Antar Kita
30 Oktober 2004
Agustus - Oktober 2004
Program PTJ, Sangat Bermanfaat dan Perlu Kesinambungan
Program Pendidikan Teologia Jemaat (PTJ) yang diselenggarakan oleh Seksi Pembinaan, Mabid Pembinaan, yang telah berjalan sejak bulan Agustus lalu, memperoleh respons yang sangat positif dari para peserta. Pada umumnya mereka mengemukakan bahwa program ini sungguh sangat bermanfaat. “Bukan saja membuka cakrawala baru bagi kami, tetapi telah mengungkap hal-hal baru yang belum kami ketahui selama ini mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan isi Alkitab,” kata salah seorang peserta.

Seorang peserta lainnya menyatakan bahwa program pendidikan semacam ini sungguh sangat diperlukan bagi para aktivis untuk memperlengkapi diri guna melakukan pelayanan, sehingga apa yang dikerjakan dalam pelayanan tidak akan melenceng dari apa yang seharusnya dilakukan. “Program ini benar-benar telah membuka mata dan hati kami guna memahami makna teologis berbagai firman yang terkandung di dalam Alkitab,” katanya lebih jauh. Sementara itu, Bpk. P.P. Poli mengemukakan bahwa program ini sangat diperlukan bagi pembinaan jemaat. “Program ini sangat bermanfaat dan perlu untuk diteruskan, dan kalau perlu dapat dibuka kelas-kelas baru,” katanya menambahkan.

Selama tiga bulan pertama, yaitu bulan-bulan Agustus, September dan Nopember, kepada peserta diberikan mata kuliah dasar yang wajib diikuti oleh semua peserta. Mata-mata kuliah dasar tersebut terdiri dari Hermeneutik (Alkitab dan penafsirannya); Pengantar Teologi Konstruktif serta Pengantar Etika Kristen.

Para pengajar terdiri dari Pdt. Dr. Robert Setio dan Pdt. Dr. Yahya Wijaya, keduanya dari Universitas Kristen Duta Wacana di Yogyakarta, sedang mata kuliah Pengantar Etika Kristen menurut rencana akan diberikan oleh Pdt. Dr. R.P. Borong dari STT Jakarta.

Tahap kedua program PTJ ini akan dimulai kembali bulan Januari nanti hingga Maret 2005, di mana para peserta diminta untuk melakukan pendaftaran ulang sebelum dimulainya program tersebut. (skt)

PS Serafim Pentas Kantata di Salatiga
Paduan Suara (PS) Serafim dari GKI Pondok Indah pada hari Sabtu 14 Agustus lalu memperoleh kesempatan untuk melakukan pentas kantata serta pelayanan di GKI Salatiga, Jawa Tengah. Pelayanan ini dilakukan dalam rangka memperluas lingkup pelayanan, yang bukan hanya di lingkungan GKI Pondok Indah saja, tetapi juga ke luar. Beberapa waktu lalu, PS Serafim juga berkesempatan untuk melakukan pelayanan di kota-kota lain. Kali ini, dalam pelayanan di GKI Salatiga menyajikan sebuah kantata karya Clair Cloninger dan Gary Rhodes bertajuk “My Utmost For His Highest.” Clair Cloninger dan Gary Rhodes menggubah karya musikal ini diilhami oleh sebuah buku bacaan harian dengan judul yang sama.

Dalam kantata ini Cloninger dan Rhodes mencoba untuk menterjemahkan bacaan buku harian tersebut menjadi suatu sajian musikal yang mempesona. Persembahan ini menjadi tema utama dari kantata yang terdiri dari 11 lagu itu.

Selain dalam pentas kantata, sebagian dari 11 lagu itu juga dibawakan dalam kebaktian umum di GKI Salatiga pada keesokan harinya, Minggu 15 Agustus pagi, dan pada sore hari di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Salatiga.

Rombongan PS Serafim, yang terdiri dari 35 orang vokalis, dua pemusik, seorang narator, empat orang official di bawah pimpinan Bpk. Budi Arlianto, berangkat dari gedung gereja GKI PI pada jumat malam pukul 21:45 WIB dengan menggunakan sebuah bus. Mereka tiba di Salatiga setelah menempuh perjalanan selama sekitar 12 jam pada Sabtu pagi sekitar pukul 08:30. Setelah menikmati sarapan, rombongan langsung menuju lokasi penginapan di Wisma Tamu Sinode GKI-GKJ.

Sore harinya sekitar pukul 15:00, rombongan berangkat menuju ke gedung GKI Salatiga untuk melakukan persiapan-persiapan, karena pukul 17:00 mereka sudah harus mementaskan kantata tersebut. Pementasan yang berjalan sekitar 75 menit itu berjalan dengan lancar, di mana dalam kesempatan ini Pnt. Didi Nugroho Catur Kembar bertindak sebagai narator. Dalam pementasan tersebut, PS Serafim memperoleh sambutan yang cukup menggembirakan dari jemaat setempat serta penggemar musik lainnya di kota Salatiga.

Pelayanan di Gereja

Seusai pentas, rombongan menikmati santap malam yang disajikan oleh ibu-ibu dari GKI Salatiga. Setelah itu, rombongan berkesempatan untuk menikmati acara bebas di lingkup dinginnya kota Salatiga. Sebelum beristirahat malam, rombongan mengikuti ibadah malam, di mana dalam kesempatan tersebut Pnt. Didi menyampaikan renungannya. Dalam kesempatan tersebut juga diungkapkan rasa syukur atas bimbingan Tuhan yang terus menyertai rombongan semenjak keberangkatan sampai saat pelayanan serta pementasan kantata pada Sabtu sore itu.

Pada Minggu pagi, 15 Agustus, PS Serafim melakukan pelayanan di dalam kebaktian umum kedua di GKI Salatiga, di mana pada saat bersamaan GKI Salatiga juga melakukan pelantikan berbagai komisi yang ada di lingkup GKI Salatiga. Sore harinya, PS Serafim kembali melakukan pelayanan di dalam kebaktian di GKJ Salatiga dengan menyajikan dua buah lagu pujian. Seusai kebaktian, rombongan berkesempatan untuk beramahtamah dengan jemaat GKJ Salatiga. Setelah ramah-tamah, rombongan meluncur kembali ke Wisma Tamu Sinode GKI-GKJ untuk mempersiapkan diri sebelum kembali ke Jakarta pada malam harinya. Rombongan tiba kembali di GKI Pondok Indah pada Senin pagi, 16 Agustus, sekitar pukul 07:30 dengan selamat.

Seorang anggota rombongan yang tidak bersedia disebut namanya, mengungkapkan bahwa rombongan, selama perjalanan pelayanan
kali ini, benar-benar merasakan penyertaan Tuhan, baik selama dalam perjalanan maupun pada saat pentas dan pelayanan di Salatiga. Dia menyatakan bahwa PS Serafim juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh anggota jemaat GKI Pondok Indah atas segala dukungan doa, serta kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya pelayanan ini. Tuhan memberkati! (rtn/skt)

Futsal Piala GKI PI 2004
Di tengah maraknya berbagai acara yang dilaksanakan oleh panitia HUT GKI PI & 17 Agustus 2004 beberapa bulan yang lalu, turnamen Futsal adalah salah satu kegiatan yang memberikan keunikan tersendiri kepada setiap jemaat yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung.

Dimulai dengan sifat kegiatannya, turnamen Futsal menawarkan kesempatan unik kepada peserta untuk berolahraga sekaligus bersekutu dengan sesama jemaat. Istimewanya lagi, dari anak usia Sekolah Minggu sampai orang dewasa, pria maupun wanita, semua bisa ikut meramaikan acara ini.

Untuk mengakomodasikan peserta yang lebih banyak dan bervariasi dibandingkan dengan acara serupa tahun yang lalu, panitia Futsal belajar dari pengalaman kegiatan tahun lalu tersebut, lalu membagi peserta ke dalam 2 kategori, yaitu kategori keluarga dan kategori umum, serta mewajibkan partisipasi peserta wanita dalam setiap tim.

Selain pembagian kategori, panitia juga melakukan modifikasi terhadap peraturan permainan futsal itu sendiri, dengan tujuan membuat permainan lebih menarik. Mulai dari gawang dan lingkaran penalti yang lebih kecil, hingga ke bola khusus futsal (low bounce ball) dipersiapkan panitia untuk kegiatan ini. Dan sebagai pelengkap, panitia dengan bantuan sponsor (Candico – red) memberikan kaos seragam dengan warna-warna yang berbeda kepada setiap tim, untuk menciptakan suasana yang meriah dalam setiap pertandingan.

Mulai pada tanggal 25 Juli 2004, setiap hari minggu setelah kebaktian 08.30, partai demi partai dimainkan di hall olahraga Sekolah Tirta Marta. Perubahan peraturan dan perlengkapan ternyata tidak terlalu menyulitkan peserta, bahkan gol-gol indah dari hasil kerja sama tim maupun kemampuan individu banyak tercipta. Salah 1 gol terbaik dicetak oleh Ramses (tim Chelsea PI, kategori keluarga). Dari kick-in lawan yang kurang terarah dengan baik, Ramses, yang berdiri sedikit di luar daerah penaltinya sendiri, melakukan tendangan first-time atau voli yang keras dengan kaki kanannya dan bola langsung masuk ke ujung kanan atas gawang lawannya.

Setelah 3 minggu berlalu, maka tibalah saatnya untuk menggelar partai-partai puncak. Sukses mengungguli lawan mereka di final, pada tanggal 15 Agustus 2004 tim Delima (kategori keluarga) dan tim Hura-hura (kategori umum) resmi menjadi juara dari turnamen Futsal “Piala GKI PI 2004” ini. Dan pada acara pembagian medali maupun piala itu juga, diumumkan bahwa pemenang piala Top Goal Scorer adalah Aldo (tim Victory, kategori keluarga), yang selama turnamen ini mencetak gol terbanyak sejumlah
7 gol.

Dengan demikian, selesailah kegiatan futsal “Piala GKI PI 2004” ini. Piala juara kini sudah digrafir dengan nama-nama tim
yang berhasil menjadi juara 1 di masing-masing kategori, dan masih banyak tempat untuk nama tim-tim lain yang akan berlomba untuk menjadi yang terbaik di turnamen-turnamen yang akan datang. Panitia ingin mengucapkan terima kasih kepada semua yang sudah membantu dalam pelaksanaan acara ini, dan kepada segenap jemaat GKI PI yang menjadi peserta maupun menjadi pendukung moral. Kami mohon maaf atas segala kekurangan yang terjadi, dan kami berharap bisa melakukan yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. (Panitia Futsal “Piala GKI PI 2004”)

Awas “OSTEOPOROSIS” CINTA!
Sub Komisi Pasutri pada tanggal 28 Agustus 2004 yang lalu telah mengadakan acara pembinaan untuk pasangan suami istri bagi jemaat GKI Pondok Indah, yaitu Couple’s Power Series yang ke 4. Acara pembinaan dalam bentuk seminar ini mengambil tema: Awas, “Osteoporosis” Cinta!!, dengan pembicara Pdt. Em. Suatami Suteja.

Dalam seminar ini Pdt. Suatami mengatakan bahwa cinta antara suami istri itu harus terus menerus dipupuk, diberi “suplemen” agar tidak menjadi tua, kering dan keropos. Cinta yang keropos adalah suatu keadaan yang sangat rentan terhadap terjadinya perpisahan. Ada satu hal yang menarik yang diungkapkan oleh pembicara, yaitu perbandingan antara melahirkan, menikah dan kematian.

Menghadapi suatu kelahiran kita pasti melakukan persiapan yang sebaik-baiknya, apalagi kalau menunggu kelahiran anak pertama. Mulai dari rumah sakitnya, tempat tidur bayi bahkan sampai mempersiapkan kamar untuk bayi kita dengan warna yang sesuai dengan jenis kelamin si bayi. Demikian pula dengan perkawinan, tidak ada perkawinan yang tidak dipersiapkan. Alasannya perkawinan adalah peristiwa yang hanya sekali seumur hidup kita, jadi harus dipersiapkan dan dirancang dengan sungguh-sungguh dan menjadikan perayaan pernikahan ini yang terbaik. Banyak pasangan yang mempersiapkan pernikahan mereka mulai dari setahun sebelumnya.

Lalu, bagaimana dengan kematian? Kematian, cepat atau lambat pasti akan terjadi pada setiap manusia. Kematian juga adalah peristiwa yang terjadi sekali dalam seumur hidup kita, bedanya kita tidak tahu kapan peristiwa ini terjadi. Karena kita tidak tahu kapan bakal terjadi, justru kita harus mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya.

Kematian ini harus dibicarakan antara suami dan istri. Misalnya, siapa yang diharapkan dipanggil terlebih dahulu. Mengapa saya atau pasangan saya yang sebaiknya dipanggil terlebih dahulu. Pilih atau tentukan pada umur berapa kita berharap dipanggil oleh Tuhan dan sebagainya. Hal ini awalnya terdengar agak janggal dan agak seram, begitu. Namun setelah dipikirkan dan direnungkan lebih mendalam, masuk akal juga. Daripada kita mengalami shock pada saat pasangan kita dipanggil oleh Tuhan, ada baiknya dipikirkan dan dipersiapkan mengenai hal ini.

Kita perlu menyatukan pendapat dan melakukan pembicaraan yang panjang antara suami dan istri. Satu hal yang terpenting dan tidak boleh dilupakan adalah, sampaikan keinginan kita itu dalam doa-doa kita. Apakah keinginan kita itu dikabulkan atau tidak, itu bukan urusan kita. Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi kita. Dengan mempersiapkan kematian, maka kita dapat memberikan yang terbaik kepada pasangan kita dalam sisa hidup sampai pada usia yang kita “tentukan” tersebut. Ini bukan berarti kiasaan Tuhan, tetapi sekali lagi intinya adalah agar kita dapat mempersiapkan dan mengisi sisa hidup kita ini dengan melakukan yang terbaik, baik kepada pasangan maupun kepada Tuhan. (ssm)
 
Walking in the Light of God
Tanggal 4 September 2004 jam 06.00 pagi, jemaat GKI Pondok Indah Wilayah Bintaro berkumpul di gereja untuk bersama-sama berangkat ke Hotel Citra Cikopo. Tujuannya adalah untuk mengadakan acara Kebersamaan Kombas Bintaro yang sudah menjadi tradisi setiap tahun. Kali ini adalah acara kebersamaan yang keempatkalinya. Hotel Citra Cikopo mempunyai halaman yang sangat luas dan mereka juga menyediakan paket cross country. Paket inilah yang diambil sebagai kegiatan utama dalam acara ini.

Sejak dari Jakarta, peserta sudah dibagi menjadi 10 kelompok yang masing-masing berjumlah dari 10–15 orang, yang terdiri dari orang tua, anak, remaja dan pemuda. Pembagian kelompok ini dimaksudkan untuk lebih mengakrabkan jemaat, karena sepanjang acara kebersamaan ini setiap kelompok diberi tugas yang menuntut adanya kerja sama yang baik.

Renungan yang dibawakan oleh Pdt. Rudianto di awal acara mengajak peserta untuk merenungkan dan menghargai KAKI yang merupakan anggota tubuh kita. Kita sering melupakan kaki karena letaknya yang paling bawah, tetapi sebenarnya kita sangat tergantung kepada anggota tubuh yang satu ini.

Selanjutnya, selang beberapa menit setiap kelompok dilepas untuk melakukan cross country yang memakan waktu sekitar 1,5 jam. Perjalanan yang melewati kebun, sawah, perumahan penduduk, kandang kambing, sungai dan sebagainya, dimaksudkan agar anak-anak dan juga para orang tua melihat suatu kehidupan yang berbeda dibandingkan dengan yang kita temui sehari-hari di Jakarta. Ini juga merupakan suatu upaya menumbuhkan kepedulian terhadap manusia dan lingkungan di sekitar kita.

Sepanjang perjalanan yang harus menuruni lembah dan mendaki bukit, setiap kelompok diberi tugas untuk mengenali lingkungan yang dilalui, antara lain diminta untuk mencatat jenis-jenis tumbuhan yang bisa dimakan. Ternyata banyak juga jenis tumbuhan dan pohon yang baru pertama kali dilihat oleh anak-anak. Setelah menyelesaikan perjalanan yang cukup melelahkan ini, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama. Suatu acara makan bersama yang penuh dengan keakraban, terdengar gelak tawa dan canda ria di sana sini, seakan-akan tidak ada lagi hambatan dan batas-batas di antara peserta. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu tujuan dari acara kebersamaan ini cukup berhasil.

Setelah makan siang dan beristirahat sejenak, acara dilanjutkan dengan beberapa permainan yang dipandu oleh pasangan Bapak Roy dan Ibu Ita Sangkilawang. Permainan ini masih merupakan bagian kegiatan kelompok yang telah ditetapkan sebelumnya dan tema-tema permainannya tetap mengacu kepada kerja sama, seperti memindahkan balon berisi air, membawa bola di atas kepala dan fashion show. Walaupun permainan ini diperlombakan, namun banyak terjadi hal-hal yang lucu ditambah lagi dengan panduan MC yang sangat menghibur, maka acara ini berjalan dengan sangat meriah.

Di akhir acara, ada pembagian hadiah untuk kelompok yang memenangi permainan dan juga kepada kelompok yang menjadi juara umum. Sebelum kembali ke Jakarta, para peserta disuguhi kopi dan teh serta pisang rebus, kacang rebus dan jagung bakar. Sampai jumpa di acara kebersamaan tahun depan. (ssm)
 
Anggota Sub-Komisi Wanita GKI Pondok Indah Kunjungi Indofood di Cibitung
Sekitar 40 orang anggota Sub-komisi Wanita GKI Pondok Indah, di bawah pimpinan Ny. Tuti Sunaryo, pada hari Selasa, 14 September lalu melakukan suatu kunjungan ke dua unit pabrik makanan Indofood, yaitu PT Indo Sentra Pelangi dan PT Indofood Sukses Makmur di Kawasan Industri Cibitung, Bekasi, sekitar 20 km ke arah timur Jakarta. Kunjungan pertama dilakukan di PT Indo Sentra Pelangi, yang memproduksi bumbu-bumbu berbagai masakan, syrop, kecap dan sambal. Di tempat ini, rombongan diterima oleh Ibu Widi dari Human Resources Dept. dan Bpk. Usman, kepala pabrik, di mana kedua orang tadi menjelaskan berbagai macam jenis produk yang dihasilkan oleh pabrik tersebut.

Banyak ibu-ibu yang menanyakan ini dan itu, dan setelah memperoleh penjelasan dari Ibu Widi mereka baru memahami bahwa sebagian dari produk-produk tersebut sudah biasa mereka konsumsi, namun tidak menyadari bahwa produk-produk tersebut berasal dari Indofood.

Setelah memperoleh berbagai penjelasan, rombongan dibagi menjadi tiga kelompok dan diajak untuk berkeliling pabrik. Seusai berkeliling, para ibu tersebut diminta untuk mencicipi kentang goreng serta syrop gula asam produk pabrik ini dan merekapun boleh membeli sejumlah produk yang diminati dengan harga khusus.

Pabrik Mie Instan

Setelah itu, rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke pabrik mie instan, yang terletak masih di dalam satu kompleks, namun dikelola oleh PT Indofood Sukses Makmur.

Di tempat ini, rombongan diterima oleh Ibu Yama, PR officer dari pabrik tersebut, yang menjelaskan berbagai produk dari pabrik itu. Menurut Ibu Yama, selain mie instant, pabrik ini juga memproduksi makanan bayi serta makanan anak-anak.

Dalam penjelasanannya kepada para ibu dari Sub-komisi Wanita GKI Pondok Indah itu, Ibu Yama menjelaskan pula bahwa sebagian dari produk-produk tersebut, selain dijual untuk konsumsi dalam negeri, juga diekspor ke beberapa Negara Timur Tengah dan Afrika.

Selain penjelasan dari Ibu Yama, kepada rombongan juga disuguhkan pemutaran video mengenai berbagai kegiatan di pabrik tersebut. Seusai presentasi, rombongan diajak berkeliling ke unit produksi untuk menyaksikan sendiri proses pengolahan mie instant produk Indofood.

Sebelum kembali ke Pondok Indah, rombongan juga disuguhi produk-produk PT Indofood Sukses Makmur dan merekapun juga diperbolehkan membeli berbagai produk dengan harga khusus pula. (skt)
 
Tetap Tumbuh & Berbuah dalam Kristus, Liputan Retreat KOMISI SENIOR GKI Pondok Indah
Pada tanggal 17 s/d 19 September 2004 Komisi Senior GKIPI mengadakan Retreat di Pondok Remaja PGI, Cipayung dengan tema: “TETAP TUMBUH & BERBUAH DALAM KRISTUS” (Mazmur 92 : 15-16).

Dihadiri kurang lebih 70 peserta nampak suasana sangat ramai, meriah dan menyenangkan. Bahkan ada seorang peserta yang datang dari Jerman, yang ikut mendampingi ibunda terkasihnya. Pada malam pertama kami menikmati pertunjukan Nyanyi dan Tari „Euis“ dalam bahasa Sunda ; dimainkan oleh Ibu Leony dan Pak Slamet. Acara dilanjutkan dengan PERKENALAN. Suasana menjadi semakin meriah karena mengundang komentar menarik dan simpatik.

Pak Tumpal dan istri (ibu Ira) yang mempunyai pengalaman mendampingi Senior ketika di Jerman menyajikan ceramah yang sangat bergizi bagi rohani. Isi ceramah di sesi pertama, menerangkan perbedaan antara budaya barat dan timur dalam menangani para senior. Dalam budaya timur, sikap hormat dari generasi muda masih tinggi dibandingkan dengan budaya barat yang lebih menganut individualisme. Dalam kebudayaan kitapun masih terasa relasi yang hangat antara yang muda dan tua, namun tidak bisa dipungkiri bahwa kebudayaan kita pun berjalan ke arah barat, di mana masing-masing sibuk dengan kepentingan pribadinya, sehingga tidak sedikit orang tua/senior merasa kesepian, kurang mendapat perhatian dari kaum muda.

Namun demikian, umur rata-rata di barat menurut Statistik menujukkan, rakyat hidup lebih lama, dan dengan menurunnya angka kelahiran maka prosentase orang lanjut usia semakin meninggi. Penduduk Amerika usia > 65, pada tahun 1850 (2.5%) dan saat ini mencapai 10% lebih. Pada tahun-tahun terakhir banyak disibukkan dengan masalah-masalah pemuda, seperti :banyaknya pengangguran, masalah Narkoba dan lain sebagainya, sehingga perhatian terhadap lanjut usia sangat kurang. Akibatnya kesepian dan kesendirian – khususnya orang tua.

Pada akhir sesi pertama diberikan beberapa pertanyaan terkait dengan masalah yang sedang dihadapi para Senior saat ini, baik di Indonesia , dan secara khusus di GKI PI. Dari hasil yang dikumpulkan, ternyata sebagian besar peserta merasa puas dan bahagia dengan keadaannya saat ini. Walau mungkin anak-menantu dan cucu sibuk dengan urusan pribadinya dan tidak mempunyai banyak waktu, namun GKI Pondok Indah memberikan kesempatan bagi para Senior untuk dapat tetap bersosialisasi dalam komunitasnya, melalui program-program dan fasilitas yang ada.

Pada sesi kedua, dikatakan, Kierkegard membedakan rasa takut dan kuatir, rasa takut mempunyai obyek yang jelas, takut akan sesuatu, misalnya takut akan ular atau takut akan suatu penyakit, sedangkan rasa kuatir tidak mempunyai obyek yang jelas, tidak menentu; rasa kuatir dapat muncul tanpa ada sebab yang jelas dan pasti.

Dalam pengalaman orang lanjut usia nampaknya kekuatiran dapat merupakan gangguan yang lebih berat. Kuatir adalah rasa hati yang sedih, bimbang dan tidak menentu, tanpa diketahui obyek yang jelas, tetapi orang merasa dirinya terancam sampai pada kedalaman batin. Takut dan kuatir mempunyai dampak merusak dan melumpuhkan. Tapi kalau bisa berhasil mengatasinya akan sangat bermanfaat untuk menikmati hidup selanjutnya.

Melanjutkan sesi ini, para Senior dibagi menjadi 8 kelompok dan masing-masing kelompok mendapat tugas menjawab beberapa pertanyaan & sharing dalam kelompok.

• Bagaimana pemahaman kelompok mengenai berakar, bertumbuh dan berbuah dalam pengalaman imannya?
• Bagikan pengalaman pribadi mengenai cara mengatasi krisis menua secara positif (+)?
• Bagaimana aku masih tetap bisa berbuah?

Setelah menjawab pertanyaan di atas, masing-masing kelompok membuat suatu atraksi sesuai dengan tema yang diberikan secara acak, yaitu: Menggubah lagu, Memainkan drama, Mengarang puisi, Membuat renungan, Membuat cerita/ drama humor, Menampilkan gerak dan lagu.

Saat yang paling dinantikan adalah saat presentasi tugas. Dalam waktu tidak lebih dari 2 jam, para peserta sudah dapat membuat renungan, membuat drama/ komedi, menggubah lagu dan menciptakan lagu baru yang berkaitan dengan tema. Maka pada malam kedua itu muncullah secara instan „pendeta“, „sutradara“, „aktor dan aktris“ serta „pelawak“ baru sehingga tergalilah talenta-talenta yang selama ini terpendam Melalui tugas kelompok ini, nampak jelas bahwa para senior kita masih tumbuh dan berbuah, bahkan tumbuh gemuk dan berbuah lebat, ruaaar biasa !.

Ditambah dengan Ceramah Kesehatan „HIDUP SEHAT DI ATAS 50 TAHUN“ yang dipimpin oleh dr. Handrawan Nadesul, Retreat ini menjadi sangat padat dan menarik sehingga waktu yang disediakan Panitia terasa sangat pendek. Acara-acara lain yang tidak kalah menariknya adalah acara BERPACU DALAM MELODI dan TEBAK GAMBAR, juga SENAM bersama, mengakrabkan suasana di antara para Senior.

Akhirnya kami harus kembali ke Jakarta, untuk bertemu dengan anak-cucu dan keluarga. Dan sebelumnya juga diadakan kebaktian Minggu yang dipimpin oleh Pdt.Tumpal, dengan menampilkan gambar-gambar seorang „Pengusaha Anggur“, dengan membawa keranjang-keranjangnya.

Nah kita sebagai senior, seberapa banyakkah buah yang sudah dihasilkan; „kosong“, „sedikit“, „banyak“ atau bahkan „berlimpah?. Itu semua tergantung pada kita, apakah kita sudah menempel pada „pokok Anggur“ yang benar?. Berbuah bukan hanya berarti hasil/prestasi yang ada, namun juga hubungan yang akrab dengan Bapa, Sang Pencipta, apakah penuh berkelimpahan dengan sukacita?.

Rasanya sayang sekali kesempatan yang indah seperti ini harus terlewati. Retreat Senior merupakan salah satu kegiatan dari Program Komisi Senior. Mari para Senior bergabung, menikmati kebersamaan dan keakraban dalam komunitas kami! (ks)
 
Peneguhan Penatua baru di GKI Pondok Indah
Sebanyak sembilan orang anggota jemaat, pada hari Minggu, 19 September lalu diteguhkan dalam jabatan penatua pada Kebaktian Kedua di GKI Pondok Indah yang dipimpin oleh Pdt. Purboyo W. Susilaradeya.

Kesembilan orang penatua baru tersebut adalah Pnt. Naniek Santoso, Pnt. Sienny Paulina, Pnt. Boy Kusuma, Pnt. Halim Atmadja, Pnt. Jeanne Utomo, Pnt. Sri Asih Wohon, Pnt. Veronica Aleeza Kohar, Pnt. Rene Eugene Lewarisa, Pnt. Hetty Frans.

Bersamaan dengan itu, diteguhkan kembali tiga orang penatua untuk menduduki masa jabatan kedua di dalam kemajelisan GKI Pondok Indah. Ketiga penatua yang diteguhkan kembali tersebut adalah Pnt. Nugroho C.K. Widjajadi, Pnt. Max D. Setijadi dan Pnt. Johannes Riupassa.

Keduabelas orang penatua itu akan melayani di kemajelisan untuk jangka waktu tiga tahun ke depan hingga th 2007.

Pada siang harinya, yaitu bersamaan dengan berlangsungnya Persidangan Majelis Jemaat (PMJ) berlangsung upacara singkat untuk melepas tiga orang penatua yang telah melayani selama dua periode pelayanan serta seorang penatua yang telah menyelesaikan satu periode pelayanan di kemajelisan. Keempat orang penatua yang mengakhiri masa tugasnya tersebut adalah Pnt. Doseba Tua Sinay, Pnt. Leonora Pea, Pnt. Soehartono Soekamto dan Pnt. Eveline Hargianto.

Pengurus Badan-Badan Pelayanan

Pada hari yang sama, dalam kebaktian ke-tiga jam 17:00 yang juga dipimpin oleh Pdt. Purboyo, telah dilakukan pula pelantikan para pengurus badan-badan pelayanan jemaat di lingkungan GKI Pondok Indah. Mereka itu adalah para pengurus Komisi Semawi, Komisi Dikkesra, Komisi Perlawatan, Komisi Pemuda, Komisi Senior, Komisi Remaja dan Komisi Anak. Nama-nama anggota pengurus badan-badan pelayanan tersebut adalah sbb:

1. Komisi Semawi
Ketua : Elizabeth Hutabarat
Wakil Ketua : Alex Sentosa
Sekretaris : Endang Ratnayanti
Bendahara : Mega Sibarani

2. Komisi Dikkesra
Ketua : Hindra Tjahjadi
Sekretaris : Martha Silalahi
Bendahara : Ronny Sinai

3. Komisi Perlawatan
Ketua : Yosia Harsa
Wakil Ketua : Ny. Pudji Sarbingu
Sekretaris : Ny. Susanti Hutagalung
Bendahara : Debby Hertiati

4. Komisi Pemuda
Ketua : Thiero Pesik
Wakil Ketua : Karina Soerjodibroto
Sekretaris : Maya Suwandono
Bendahara : Enroe Puja

5. Komisi Senior
Ketua : Njoto Soebandrio
Sekretaris : Ruben Sidharta
Bendahara : Ny. Lian Anggana

6. Komisi Remaja
Ketua : Rani Tanumihardja
Sekretaris : Ati Dwi Putri
Bendahara : Selene H.U. Siregar

7. Komisi Anak
Ketua : Astrid Wohon
Wakil Ketua : Vanessa Siwy
Sekretaris I : Martinus Christian
Sekretaris II : Vanda Wohon
Bendahara I : Ira Ariani
Bendahara II : Jenni Tjahjono

Para pengurus badan-badan pelayanan tersebut akan mengemban tugas-tugas pelayanan untuk periode tiga tahun ke depan hingga tahun 2007. (skt)
 
GKI Pondok Indah Tuan Rumah Ibadah Raya 70 Th STT Jakarta
GKI Pondok Indah pada hari Sabtu, 25 September lalu menjadi tuan rumah bagi suatu ibadah raya dan perayaan untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-70 Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta.

Suasana theatrical yang menandai ibadah raya dan perayaan itu dihadiri oleh sekitar 750 dari sekitar 2.000 undangan yang disebar. Ibadah ini diawali dengan doa pembukaan yang dibawakan oleh Pdt. Prof. Dr. Liem Khiem Yang, yang dilanjutkan dengan ibadah yang diselingi dengan berbagai puji-pujian serta adegan bersuasana theatrical di bawah panduan Pdt. Glorius Bawengan. Khotbah dalam ibadah ini dibawakan oleh Pdt. Dr. Eka Darmaputra yang kemudian disusul dengan pentas teater koloboratif dengan sutradara Pdt. Glorius Bawengan.

Ibadah dan perayaan ini juga diisi dengan paduan suara gabungan dari beberapa gereja serta permainan kolintang persembahan dari Sub-komisi Wanita GKI Pondok Indah dengan dukungan dari beberapa gereja lain.

Sementara itu, Pdt. R.P. Borong, D.Theol., Ketua STT Jakarta, dalam sambutannya mengemukakan bahwa STT Jakarta akan tetap ada dan terus maju selama pelayanan Dia yang mengaruniakan institusi ini berlanjut di dunia ini.

“Hari ini kita menerima pengutusan, besok atau lusa akan datang lagi anak-anak Tuhan yang dipanggil dan diutus-Nya melayani melalui STT Jakarta ini,” katanya.

“Kita bersyukur hari ini dan berdoa kiranya hari esok akan lebih cerah dari hari ini untuk menyemangati generasi penerus yang akan datang, di STT dan di gereja-gereja untuk meneruskan karya selamat membawa damai sejahtera Allah di Bumi. Selamat Ulang Tahun yang ke-70 STT Jakarta. Pictus Facit Theologum!”

Kapan Berdiri?

STT Jakarta didirikan di Bogor pada th 1934 dengan nama Hoogere Theologische School (HTS). Pada th 1936 sekolah ini pindah ke Jakarta (Batavia) dan pada th 1954 diubah namanya menjadi Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.

Perubahan nama tersebut sekaligus menandakan peningkatan status akademis – melalui perbaikan kurikulum – dan keterlibatan gereja-gereja yang semakin banyak dalam kepengurusan STT Jakarta.

Peningkatan status akademis tersebut sekaligus menjadikan STT Jakarta sebagai sekolah teologi pertama di Indonesia yang berstatus Sekolah Tinggi. Sekolah ini juga dapat dilihat sebagai metamorfosis dari Seminari Depok yang dibangun pada th 1878 oleh Central Comitee Depok yang dibentuk di Negeri Belanda. Seminari tersebut akhirnya ditutup pada th 1926, mengingat saat itu hampir semua daerah memiliki lembaga pendidikan serupa.

Cita-cita Central Comitee Depok untuk mencetak tenaga-tenaga lokal kemudian dilanjutkan dengan mengambil bagian dalam proses pembentukan HTS. Setelah melalui berbagai perundingan yang matang, akhirnya Central Comitee Depok kemudian dipercaya sebagai pendiri HTS, yang merupakan cikal bakal STT Jakarta sekarang ini.

Arti penting dari sekolah ini segera terasa saat pecah Perang Dunia II, di mana saat itu tenaga-tenaga zending dari Belanda tiba-tiba lenyap dari lapangan misi.

STT Jakarta dan para lulusannya, yang saat itu masih belum terlalu banyak, harus bekerja keras secepat mungkin mengisi kekosongan tersebut serta mengambil tongkat kepemimpinan di sebuah zaman yang penuh dengan pergolakan.Perjalanan sejarah STT Jakarta hingga kini terus diwarnai dengan berbagai perbaikan yang bertujuan untuk senantiasa menjawab berbagai tantangan yang dihadapi oleh gereja dan masyarakat di Indonesia. Dirgahayu STT Jakarta! (skt)
 
Mini Weekend Pasutri di Puri Avia Resort
Sekitar 25 pasutri (pasangan suami-isteri) dari GKI Pondok Indah serta beberapa gereja lainnya, pada hari Sabtu dan Minggu, 2 dan 3 Oktober lalu, mengikuti Mini Weekend Pasutri yang berlangsung di Puri Avia Resort di Cipayung, Bogor.

Tampil sebagai pembicara/pembawa kesaksian dalam acara dua-hari itu adalah Pasutri Irwan/Betty dan Bpk. Rusli dari Marriage Encounter (ME) Jakarta dengan dipandu oleh Pasutri Rudy/Mieke. Baik Pasutri Irwan/Betty maupun Bpk. Rusli dalam kesempatan mengingatkan bahwa di dalam kehidupan rumah tangga ada beberapa hal yang perlu diingat, antara lain bahwa kita dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain apabila kita sendiri sudah merasa bahagia. “Karena kebahagiaan itu berasal dari dalam diri kita sendiri, maka kita memiliki kekuatan untuk merasakannya,” kata mereka.

Dikemukakan pula bahwa dalam hidup ini tantangan nyata yang kita hadapi adalah “bukan untuk memperoleh apa yang kita inginkan, tetapi menginginkan apa yang kita punyai.”

Ditegaskan pula agar kita dapat mencintai orang lain, maka kita harus belajar pula untuk mencintai dan memaafkan diri kita sendiri. “Kalau semua itu dapat kita wujudkan dalam kehidupan kita, maka kita akan merasakan kebahagiaan kita serta membagikannya kepada orang lain,” katanya.

10 Tangki Cinta

Dalam kesempatan retret dua-hari itu, Pasutri Irwan/Betty dan Bpk. Rusli juga mengungkapkan bahwa di dalam kehidupan rumah tangga kita ini sebenarnya kita memiliki 10 bejana/tangki cinta, di mana jika dalam salah satu tangki tersebut terdapat kekosongan maka akan timbul ketidakseimbangan di dalam kehidupan rumah tangga kita.

“Untuk itu, maka dalam hidup ini kita harus dapat mawas diri, untuk melihat tangki-tangki/bejana-bejana yang kosong atau kurang berisi dalam kehidupan rumah tangga kita,” katanya.

Menurut Bpk. Rusli di dalam kehidupan ini terdapat 10 tangki/bejana cinta, yaitu;

Tangki I yaitu ketika kita masih di dalam kandungan hingga lahir di mana kita memperoleh dukungan kasih dari Tuhan;

Tangki II ketika kita berusia 0 s/d 7 th saat kita memperoleh dukungan cinta kasih dari orang tua;

Tangki III yaitu ketika kita berusia 7 s/d 14 th, di mana kita memperoleh dukungan cinta kasih dari keluarga dan teman.

Tangki IV ketika kita berusia 14 s/d 21 saat kita sudah memperoleh dukungan cinta bukan hanya dari keluarga tetapi juga dari teman sebaya serta mempunyai cita-cita yang sama;

Tangki V saat kita berumur 21 s/d 28, di mana kita sudah dapat merasakan cinta dan dukungan cinta dari diri sendiri serta mencari jati diri;

Tangki VI saat kita berumur 28 s/d 35, di mana pada saat-saat ini kita bisa merasakan adanya cinta dan dukungan dari relasi yang lebih intim serta pasangan yang penuh romantis. Tangki

VII menurut mereka adalah pada saat kita berusia antara 35 s/d 42 di mana kita dapat mencintai serta mendukung orang yang bergantung pada kita, seperti anak-anak kita, orang tua dan lainnya; Tangki

VIII yaitu saat kita berusia antara 42 s/d 49 di mana kita memberikan diri kita kepada komunitas atau lingkungan kerja, di mana kita bisa berintreraksi dengan komunitas tertentu;

Tangki IX saat kita berumur antara 49 s/d 56 tahun di mana pada saat-saat ini kita dapat meningkatkan pergaulan kita kepada masyarakat yang lebih luas dan;

Tangki X adalah pada saat kita berumur 56 ke atas, di mana pada saat-saat ini kita sudah selayaknya untuk dapat menyerahkan diri kita untuk melayani Tuhan.

“Semuanya itu tentu saja tidak mutlak, karena ada juga mereka yang berusia relatif masih muda, tetapi sudah tekun untuk melayani Tuhan. Namun kita akan merasakan adanya ketidakseimbangan jika salah satu dari tangki-tangki tersebut ada yang kosong atau kurang takarannya,” katanya menekankan. Dalam kesempatan tersebut, Pasutri Irwan/Betty dan Bpk. Rusli juga menguraikan masalah sikap serta perasaan serta pola tingkah laku yang mempengaruhi relasi suami-isteri dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.

Selama sesi demi sesi berlangsung, para peserta juga dibagi dalam beberapa kelompok untuk dapat melakukan sharing dengan sesama peserta lainnya. Hal ini dilakukan untuk sekadar saling tukar pikiran guna lebih meningkatkan kualitas relasi antara suami dan isteri dalam kehidupan rumah tangga mereka. Pada Minggu pagi, sebelum sesi terakhir para peserta mini weekend pasutri mengikuti ibadah yang dipimpin oleh Pasutri Tumpal/Ira. Setelah sesi terakhir para peserta kembali ke Jakarta sekitar pkl 11:00 WIB. (skt)
 
Hayati Sejahtera Allah untuk Wujudkan Damai dalam Keluarga
Rangkaian Bulan Keluarga di GKI Pondok Indah hari Minggu 24 Oktober 2004 diakhiri dengan suatu ibadah dengan thema Menghayati Damai Sejahtera Allah yang dibawakan oleh Pdt. Rudianto Djajakartika. Pdt. Rudianto melandasi khotbahnya dengan bacaan firman yang diambil dari Injil Perjanjian Lama, Yosua 24 : 1-15, di mana dalam bacaan tersebut dilukiskan bagaimana Yosua menekankan pentingnya bagi setiap keluarga untuk tetap beribadah kepada Allah. Seperti yang tertera di dalam ayat 15 “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Allah.”

Dengan tetap beribadah kepada Allah, di mana dalam kesempatan tersebut dapat menghayati pula perjumpaannya dengan Allah. “Penghayatan serta relasi dengan Allah bagi Yosua dijadikan landasan bagi pengharapan bahwa Allah adalah sumber dari kesejahteraan dan kedamaian,” kata Pdt. Rudianto.

“Dan sekarang bagi kita, yang hidup di zaman sekarang ini, menghayati sejahtera Allah juga berarti merupakan upayta kita untuk mewujudkan damai dan sejahtera dalam keluarga melalui keluarga kita masing-masing,” katanya menegaskan.

Kebaktian Minggu 24 Oktober ini terasa sangat padat karena digabung pula dengan anak-anak Sekolah Minggu. Tampil pula PS Agape dan ansambel Imago Dei dari Wilayah Bintaro.

Seusai kebaktian, jemaat juga diundang untuk menyaksikan bazaar, yang menampilkan berbagai macam produk andalan dari masing-masing wilayah, terutama sekali yang berupa makanan seperti mi goreng, babi guling/panggang dan mi baso, kue-kue, pakaian dan lain-lain.

Hasil keuntungan dari bazaar tersebut akan digunakan untuk kegiatan sosial di lingkungan GKI PI. (skt)
 
>> Arsip
 

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003