada saat pentas dan
pelayanan di
Salatiga. Dia menyatakan bahwa PS Serafim juga
menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh
anggota jemaat GKI Pondok
Indah atas segala dukungan doa, serta kepada semua
pihak yang telah membantu terlaksananya pelayanan ini.
Tuhan memberkati! (rtn/skt) |
|
Futsal Piala GKI PI 2004 |
Di tengah maraknya berbagai acara
yang dilaksanakan oleh panitia HUT GKI PI & 17 Agustus
2004 beberapa bulan yang lalu,
turnamen Futsal adalah salah satu kegiatan yang
memberikan keunikan tersendiri kepada setiap jemaat
yang terlibat secara
langsung maupun tidak langsung.
Dimulai dengan sifat kegiatannya, turnamen Futsal
menawarkan kesempatan unik kepada peserta untuk
berolahraga sekaligus
bersekutu dengan sesama jemaat. Istimewanya lagi, dari
anak usia Sekolah Minggu sampai orang dewasa, pria
maupun wanita,
semua bisa ikut meramaikan acara ini.
Untuk mengakomodasikan peserta yang lebih banyak dan
bervariasi dibandingkan dengan acara serupa tahun yang
lalu, panitia
Futsal belajar dari pengalaman kegiatan tahun lalu
tersebut, lalu membagi peserta ke dalam 2 kategori,
yaitu kategori
keluarga dan kategori umum, serta mewajibkan
partisipasi peserta wanita dalam setiap tim.
Selain pembagian kategori, panitia juga melakukan
modifikasi terhadap peraturan permainan futsal itu
sendiri, dengan tujuan
membuat permainan lebih menarik. Mulai dari gawang dan
lingkaran penalti yang lebih kecil, hingga ke bola
khusus futsal (low
bounce ball) dipersiapkan panitia untuk kegiatan ini.
Dan sebagai pelengkap, panitia dengan bantuan sponsor
(Candico – red)
memberikan kaos seragam dengan warna-warna yang
berbeda kepada setiap tim, untuk menciptakan suasana
yang meriah dalam setiap pertandingan.
Mulai pada tanggal 25 Juli 2004, setiap hari minggu
setelah kebaktian 08.30, partai demi partai dimainkan
di hall olahraga
Sekolah Tirta Marta. Perubahan peraturan dan
perlengkapan ternyata tidak terlalu menyulitkan
peserta, bahkan gol-gol indah
dari hasil kerja sama tim maupun kemampuan individu
banyak tercipta. Salah 1 gol terbaik dicetak oleh
Ramses (tim Chelsea PI, kategori keluarga). Dari
kick-in lawan yang kurang terarah dengan baik, Ramses,
yang berdiri sedikit di luar daerah
penaltinya sendiri, melakukan tendangan first-time
atau voli yang keras dengan kaki kanannya dan bola
langsung masuk ke ujung kanan atas gawang lawannya.
Setelah 3 minggu berlalu, maka tibalah saatnya untuk
menggelar partai-partai puncak. Sukses mengungguli
lawan mereka di
final, pada tanggal 15 Agustus 2004 tim Delima (kategori
keluarga) dan tim Hura-hura (kategori umum) resmi
menjadi juara dari
turnamen Futsal “Piala GKI PI 2004” ini. Dan pada
acara pembagian medali maupun piala itu juga,
diumumkan bahwa pemenang
piala Top Goal Scorer adalah Aldo (tim Victory,
kategori keluarga), yang selama turnamen ini mencetak
gol terbanyak sejumlah
7 gol.
Dengan demikian, selesailah kegiatan futsal “Piala GKI
PI 2004” ini. Piala juara kini sudah digrafir dengan
nama-nama tim
yang berhasil menjadi juara 1 di masing-masing
kategori, dan masih banyak tempat untuk nama tim-tim
lain yang akan berlomba untuk menjadi yang terbaik di
turnamen-turnamen yang akan datang. Panitia ingin
mengucapkan terima kasih kepada semua yang sudah
membantu dalam pelaksanaan acara ini, dan kepada
segenap jemaat GKI PI yang menjadi peserta maupun
menjadi pendukung moral. Kami mohon maaf atas segala
kekurangan yang terjadi, dan kami berharap bisa
melakukan yang lebih baik lagi di masa yang akan
datang. (Panitia Futsal “Piala GKI PI 2004”) |
|
Awas “OSTEOPOROSIS” CINTA! |
Sub Komisi Pasutri pada tanggal 28
Agustus 2004 yang lalu telah mengadakan acara
pembinaan untuk pasangan suami istri bagi jemaat GKI
Pondok Indah, yaitu Couple’s Power Series yang ke 4.
Acara pembinaan dalam bentuk seminar ini mengambil
tema: Awas, “Osteoporosis” Cinta!!, dengan pembicara
Pdt. Em. Suatami Suteja.
Dalam seminar ini Pdt. Suatami mengatakan bahwa cinta
antara suami istri itu harus terus menerus dipupuk,
diberi “suplemen” agar tidak menjadi tua, kering dan
keropos. Cinta yang keropos adalah suatu keadaan yang
sangat rentan terhadap terjadinya perpisahan. Ada satu
hal yang menarik yang diungkapkan oleh pembicara,
yaitu perbandingan antara melahirkan, menikah dan
kematian.
Menghadapi suatu kelahiran kita pasti melakukan
persiapan yang sebaik-baiknya, apalagi kalau menunggu
kelahiran anak pertama. Mulai dari rumah sakitnya,
tempat tidur bayi bahkan sampai mempersiapkan kamar
untuk bayi kita dengan warna yang sesuai dengan jenis
kelamin si bayi. Demikian pula dengan perkawinan,
tidak ada perkawinan yang tidak dipersiapkan.
Alasannya perkawinan adalah peristiwa yang hanya
sekali seumur hidup kita, jadi harus dipersiapkan dan
dirancang dengan sungguh-sungguh dan menjadikan
perayaan pernikahan ini yang terbaik. Banyak pasangan
yang mempersiapkan pernikahan mereka mulai dari
setahun sebelumnya.
Lalu, bagaimana dengan kematian? Kematian, cepat atau
lambat pasti akan terjadi pada setiap manusia.
Kematian juga adalah peristiwa yang terjadi sekali
dalam seumur hidup kita, bedanya kita tidak tahu kapan
peristiwa ini terjadi. Karena kita tidak tahu kapan
bakal terjadi, justru kita harus mempersiapkannya
dengan sebaik-baiknya.
Kematian ini harus dibicarakan antara suami dan istri.
Misalnya, siapa yang diharapkan dipanggil terlebih
dahulu. Mengapa saya atau pasangan saya yang sebaiknya
dipanggil terlebih dahulu. Pilih atau tentukan pada
umur berapa kita berharap dipanggil oleh Tuhan dan
sebagainya. Hal ini awalnya terdengar agak janggal dan
agak seram, begitu. Namun setelah dipikirkan dan
direnungkan lebih mendalam, masuk akal juga. Daripada
kita mengalami shock pada saat pasangan kita dipanggil
oleh Tuhan, ada baiknya dipikirkan dan dipersiapkan
mengenai hal ini.
Kita perlu menyatukan pendapat dan melakukan
pembicaraan yang panjang antara suami dan istri. Satu
hal yang terpenting dan tidak boleh dilupakan adalah,
sampaikan keinginan kita itu dalam doa-doa kita.
Apakah keinginan kita itu dikabulkan atau tidak, itu
bukan urusan kita. Tuhan pasti memberikan yang terbaik
bagi kita. Dengan mempersiapkan kematian, maka kita
dapat memberikan yang terbaik kepada pasangan kita
dalam sisa hidup sampai pada usia yang kita “tentukan”
tersebut. Ini bukan berarti kiasaan Tuhan, tetapi
sekali lagi intinya adalah agar kita dapat
mempersiapkan dan mengisi sisa hidup kita ini dengan
melakukan yang terbaik, baik kepada pasangan maupun
kepada Tuhan. (ssm)
|
|
Walking in the Light of God |
Tanggal 4 September 2004 jam 06.00
pagi, jemaat GKI Pondok Indah Wilayah Bintaro
berkumpul di gereja untuk bersama-sama berangkat ke
Hotel Citra Cikopo. Tujuannya adalah untuk mengadakan
acara Kebersamaan Kombas Bintaro yang sudah menjadi
tradisi setiap tahun. Kali ini adalah acara
kebersamaan yang keempatkalinya. Hotel Citra Cikopo
mempunyai halaman yang sangat luas dan mereka juga
menyediakan paket cross country. Paket inilah yang
diambil sebagai kegiatan utama dalam acara ini.
Sejak dari Jakarta, peserta sudah dibagi menjadi 10
kelompok yang masing-masing berjumlah dari 10–15 orang,
yang terdiri dari orang tua, anak, remaja dan pemuda.
Pembagian kelompok ini dimaksudkan untuk lebih
mengakrabkan jemaat, karena sepanjang acara
kebersamaan ini setiap kelompok diberi tugas yang
menuntut adanya kerja sama yang baik.
Renungan yang dibawakan oleh Pdt. Rudianto di awal
acara mengajak peserta untuk merenungkan dan
menghargai KAKI yang merupakan anggota tubuh kita.
Kita sering melupakan kaki karena letaknya yang paling
bawah, tetapi sebenarnya kita sangat tergantung kepada
anggota tubuh yang satu ini.
Selanjutnya, selang beberapa menit setiap kelompok
dilepas untuk melakukan cross country yang memakan
waktu sekitar 1,5 jam. Perjalanan yang melewati kebun,
sawah, perumahan penduduk, kandang kambing, sungai dan
sebagainya, dimaksudkan agar anak-anak dan juga para
orang tua melihat suatu kehidupan yang berbeda
dibandingkan dengan yang kita temui sehari-hari di
Jakarta. Ini juga merupakan suatu upaya menumbuhkan
kepedulian terhadap manusia dan lingkungan di sekitar
kita.
Sepanjang perjalanan yang harus menuruni lembah dan
mendaki bukit, setiap kelompok diberi tugas untuk
mengenali lingkungan yang dilalui, antara lain diminta
untuk mencatat jenis-jenis tumbuhan yang bisa dimakan.
Ternyata banyak juga jenis tumbuhan dan pohon yang
baru pertama kali dilihat oleh anak-anak. Setelah
menyelesaikan perjalanan yang cukup melelahkan ini,
acara dilanjutkan dengan makan siang bersama. Suatu
acara makan bersama yang penuh dengan keakraban,
terdengar gelak tawa dan canda ria di sana sini,
seakan-akan tidak ada lagi hambatan dan batas-batas di
antara peserta. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu
tujuan dari acara kebersamaan ini cukup berhasil.
Setelah makan siang dan beristirahat sejenak, acara
dilanjutkan dengan beberapa permainan yang dipandu
oleh pasangan Bapak Roy dan Ibu Ita Sangkilawang.
Permainan ini masih merupakan bagian kegiatan kelompok
yang telah ditetapkan sebelumnya dan tema-tema
permainannya tetap mengacu kepada kerja sama, seperti
memindahkan balon berisi air, membawa bola di atas
kepala dan fashion show. Walaupun permainan ini
diperlombakan, namun banyak terjadi hal-hal yang lucu
ditambah lagi dengan panduan MC yang sangat menghibur,
maka acara ini berjalan dengan sangat meriah.
Di akhir acara, ada pembagian hadiah untuk kelompok
yang memenangi permainan dan juga kepada kelompok yang
menjadi juara umum. Sebelum kembali ke Jakarta, para
peserta disuguhi kopi dan teh serta pisang rebus,
kacang rebus dan jagung bakar. Sampai jumpa di acara
kebersamaan tahun depan. (ssm)
|
|
Anggota Sub-Komisi Wanita GKI
Pondok Indah Kunjungi Indofood di Cibitung |
Sekitar 40 orang anggota Sub-komisi
Wanita GKI Pondok Indah, di bawah pimpinan Ny. Tuti
Sunaryo, pada hari Selasa, 14 September lalu melakukan
suatu kunjungan ke dua unit pabrik makanan Indofood,
yaitu PT Indo Sentra Pelangi dan PT Indofood Sukses
Makmur di Kawasan Industri Cibitung, Bekasi, sekitar
20 km ke arah timur Jakarta. Kunjungan pertama
dilakukan di PT Indo Sentra Pelangi, yang memproduksi
bumbu-bumbu berbagai masakan, syrop, kecap dan sambal.
Di tempat ini, rombongan diterima oleh Ibu Widi dari
Human Resources Dept. dan Bpk. Usman, kepala pabrik,
di mana kedua orang tadi menjelaskan berbagai macam
jenis produk yang dihasilkan oleh pabrik tersebut.
Banyak ibu-ibu yang menanyakan ini dan itu, dan
setelah memperoleh penjelasan dari Ibu Widi mereka
baru memahami bahwa sebagian dari produk-produk
tersebut sudah biasa mereka konsumsi, namun tidak
menyadari bahwa produk-produk tersebut berasal dari
Indofood.
Setelah memperoleh berbagai penjelasan, rombongan
dibagi menjadi tiga kelompok dan diajak untuk
berkeliling pabrik. Seusai berkeliling, para ibu
tersebut diminta untuk mencicipi kentang goreng serta
syrop gula asam produk pabrik ini dan merekapun boleh
membeli sejumlah produk yang diminati dengan harga
khusus.
Pabrik Mie Instan
Setelah itu, rombongan kemudian melanjutkan kunjungan
ke pabrik mie instan, yang terletak masih di dalam
satu kompleks, namun dikelola oleh PT Indofood Sukses
Makmur.
Di tempat ini, rombongan diterima oleh Ibu Yama, PR
officer dari pabrik tersebut, yang menjelaskan
berbagai produk dari pabrik itu. Menurut Ibu Yama,
selain mie instant, pabrik ini juga memproduksi
makanan bayi serta makanan anak-anak.
Dalam penjelasanannya kepada para ibu dari Sub-komisi
Wanita GKI Pondok Indah itu, Ibu Yama menjelaskan pula
bahwa sebagian dari produk-produk tersebut, selain
dijual untuk konsumsi dalam negeri, juga diekspor ke
beberapa Negara Timur Tengah dan Afrika.
Selain penjelasan dari Ibu Yama, kepada rombongan juga
disuguhkan pemutaran video mengenai berbagai kegiatan
di pabrik tersebut. Seusai presentasi, rombongan
diajak berkeliling ke unit produksi untuk menyaksikan
sendiri proses pengolahan mie instant produk Indofood.
Sebelum kembali ke Pondok Indah, rombongan juga
disuguhi produk-produk PT Indofood Sukses Makmur dan
merekapun juga diperbolehkan membeli berbagai produk
dengan harga khusus pula. (skt)
|
|
Tetap Tumbuh & Berbuah dalam
Kristus, Liputan Retreat KOMISI SENIOR GKI Pondok
Indah |
Pada tanggal 17 s/d 19 September 2004
Komisi Senior GKIPI mengadakan Retreat di Pondok
Remaja PGI, Cipayung dengan tema: “TETAP TUMBUH &
BERBUAH DALAM KRISTUS” (Mazmur 92 : 15-16).
Dihadiri kurang lebih 70 peserta nampak suasana sangat
ramai, meriah dan menyenangkan. Bahkan ada seorang
peserta yang datang dari Jerman, yang ikut mendampingi
ibunda terkasihnya. Pada malam pertama kami menikmati
pertunjukan Nyanyi dan Tari „Euis“ dalam bahasa Sunda
; dimainkan oleh Ibu Leony dan Pak Slamet. Acara
dilanjutkan dengan PERKENALAN. Suasana menjadi semakin
meriah karena mengundang komentar menarik dan simpatik.
Pak Tumpal dan istri (ibu Ira) yang mempunyai
pengalaman mendampingi Senior ketika di Jerman
menyajikan ceramah yang sangat bergizi bagi rohani.
Isi ceramah di sesi pertama, menerangkan perbedaan
antara budaya barat dan timur dalam menangani para
senior. Dalam budaya timur, sikap hormat dari generasi
muda masih tinggi dibandingkan dengan budaya barat
yang lebih menganut individualisme. Dalam kebudayaan
kitapun masih terasa relasi yang hangat antara yang
muda dan tua, namun tidak bisa dipungkiri bahwa
kebudayaan kita pun berjalan ke arah barat, di mana
masing-masing sibuk dengan kepentingan pribadinya,
sehingga tidak sedikit orang tua/senior merasa
kesepian, kurang mendapat perhatian dari kaum muda.
Namun demikian, umur rata-rata di barat menurut
Statistik menujukkan, rakyat hidup lebih lama, dan
dengan menurunnya angka kelahiran maka prosentase
orang lanjut usia semakin meninggi. Penduduk Amerika
usia > 65, pada tahun 1850 (2.5%) dan saat ini
mencapai 10% lebih. Pada tahun-tahun terakhir banyak
disibukkan dengan masalah-masalah pemuda, seperti :banyaknya
pengangguran, masalah Narkoba dan lain sebagainya,
sehingga perhatian terhadap lanjut usia sangat kurang.
Akibatnya kesepian dan kesendirian – khususnya orang
tua.
Pada akhir sesi pertama diberikan beberapa pertanyaan
terkait dengan masalah yang sedang dihadapi para
Senior saat ini, baik di Indonesia , dan secara khusus
di GKI PI. Dari hasil yang dikumpulkan, ternyata
sebagian besar peserta merasa puas dan bahagia dengan
keadaannya saat ini. Walau mungkin anak-menantu dan
cucu sibuk dengan urusan pribadinya dan tidak
mempunyai banyak waktu, namun GKI Pondok Indah
memberikan kesempatan bagi para Senior untuk dapat
tetap bersosialisasi dalam komunitasnya, melalui
program-program dan fasilitas yang ada.
Pada sesi kedua, dikatakan, Kierkegard membedakan rasa
takut dan kuatir, rasa takut mempunyai obyek yang
jelas, takut akan sesuatu, misalnya takut akan ular
atau takut akan suatu penyakit, sedangkan rasa kuatir
tidak mempunyai obyek yang jelas, tidak menentu; rasa
kuatir dapat muncul tanpa ada sebab yang jelas dan
pasti.
Dalam pengalaman orang lanjut usia nampaknya
kekuatiran dapat merupakan gangguan yang lebih berat.
Kuatir adalah rasa hati yang sedih, bimbang dan tidak
menentu, tanpa diketahui obyek yang jelas, tetapi
orang merasa dirinya terancam sampai pada kedalaman
batin. Takut dan kuatir mempunyai dampak merusak dan
melumpuhkan. Tapi kalau bisa berhasil mengatasinya
akan sangat bermanfaat untuk menikmati hidup
selanjutnya.
Melanjutkan sesi ini, para Senior dibagi menjadi 8
kelompok dan masing-masing kelompok mendapat tugas
menjawab beberapa pertanyaan & sharing dalam kelompok.
• Bagaimana pemahaman kelompok mengenai berakar,
bertumbuh dan berbuah dalam pengalaman imannya?
• Bagikan pengalaman pribadi mengenai cara mengatasi
krisis menua secara positif (+)?
• Bagaimana aku masih tetap bisa berbuah?
Setelah menjawab pertanyaan di atas, masing-masing
kelompok membuat suatu atraksi sesuai dengan tema yang
diberikan secara acak, yaitu: Menggubah lagu,
Memainkan drama, Mengarang puisi, Membuat renungan,
Membuat cerita/ drama humor, Menampilkan gerak dan
lagu.
Saat yang paling dinantikan adalah saat presentasi
tugas. Dalam waktu tidak lebih dari 2 jam, para
peserta sudah dapat membuat renungan, membuat drama/
komedi, menggubah lagu dan menciptakan lagu baru yang
berkaitan dengan tema. Maka pada malam kedua itu
muncullah secara instan „pendeta“, „sutradara“, „aktor
dan aktris“ serta „pelawak“ baru sehingga tergalilah
talenta-talenta yang selama ini terpendam Melalui
tugas kelompok ini, nampak jelas bahwa para senior
kita masih tumbuh dan berbuah, bahkan tumbuh gemuk dan
berbuah lebat, ruaaar biasa !.
Ditambah dengan Ceramah Kesehatan „HIDUP SEHAT DI ATAS
50 TAHUN“ yang dipimpin oleh dr. Handrawan Nadesul,
Retreat ini menjadi sangat padat dan menarik sehingga
waktu yang disediakan Panitia terasa sangat pendek.
Acara-acara lain yang tidak kalah menariknya adalah
acara BERPACU DALAM MELODI dan TEBAK GAMBAR, juga
SENAM bersama, mengakrabkan suasana di antara para
Senior.
Akhirnya kami harus kembali ke Jakarta, untuk bertemu
dengan anak-cucu dan keluarga. Dan sebelumnya juga
diadakan kebaktian Minggu yang dipimpin oleh
Pdt.Tumpal, dengan menampilkan gambar-gambar seorang „Pengusaha
Anggur“, dengan membawa keranjang-keranjangnya.
Nah kita sebagai senior, seberapa banyakkah buah yang
sudah dihasilkan; „kosong“, „sedikit“, „banyak“ atau
bahkan „berlimpah?. Itu semua tergantung pada kita,
apakah kita sudah menempel pada „pokok Anggur“ yang
benar?. Berbuah bukan hanya berarti hasil/prestasi
yang ada, namun juga hubungan yang akrab dengan Bapa,
Sang Pencipta, apakah penuh berkelimpahan dengan
sukacita?.
Rasanya sayang sekali kesempatan yang indah seperti
ini harus terlewati. Retreat Senior merupakan salah
satu kegiatan dari Program Komisi Senior. Mari para
Senior bergabung, menikmati kebersamaan dan keakraban
dalam komunitas kami! (ks)
|
|
Peneguhan Penatua baru di GKI
Pondok Indah |
Sebanyak sembilan orang anggota
jemaat, pada hari Minggu, 19 September lalu diteguhkan
dalam jabatan penatua pada Kebaktian Kedua di GKI
Pondok Indah yang dipimpin oleh Pdt. Purboyo W.
Susilaradeya.
Kesembilan orang penatua baru tersebut adalah Pnt.
Naniek Santoso, Pnt. Sienny Paulina, Pnt. Boy Kusuma,
Pnt. Halim Atmadja, Pnt. Jeanne Utomo, Pnt. Sri Asih
Wohon, Pnt. Veronica Aleeza Kohar, Pnt. Rene Eugene
Lewarisa, Pnt. Hetty Frans.
Bersamaan dengan itu, diteguhkan kembali tiga orang
penatua untuk menduduki masa jabatan kedua di dalam
kemajelisan GKI Pondok Indah. Ketiga penatua yang
diteguhkan kembali tersebut adalah Pnt. Nugroho C.K.
Widjajadi, Pnt. Max D. Setijadi dan Pnt. Johannes
Riupassa.
Keduabelas orang penatua itu akan melayani di
kemajelisan untuk jangka waktu tiga tahun ke depan
hingga th 2007.
Pada siang harinya, yaitu bersamaan dengan
berlangsungnya Persidangan Majelis Jemaat (PMJ)
berlangsung upacara singkat untuk melepas tiga orang
penatua yang telah melayani selama dua periode
pelayanan serta seorang penatua yang telah
menyelesaikan satu periode pelayanan di kemajelisan.
Keempat orang penatua yang mengakhiri masa tugasnya
tersebut adalah Pnt. Doseba Tua Sinay, Pnt. Leonora
Pea, Pnt. Soehartono Soekamto dan Pnt. Eveline
Hargianto.
Pengurus Badan-Badan Pelayanan
Pada hari yang sama, dalam kebaktian ke-tiga jam 17:00
yang juga dipimpin oleh Pdt. Purboyo, telah dilakukan
pula pelantikan para pengurus badan-badan pelayanan
jemaat di lingkungan GKI Pondok Indah. Mereka itu
adalah para pengurus Komisi Semawi, Komisi Dikkesra,
Komisi Perlawatan, Komisi Pemuda, Komisi Senior,
Komisi Remaja dan Komisi Anak. Nama-nama anggota
pengurus badan-badan pelayanan tersebut adalah sbb:
1. Komisi Semawi
Ketua : Elizabeth Hutabarat
Wakil Ketua : Alex Sentosa
Sekretaris : Endang Ratnayanti
Bendahara : Mega Sibarani
2. Komisi Dikkesra
Ketua : Hindra Tjahjadi
Sekretaris : Martha Silalahi
Bendahara : Ronny Sinai
3. Komisi Perlawatan
Ketua : Yosia Harsa
Wakil Ketua : Ny. Pudji Sarbingu
Sekretaris : Ny. Susanti Hutagalung
Bendahara : Debby Hertiati
4. Komisi Pemuda
Ketua : Thiero Pesik
Wakil Ketua : Karina Soerjodibroto
Sekretaris : Maya Suwandono
Bendahara : Enroe Puja
5. Komisi Senior
Ketua : Njoto Soebandrio
Sekretaris : Ruben Sidharta
Bendahara : Ny. Lian Anggana
6. Komisi Remaja
Ketua : Rani Tanumihardja
Sekretaris : Ati Dwi Putri
Bendahara : Selene H.U. Siregar
7. Komisi Anak
Ketua : Astrid Wohon
Wakil Ketua : Vanessa Siwy
Sekretaris I : Martinus Christian
Sekretaris II : Vanda Wohon
Bendahara I : Ira Ariani
Bendahara II : Jenni Tjahjono
Para pengurus badan-badan pelayanan tersebut akan
mengemban tugas-tugas pelayanan untuk periode tiga
tahun ke depan hingga tahun 2007. (skt)
|
|
GKI Pondok Indah Tuan Rumah
Ibadah Raya 70 Th STT Jakarta |
GKI Pondok Indah pada hari Sabtu, 25
September lalu menjadi tuan rumah bagi suatu ibadah
raya dan perayaan untuk memperingati Hari Ulang Tahun
ke-70 Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta.
Suasana theatrical yang menandai ibadah raya dan
perayaan itu dihadiri oleh sekitar 750 dari sekitar
2.000 undangan yang disebar. Ibadah ini diawali dengan
doa pembukaan yang dibawakan oleh Pdt. Prof. Dr. Liem
Khiem Yang, yang dilanjutkan dengan ibadah yang
diselingi dengan berbagai puji-pujian serta adegan
bersuasana theatrical di bawah panduan Pdt. Glorius
Bawengan. Khotbah dalam ibadah ini dibawakan oleh Pdt.
Dr. Eka Darmaputra yang kemudian disusul dengan pentas
teater koloboratif dengan sutradara Pdt. Glorius
Bawengan.
Ibadah dan perayaan ini juga diisi dengan paduan suara
gabungan dari beberapa gereja serta permainan
kolintang persembahan dari Sub-komisi Wanita GKI
Pondok Indah dengan dukungan dari beberapa gereja
lain.
Sementara itu, Pdt. R.P. Borong, D.Theol., Ketua STT
Jakarta, dalam sambutannya mengemukakan bahwa STT
Jakarta akan tetap ada dan terus maju selama pelayanan
Dia yang mengaruniakan institusi ini berlanjut di
dunia ini.
“Hari ini kita menerima pengutusan, besok atau lusa
akan datang lagi anak-anak Tuhan yang dipanggil dan
diutus-Nya melayani melalui STT Jakarta ini,” katanya.
“Kita bersyukur hari ini dan berdoa kiranya hari esok
akan lebih cerah dari hari ini untuk menyemangati
generasi penerus yang akan datang, di STT dan di
gereja-gereja untuk meneruskan karya selamat membawa
damai sejahtera Allah di Bumi. Selamat Ulang Tahun
yang ke-70 STT Jakarta. Pictus Facit Theologum!”
Kapan Berdiri?
STT Jakarta didirikan di Bogor pada th 1934 dengan
nama Hoogere Theologische School (HTS). Pada th 1936
sekolah ini pindah ke Jakarta (Batavia) dan pada th
1954 diubah namanya menjadi Sekolah Tinggi Teologi
Jakarta.
Perubahan nama tersebut sekaligus menandakan
peningkatan status akademis – melalui perbaikan
kurikulum – dan keterlibatan gereja-gereja yang
semakin banyak dalam kepengurusan STT Jakarta.
Peningkatan status akademis tersebut sekaligus
menjadikan STT Jakarta sebagai sekolah teologi pertama
di Indonesia yang berstatus Sekolah Tinggi. Sekolah
ini juga dapat dilihat sebagai metamorfosis dari
Seminari Depok yang dibangun pada th 1878 oleh Central
Comitee Depok yang dibentuk di Negeri Belanda.
Seminari tersebut akhirnya ditutup pada th 1926,
mengingat saat itu hampir semua daerah memiliki
lembaga pendidikan serupa.
Cita-cita Central Comitee Depok untuk mencetak
tenaga-tenaga lokal kemudian dilanjutkan dengan
mengambil bagian dalam proses pembentukan HTS. Setelah
melalui berbagai perundingan yang matang, akhirnya
Central Comitee Depok kemudian dipercaya sebagai
pendiri HTS, yang merupakan cikal bakal STT Jakarta
sekarang ini.
Arti penting dari sekolah ini segera terasa saat pecah
Perang Dunia II, di mana saat itu tenaga-tenaga
zending dari Belanda tiba-tiba lenyap dari lapangan
misi.
STT Jakarta dan para lulusannya, yang saat itu masih
belum terlalu banyak, harus bekerja keras secepat
mungkin mengisi kekosongan tersebut serta mengambil
tongkat kepemimpinan di sebuah zaman yang penuh dengan
pergolakan.Perjalanan sejarah STT Jakarta hingga kini
terus diwarnai dengan berbagai perbaikan yang
bertujuan untuk senantiasa menjawab berbagai tantangan
yang dihadapi oleh gereja dan masyarakat di Indonesia.
Dirgahayu STT Jakarta! (skt)
|
|
Mini Weekend Pasutri di Puri
Avia Resort |
Sekitar 25 pasutri (pasangan
suami-isteri) dari GKI Pondok Indah serta beberapa
gereja lainnya, pada hari Sabtu dan Minggu, 2 dan 3
Oktober lalu, mengikuti Mini Weekend Pasutri yang
berlangsung di Puri Avia Resort di Cipayung, Bogor.
Tampil sebagai pembicara/pembawa kesaksian dalam acara
dua-hari itu adalah Pasutri Irwan/Betty dan Bpk. Rusli
dari Marriage Encounter (ME) Jakarta dengan dipandu
oleh Pasutri Rudy/Mieke. Baik Pasutri Irwan/Betty
maupun Bpk. Rusli dalam kesempatan mengingatkan bahwa
di dalam kehidupan rumah tangga ada beberapa hal yang
perlu diingat, antara lain bahwa kita dapat memberikan
kebahagiaan kepada orang lain apabila kita sendiri
sudah merasa bahagia. “Karena kebahagiaan itu berasal
dari dalam diri kita sendiri, maka kita memiliki
kekuatan untuk merasakannya,” kata mereka.
Dikemukakan pula bahwa dalam hidup ini tantangan nyata
yang kita hadapi adalah “bukan untuk memperoleh apa
yang kita inginkan, tetapi menginginkan apa yang kita
punyai.”
Ditegaskan pula agar kita dapat mencintai orang lain,
maka kita harus belajar pula untuk mencintai dan
memaafkan diri kita sendiri. “Kalau semua itu dapat
kita wujudkan dalam kehidupan kita, maka kita akan
merasakan kebahagiaan kita serta membagikannya kepada
orang lain,” katanya.
10 Tangki Cinta
Dalam kesempatan retret dua-hari itu, Pasutri Irwan/Betty
dan Bpk. Rusli juga mengungkapkan bahwa di dalam
kehidupan rumah tangga kita ini sebenarnya kita
memiliki 10 bejana/tangki cinta, di mana jika dalam
salah satu tangki tersebut terdapat kekosongan maka
akan timbul ketidakseimbangan di dalam kehidupan rumah
tangga kita.
“Untuk itu, maka dalam hidup ini kita harus dapat
mawas diri, untuk melihat tangki-tangki/bejana-bejana
yang kosong atau kurang berisi dalam kehidupan rumah
tangga kita,” katanya.
Menurut Bpk. Rusli di dalam kehidupan ini terdapat 10
tangki/bejana cinta, yaitu;
Tangki I yaitu ketika kita masih di dalam kandungan
hingga lahir di mana kita memperoleh dukungan kasih
dari Tuhan;
Tangki II ketika kita berusia 0 s/d 7 th saat kita
memperoleh dukungan cinta kasih dari orang tua;
Tangki III yaitu ketika kita berusia 7 s/d 14 th, di
mana kita memperoleh dukungan cinta kasih dari
keluarga dan teman.
Tangki IV ketika kita berusia 14 s/d 21 saat kita
sudah memperoleh dukungan cinta bukan hanya dari
keluarga tetapi juga dari teman sebaya serta mempunyai
cita-cita yang sama;
Tangki V saat kita berumur 21 s/d 28, di mana kita
sudah dapat merasakan cinta dan dukungan cinta dari
diri sendiri serta mencari jati diri;
Tangki VI saat kita berumur 28 s/d 35, di mana pada
saat-saat ini kita bisa merasakan adanya cinta dan
dukungan dari relasi yang lebih intim serta pasangan
yang penuh romantis. Tangki
VII menurut mereka adalah pada saat kita berusia
antara 35 s/d 42 di mana kita dapat mencintai serta
mendukung orang yang bergantung pada kita, seperti
anak-anak kita, orang tua dan lainnya; Tangki
VIII yaitu saat kita berusia antara 42 s/d 49 di mana
kita memberikan diri kita kepada komunitas atau
lingkungan kerja, di mana kita bisa berintreraksi
dengan komunitas tertentu;
Tangki IX saat kita berumur antara 49 s/d 56 tahun di
mana pada saat-saat ini kita dapat meningkatkan
pergaulan kita kepada masyarakat yang lebih luas dan;
Tangki X adalah pada saat kita berumur 56 ke atas, di
mana pada saat-saat ini kita sudah selayaknya untuk
dapat menyerahkan diri kita untuk melayani Tuhan.
“Semuanya itu tentu saja tidak mutlak, karena ada juga
mereka yang berusia relatif masih muda, tetapi sudah
tekun untuk melayani Tuhan. Namun kita akan merasakan
adanya ketidakseimbangan jika salah satu dari
tangki-tangki tersebut ada yang kosong atau kurang
takarannya,” katanya menekankan. Dalam kesempatan
tersebut, Pasutri Irwan/Betty dan Bpk. Rusli juga
menguraikan masalah sikap serta perasaan serta pola
tingkah laku yang mempengaruhi relasi suami-isteri
dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.
Selama sesi demi sesi berlangsung, para peserta juga
dibagi dalam beberapa kelompok untuk dapat melakukan
sharing dengan sesama peserta lainnya. Hal ini
dilakukan untuk sekadar saling tukar pikiran guna
lebih meningkatkan kualitas relasi antara suami dan
isteri dalam kehidupan rumah tangga mereka. Pada
Minggu pagi, sebelum sesi terakhir para peserta mini
weekend pasutri mengikuti ibadah yang dipimpin oleh
Pasutri Tumpal/Ira. Setelah sesi terakhir para peserta
kembali ke Jakarta sekitar pkl 11:00 WIB. (skt)
|
|
Hayati Sejahtera Allah untuk
Wujudkan Damai dalam Keluarga |
Rangkaian Bulan Keluarga di GKI
Pondok Indah hari Minggu 24 Oktober 2004 diakhiri
dengan suatu ibadah dengan thema Menghayati Damai
Sejahtera Allah yang dibawakan oleh Pdt. Rudianto
Djajakartika. Pdt. Rudianto melandasi khotbahnya
dengan bacaan firman yang diambil dari Injil
Perjanjian Lama, Yosua 24 : 1-15, di mana dalam bacaan
tersebut dilukiskan bagaimana Yosua menekankan
pentingnya bagi setiap keluarga untuk tetap beribadah
kepada Allah. Seperti yang tertera di dalam ayat 15
“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah
kepada Allah.”
Dengan tetap beribadah kepada Allah, di mana dalam
kesempatan tersebut dapat menghayati pula
perjumpaannya dengan Allah. “Penghayatan serta relasi
dengan Allah bagi Yosua dijadikan landasan bagi
pengharapan bahwa Allah adalah sumber dari
kesejahteraan dan kedamaian,” kata Pdt. Rudianto.
“Dan sekarang bagi kita, yang hidup di zaman sekarang
ini, menghayati sejahtera Allah juga berarti merupakan
upayta kita untuk mewujudkan damai dan sejahtera dalam
keluarga melalui keluarga kita masing-masing,” katanya
menegaskan.
Kebaktian Minggu 24 Oktober ini terasa sangat padat
karena digabung pula dengan anak-anak Sekolah Minggu.
Tampil pula PS Agape dan ansambel Imago Dei dari
Wilayah Bintaro.
Seusai kebaktian, jemaat juga diundang untuk
menyaksikan bazaar, yang menampilkan berbagai macam
produk andalan dari masing-masing wilayah, terutama
sekali yang berupa makanan seperti mi goreng, babi
guling/panggang dan mi baso, kue-kue, pakaian dan
lain-lain.
Hasil keuntungan dari bazaar tersebut akan digunakan
untuk kegiatan sosial di lingkungan GKI PI. (skt)
|
|
>> Arsip
|
|
|
| |
|
|
|